
"SEMESTAAAA... GUE BAHAGIAAAA..." kata gue.
"SAAAAMAAA... GUEEE JUGAAAA..." kata Gilang.
"HAHAHA..."
"HAHAHA..."
JEEEGGGEEEERR... ⚡⚡⚡
*
POV Lele:
Gue duduk di dalam mobil, di tengah rintik hujan yang deras di luar sana. Di luar sepi. Selain karena hujan, karena ini masih pagi banget. Mana ada siswa yang datang sepagi ini kalau ga ada keperluan.
Udah lama banget gue ga nonton Papoy dan Gilang latihan karate, jadi gue bela-belain buat dateng pagi-pagi.
Gue baru aja melewati gerbang sekolah. Gue lihat Papoy dan Gilang lagi berteduh di pos satpam. Gue melihat mereka berdua sebagai pasangan yang serasi.
Dulu gue pernah deket sama Gilang, tapi menurut gue itu karena gue gabut aja. Gue orangnya memang begini, manja sama siapapun. Jadi kalau udah ada orang yang menurut gue pas buat digabutin ya udah gue bakal ngelendot aja.
Berbeda dengan Papoy. Gue tahu banget perasaan Papoy adalah perasaan yang tulus. Dia naksir Gilang beneran, bukan karena gabut.
Gue ga tahu hal apa aja yang udah gue lewatkan saat gue di Amrik. Pastinya mereka berdua pasti jauh lebih akrab dari sebelumnya. Gue yakin itu.
Gue dengar dari nyokap gue kalau Papoy cerita dia merawat Arjuna itu sambil nanya caranya ke Gilang. Katanya Gilang jago banget soal merawat kucing. Yah, walaupun dia ceroboh dan udah bikin Vino kelayapan di komplek perumahan yang banyak kucing garongnya.
Gue turut bahagia, Gay, Poy, melihat kalian berdua meneduh kaya gitu sambil ketawa-ketawa. Tadi juga gue sempat lihat dari jauh muka kalian berdua deket banget. Entah kalian ngapain tadi. Mungkin Gilang lagi kelilipan dan Papoy bantu tiupin kali ya, kaya di film-film.
Gue dan supir gue pun meneruskan perjalanan. Tentu gue bakal diantar sampai depan teras pintu utama gedung sekolah dong. Masa gue harus hujan-hujanan jalan kaki dari tempat parkir? Yang ada nanti gue sakit lagi.
Gue belum sampai di depan pintu gedung, masih di halaman.
JEEEGGGEEEERR... ⚡⚡⚡
Petir menyambar pekarangan sekolah. Gue sampai kagetnya minta ampun. Seketika alarm mobil-mobil di parkiran pada bunyi semua gara-gara petir itu.
Gue pun menoleh ke belakang. Tadi petirnya kuat banget, seputaran sebelah sana...
"GAYUNG DAN PAPOY!" Gue melihat mereka berdua jatuh dari motor. Mereka berdua tepar.
"Pak! Stop! Stop!"
Mobil pun berhenti. Gue tanpa pikir panjang keluar dari mobil.
"NON MAU KEMANA... JANGAN HUJAN-HUJANAN..." Gue ga peduli dengan supir gue.
Gue berlari menuju Gilang dan Papoy. Dari arah lain pun dua orang security datang.
Begitu gue sampai di lokasi, gue terduduk lesu. Gue goyang-goyang badan Papoy dan Gilang, ga ada satupun di antara mereka yang bangun. Mereka pingsan semua. Eh, pingsan kan! Ga meninggoy kan!
Kedua security datang.
"Pak tolong teman-teman saya Pak, tolong..." rengek gue.
Badai masih berhembus, suara petir dari tempat yang jauh masih terdengar. Sementara kilat masih berkelip-kelip, mengancam orang-orang akan datangnya sambaran petir lagi.
"Adik jangan di sini, bahaya. Petirnya ngeri. Ayo cepat masuk! Biar mereka kami yang bawa!" kata salah satu security.
Gue ga peduli. Gue masih ada di dekat mereka berdua, saat mereka digendong, saat security-security itu berlarian gue juga mengiringi mereka. Mereka membawanya ke dalam gedung sekolah.
