Miyawlova

Miyawlova
Terminator?



Latihan karate akan segera dimulai. Saatnya melakukan ritual seremoni sebelum latihan dimulai. Orang-orang berbaris mengikuti strata level sabuk. Gilang ada di barisan paling belakang sebelah kiri, sementara gue jelas yang paling depan karena gue yang memimpin.


Orang-orang duduk dengan kaki diduduki dan tangan memegang paha.


"KARATEKA YOI," teriak gue. Seketika semua orang menegakkan duduknya dan sedikit membusungkan dada.


"Sumpah karate."


Seketika orang-orang mengikuti ucapan gue.


"Sanggup memelihara kepribadian."


"Sanggup patuh kepada kejujuran."


Sejujurnya ini yang paling berat gue lakuin. Gue paling sulit buat jujur, bahkan kepada diri gue sendiri.


"Sanggup mempertinggi prestasi."


"Sanggup menjaga sopan santun."


Kalau di bagian ini gue ga ambil pusing, karena kesopanan itu tergantung dengan lingkungan. Selama ini gue barbar karena lingkungan menuntun gue berbuat demikian.


"Sanggup menguasai diri."


"Sumpah karate selesai, makusho, itssss!"


Seketika orang-orang pun mengheningkan diri untuk menenangkan pikiran.


"Yame!"


"Kepada bendera merah putih, rei!"


Seketika orang-orang menunduk di lantai untuk memberi penghormatan. Rei artinya hormat.


"Kepada bendera organisasi, rei!"


"Kepada senpai, rei!"


"Kepada kohai dan dojo, rei!"


Orang-orang pun bangkit untuk membubarkan diri. Di sini bukan bubar berarti beneran bubar, melainkan bubar dari ritual seremoni dan memulai latihan fisik.


"Baiklah, kita mulai pemanasan. Imron, sini!" kata gue.


"Osh!" sahutnya.


"Pimpin pemanasan!" kata gue.


Pemanasan pun dimulai.


"Yang bener gerakannya. GAYUNG! JANGAN SOK CANTIK JARINYA! TARIK KEPALALU YANG BENER! MAU GUE YANG TARIKIN?"


Seketika Gilang nunjukin ekspresi takut. Hahaha... Gue paling suka membuat Gilang kaya gini. Tapi gue ga tahu juga doi beneran takut atau pura-pura takut biar buat gue seneng.


Setelah banyak gerakan pemanasan dilakukan, saatnya gerakan peregangan. Bagian gerakan ini dilakukan secara berpasangan. Gue pun langsung duduk di depan Gilang.


Gilang kelihatan senyum tapi ditahannya. Emangnya gue ga lihat! Lu seneng ya gue kerjain?


Kami berdua pun sama-sama duduk saling berhadapan dan merentangkan kedua kaki. Kedua telapak kaki gue nempel di kedua telapak kaki Gilang. Giliran pertama gue narik sabuk Gilang sampai Gilang tertarik ke depan dan lama-lama kedua kakinya membentuk garis lurus.


"Ampun Sensei, ampun. Aaaarh..." Gilang kesakitan.


"Lemah!" Tambah gue tarik makin kuat.


"Aaaaaarg... " Gilang makin kesakitan. Gue pun mengendurkan tarikan gue pelan-pelan lalu melepaskannya.


"Gimana mau jangkauan tendanganlu jauh, kalau split kaya gini doang lu ga bisa!" Protes gue. "Sekarang lu tarik gue sekuat mungkin," kata gue.


"See?"


"Kok bisa?" Gilang heran dan kaya kagum banget gitu sama gue.


"Iya, mau, mau." Semangat banget deh lu, Gay! Gue makin suka kalau begini caranya.


Gue pun berdiri buat nunjukin skill gue.



"Udah lurus belum ini?" Orang-orang pada merhatiin gue.


"OSH... SUDAAAH..." jawab mereka bersama-sama.


Latihan peregangan pun dilanjutkan ke gerakan yang lain.


