
Guru sudah memulai pelajaran. Gue dari tempat duduk lama Gilang memandang Gilang di tempat duduk gue yang fisiknya adalah seorang Papoy. Gilang punya sikap yang bijaksana, ga asal terima ide gue yang minta jadian sama dia. Atau jangan-jangan Gilang naksir sama Lele?
Aduh, hilangkan pikiran ga jelas kaya gitu, Papoy! Gue ngucek-ngucek mata gue dan mencoba fokus ke depan merhatiin guru ngejelasin pelajaran.
Waktu berlalu, bel istirahat sudah berbunyi. Gue datang ke meja Papoy KW. Kami menunda urusan yang lainnya demi sharing konsep OSIS yang gue kuasai.
"Gue masih belum nyambung, Poy. Gimana cerita awalnya kok bisa program itu dibentuk? Menurut gue dananya cukup gede loh itu yang di-budget-in pihak sekolah," ungkap Gilang.
"Gue pikir lu tinggal ngejalanin aja, Gay," jawab gue.
"Ga bisa. Bentar lagi kan judulnya rapat OSIS. Masa gue cuma ngasih tahu tanpa komen-komenin kritik saran yang masuk? Ga bisa gitu dong. Dalam rapat itu harus ada argumen, ada pro dan kontra nanti dicarikan jalan tengahnya. Kalau cuma nginfoin ngapain rapat? Komunikasian aja via WA grup," kata Gilang.
Bener juga apa kata Gilang. Ih gue semakin salut sama Gilang. Dia ternyata ga pasif orangnya.
"POY... Malah masih di sini?" seorang kakak kelas meneriaki Gilang dari pintu.
"IYA KAK IYA. INI OTEWE," jawab Gilang.
Gilang pun bangkit dan jalan sambil narik tangan gue.
"Heh? Mau dibawa kemana gue?" tanya gue heran sambil ikut melangkah pergi.
"Ga ada waktu buat sertijab. Lu jadi ajudan pribadi gue sekarang!" tegas Gilang.
Gue senyum-senyum aja walaupun mulut gue berkata, "Mana ada ajudan pengurus OSIS Gay? Jangan aneh-aneh lu."
"Pokoknya nanti bilang aja lu lagi belajar teknik diskusi. Ide-ide yang ada di kepalalu sampein aja nanti. Alasannya bilang aja Papoy udah sempat ngebahas ini sama lu," kata Gilang.
"Oke," gue nurut aja deh. Memang terbaik leadership Gilang sekarang. Entah kesambet setan apa dia bisa sekeren ini.
Gue jalan bareng Gilang. Gue adalah ajudan seorang Papoy. Ajudan itu harus keren. Dalam kepala gue, seorang ajudan itu pakai setelan jas hitam, rambut klimis, telinga ga pernah lepas dari nirkabel phone, kacamata hitam, jalan gagah, dada dibusungkan, dagu agak tinggi, dan memperhatikan sekitar dengan curi-curi pandang.
Akhirnya gue dan Gilang pun sampai di ruangan OSIS. Gue duduk di belakang Gilang dengan narik kursi tambahan ke sisinya.
"Maaf, adik ini siapa ya?" Sebelum rapat dimulai, sekretaris OSIS menanyakan kehadiran gue.
"Em, Kak..." Gilang mengacungkan tangan. "Saya sudah kabari ketua juga tadi. Jadi di belakang saya ini namanya Gilang, satu kelas dengan saya. Dia sedang ada project penulisan artikel tentang bagaimana belajar berforum. Maka dari itu untuk beberapa waktu kedepan dia akan mendampingi saya. Ya anggap saja jadi ajudan sementara," jelas Gilang.
"Lu formal banget ngomongnya Poy? Hahaha... Grogi lu ya sama ajudan pribadi lu?" kata seorang seksi OSIS yang lain.
"Ajudan pribadi ga tuh? Ciyeee..." ucap yang lain.
"Kiwkiw..."
Suasana menghangat sejenak. Wajah-wajah diiringi canda tawa mengantar forum yang akan berlangsung ini.
"Bukan rahasia lagi lu dekat sama Gilang itu pasti ada apa-apanya. Orang-orang udah banyak yang ngomongin elu ma dia," bisik seorang pengurus OSIS yang duduk di sebelah Gilang. Untungnya gue masih bisa denger apa yang mereka obrolin walaupun secara bisik-bisik.
Jadi gue dan Gilang udah jadi bahan pembicaraan orang-orang? Ih, kok seneng ya dengernya. Hihi...
"Ole baiklah, untuk mempersingkat waktu rapat ini akan dilaksanakan..."
