Miyawlova

Miyawlova
Genderuwo



Gue menggoncang-goncang kepala Gilang yang adalah kepala gue.


"Astaga, malah kaya kebo!" keluh gue.


"Haaa?"


Nah akhirnya bangun juga.


"Malah tidur! Keluar gih! Mereka udah pergi," kata gue.


"Iyaaa..." Gilang pun berdiri dan berpindah tempat.


Sementara gue nepuk-nepuk pakaian, lengan dan bahu gue.


Gue dan Gilang pun keluar. Kami lihat di luar udah gelap. Ga ada listrik di sini, jadi tempatnya gelap. Hanya lampu di luar halaman bangunan ini yang kelihatan dari kejauhan.


Pupil mata kami berdua berakomodasi sempurna di tengah kegelapan sehingga bisa sedikit melihat dalam remang-remang.


Bangunan ini begitu besar. Tiba-tiba saja bulu kuduk gue meremang.


"Gay, kalau di tempat kaya gini ada seetannya ga sih?" tanya gue.


"Biasanya sih ada," jawab Gilang.


"Tahu ga lu, ada yang lebih gue khawatirin dibandingkan seetan," ucap Gilang.


"Apa tuh, Gay?" tanya gue.


"Orang gila," jawab Gilang.


"Orang gila?"


"Iya. Kalau seetan paling cuma ganggu mental kita doang. Kalau orang gila bahaya, bisa tahu-tahu gebuk kita, bahkan ngegorok kita kalau doi bawa senjata. Jangankan senjata, kabel bekas aja bisa buat ngegorok leher," ucap Gilang.


Kami sambil jalan pelan-pelan meniti langkah. Jangan sampai menginjak paku, bisa tetanus nanti.


"Pait, pait, pait... Kok omonganlu ngeri kaya gitu sih Gay?" kata gue.


"Lu takut?"


"Gue bukan takut. Gue cuma waspada," kaya gue. Alasan gue aja itu. Sebenarnya sih gue takut.


Orang-orang selama ini memandang gue sebagai cewek tangguh, pemberani, tegas dan orang notis mental baja gue dari nada suara gue yang keras. Padahal, jauh di dalam diri gue, gue hanya perempuan biasa. Gue juga punya rasa takut. Bedanya dengan orang lain, gue hanya ga mengekspresikannya aja.


"Lingsir wengi... Sepi durung bisa nendra... Kagodha mring wewayang... Ngerindhu ati..."


"Gay, lu denger orang nyanyi lagu Jawa ga?" Gue sambil ngelendot di lengan Gilang.


Gilang pun menghentikan langkah. Gue jadi auto ngikut diem juga. Gilang celingukan.


"Gay, ga usah sok serius gitu mukanya!"


"Lu takut, Poy?" tanya Gilang sambil menoleh ke belakang, ke gue yang lagi ngelendot.


"Gue waspada, Gay." Lagi-lagi gue beralibi.


"Lu bisa ruqyah kan? Berarti bisa ngusir seetan dong."


"Terus?"


"Usirlah seetannya!"


"Emang lu yakin itu suara seetan?"


"Tempat sesepi ini, gelap, mana ada orang gabut nyanyi Jawa di sini," protes gue.


"Kalau orang saakau gimana? Bukannya tadi itu pasukan sindikat narkoboy?" tebak Gilang.


"Emang ada ya orang saakau nyanyi Jawa?" tanya gue.


"Ya suka-suka yang saakaulah. Namanya juga lagi ga sadar," kata Gilang.


Gue pun melihat sesuatu di pojokan. Ruangan ini memang gelap tapi sesuatu di pojokan itu lebih terlihat pekat, hitam, besar, seperti berbulu.


"Ayo kita ke sana!" Gue narik tangan Gilang sambil mendekati benda misterius itu.


"Eh, kok jadi bau singkong dibakar?" Hidung gue benar-benar tajam kali ini. Meskipun aromanya hilang timbul tapi gue yakin dengan aroma ini.


"Iyakah?"


"Iya. Orang-orang menyebutnya 'Genderuwo'," jelas Gilang.


"Rina wengi... Sing tak puji ojo lali... Janjine muga bisa tak ugemi..."


