
Emosi banget gue sama Gilang! Anjir!
BUUGH... BUUUUGH...
"Gay? Lu lagi ngapain?" Suara itu! Gue kenal betul suara itu! Maka gue pun menoleh.
"LELEEEEE..." Secepat kilat gue berpindah ke sisi sohib gue yang paling gue rindukan ini. Gue memeluknya erat-erat.
Tetesan air mata gue ga terbendung. Aroma parfumnya, suara kecentilannya, semua yang baru aja gue temuin lagi sekarang membuat gue menenggelamkan diri di bahu Lele. Iya gue tinggi jadi gue agak nunduk sedikit ga apa-apalah. Eh, lupa, gue kan lagi jadi Gilang ya?
"Gay? Hehe... Bisa agak dilonggarin ga pelukannya?" pinta Lele.
"Maaf, maaf, Le. Ya Tuhan, gue seneng banget lu balik! Sumpah! Kok lu ga ngabarin gue sih kalau lu balik ke Indo?" Gue ngomong sambil menyedot lendir yang keluar dari hidung gue yang keluar bersamaan dengan air mata gue. Gue menyeka mata gue berulang-ulang tapi air mata ini ga juga berhenti-hentinya ngalir.
"Gue sengaja mau ngasih surprise elu dan Papoy. BTW, Papoy mana ya? Apa dia lagi ada urusan sama anak-anak OSIS? Jadi tadi gue tuh ke kelas... (blablabla)"
Cewek berperawakan mungil ini dengan sikap seperti biasa, feminim, dia lagi ga memakai seragam sekolah. Di balik make up-nya yang natural itu gue yakin muka Lele masih pucet. Bukannya ga yakin dengan kesembuhan Lele, tapi matanya yang masih sayu itu membuat gue berpikir demikian.
Gue lagi memperhatikan Lele ngoceh-ngoceh. Lengkung senyumnya, kelihaian mulutnya ngeluarin banyak kata-kata, kadang-kadang monyong-monyong, kadang-kadang meringis, tangannya yang bergerak sesuai dengan nada suaranya.
"Gitu... Eh, Gay? Halo..." Lele melambaikan telapak tangannya di depan muka gue.
"Eh iya iya," gue tersentak dari keterbengongan gue.
"Lu dengerin gue ngomong ga sih?" rengek Lele.
"Denger kok, denger," jawab gue. Kayanya sebentar lagi Lele bakal merepet deh, jadi gue bawa aja doi ke kantin. Gue dorong dengan pelan punggungnya biar doi mau melangkah keluar hall ini.
"Gue udah ngomong lu-nya malah bengong. Ini kita mau kemana, lagi? Gue kan udah bilang gue risih sama anak-anak yang ngerubungin gue. Heboh banget mereka. Pokoknya jangan bawa gue ke kelas, oke?"
Tuh kan bener. Lele kalau ngomong jadi panjang dan ngebut banget.
"Kita ke kantin, bukan ke kelas," kata gue.
"Oh iya, ga apa-apa deh ke sana aja. Papoy mana? Oh iya kok HP Papoy bisa sama lu sih? Tadi gue sempat ngintip dari jendela kelas, gue cari elu sama Papoy ga kelihatan, rupanya lu di sini. Kalau Papoy dimana?"
"PAPOY LAGI... PAPOY LAGI! BISA GA SIH LU GA USAH NANYAIN DIA DULU!"
Lele terdiam, matanya membulat ngelihatin gue. Langkah kaki kami tentu aja terhenti.
Ya Tuhan, gue baru aja ngebentak Lele! Ini gara-gara gue masih kesel sama Gilang alias Papoy KW. Dan gue sekarang malah kelepasan.
"Sorry, Le... Sorry. Bukan maksud gue..." kata gue menyesal.
"Lu lagi ada masalah sapa Papoy?" tanya Lele dengan suara yang super lembut.
"Aaaaa... Lele... Gue ga kuat Le. Banyak banget masalah gue gara-gara tu anak," rengek gue sambil kembali memeluk Lele dan membenamkan wajah gue di bahunya yang rendah itu.
**
POV Gilang alias Papoy KW:
Gue lagi jalan sama Mentari di lorong sekolah sambil nyari Papoy. Gue obrolin masalah tadi dengan kepala dingin.
"Jadi gitu... Gilang suka cerita sama lu kalau doi sempat naksir sama seseorang di masa lalunya dan itu gue?" kata Ratna.
Aduh! Gue langsung memutar tubuh Ratna biar apa yang baru aja gue lihat di depan sana ga dilihat sama dia.
"Apaan sih lu?" Ratna risih.
Dia malah maksa buat menoleh ke belakangnya.
"Amm... Rat, Rat, mending kita lewat sana aja yuk? Gue lihat ada tikus barusan lewat," kata gue sambil megangin kedua lengan Ratna biar badannya ga memutar ke belakang.
Badannya memang ga memutar, tapi kepalanya yang malah menoleh. Jadi sekarang kedua tangan gue megangin pipi Ratna biar mukanya steady ke gue doang.