Waktu terus berjalan, banyak gerakan yang udah diperdalam dan diulangi pagi ini. Setelah semuanya selesai, gerakan pendinginan pun dilakukan. Setelahnya kami pun membubarkan diri. Kali ini benar-benar bubar karena sesi latihan udah selesai.


Gue pun menuju toilet, gue mau mandi dan mengganti pakaian gue. Ga lupa dengan sedikit touch up di muka gue biar kelihatan seger.


Setelahnya gue pun masuk ke kelas. Gue duduk di bangku gue dan Gilang baru aja masuk. Hahaha... Gue lihat cara jalan Gilang kaya habis sunat.


"Lu kenapa Lang?" tanya Tamtam. "Habis sunat lu ya?" sambung Richard.


"Biasa, jawara kalau habis tarung begini," jawab Gilang dengan PeDenya dan jalan gitu aja menuju bangkunya.


"Hai," sapa Gilang dengan mengedipkan sebelah matanya ke gue. Gue nahan ngakak.


Sampai di samping bangkunya Gilang menyenderkan diri di meja terus berpose ala-ala artis pemotretan.


"HAHAHAHA..."


BRAK BRAK BRAK...


Gue ngakak sambil mukul-mukul meja.


"Ada ada aja sih lu Gay! Hahaha..." Sumpah, gue geli banget sama anak Jamet satu ini.


Rian pun duduk di sebelah gue, di bangku Lele.


"Gue seneng banget lihat perubahan lu selama sebulanan ini," kata Rian.


"Maksudlu?" Gue berhenti ngakak dengan sisa-sisa rasa geli di muka gue dan air mata gue nyaris tumpah. Gue sambil menyeka mata gue.


"Papoy yang biasanya adalah sesosok terminator berjalan. Mana pernah lu ngakak dengan hal-hal sereceh ini. Apalagi yang ngebanyol adalah dari spesies cowok," jelas Rian.


"Masa sih?" kata gue.


"Iya. Lihat dirilu sekarang. Ceria, barbar sih masih tapi agak berkuranglah. Semua berkat Gilang," lanjut Rian dan dia melemparkan pandangannya ke Gilang.


Gilang yang tahu kalau dirinya lagi diomongin seketika memberikan kecupan manja ke jarinya buat kami.


"Jadi dia berjasa buat gue? Ngadi-ngadi lu!" protes gue ke Rian lalu gue ngejulurin lidah ke Gilang.


"Serius gue. Biasanya seseorang yang udah berhasil merubah karakter orang lain maka mereka akan jadian," kata Rian.


"Anjir! Lu ngutuk gue? Pergi lu sana! Balik ke tempatlu! Sana! Sana!" Gue memukul-mukul pundak dan punggung Rian pakai buku buat mengusir dia.


Rian pun pindah tempat duduknya dengan muka nyebelin yang ngeledekin gue.


Kalau dipikir-pikir bener juga sih kata Rian. Gue berubah begini karena Gilang dan Gilang yang paling kelihatan perubahannya itu karena ulah gue. Kami sama-sama berubah.


Gue jadi berpikir, kapan ya gue berubah jadi kaya Lele yang centil, girly, ga malu buat manja sama orang. Gue kan juga pengen ngelendotin Gilang. Hihi.


Anjir! Kok gue jadi senyum-senyum sendiri gini ya? Gue pun melirik ke sekitar gue, ada yang ngelihatin gue ga ya barusan? Malu banget kalau sampai ada yang merhatiin gue.


Seeeeet... Mata gue menuju ke Gilang lagi dan ternyata dia lagi merhatiin gue. Dia lagi bertopang dagu di atas meja.


Gue grogi banget, sumpah! Gue pun langsung memicingkan mata, mengisyaratkan mau nyolok mata dia pakai dua jari gue. Gilang malah ngasih kecupan dari jauh, anjir!


Gue pun balas kecupannya itu dengan mengacungkan jari tengah ke Gilang. Gilang seketika tiba-tiba batuk karena kaget dengan reaksi gue. Hahaha... Lucu banget sih tu anak. Pengen rasanya gue cubit kedua pipinya.