Gue dan Gilang pun mulai serius mengikuti rapat ini.
Beberapa waktu kemudian rapat pun usai. Orang-orang hendak membubarkan diri.
"Wah, gue ga nyangka ide-ide lu keren juga," kata seorang pengurus OSIS kepada Gilang. "Walau pun disampeinnya lewat Gilang, tapi inti ide itu bisa sampe dengan baik. Idenya greget banget," lanjutnya.
"Selamat ya Poy, kayanya lu berhasil mengkader ajudanlu ini. Gue lihat penampilannya waktu rapat banget, vokal banget anaknya. Padahal lu bilang kan dia masih dalam tahap belajar kan ya?" ucap yang lain kepada Gilang alias Papoy KW.
"Hai, gue Jojo," kata seseorang mendekati gue dan menyalami gue.
"Gue udah lihat gimana lu bicara dalam rapat tadi. Lu keren, Bro! Lu anak pindahan ya?"
"Iya, gue pindahan dari luar kota. Baru aja semester ini gue di sini," jawab gue.
"Oh, pantes. Kalau lu datang sebelum itu pasti lu lolos dalam seleksi pengurus OSIS. Sayang aja gitu potensi sebaik lu ga ada di dalam sistem."
"Gue ikut berkontribusi kok, gue janji. Tinggal gue bisikin Papoy. Hahaha..."
"Hahaha... Jadi penasihat agung. Jabatanlu naik itu harusnya. Masa ajudan. Hahaha..."
Obrolan penuh bangga terus bersambung seiring langkah gue, Gilang dan beberapa murid setelah keluar dari ruangan rapat. Setelahnya kami pun berpisah karena kelas yang beda-beda. Tinggal gue berdua sama Gilang.
"Gay, lihat deh. Kok orang-orang kaya merhatiin kita diem-diem gitu sih? Gue bisa lihat tuh cara meliriknya mereka," bisik gue.
"Iya, gue juga ga tahu," jawab Gilang.
Seorang cewek yang ngakunya sebagai cewek paling populer di sekolahan ini beserta dayang-dayangnya mencegat jalan Gilang...
dan gue.
Cewek-cewek itu terkenal suka nyari masalah sama murid-murid lain, terutama sesama kelas IPS. Gue yang ada di kelas IPA kaya beda dimensi gitu sama anak-anak IPS, jadi hampir ga pernah bersinggungan dengan mereka apalagi bermasalah. Ini gue bicara sebagai Papoy, memang aslinya gue Papoy kan.
Leader geng itu cuma komunikasi sama Gilang yang di mata mereka adalah sebagai Papoy. Kasihan Gilang. Tu cewek niat berurusan sama gue malah Gilang yang kena.
"Lu ga usah ikut campur... Huss sana! Huss... huss..." kata dua orang pengawal leader geng itu. Mereka ngusir gue.
Ini adalah urusan sesama cewek. Gue cewek di dalam tapi fisik gue cowok. Gue ga bisa ikut campur, gue pun mundur. Tapi gue masih merhatiin geng pem-bully itu ke si Gilang.
Muka Gilang keren bener, ga ada gentar-gentarnya sama sekali. Mulutnya lebih banyak diem dan sesekali nyunggingin senyum mengejek. Sementara cewek anak IPS itu dia nunjuk-nunjuk sampe ngedorong-dorong bahu Gilang dengan telunjuknya itu.
Sebentar, gue konsentrasi dulu dari jauh, sebenarnya apa yang lagi mereka bicarakan.
Ah, gue panggil salah satu murid cewek aja deh daripada repot menerka-nerka arti gerakan bibir dan bahasa tubuh mereka.
"Psss... Sini dek!"
"Ya Kak?"
"Ini jajan buat lu," gue ngasih tu anak duit.
"Wah, Kakak baik banget."
Saat adik kelas gue itu mau ngambil duit di tangan gue... "Eits, ada syaratnya!" kata gue sambil narik duit gue.
"Apa itu Kak?"
"Lu nguping percakapan mereka tentang apa. Kalau perlu lu rekam aja pake HP-lu. Nanti lu balik lagi ke gue baru gue kasih ni duit buat lu."
"Bener ya Kak? Janji?"
"Iya."
"Jangan bohong ya? Ntar lu pergi, lagi?"
"Enggak! Itu di sana, cewek yang dikeroyok itu temen gue. Ga mungkin gue ninggalin dia. Gue tunggu di sini."
"Oh gitu. Oke Kak." Adik kelas gue itu pun pergi sesuai dengan permintaan gue.