Miyawlova

Miyawlova
Season 1 - Happy Ending



POV Gilang:


NIT... NIT... NIT...


Suara apa itu? Kaya familiar. Aroma di sekeliling gue kaya aroma rumah sakit. Aroma alkohol, ada karbolnya, ada aroma obat, fix... Suara yang sesuai dengan aromanya. Itu pasti suara alat pantau elektronik di rumah sakit.


Gue pun membuka mata... pelan-pelan...


Ada sesuatu di salah satu punggung tangan gue. Gue membuka mata dan yang pertama kali gue lihat adalah punggung tangan gue. Pasti gue lagi diinfus nih!


Bener ternyata, gue lagi diinfus.


Tunggu! Tunggu! Apa ini mungkin?


Gue mengangkat lagi tangan gue dan gantian yang sebelahnya. Ini tangan gue! Ini bener-bener tangan gue!


Gue perhatiin baik-baik. Tangan yang lebar, khas tangan laki-laki, ada urat-uratnya, ga mulus kaya tangan Papoy. Pergelangan tangan ke atas, kulit ga sebening kulit Papoy, dan ini berbulu. Ini fix tangan gue!


Gue pun meraba bagian tubuh gue yang lain. Ada tonjolannya! Yess, bener!


"AAAAA..." Gue seneng banget sampai kegirangan.


Salah seorang perawat menghampiri gue. Gue tadinya ga sadar kalau ada orang yang berdiri di dekat gue.


"Adik ini sudah siuman. Tenangkan diri dulu ya," ucap perawat itu dengan lembut dan ramah.


"Apa yang terjadi dengan saya?" Nah, suara gue udah berubah! Gue menyentuh leher gue dengan bersyukur.


"Adik ini adalah korban tersambar petir," jawab perawat itu.


"Tersambar petir?" Perawat itu mengangguk. Gue ingat-ingat kembali hal yang terjadi sama gue. Gue lupa dan sedikit demi sedikit ingat.


Ya, terakhir gue hujan-hujanan sama Papoy. Mungkin di saat itu gue dan Papoy tersambar petir.


"Papoy! Hah! Teman saya yang satu lagi mana, Suster? Puput! Namanya Puput!" tanya gue panik. Semoga Papoy ga kenapa-kenapa.


Perawat pun membuka tirai di samping gue. Ternyata gue dan Papoy ada di ruangan yang sama.


"Temannya belum siuman," jelas perawat itu.


Gue memandangi Papoy. Poy, bangun Poy... Lu harus tahu bahwa kutukan itu sudah berakhir, Poy. Lu pasti seneng banget kan?


Mata gue berkaca-kaca. Gue ga bisa menahan rasa syukur gue. Sebentar lagi kehidupan kembali normal, bahkan akan berjalan dengan lebih indah! Gue yakin itu. Berjalan lebih indah karena kedepannya gue jalani hari bareng-bareng Papoy sebagai sepasang kekasih.


Gue menunggu Papoy siuman. Bapak dan Ibu menjenguk dan bergantian nungguin gue di ruangan ini. Mereka juga sering terpaku memandangi Papoy yang belum sadarkan diri.


"Kasihan ya Pak, anak itu. Coba deh lihat, dia begitu menderita. Pasti dia sedang berjuang antara hidup dan mati," kata Ibu.


Gue melihat wajah Bapak yang memandangi Papoy. Seperti ada rasa menyesal terhadap Papoy.


"Iya, Bapak iba melihatnya," ucap Bapak.


Wah, jadi berarti Papoy udah dihilangkan dari daftar hitam Bapak dong? Papoy bisa main ke rumah lagi?


Tapi pertanyaan-pertanyaan itu ga gue katakan. Gue merasa kondisi belum tepat untuk membahas hal membagongkan itu.


Bagi gue rasa simpati Bapak terhadap Papoy itu udah cukup untuk saat ini.


Waktu pun berganti. Bapak udah ga ada di ruangan ini. Giliran Ibu yang jaga. Di sini juga ada Mama. Nyokap Papoy, orang yang biasa gue panggil dengan panggilan 'Mama'. Orang yang beberapa kali mengelus kepala gue dan memeluk gue juga nemenin gue tidur. Walaupun waktu bangun tiba-tiba Mama udah pergi dan susah untuk pulang lagi.


"Gay..." Papoy bersuara. Dia seperti orang ngelindur.


Mama dengan cepat menekan tombol di dinding dekat Papoy terbaring untuk memanggil petugas medis. Melihat Mama heboh, perhatian Ibu pun jadi beralih ke dia.


