
"Hai, Le, Nit, Dwi, Rek. Wow, kalian datang demi gue! Gimana, kalian udah nyiapin yel-yel buat gue ntar? Harus keren loh yel-yelnya, secara buat nyemangatin gue yang keren ini, slebew," kata Gilang dengan kecepatan bicara melampaui 80 km/jam.
Musik hip hopnya yang ngiringin lu jalan tiba-tiba "ngeeeeek," kaya kaset kusut. Udah keren-keren tadi datang-datang malah nada bicaralu ngejamet lagi. Ga jadi keren, sumpah.
Nita langsung muter mata, Dwi mangap dan bengong, dan Reka pura-pura lagi ngelihat ke arah lain. "Lang, gue mabok darat, sumpah!" "Tadi kata lu demam ini panggung?" "Whatever deh, yang penting gue mau cari udara segar di luar."
Kehebohan yang sepersekian detik itu berlalu dan kami termasuk Gilang pun keluar GOR. Nita sambil kipas-kipas muka pakai telapak tangan. Ga jauh berbeda, teman-teman yang lain pun merasa kegerahan.
Gue pun jalan bareng Gilang di belakang mereka. Kami jalan sambil cuci mata lihat-lihatin barang-barang yang dijual di pelataran GOR.
"Kapan lu mulai tanding?" kata gue sambil jalan kaki santai. "Ga tahu nih, lagi nunggu giliran. Gue udah standby sejak satu jam yang lalu," kata Gilang.
"Lu lemes gitu kirain udah tanding," kata gue. "Lemes karena kelamaan nunggu! Ngantuk banget nunggunya kelamaan," kata Gilang.
"Ih, lucu," kata gue ngelihat kalung yang bandulnya bergambar orang karate dan di belakangnya bisa diukir nama sama penjualnya. Gue jadi ingat kalung-kalung di film tentara, yang bandulnya itu memuat identitas yang punya. Terus kalau tentaranya gugur, kalung itu yang jadi peninggalan ke orang-orang tersayang.
"Lu mau ini? Biar gue beliin. Lu mau milih yang mana? Eh kayanya sepasang sama gue sabi deh?" kata Gilang. Ni anak kalau ngejamet kebiasaan ngomongnya ngebut. Satu-satu napa!
"Kita beli tiga aja. Gue, lu, sama buat Papoy juga," kata gue. "Oke. Pak, tiga ya. Yang ini... Kalau lu Le? Mau yang mana?" kata Gilang. "Ini deh," kata gue. "Dan satunya lagi gimana kalau INI," kata Gilang, tapi pas ngomong 'ini' bareng sama gue pas di benda yang sama yang gue pilih juga. "Wah kita sehati!" kata Gilang. "Pret," kata gue. Gilang pun ngambil kertas dan nulisin nama buat diukir di bandul itu.
NGUUUNG...
Suara bor yang super kecil lagi ngukir nama bandul sebagaimana yang dipesan.
"Lu grogi ga sih, Gay? Ini pertama kali lu tanding kan?" kata gue. "Manusiawi Le. Semua orang pasti begitu," kata Gilang. Kami ngobrol sambil merhatiin orang ngukir bandul. Sebuah tontonan yang satisfying.
"Kalau lu kenapa-kenapa gimana Gay? Bukannya gue nyumpahin yang jelek-jelek ya, tapi amit-amit ya kalau misalnya lu kena tabok, atau keseleo, yang nolongin lu siapa?" kata gue. Biarpun gue sebel sama jamet satu ini, gue tetap mengkhawatirkan dia.
"Lu khawatir sama gue? Makasih loh, Le. Ternyata lu peduli," kata Gilang. "Ga usah lebay! Gue cuma kepo!" kata gue. "Iya... iya tenang aja. Gue daftar ada juga yang jadi official buat peserta umum kaya gue. Ada tim kesehatannya juga kok," jelas Gilang.
Gue pun lega.
