Miyawlova

Miyawlova
Cewek Gengster



"Gue udah merhatiin lu dari jauh-jauh hari!" tu cewek ngomong sambil ngacung-ngacungin telunjuknya ke Gilang alias Papoy KW.


Mariam namanya, nama orang suci yang kalem dan religius. Tapi karakter tu anak sama sekali ga mencerminkan namanya. Dia adalah cewek gabut nomor satu yang kerjaannya cari gara-gara.


Selama ini gue ada di dimensi orang-orang yang menyibukkan diri dengan sains di kelas juga kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang jelas-jelas positif. Enggak dengan Mariam. Dia seolah sudah membangun dinastinya sendiri yang daerah jangkauannya adalah sesama anak-anak IPS.


Ini gue ga paham dimana atmosfir kelas IPS kenapa beda banget dengan kelas IPA.


"Lu merasa lu cewek yang paling cantik? Tangguh?" lanjut Mariam. Suara Gilang alias Papoy KW sama sekali ga ada. Kata orang suruhan gue Papoy KW kerjaannya kebanyakan cengar-cengir doang, kaya ngeremehin bahkan nyaris ngacangin Mariam.


"Heh kenapa diem aja? Katanya lu cewek yang paling jago? Jago karate? Komandan pleton? Seksi OSIS? Pramuka? Juara olimpiade Biologi? Cuih! Bagi gue semua itu cuma topeng yang sengaja lu bangun," lanjut Meriam.


"Apa urusan lu sama gue?" Nah baru ini suara seorang Papy KW kedengeran!


"Elu adalah... Adalah... Hahaha... Aduh, gimana ya gue ngejelasinnya," Mariam berjalan memutar dan sesekali menengadah ke langit-langit untuk mengeluarkan emosi kesombongannya.


"Bagi gue lu ga lebih dari cewek plin-plan yang makan temen sendiri. Kemana cewek yang katanya bar-bar nyiksa Gilang? Kenapa sekarang berubah malah jadi perebut pacar orang?"


"Pacar orang? Pacar siapa yang gue rebut?"


"Gue! Ops... lupa, udah mantan. Hahaha... Dan! Dan pacar Laila, temen se-geng lu itu!" lanjut Mariam.


"Apa?"


Apa? Gue kaget banget! Gilang pernah jadian sama Mariam? Sekarang Gilang udah jadian sama Lele?


Kenapa gue jadi bimbang gini? Gue jadi meragukan kedua sohib gue ini. Gue merasa mereka udah mengkhianati gue.


"Iya, dan lu ga tahu diri. Temen lu sendiri lagi sekarat dirawat di luar negeri malah lu enak-enakan ngedeketin Gilang. Ga punya hati lu ya!" kata Mariam.


DEEEG...


Bener juga apa kata Mariam.


Bukan sohib-sohib gue yang penghianat tapi gue, gue, gue, gue... Menggema di dalam kepala gue kalau gue penghianat, penghianat, penghianat...


"Sejak kapan Gilang jadian sama lu? Haha... Kalian itu cuma teman SD! Apa lu merasa sakit hati karena Gilang pindah ke sekolah lain?" sahut Gilang.


Oh, jadi ni cewek cuma ngehalu?


"Da-darimana lu tahu? Lu? Emh..." suara Mariam terdengar kikuk.


"Gilang itu jauh lebih dekat sama gue dibandingin elu! Jangan ngaku-ngaku lu!" protes Gilang.


"Asem!" Mariam pun mulai menarik rambut Gilang. Gilang mencoba melepaskannya dan tidak membalas menjambak rambut Mariam.


"Soal Laila... Kami ga pernah jadian!" Waduh, Gilang keceplosan! Kok kami katanya?


"Hahaha... Belum berapa menit lu berhadapan sama gue, otak lu udah tremor aja. Lu takut kan sama gue? Hahaha..."


Gilang ga ngebahas tentang kekeliruan ucapannya barusan yang mengaku sebagai Gilang. Ia menghempaskan tangan Meriam sampai Meriam terdorong dan nyaris jatuh.


Setelah klarifikasi Gilang, gue pun sadar bahwa Mariam adalah seorang pengadu domba. Gue sempat punya pikiran buruk soal Gilang dan Lele dan sekarang pikiran itu gue hilangkan.


