Miyawlova

Miyawlova
Dasar Ember!



"Sebenarnya gue belum pernah pacaran. Jadi, gue ga tahu rasanya punya panggilan kesayangan. Apakah itu rasanya geli atau enggak," jelas Gilang.


"Jadi pengen dipernahin?" tanya gue.


"Iya," jawab Gilang.


Astaga ni orang gabut amat!


"Terus mau pakai panggilan kesayangan apaan?" tanya gue.


"Yank?" usul Gilang.


"Ogah. Geli," kata gue.


"Mami-papi?"


"BAHAHAHA... Yang bener aja lu Gay!" kata gue.


Angin berhembus kencang. Gue bawa motornya jg pegangin stangnya sambil agak goyang gini.


BRAAAANG... BRAAANG... BRAAAANG...


Gue melihat di salah satu warung yang kami lewati sebagian ada atap seng yang berkibar-kibar karena tertiup angin.


"Gila, ini mah mau badai!" kata Gilang. "Sini, biar gue aja yang bawa motor," lanjutnya.


Gue pun menghentikan motor. Gue turun dan berpindah posisi. Sekarang gue yang di belakang, dibonceng sama Gilang. Ni anak pasti mau ngebut deh.


Pagi ini memang langit kaya ada mendung-mendungnya gitu. Tapi, gue ga nyangka kalau angin bakal berhembus kencang kaya gini. Ini kayanya bener-bener bakal turun hujan deh.


Bener ternyata! Gilang bawa motornya ngebut! Gue sampai pegangan di perutnya erat-erat. Takut jatuh, gue.


"Gay! Gue belum mau mati Gay!" kata gue sambil meluk Gilang dengan badan yang lebih kecil itu. Itu badan gue, yaelah.


"Sabar! Sebentar lagi sampai!" kata Gilang.


Ternyata ga sampai-sampai dong. Gue lama-lama bisa spot jantung kalau begini ceritanya.


CIIIIIIITTT...


Akhirnya sampai juga. Meskipun motor agak-agak standing karena ngerem mendadak begitu sampai di depan bengkel.


"Gay, kita lagi ngejemput motor Ibu, bukan mau nganterin motor ini buat jadi pasien montir-montir itu selanjutnya," kata gue.


"Bawel lu ah! Mau terjebak hujan badai?" protes Gilang.


"Iya deh iya..." kata gue.


Gue pun turun dari motor, nemuin tukang bengkelnya, meriksa motor Ibu, membayar dan membawa pulang motor.


"Gue tarik aja biar cepet ya?" kata Gilang.


"Ya ampun Gay. Gue mana pernah naik motor yang posisinya ditarik. Kalau gue jatuh gimana?" tanya gue khawatir.


"Kalau lu jatuh ya gue ikut jatuh," jawab Gilang.


DRRRRT... DRRRRT...


"Sebentar, Gay. Gue ada telepon," kata gue. Kami berdua masih di depan bengkel, sama-sama duduk di atas motor masing-masing.


"Halo Tuan Putri."


"Gilang, hari ini jadwal latihan karate kan?" kata Mentari.


"Iya bener. Pagi ini. Mulainya lima belas menit lagi. Kenapa?" tanya gue.


"Ya, gue pingin nonton lu latihan aja. Soalnya kemaren-kemaren kan elu udah nonton gue latihan di sanggar," kata Mentari.


"Oh, gitu. Lu dimana sekarang?" tanya gue.


"Gue udah di sekolah. Baru ada si Fajri sama Robert di sini. Sepi banget," kata Mentari.


"Lu kenal mereka?" kata gue.


"Iya. Mereka temen sekelas gue waktu kelas sepuluh," kata Mentari.


"Oh. Ya udah, ngobrol aja sama mereka dulu. Ini gue lagi di jalan soalnya," kata gue.


"Oke deh. Gue tunggu ya," kata Mentari.


"Siap," kata gue.


Panggilan telepon pun berakhir.


"Siapa Tuan Putri?" tanya Gilang.


"Mentari," kata gue.


"Akrab ya?" kata Gilang.


"Kan gue udah bilang dia naksir sama elu," kata gue.


"Dan lu kasih harapan juga," kata Gilang.


"Gue lagi menjiwai peran gue," jawab gue.


"Dahlah, yok. Gue tarik," kata Gilang. Gilang sudah menyalakan motornya. Gue pun menyusul.