Bandul kalung udah selesai diukir, penjual pun ngasihin itu ke Gilang dan Gilang pun bayar. Dia milihin yang namanya tertera nama gue terus ngalungin ke gue. "Ini punya Papoy," kata Gilang ngasihin itu. Tapi gue ambil juga sekalian punya Gilang dan gantian gue yang ngalungin.
Ngomong-ngomong mana anak-anak yang lain ya? Ternyata kami terpisah dari mereka. Gue dan Gilang pun jalan lagi. Gue beli bando dan balon supporter. Lagi-lagi Gilang yang makein bandonya ke kepala gue.
Setelahnya gue pun jajan makanan dan minuman untuk dibawa ke dalam. Gak lama dari itu kami pun masuk lagi ke dalam GOR.
Pas di pintu GOR, gue dan Gilang pun ketemu lagi sama Nita, Dwi dan Reka. Kami pun sama-sama jalan ke tribun.
"SETELAH INI PERTANDINGAN GRUP C AKAN DIMULAI. KEPADA PARA PESERTA DIPERSILAKAN UNTUK BERSIAP DAN REGISTRASI ULANG." Pengumuman dari speaker pun menarik perhatian Gilang. "Itu pengumuman buat gue," katanya.
Gilang pun melepaskan kalungnya dan memberikannya sama gue. "Simpan ini baik-baik. Doakan gue ya. Gue akan balik lagi nanti," kata Gilang. Mirip dialog di film Korea antara Song Joong-ki ke si Song Hye-kyo di film Descendants of the Sun, anjoy. Tentara yang mau bertugas pamit ke ceweknya.
Please Le! Kenapa gue mikirnya ke situ? Ini kan bukan kalimat perpisahan buat pergi jauh! Tapi mata Gilang pas lagi kaya gini kok berbinar-binar membuat dramatisasi emosi meronta-ronta ya? Hihi.
"Lu yang semangat ya, Gay! Lu harus ingat gue selalu ada di sini buat mendukung elu, ngasih teriakan terkencang buat lu nepok-nepokin balon-balon ini buat lu dan yang pasti gue doain lu berhasil," balas gue.
Seketika gue baru nyadar kalau Nita, Dwi dan Reka lagi bengong ngelihatin kami dengan tatapan baper.
Tanpa klarifikasi apapun, bahwa gue dan Gilang ga ada hubungan apa-apa, Gilang pun pamit dan pergi gitu aja. Dia berlari-lari kecil menuju meja registrasi ulang.
Setelah semua peserta dikatakan lengkap, nama mereka pun dipanggil satu-satu dan berbaris menyamping di pinggir arena tarung. Gilang ada di barisan kanan dengan tujuh orang lainnya di sampingnya dan di hadapannya dari sisi pinggir arena juga telah berbaris delapan orang peserta juga. Setelah dikasih aba-aba, mereka pun sama-sama membungkuk ke hadapan lawan mereka di seberangnya. Setelah itu mereka pun membubarkan diri.
Sisa dua orang doang di pinggir arena dan itu salah satu di antara mereka bukan Gilang. Gilang lagi nunggu giliran di luar arena. Para peserta ada yang duduk-duduk doang ada juga yang kaya Gilang, loncat-loncat dan pemanasan di samping arena agak kebelakang.
Ada empat hakim yang duduk di setiap sudut arena, ada juga satu orang wasit yang ngehandle dan ngasih aba-aba di tengah-tengah peserta.
Timer pada layar digital di samping arena mulai nyala. di bawahnya ada angka poin-poin juga. Pertandingan Gilang belum dimulai kok gue yang gemetaran ya?
Gue merhatiin dua peserta itu tanding. Gue sambil ngebayangin kalau Gilang bakal ada di posisi di salah satu antara mereka.
Gue perhatiin semua peserta sama, tandanya sabuk biru dan satu lagi sabuk merah. Yang tanding adalah dua orang yang satu pakai sabuk biru dan satunya lagi pakai sabuk merah, semua begitu. Di sini ga ketahuan mana yang ilmunya udah senior alias sabuknya tinggi dan mana yang masih junior.
Mereka pun...