
POV Gilang:
"Hahahaha..."
"Kenapa?" tanya gue.
"Eyeliner lu luntur tuh. Haha... Sejak kapan lu dandan-dandan gini?" tanya Papoy.
Sejak gue memberanikan diri untuk mencintai dirilu, Poy. Iya, gue mencintai raga yang sedang gue tempatin ini.
Akhir-akhir ini gue baru sadar kalau selama ini elu ada di dekat gue. Bahkan elu yang memeluk jiwa gue. Elu. Bukan Ratna, cewek sialan itu.
Hujan ini membuat nuansa romansa semakin bersemi. Gue dan Papoy lagi meneduh di bawah atap luar pos security.
Mungkin gue harus merelakannya dan membuka hati gue buat Papoy. Walaupun status pacaran ini cuma bohong-bohongan, seenggaknya bisa buat gue jadikan latihan. Kalaupun perasaan gue ga benar-benar disambut nantinya, seenggaknya gue ga semenyesal kemarin.
Ya, kemarin. Waktu gue ke rumah Ratna. Gue ga tahu kalau dia udah pindah rumah. Gue tahu rumahnya dari hasil nanya sama salah satu temen karate gue yang kenal sama Ratna.
Begitu gue sampai di sana rupanya Ratna lagi ada teman-temannya yang datang. Mereka tertawa ngakak. Suara mereka terdengar sampai keluar karena pintu rumah itu terbuka. Gue jadi semangat buat ikut bergabung.
Tapi sebentar! Gue tanpa sengaja mendengar percakapan yang bikin gue menahan diri untuk masuk. Gue pun sembunyi di balik tanaman dekat pintu. Gue menguping pembicaraan itu.
"Keren banget kan? Jadi dia sempat nonton gue latihan nari yang waktu itu! Tahu ga, Gilang ini juga gokil. Dia mau diajak kolab TikT0k," kata Ratna.
"Serius lu?" kata temannya.
"Ada apa sih ini, seru banget?" Yang ini pasti suara ibunya Ratna.
"Ah, dia lagi. Sudah Bunda bilang loh Tari, jangan kamu dekat-dekat lagi sama Gilang! Dia itu miskin dan dari keluarga ga bener!" kata ibunya.
DEEEEG...
Ni orang cari masalah sama gue. Berani ngata-ngatain keluarga gue serendah itu, apalagi di depan teman-teman Ratna!
"Tari, gue permisi pulang dulu ya? Gue baru ingat kalau gue ada janji sama nyokap mau nemenin shopping."
"Gue juga Tar. Gue lupa ngejemput adik gue!"
"Sama, gue juga... Um, apa ya... Oh, aduh, gue tiba-tiba mules."
Teman-teman Ratna pun pulang. Gue sempat ragu setelah mereka pulang mau berbuat apa. Tapi, suara itu ternyata membuat gue pingin bertahan sedikit lebih lama di sana, di depan pintu rumah Ratna.
"Dia lagi, dia lagi, Tari! Bunda kan sudah bilang, lupakan pemuda itu!"
"Bunda, berikan Tari kesempatan buat buktikan bahwa dugaan Bunda itu salah!" Suara Ratna terdengar gemetar. Sepertinya Ratna lagi nangis.
"Bukan dugaan, Tari, tapi fakta! Untung Bunda punya banyak kenalan, jadi Bunda bisa memastikan bagaimana keluarga pujaan hati kamu itu. Mereka hanya akan membuat sial di keluarga kita," kata seorang wanita yang gue yakin banget itu adalah ibu Ratna.
"Tapi Bunda pun tahu kalau Tari udah suka sama dia sejak dulu. Sekarang Bunda tega melarang-larang Tari dekat sama Gilang!"
"Justru karena kalian masih belum memulai hubungan kalian makanya Bunda pikir lebih baik untuk dicegah dari sekarang. Bunda ga mau ya nantinya punya besan keluarga ga bener kaya mereka!"
"Bunda! Bunda sudah terlalu jauh mikirnya!"
"Pokoknya sekali tidak tetap tidak! Kamu kenal Bunda kan? Sekali Bunda sudah menandai orang-orang dengan cap buruk, maka sampai selamanya hal itu ga akan pernah Bunda cabut!"
"Tari! Tari! Kamu ga sopan ya nutup-nutup telinga kamu sewaktu Bunda sedang bicara!"
"Pokoknya Tari ga mau dengerin Bunda!"
"Tari! Mau kemana kamu?"