"Pelan-pelan woy," kata gue.


"Udah, jangan bawel," kata Gilang.


"Gay, gimana nanti di sekolah. Ada Mentari loh," kata gue.


"Kita ya kaya biasa aja. Mesra-mesranya depan Lele aja," kata Gilang.


"Kalau mereka lagi barengan gimana?" tanya gue.


"Emang mereka akrab?" tanya Gilang.


"Ya mana gue tahu. Kan tadi malam udah kenalan," kata gue.


"Kita doakan aja biar mereka ga usah akrab," kata Gilang.


"Tapi kayanya hubungan kita bakal diketahui temen-temen yang lainnya juga deh. Gue yakin," kata gue.


"Sama," kata Gilang.


"Lu ga masalah?" tanya gue.


"Enggak. Yang masalah itu kalau Bapak yang tahu," kata Gilang.


"Ih bener banget! Gue ga sampe kepikiran sama Bapak!" kata gue.


"Tapi kan Bapak ga sekolah," kata Gilang.


"Hem, sekarang lu jago ya nyembunyiin urusan sekolah dari Bapak. Ga kaya dulu. Bahkan ikut ekskul aja ga mau gara-gara Bapak," kata gue.


"Bukan gue yang nyembunyiin urusan sekolah dari Bapak sekarang, tapi elu," kata Gilang.


"Kambing," gerut gue.


Gue dan Gilang pun balikin motor Ibu. Gilang nungguin di warung Kakek. Dia katanya pingin ketemu Ibu.


Begitu gue balikin motornya ke Ibu, beliau udah nungguin gue di teras.


"Ibu udah mau berangkat?" tanya gue.


"Iya," kata Ibu.


"Bu, ada yang mau ketemu Ibu. Tapi dia ga bisa datang. Kita ke warung si Kakek dulu ya?" bisik gue.


"Siapa?" bisik Ibu juga.


"Puput," bisik gue lagi.


Ibu pun mengangguk dan berpamitan sama Bapak. Gue juga berpamitan sama Bapak.


Gue dan Ibu berboncengan motor sampai ke warung si Kakek.


"Tumben Puput pingin ketemu Ibu?" tanya Ibu.


"Calon menantu kangen sama calon mertuanya," gumam gue.


"Hah?"


"Eh, bukan! Bukan apa-apa kok, Bu. Hehe..." kata gue.


"Kamu pacaran sama Puput?" tanya Ibu.


"Bu! Selamat pagi!" sapa gue ke tetangga.


"Pagi! Sudah baik lagi motornya?" sahut tetangga.


"Iya Bu. Mari," kata Ibu.


"Yaa... Hati-hati di jalan," sahut tetangga lagi.


"Gilang? Jawab pertanyaan Ibu!"


"Ibu nanti marah?" kata gue.


"Ngapain Ibu marah? Kamu kan sudah besar. Memangnya Bapak, kolot banget. Sudah besar pun masih dibatasi," kata Ibu.


"Ah yang bener, Bu?" kata gue gembira.


"Iya, Sayang. Jadi benar kan kamu pacaran sama Puput?" tanya Ibu.


Astaga, gue ember banget! Ngapain gue ngomong sama ibu kalau gue dan anaknya pacaran? Tapi ya gimana, rasanya gue malah pingin semua orang tahu kalau kami pacaran. Ada sesuatu yang gue rasa bikin gue excited banget.


"Gilang?"


"I-iya, Bu. Iya. Gilang ga tahu Puputnya gimana sama Gilang. Tapi anggap aja kami pacaran," jelas gue.


"Hahaha... Anak Ibu ini lucu sekali. Ibu jadi ingat waktu Ibu muda dulu. Ibu juga merasa malu-malu di depan orang yang Ibu suka. Tapi kan Ibu perempuan, jadi ya Ibu biarkan saja dipendam. Sedangkan kamu laki-laki. Merasa malu-malu boleh tapi jangan lupa diungkapkan," kata Ibu.


"Hihi... Jadi dulu malu-malunya sama Bapak yan Bu?" tanya gue.


"Ada masanya sama Bapak. Tapi sewaktu sekolah malu-malunya bukan sama Bapak. Kalau sama Bapak itu sewaktu Ibu sudah lulus, bukan waktu Ibu sekolah," jelas Ibu.


"Jadi sejak kapan kamu suka sama Puput?" tanya Ibu.