
Gue mejemin mata kuat-kuat biar air mata gue cepet habis. Gue ga tega lihat Gilang kaya gitu. Biasanya gue kalau nonton orang bertarung cuma lewat YouTube tapi sekarang malah di depan mata gue langsung, apalagi itu orang yang gue kenal banget.
Setelah satu orang dari tim medis nyamperin Gilang, ngobrol bertiga sama Gilang dan wasit, akhirnya Gilang diputuskan boleh ngelanjutin pertandingan.
"GILAAAAAANG... LO BISA LAAAAANG!" teriak gue. "GILANG BISA... (DUK DUK DUK DUK DUK) GILANG BISA... (DUK DUK DUK DUK DUK) GILANG BISA...". Gue lihat ke sekeliling gue, orang-orang kompak ngasih semangat buat Gilang. Gue terharu banget. Gilang kaya udah mendapatkan hati para penonton gitu kaya di film-film. Mata gue berkaca-kaca. Ga bakalan abis-abis dah nih air mata.
Wasit pun memberi arahan sebentar kepada keduanya dan mereka ngangguk-ngangguk. Setelah itu, pertandingan kembali dimulai.
Lagi-lagi Gilang menghindar. Bedanya sekarang dia loncat-loncat kaya peserta lainnya. Sesekali Gilang nyengir kuda jadi gumshield-nya kelihatan, itu loh pelindung giginya. Dih, tu anak ngapain nyengir?
"Lu takut sama orang segede Jaya? Ngapain takut! Ketakutan itu cuma ada di dalam kepala lu! Pikirin hal lain! Anggap kalau si Jaya itu gedenya cuma gede isi angin, atau dia adalah jelmaan monster agar-agar. Eh ketawa lu ya? Lu ngebayangin dia jadi apa?" "Monster agar-agar." "Bagus! Ketawain aja dia."
Gue jadi ingat Papoy waktu ngelatih Gilang. Kalimat itu yang sekarang melintas di pikiran gue. Gue tebak Gilang nyengir-nyengir sekarang itu karena dia lagi ngalihin pikirannya. Gue pun tersenyum, gue berdiri sambil tepuk-tepuk balon supporter.
"UUUU... BAGUS GILANG! MONSTER AGAR-AGAR GA ADA APA-APANYA!" teriak gue.
Gilang semakin ngejamet. Gilang bergaya dengan merentangkan tangannya, mukanya diangkat kaya sombong gitu dan masih suka nyengir-nyengir. Gilang ngeledek lawannya.
Lawannya kelihatan emosian dan agresif ngejar Gilang. Gilang masih aja lari-lari buat menghindar dari serangan lawannya. Orang-orang yang nonton jadi pada ketawa.
"Dalam penyerangan elu harus cerdas. Jangan nyerang asal nyerang mentang-mentang lu kuat. Cara cerdas seorang penyerang itu adalah mampu saving energi dan membaca peluang. Ada satu waktu lawan kita lagi ga fokus, maka itu adalah kesempatan kita menyerang. Jangan pernah menyerang pas lawan lagi steady. Dia bisa aja nangkis bahkan nyerang balik. Ngapain buang-buang energi buat hal-hal kaya gitu! Inget, serang dengan cara yang cerdas!"
Lagi-lagi wejangan dari Papoy saat ngelatih Gilang terlintas di pikiran gue saat gue lagi nonton Gilang bertingkah kaya anak monyet. Lawannya geram dan berusaha nangkap dia buat dibanting, tapi gerakan Gilang satset-satset banget.
"HAYYAAAAAH!" Gilang berteriak sambil mukul lurus perut lawan dengan kuda-kuda Gilang yang rendah. Gilang nengok ke wasit, wasit geleng-geleng. Pukulan Gilang ga dapat poin dan wasit juga ga me-Yame'-kan pertandingan.
"Hahaha... Tu anak saya lihat gokil banget, tapi pukulannya ga masuk. Kaku sekali itu! Dia terlalu teknik tapi powernya ga ada. Ga cocok dia tanding kumite, mending dia tanding kata aja," kata penonton di samping gue.