Gue udah ga mikirin perasaan gue ke Ratna lagi. Gue mikirin reputasi keluarga gue. Memangnya apa sih dosa keluarga gue terhadap keluarga Ratna yang sombong itu? Apa karena keluarga gue berasal dari kalangan biasa, bahkan mereka orang-orang kaya sombong seperti kalian menyebut kami miskin?
Gue pun pulang.
Waktu gue di rumah, gue melihat Arjuna nyebelin banget. Bisa-bisanya bulunya rontok dimana-mana, termasuk di kasur gue.
Meskipun gue adalah penyayang kucing, gue paling anti kalau kasur tempat gue istirahat kotor! Ampun banget gue keselnya setengah mati. Mungkin karena sejak awal gue udah memendam kekesalan gue sehabis dari rumah Ratna kali ya.
Gue omel-omelin aja Arjuna. Gue angkat dia, gue pelototin, terus gue guncang-guncangin badannya.
"Lu sesuka hati ngotorin kasur gue ya! Mentang-mentang lu kucing elit, jadi lu terbiasa dimanja? Atau mentang-mentang gue orang miskin jadi lu nyepelein gue, iya?"
Kucing itu meronta pingin diturunin. Dia udah mulai meraung-raung.
"Lu cuma kucing! Lu binatang, lu ga ada apa-apanya dibandingkan gue! Enak aja lu nyepelein gue kaya gini. Atau lu ikut-ikutan mereka yang nyepelein keluarga gue? Huh?"
"Kalau begini ceritanya gue balikin lu ke rumah Lele secepatnya aja!"
Gue melihat jam. Saatnya gue siap-siap juga setelahnya gue mengisi perut setelah itu gue cuss ke rumah Lele. Sekalian soalnya malam ini kan ada party di rumah Lele.
Gue berangkat ke rumah Lele dengan mood yang berantakan. Di mobil pun gue menumpahkan kekesalan gue sama Arjuna. Mana Lele ga bisa dihubungi, jadi makin kesel gue! Sok sibuk amat tu anak! Orang-orang kaya memang sombong-sombong!
Begitu gue sampai di rumah Lele pun Arjuna bertingkah. Dia melompat dan kabur. Gue dibantu supir juga tukang kebun Lele mencarinya di pekarangan.
Lalu gue dibantu seorang senior baik hati. Namanya Jonathan. Gue rasa dia dukun kucing deh, atau detektif kucing! Dia lihai banget menebak-nebak kucing kalau habis dimarahin larinya kemana.
Gue sempat cerita sih kalau gue ngomel-ngomel sama tu kucing dan memang wajar kalau tu kucing kabur.
Kak Jonathan menemukan Arjuna lalu kami berdua membawanya. Kak Jonathan berhasil mengambil hati Arjuna kembali.
Gue salah, bener-bener salah. Ga seharusnya hal itu gue lakuin. Gue kesel ya harusnya kesel sama keluarga Tari aja, jangan sama hewan yang ga berdosa gini. Untungnya mood gue dinaikin lagi sama Kak Jonathan.
Dan sekarang mood gue dinaikin lagi sama lu, Poy. Elu bagaikan angin segar bagi gue saat ini. Gue rasa elu adalah solusi dari kekesalan gue. Sekian tahun memendam suka sama seseorang malah dapat penghinaan kaya gini.
Maknaya gue mulai menerima elu. Gue mencintai fisik lu. Gue pakein make up, walaupun hasil belajar otodidak dari medsos. Untungnya hasilnya ga malu-maluin banget.
Dan elu membantu gue menghapus eyeliner gue. Sentuhan jemarilu yang lembut, sikap lu yang bersahaja. Gue rasa gue... Um, tunggu! Ini terlalu dekat! Wajah lu terlalu dekat Poy!
Gue takut ga bisa menahan diri.
Dan... untungnya semua berjalan lancar. Huuuhf...
Dan... Bapak Security ngeledekin kita. Terus... Lele juga.
Dan... Bapak Security nyaris mentung kita karena ketahuan pacaran. Hahaha...
Gue pun mengajak Papoy kabur.
Dan... butiran hujan ini membuat gue merangkai sebuah kenangan yang gue rasa sangat manis. Hujan-hujanan berdua.
Dan... elu berteriak bahwa elu bahagia. Lu bahagia sama gue kan Poy? Lu bahagia jadian sama gue kan?
SAAAAMAAA... GUEEE JUGAAAA..." kata gue.
"HAHAHA..."
"HAHAHA..."
JEEEGGGEEEERR... ⚡⚡⚡