Ratna membulatkan mata dan mulutnya ternganga dengan jemarinya berada di depan mulutnya untuk menutupinya.
Ya Tuhan, Papoy aneh-aneh aja. Kenapa pakai acara pelukan-pelukan kaya gitu segala di lorong sekolah? Kan gue sebagai Gilang yang asli jadi malu! Apalagi cewek yang udah lama gue taksir melihatnya.
Gue bener-bener dilema sekarang. Walaupun gue lagi berperan sebagai Papoy, gue tetap seorang Gilang! Ada Papoy, Ratna dan Lele di sekeliling gue. Mereka semua, cewek-cewek yang membuat hidup gue ribet! Membingungkan!
"Te-te-temen lu udah balik, Poy," ucap Ratna terbata-bata.
"Iya, gue juga baru tahu," kata gue.
"Lu ga ke sana buat misahin, eh maksud gue buat reunian gitu?" ucap Ratna.
"Iya, yuk ke sana yuk!" Udah terlanjut kena gap! Ya udah, udah basah nyemplung aja sekalian deh. Gue dan Ratna mau datengin mereka aja sekalian.
"Kok ngajak-ngajak gue?" Ratna menangkis tangan gue. Matanya berkaca-kaca.
"Ya sekalianlah kenalan sama... Eh, Rat? Lu baik-baik aja kan?" tanya gue.
Ratna membuang wajah dan berkali-kali ia menyeka matanya. Gue tahu, Ratna pasti lagi nangis.
"Rat... " gue panggil dia dengan nada yang super soft. Gue mau menenangkan Ratna. Ratna pasti cemburu melihat tubuh seorang Gilang lagi pelukan sama cewek lain kaya gitu.
"Sorry gue lagi ada urusan," Ratna nyaris pergi ke arah lain tapi tangannya gue tahan.
Muka Ratna menoleh, bener, dia nangis.
"Jangan libatkan gue di antara lu dan temen lu itu," ucap Ratna sambil sekuat tenaga melepas tangan gue lalu menyepaknya kesal.
"Kita perlu berpikir dengan kepala dingin, Ratna. Ga semua yang lu lihat itu be..." Belum selesai gue bicara Ratna udah memunggungi gue dan dia mengangkat kedua tangannya. Dia ga mau mendengar penjelasan gue. Ratna pun pergi, dia berlari menjauh.
Gue pun memutar badan gue ke arah Gilang dan Lele. Gue hampiri mereka berdua.
Jujur gue harusnya seneng dengan kepulangan Lele, tapi entah kenapa sekarang malah kaya gue lagi menyayangkan sesuatu. Kedatangan Lele itu soalnya ada di saat yang sangat ga tepat. Mana gue dan Gilang lagi tukeran badan, lagi!
*
Balik ke POV Papoy alias Gilang KW:
"Nah, itu dia Papoy! HAIIII..." kata Lele. Lele langsung ngelepasin gue dan melambai riang ke arah Papoy KW.
Enggak demikian dengan muka Papoy KW alias Gilang itu. Mukanya ga segirang Lele. Tapi setelahnya dia pun mencoba buat maksain diri berekting girang. Gue tahu banget itu cuma acting!
Setelah dekat, mereka berdua pun saling menautkan kedua telapak tangannya, meloncat-loncat kecil-kecil lalu menempelkan pipi kiri dan kanan bergantian.
Gue berusaha menghapus muka gue yang basah dengan air mata. Pasti sekarang mata gue merah deh. Gue memandang kedua cewek yang lagi berbahagia di depan gue ini dengan mata yang berat, pasti merah, pasti sembab.
Setelah puas dengan keriangannya ketemu Papoy KW, Lele kembali nengok ke gue. Ekspresinya jadi kikuk.
"Oh i-iya... Gue denger kalian... ka-kalian..."
"KAMI GAK PACARAN!" Gue dan Gilang mengatakannya bersamaan.
"Hah? Siapa yang bilang kalian pacaran?" Lele bingung dan memandang gue dan Gilang secara bergantian. Sementara gue dan Gilang diem aja kaya patung.
"Gue cuma mau bilang, gue denger kalian lagi ada masalah? Ini... Lihat! Sampe Gayung mewek kaya gini?" lanjut Lele.
Gilang melotot sama gue. Dia pasti ga suka deh kalau seorang Gilang terlihat nangis kaya gini. Dulu Gilang pernah berpesan sama gue buat menjaga harkat dan martabat dirinya selama gue jadi dia. Dan sekarang harkat dan martabatnya gue hancurin.
"Kita... Kita mending sekarang ke kantin! Kita bicarain ini baik-baik. Pesan softdrink dingin kesukaan kalian, pokoknya kita dinginkan kepala..." kata Gilang sambil meraih bahu gue dan bahu Lele. Papoy KW lagi berdiri di tengah antara gue dan Lele.
"Ide bagus! Ayok," jawab Lele. Gue, Gilang dan Lele pun berjalan bersama menuju kantin.