Gilang mengacungkan kepalan tangannya di depan wajah Meriam seakan hendak meninjunya.


Kepalan tangannya benar-benar diayunkan tapi ternyata ia sengaja belokkan lalu ia pukulkan ke telapak tangannya sendiri yang sigap menepuk tinjuannya itu. Mariam terkejut dan mengira ia baru saja dipukul, ternyata enggak. Bagus juga cara Gilang nge-prank Mariam.


Setelahnya, Gilang pun nerobos blokade jalan yang dibuat Mariam dan teman-temannya. Gilang jalan main tabrak-tabrak aja. Gue suka bagian ini. Papoy jadi terlihat keren.


"Udah selesai Kak ngelihat rekamannya? HP-nya mau gue pake soalnya," kata orang suruhan gue.


"Udah. Ini. Makasih ya udah bantu ngerekam dan nunjukin ke gue," kata gue sambil ngasihin HP-nya.


"Iya Kak. Sama-sama. Gue permisi dulu."


"Oke."


Gue pun meninggalkankan tempat itu, gue nyusul Gilang. Gilang jalannya cepet banget sampe gue kehilangan jejak. Kemana ya dia? Ah, pasti ke kelas. Gue jalan menuju kelas aja.


Gue melangkah dengan pikiran yang mengawang. Menggema di dalam kepala gue kata-kata Mariam tadi, "Iya, dan lu ga tahu diri. Temen lu sendiri lagi sekarat dirawat di luar negeri malah lu enak-enakan ngedeketin Gilang. Ga punya hati lu ya!"


Gue jadi ngerasa benci sama diri gue sendiri. Bisa-bisanya malah gue ngajak Gilang pacaran! Ga pacaran pun dengan kedekatan gue dan Gilang yang kaya sekarang, kalau Lele ada di sini ngelihat langsung pasti dia pun bakal illfeel.


Apa gue jaga jarak aja kali yah sama Gilang? Kayanya memang terbaiknya kaya gitu, sampe Lele datang.


Gue pun sampai di kelas. Gilang lagi ngobrol sama cewek-cewek. Gue jalan masuk, doi pun sempat ngelihat gue sebentar terus naikin alasnya sambil senyum sebagai ucapan salam ke gue. Ga lama kemudian bel masuk pun berbunyi, kami akan kembali mengikuti pelajaran.


Waktu berlalu. Tiba saatnya pulang. Gue jalan ke luar sambil kedua tangan gue narik tali tas gue di samping dada gue.


"WOY..." Gilang berlari mendekat dari belakang.


"Tumben lu ga ngajak bareng. Mau kemana lu?" kata Gilang.


"Balik," jawab gue.


"Oh, balik. Ga ada kegiatan lain?"


"Iya."


"Aneh. Lu lagi... Eh, ga mungkin. Masa cowok mensstruasi," tebak Gilang.


"Ada yang mau gue bahas sama lu," kata gue tiba-tiba sambil menghentikan langkah kaki gue.


"Soal kita jadian?" tebak Gilang lagi.


"Justru sebaliknya. Gay, gue merasa ga seharusnya kita deket banget kaya gini. Kita ini sahabat, Lele juga sahabat gue dan juga sahabat Lu. Bisa-bisanya kita deket banget di saat Lele ga ada, di saat Lele sakit! Apa kata orang, Gay?" jelas gue.


"Kok lu mikirnya gitu?" tanya Gilang.


"Iya. Gue merasa jadi penghianat banget tahu ga, apalagi kalau Lele dengar desas-desus dari orang-orang tentang kedekatan kita," lanjut gue.


"Itulah makanya gue pingin kita ada komunikasi sama Lele secepatnya. Kita buka di depan dia semua masalah yang kita hadapi sekarang biar dia udah kebal duluan sama desas-desus dari orang lain," jelas Gilang.


Apa yang dikatakan Gilang masuk akal.


"Kalau gitu mendingan kita jauh-jauhan dulu, jaga jarak aja, sampe kita bisa komunikasian lagi sama Lele. Lu dengan kegiatan baru lu dan gue dengan kegiatan baru gue. Kita jalan masing-masing," saran gue.


"Tapi Poy..."