Pertandingan kata adalah pertandingan memainkan jurus. Peserta memeragakan urutan gerakan yang dihafal seperti mempertontonkan sebuah tarian.
Iya, sih. Gilang kaku banget. Tapi dia sempat ngeprank lawannya tadi. Kirain pukulannya masuk, tahunya pas sampai di badan lawan malah ga ber-damage sama sekali.
Waktu tiga menit mereka habiskan untuk gerakan yang ga jelas. Masalahnya ada di Gilang yang lari-lari melulu, menghindar dari lawan dan masalah lainnya adalah lawannya yang gampang terpancing emosinya.
Waktu pun habis. Ga ada poin apapun yang dihasilkan keduanya. Tapi karena lawan Gilang berpoin minus karena pelanggaran tadi, jadi untuk sesi ini Gilang menang. Dia akan diikutkan ke dalam pertandingan sesi berikutnya.
Gue ga tahu Gilang akan melewati berapa kali pertandingan. Bagan pertandingannya ada ditempel tapi gue belum sempat lihat.
Gue sebelumnya udah beli jajanan dan minuman, jadi kami makan bareng-bareng bersama Gilang.
"Gila lu, Lang. Hoki bener lu jadi orang. Masa gitu doang menang? Hahaha..." kata Dwi. Gilang masih mengatur napasnya. "Pendinginan dulu lu, Lang, baru duduk-duduk," kata Reka.
"Gay, lu hebat. Gue yakin sama lu. Lu ga usah dengerin apa kata orang. Yang bener-bener tahu tentang dirilu dan menentukan nasib lu adalah dirilu sendiri, bukan mereka," kata gue.
Gilang mengangguk-angguk. Gilang masih mencoba menenangkan diri. "Ini, minum yang banyak, biar lu ga dehidrasi," kata gue.
"Gue ga bisa pendinginan sekarang. Habis ini gue bakal tanding lagi," kata Gilang menjawab pertanyaan Reka.
Gue lihat mata Gilang merah. Mungkin kalau gue jadi Gilang, cara gue melampiaskan emosi yang campur-aduk kaya sekarang adalah menangis.
"Gue balik ke bawah dulu," kata Gilang. Semakin Gilang gue pelototin matanya, semakin Gilang menghindari kontak mata sama siapapun.
Gilang pun berjalan turun dari tribun. Gue berdiri ngikutin dia. Sampai di lapangan tapi di pinggiran yang sepi, gue panggil dia. Itu adalah tempat para atlet pemanasan dengan cara loncat-loncat dan bergerak mondar-mandir.
"GAY!" gue panggil dia. Di tengah suara yang rame banget ini dia masih bisa dengar suara gue yang ga terlalu kuat.
Gilang nengok dan kaget. Mukanya kaya ngomong, "Eh? Lu ikut turun ke sini?" Gilang pun menghampiri gue dengan arah mata yang sedikit-sedikit dia alihin. Dia sering buang muka gitu.
"Mau ngapain? Ini tempat khusus atlet dan official," kata Gilang. Gue tarik mukanya pakai kedua telapak tangan gue. Gue tepuk-tepuk pipinya dan gue arahin ke depan mata gue.
"Kalau ngomong sama gue itu sambil lihat mata gue!" kata gue. "Le, gue ga ada waktu buat beginian," kata Gilang kaya sok-sok'an ngacangin gue.
"Gay, lu baik-baik aja kan?" kata gue pelan. Gue nanya serius, gue khawatir sama dia. Mending jamet Gilang keluar deh daripada diam-diaman kaya gini, ga mau kontak mata sama orang. Gue ga mau dia kaya gini.
Beneran mata Gilang merah. Gilang kaya mau melampiaskan kesal atau sedih atau malu atau semuanya gitu, tapi dia diem aja. Ga ekspresif.
"Kita ga akan tahu hasilnya kalau ga dicoba," kata gue yang sebenarnya adalah kata-kata Gilang yang gue balikin lagi ke dia.
Mata Gilang berkaca-kaca. Gue jadi ikut berkaca-kaca, anjoy!
Tiba-tiba tanpa gue sangka-sangka...
BRAAAAK...