"Puput sudah sadar Kak?" tanya Ibu.


"Iya, sepertinya," jawab Mama.


"Alhamdulillah," kata Ibu.


Mama dan Ibu sempat berbincang-bincang dengan haru sewaktu menunggui gue dan Papoy. Gue pura-pura tidur dan menguping pembicaraan mereka. Mereka begitu akrab. Dua sosok wanita yang gue sayangi. Yang satunya adalah ibu kandung gue, dan yang satunya sudah seperti ibu bagi gue.


Gue masih belum bisa beranjak dari tempat tidur gue di saat orang-orang heboh dengan Papoy yang siuman. Gue memperhatikan para petugas medis memeriksanya.


"Tenang Poy, gue di sini. Gue ada di dekat lu," kata gue.


"Iya, bagus Nak Gilang. Ajak Puput bicara. Kita berikan stimulus lebih banyak lagi untuk mempercepat kesadarannya," kata dokter.


Gue dan Papoy udah pulih, kami udah keluar dari rumah sakit.


Berhari-hari di rumah ternyata membosankan juga. Walaupun gue dan Papoy saling komunikasi pakai videocall, tetap aja gue kangen banget sama tu anak.


"SELAMAT PAGI ZEYENG..."


"Ga usah teriak-teriak ngomongnya, Zeng!" kata gue.


"Ya habisnya gue lagi excited banget. Ini kan hari pertama kita kembali ke sekolah. Lu udah siap?" kata Papoy.


"Pantes lu bangun pagi-pagi banget. Biasanya juga lu gue hubungin ga diangkat-angkat. Udah kaya keboo tidurnya, tahu ga," kata gue.


"Heh! Gue dikatain keboo! Kalau gitu lu rumputnya ya? Biar bisa gue gigit, gue kunyah-kunyah, habis lu!" kata Papoy.


"Lu ga ada berubah-berubahnya ya? Tetap aja barbar walaupun udah gue pacarin juga!" kata gue.


"Hahaha... Canda loh Zeng! Idih idih idih..."


"Kenapa lu?" tanya gue.


"Gue mules, Zeng. Gue tinggal dulu ya," kata Papoy.


"Hahaha... Buru gih sana! Ntar kekeecirit lagi di celana!" kata gue.


"Enak aja! Bye!"


Panggilan videocall pun berakhir.


TOK TOK TOK...


Gue pun bangkit dari balik selimut. Dengan bergegas gue buka pintu kamar gue.


"Gilang ngobrol sama Puput?" bisik Ibu.


"Eh, kedengeran ya Bu?"


"Enggak. Ibu hanya dengar suaramu gerenyem-gerenyem aja. Ga jelas. Tapi hati-hati, takutnya Bapak yang dengar. Sudah tahu kan kalau Bapak ga ngizinin kamu pacaran?" lanjut Ibu yang tetap berbisik.


"Iya Bu. Tapi selama ini Ibu ga bocor-bocor kan sama Bapak?" tanya gue sambil berbisik juga.


"Enggak dong. Pokoknya rahasia kamu dan calon menantu Ibu aaaaman!" ucap Ibu lalu berisyarat mengunci bibirnya dengan jemarinya.


"Sip! Makasi Ibuku yang cantik dan baik," kata gue sambil memeluknya.


"Iya iya. Ya sudah, Ibu mau mandi dulu ya?"


"Iya, Bu."


Tapi baru beberapa langkah Ibu pergi, beliau kembali lagi.


"Kamu sekolah kan pagi ini?" tanya Ibu.


"Iya, Bu," jawab gue.


"Hehe... Kalau begitu jemput motor Ibu lagi di bengkel biasa ya?"


"Haaaa? Lagi?" Gue menepuk jidat gue.


*


Hari-hari yang gue lalui bersama Papoy adalah waktu yang berharga banget buat gue! Gue ga nyangka Lele berhasil nyoblangin gue kaya gini.


Walaupun gue dan Papoy pacaran, Lele tetap ada di antara kami. Geng kami tetap bertiga! Hal-hal konyol tentu saja kami lalukan lagi, lagi dan lagi.


"Aaaa... Lihat!"


"Apa Le?" tanya Papoy.


Kami lagi bertiga habis dari kantin sekolah.


"Pohon gugur! Kaya lagi auntum, anjoy!" kata Lele.


"Eh, iya bener. Tu pohon habis kena penyakit kali ya, sampai daun-daunnya pada gugur begitu?" kata gue.


"Halah ga penting! Yang penting sekarang ayo kita foto-foto di sana!" kata Lele sambil narik tangan gue dan Papoy.