
"VINOOO... VINOOO... PUSSS..."
Gue dan Lele bersama-sama mencari Vino berkeliling komplek.
Sepuluh menit, lima belas menit, setengah jam, satu jam... Waktu berlalu tapi Vino ga ketemu-ketemu.
Gue lihat muka Lele udah bete, gerakannya udah lemes.
"Vino kemanaaaa..." rengek Lele.
"Yang sabar ya Le. Gimana kalau pulang aja dulu? Nanti juga Vino pulang sendiri kok. Jadi besok lagi aja ngambil Vinonya," kata gue.
"Tapi Gay, gue kangen sama Vino," kata Lele.
"Iya, mau gimana lagi? Lu kan mau ngadain party di rumah? Kalau nyariin Vino terus, gimana dengan party lu?" tanya gue.
Lele jongkok di trotoar.
"Tuh kan lu kecapean? Yuk sini gue gendong! Kita pulang ke rumah elu sekarang aja.
Gue pun menggendong Lele menuju mobilnya diparkir. Karena jalanan sempit, jadi kami harus berjalan kaki menuju mobilnya beberapa belas menit lagi.
Lele ada di punggung gue. Kepalanya ia rebahkan di pundak gue.
"Hauuus..." kata Lele.
"Ya udah, ya udah. Kita ke warung depan buat beli air minum ya?" kata gue menenangkan Lele.
Setelah membeli air mineral, gue dan Lele meminumnya lalu kami kembali gendong-gendongan.
Setelah beberapa puluh meter gue berjalan dari warung...
"VINOOOO..."
Lele lalu menepuk-nepuk pundak gue. "Vino, Gay! Vino!" katanya.
"Mana? Mana?" Gue menurunkan Lele.
Lele pun langsung berlari ke sebuah tempat dekat parit. Di sana ada setumpuk kardus bekas yang masih berbentuk kotak. Ternyata Vino sedang meneduh di sana dan terlihat oleh Lele.
Lele menggendong Vino. Gue ikut mendekat dan melihat Vino bersimbah darah. Kayanya Vino baru aja diserang secara buas. Luka menganga di perutnya, bekas gigitan di lehernya dan luka di wajahnya.
"Vinooo..." Lele menangis memeluk dan menciumi Vino.
Gue jadi ga enak sama Lele. Lele menitipkan Vino sama Gilang dan gue menganggap remeh kebiasaan Vino yang suka kelayapan.
"Lu gimana sih Gay? Gue minta lu jagain anak gue, tapi sekarang dia malah kaya gini! Gue kecewa sama lu, ga amanah!" Lele mengomel dengan suara yang gemetar. Lele bersuara sambil menangis.
"Sorry Le. Emh... Kita bawa Vino ke dokter sekarang!" kata gue.
"Ya iyalah! Gue ga mau Vino kenapa-kenapa!"
Gue dan Lele pun berjalan cepat nyaris berlari menuju mobil.
Gue dan Lele pun sampai di mobil. Pakaian Lele udah kotor karena but ngegendong Vino yang kotor dan berdarah-darah. Sepanjang jalan Lele merengek aja.
"Apa apa ini Non?" driver ikut panik.
"Kucing kesayangan Lele terluka Pak. Butuh pertolongan medis segera," jawab gue.
"Cepetan Pak ke klinik hewan!" tegas Lele.
"I-iya, Non." Driver pun dengan gercepnya tancap gas.
"Vino, yang kuat ya Pin. Gue yakin lu kuat Pin," ucap gue yang duduk di sebelah Lele dalam mobil. Gue ikut ngelus-ngelus Vino juga.
"Kayanya gue sebentar lagi mati deh," ucap Vino.
"JANGAN!" gue auto menekan-nekan dada Vino. Gue panik. "Gue bilang jangan ngomong gitu ya jangan! Nurut napa Pin!"
Lele bingung ngelihatin gue.
"Eh?" gue baru sadar Lele lagi bingung.
"Vino bilang dia hampir nyerah, Le," jelas gue.
"Vino ngomong sama lu? Jangan ngadi-ngadi lu, Gay!" kata Lele.
"Lu ga percaya sama gue? Oh iya, gue kan bisa ruqyah Le! Lu lupa kalau gue sakti?" Entah dari mana ide alibi gue itu datang. Ujug-ujug gue mengklaim diri kalau gue sakti.
Tapi memang bener sih. Semenjak gue tukeran raga sama Gilang, gue jadi sakti, bisa ngomong sama kucing.