"Lu denger ga, Gay?"


"Iya, denger. Kaya suara bapak-bapak lagi nyanyi Jawa. Persis yang tadi. Cuma kali ini musik campursari-nya makin jelas," jawab Gilang.


"Gay, lu jangan kesurupan ya? Gue nanti bingung. Kalau gue yang kesurupan kan lu tahu cara ngeruqiyah," kata gue.


"Enak aja lu! Mending jangan ada yang kesurupan satupun," balas Gilang.


"Lu takut?" tanya gue.


"Enggak. Gue waspada," jawab Gilang.


"Eh, Kambing! Yang kreatif napa! Jangan pake kata-kata gue!" protes gue.


"Iya iya. Gue bukan takut, gue khawatir," balas Gilang.


Gue pun menghentikan langkah gue. Rasanya bulu kuduk gue merinding. Gue pun memutar jadi ngelendot di punggung Gilang.


"Lu lihat bayangan hitam besar dan berbulu itu ga Gay?" kata gue.


"Lihat. Kan lu yang narik gue ke sini, kok malah sembunyi di situ?" kata Gilang sambil noleh ke gue di belakang punggungnya. Gue dorong-dorong punggung Gilang biar dia jalan ke arah sesuatu yang misterius.


"Eh, goblog!" kata Gilang.


"Eh, seetan ya? Setaan?" Gue terkejutnya minta ampun.


"Bukan, gue baru inget. Kita kan masing-masing punya HP. Kenapa ga dinyalain aja lampunya? Lampu flash HP gue juga lumayan terang," kata Gilang sambil merogoh saku gue.


"Woy woy woy!" Gue tabok-tabok tangan Gilang yang lagi ngerogoh saku di paha gue.


"HP gue di situ Papoy! Ah elah!" protes Gilang.


"Biar gue yang ambil," kata gue.


"Jangan! Bahaya! Ntar kena senjata gue, meledak, mampus lu," kata Gilang.


Iya juga sih. Senjata Gilang kan ada di seelangkaangan gue. Kalau gue salah pegang bisa bahaya.


"Ya udah buru ambil!" Gue pun pasrah digreepe-greepe Gilang dengan tangan cantiknya yang adalah tangan gue itu.


HP udah terambil dan Gilang pun menyalakan lampu flash di HP-nya itu. Dia menyorotkannya ke sesuatu yang gue curigai sebagai Genderuwo.


"Ah elah! Apaan itu! Cuma ijuk!" kata Gilang. Gue pun setengah berlari mendekati benda itu. Bener ijuk. Jangan-jangan ini pabrik pembuatan sapu ijuk, lagi.


"Iya Gay, lu terlalu parnoan. Orang cuma ijuk doang," kata gue sambil nyolok-nyolok ijuk itu pakai tangan gue.


Kami pun berjalan keluar dengan bantuan penerangan dari lampu di HP. Kami berjalan keluar gedung lalu meneruskannya keluar dari halaman gedung.


"Akhirnya kita sampai di luar!" kata gue.


"Heeeeuh... Lu liat Poy di sana." Gilang menunjuk ke sebuah warung.


Warung itu terdapat lampu kelap-kelip berwarna-warni. Gue dengerin dengan seksama, suara musik campursari terdengar dari sana. Meskipun sekarang lagunya udah beda, tapi iramanya tetap mirip.


"Kambing... Lu lihat di sana Gay!" kata gue.


Gue menunjuk ke sebuah lahan kebun yang ada tempat lapangnya. Di sana aga segumpal asap dan api. Dari jauh terlihat bahwa ada orang yang sedang membakar sampah di sana.


"Jadi bau singkong bakarnya berasal dari..." kata gue dan Gilang bersama-sama.


"Jantung gue udah jedag-jedug, kirain beneran ada genderuwo," kata gue dengan nada lemas.


"Lu takut? Enggak kan? Lu cuma waspada," kata Gilang. Cuma kok ngomongnya kelihatan nyebelin gitu ya?


"Lu ngeledekin gue?" protes gue sambil ngejambak rambutnya yang adalah rambut gue itu.


"Aaaa... Sakit, Poy!"