Miyawlova

Miyawlova
Gak Pacaran Kok, Enggak



Gay, terakhir gue belajar motornya di lapangan. Apa ga sebaiknya kita ke lapangan aja?


"Ayo coba sekali lagi," kata Gilang.


"Ini kan jalan umum. Kasihan kalau ada yang lewat mesti terhambat gara-gara gue," balas gue.


"Ga akan. Lu kan jalannya minggir. Yok coba," Gilang maksa gue.


Gue pun muter gas di tangan kanan gue. Pelan pokoknya pelan terus tahan.


"Motornya jalan Gay! Jalan!" gue girang.


"Tambah gasnya! Ini terlalu lambat. Kita bisa jatuh!" kata Gilang.


NGEEEEENG...


Lagi-lagi motor jadi ngetril. Lagi-lagi Gilang yang ambil kendali. Gue dipeluknya lagi. Tangan Gilang ngendaliin stang motor.


Motor yang gue bawa hampir nyungsep ke semak pinggi jalan. Untung Gilang berhasil menghentikan motor dan arahnya agak dibelokkin. Motor pun berhenti dalam posisi miring dan kami pun...


"E... E... E..."


"TAHAN PAKE KAKI, POY! TAHAN!"


"ELU LAH YANG TAHAN!"


Kami pun jatuh. Posisi motor miring ke samping.


"Cepet bangun, cepet. Mumpung ga ada orang!" kata Gilang.


Iya sih. Kalau ada orang bakal malu banget ini. Dengan tenaga yang gue dan Gilang kerahkan, kami berhasil negakin motor lagi sambil kami berdiri.


Gilang dan gue ngos-ngosan.


"Lu lebih cocok pake motor yang ada koplingnya. Aman. Tanganlu ga bisa ngontrol gas," Gilang menggeleng-geleng.


"Iya kan gue udah bilang, dulu gue diajarin motor sama bokap itu motor tril, bukan motor matic," jawab gue.


"Padahal motor matic itu paling gampang bawanya. Yok coba lagi," kata Gilang.


Gilang sabar banget lu Lang. Kalau gue jadi lu gue udahan aja kali. Paling males ngajarin orang yang udah diulang-ulang tapi ga ngerti-ngerti.


Gue masih nengok ke belakang sambil ngelihatin Gilang.


"Loh kok malah bengong? Ayok sekali lagi. Gue yakin lu pasti bisa. Gampang kok, belum terbiasa aja," kata Gilang.


"Oke," gue senyum dan balik lagi menghadap ke depan.


"Pelan-pelan..." kata gue.


"Ya, pelan-pelan. Tambah kecepatan tapi ga mendadak," jawab Gilang.


Gue berhasil membuat motor melaju. Kecepatannya gue lihat di angka 20.


"Jaga kecepatan. Oke tanganlu udah mulai terbiasa. Nah, bagus, stabil terus, bagus. Jangan lupa belok, perhatikan jalan," kata Gilang.


Gue berhasil! Gue berhasil!


"Ah, gini doang mah gampang," kata gue sambil dengan bangga gue bawa motor ini sambil membonceng Gilang.


Jalanan adalah jalan perumahan, bukan jalan besar. Pagi-pagi begini masih sepi, hanya satu dua motor yang lewat.


"Bawa terus sampe rumah ya?" kata Gilang.


"Mampus. Itu kan ngelewatin jalan besar Gay?"


"Ga apa-apa. Jalan di pinggir aja. Sekalian ngelatih mental elu. Lu kan paling jago ngondisiin mental," kata Gilang. Udah, kalau gue dipuji-puji gini gue ga bisa menolak tantangan di depan.


Oke, di depan adalah jalan raya. Untungnya melewatinya ga perlu nyebrang, cuma tinggal menyusuri jalan di pinggir sebelah kiri doang.


Ada pengguna motor lain melajukan motornya di samping gue. Doi ngegodain gue dan Gilang.


"Ck ck ck... Asiknya pacaran pagi-pagi," kata mas-mas itu.


"Hai, Mas! Selamat pagi," kata gue.


"Pelanin terus jalannya Bro, biar ga sampe-sampe. Biar bisa berduaan sama ayang," mas-mas itu mainin mata ke Gilang di belakang yang lagi kospley jadi cewek.