Beberapa siswa dan ada juga guru yang melihat kepanikan kami ikut bergabung membantu.
"Ada apa ini? Ada apa?" salah seorang guru menyambut sambil ikut lari di koridor sekolah menuju UKS.
"Korban tersambar petir Pak," jawab salah satu security.
Gue sedih dan paniknya bukan main. Gue merengek-rengek sepanjang perjalanan menuju UKS.
"Gilaaaang... Papoy... bangun... Hiks..." Pokoknya gue ga mau kedua sahabat gue ini kenapa-kenapa!
"Baik Bapak-bapak sekalian bisa keluar dulu. Tolong saya diberi ruang untuk melakukan pertolongan pertama. Adik, silakan ganti bajunya ya biar tidak demam," kata petugas.
Gue ga peduli. Gue memang keluar dari ruang perawatan tapi gue ga peduli dengan baju gue. Gue ngintip di jendela dengan perasaan sangat khawatir. Mata gue udah banjir air mata, napas gue udah sesengukan.
Setelah beberapa lama, datanglah beberapa petugas medis sambil berlarian.
Gilang dan Papoy pun dibawa oleh mereka.
"Mereka mau kemana Kak?" tanya gue ke salah satu petugas.
"Mereka perlu perawatan intensif, Dik. Mereka akan dibawa ke Rumah Sakit Pendidikan De Claire," jelasnya.
Sekolah gue memang satu naungan dengan sebuah perguruan tinggi yang di dalamnya ada rumah sakitnya. Tempatnya ga terlalu jauh dari sini. Gue pun bergegas menuju supir gue buat dianterin ke sana.
Gue dan supir mengikuti ambulans yang membawa Gilang dan Papoy.
Hujan di luar deras lagi. Tadi sempat agak reda sebentar terus seakan sekarang bergemuruh sesuai dengan isi hati gue. Petir menyambar di sana sini, gue ketakutannya bukan main.
Bukan karena gue takut sama petirnya, itu gue ga peduli. Gue takut dengan kondisi kedua sahabat gue ini.
Setelah sampai, gue pun berlarian ngikutin para petugas. Papoy dan Gilang dibawa dengan brankar dorong.
"Gay, bangun Gay... Gue mohon..." rengek gue.
Napas gue pun terengah-engah.
Gue melambat dan gue sekarang ada di samping Papoy.
"Ayo, Poy. Ga kasihan lu sama gue? Poy!" rengek gue lagi.
Mereka pun masuk ke dalam sebuah ruangan yang gue ga boleh masuk.
Gue duduk sambil mengatur napas gue. Rasanya semakin sesak bukan cuma karena habis lari-lari, melainkan karena gue nangis. Gue menangisi kondisi kedua sahabat gue itu.
Gue pun nelepon Mama.
"Halo, sayang..."
"Maaa... Hiks... Hiks..."
"Loh? Anak Mama kenapa? Kamu nangis? Ada apa ini?" tanya Mama.
"Papoy dan Gilang Ma... Hiks hiks..."
"Coba bicara pelan-pelan. Papoy dan Gilang kenapa Sayang?" tanya Mama.
"Mereka tersambar petir. Sekarang Laila ada di rumah sakit nungguin mereka," jelas gue.
"Kamu tunggu Mama di situ ya Sayang. Coba shareloc dulu, sayang."
"Iya, udah, Ma."
Mama hubungi Mama Papoy juga. Kamu ada nomor orang tua Gilang?" tanya Mama.
"Ga punya Ma," kata gue.
"Ya sudah. Nanti biar Mama yang cari tahu. Sekarang kamu tenangkan diri. Ada air minum di sana?" kata Mama.
"Lupa di mobil Ma. Hiks hiks..."
"Kamu cari air minum dulu. Ke resepsionis atau kemana gitu, pokoknya minum dulu ya Sayang. Tunggu Mama. Oke?" ucap Mama.
"Iya, Ma... Hiks hiks..."
Panggilan telepon pun berakhir.
Gue pun mengabari grup WA kelas bahwa Gilang dan Papoy lagi di rumah sakit karena tersambar petir.