"Hahaha... Iya dong Kak. Jadi jangan ganggu kami ya," kata Gilang yang ujug-ujug bernada centil sambil meluk gue erat banget.


"Hahaha... Ya lanjut-lanjut. Kalau gitu saya duluan ya?" kata mas-mas itu.


Weeeeek... muka gue langsung heran plus memonyongkan mulut.


"Kenalan lu, Gay?" tanya gue.


"Bukan. Ga tahu siapa. Kirain gue itu malah kenalan lu," jawab Gilang.


"Idih. Sejak kapan gue bergaul sama orang random gitu," balas gue.


"Iya ya, sokap banget. Tapi di dunia ini kita butuh orang-orang sokap buat mencairkan suasana," kata Gilang.


"Maksud lu?" tanya gue.


"Tuh, lihat... Lu yang tadinya grogi jadi biasa aja sekarang bawa motornya," kata Gilang.


Iya juga ya. Bener apa kata Gilang.


"Enak aja. Gue ga grogi tahu! Gue itu memikirkan nasib pengguna jalan lainnya. Jangan sampe mereka terganggu sama aktivitas berkendara gue yang belum terbiasa ini. Entah kecepatannya yang lambat bikin nyempit-nyempitin jalan, atau gue salah belok dan..."


"Halah, alibi," potong Gilang.


Iya, Gilang, gue grogi. Selain gue sebelumnya ga bisa bawa motor, gue juga grogi karena yang ngajarin gue itu elu.


Gue pun bawa motor ini sampe rumah.


Pas gue nyampe di halaman rumah...


"Loh, ada Nak Puput?"


"I-iya, Om. Hehe... Kebetulan ada urusan mau ngambil tugas tadi makanya ikut mampir," kata Gilang.


Bapak pun menarik tangan gue dan bercara di tempat terpisah dari Gilang. Doi berbisik...


"Awas kalau kamu pacar-pacaran! Kamu harus fokus sekolah, ngerti?"


"Iya, Pak. Saya mengerti. Lagipula mana mungkin saya pacaran sama teman saya sendiri. Ga ada nafsu-nafsunya sama sekali," jawab gue.


TUK...


Jidat gue digetok tiba-tiba.


"Anak kecil ngomongin nafsu!" kata Bapak.


Ya elah, salah ngomong gue. Padahal gue udah mengondisikan omongan yang sopan dan tertata.


"Maaf Pak. Maksud saya... Emh..."


"Sudah sana selesaikan urusan tugas kalian lalu berangkat!"


"Iya Pak. Iya," kata gue.


Gue pun mendatangi Gilang lagi.


"Buru pergi dari sini. Biasa... Bapak," kata gue.


"Iya, gue paham. Maklumin ajalah," balas Gilang.


Gue dan Gilang pun menuju rumah kakek lagi untuk mengambil motor gue. Setelahnya gue dan Gilang pun berangkat sekolah dengan menggunakan motor itu.


"Ga gue lagi nih yang bawa?" kata gue.


"Gimana kalau pulang sekolah aja? Kalau sekarang kan kita perlu motor dengan kecepatan yang lebih tinggi plus perlu nyalip-nyalip di antara kemacetan, jalannya juga harus lewat jalan besar mana jauh lagi. Takutnya nanti malah telat sampe ke sekolahnya?" jelas Gilang.


Bahasa dan nada ngomong Gilang sok bijak banget. Haha... Serasa lagi ngomong sama orang lain. Apa ini karena efek dia menjiwai meng-kospley jadi gue ya?


Bagus, bagus... Jadi cewek yang sikapnya sopan dan cantik. Dengan begitu pamor gue masih kejaga walaupun bagan gue disetir sama Gilang. Gue mau gitu juga deh. Gue mau menjiwai menjadi seorang cowok sejati. Asek.


Kami pun sampai di tempat parkiran sekolah. Eh, kayanya itu anak baru ya? Kok dari tadi ngelihatin Gilang? Maksud gue ngelihatin badan gue.


Tu anak baru jalan ke sini. Mau ngapain dia?


"Hai. Boleh kenalan ga?" kata cowok itu ke Gilang.


Gilang diem-diem aja karena bingung, ni anak siapa ya sokap banget?


"Ehem... Ehem..." Gue memunculkan suara bas gue dengan sikap badan yang tegap agak membusungkan dada.


Anak baru itu melihat ke gue. Tatapannya kaya risih gitu.