
"Mama yang ngundang." Wanita paruh baya itu berdiri di pintu. Rupanya nyokap Lele mendengar curhatan Lele terhadap gue.
"Mama?" Lele menyeka matanya lalu bangkit dari baringnya.
TUK... TUK... TUK...
Suara high heels nyokap Lele memecah keheningan yang sedari tadi menggigit-gigit kesedihan di hati Lele.
"Ya. Mama tahu kalau dulu kamu pernah suka sama Jo. Kebetulan juga Mama baru tahu kalau dia adalah anak teman Mama. So, untuk membuat surprise buat anak Mama tersayang ini, Mama undang aja dia," jelas nyokap Lele. Wanita itu sudah duduk di tepian ranjang juga. Ia bicara sambil memegang gemas dagu Lele.
"Kok Mama ga bilang-bilang?" protes Lele.
"Masa surprise bilang-bilang sih? Iya ga Gilang?" ucap nyokap Lele.
"I-iya Tante. Hihihi..." jawab gue.
"Ya udah. Jangan sedih lagi. Harusnya kamu bukan menangisi kedatangan Jo! Harusnya kamu senang! Ayolah, Laila, anak Mama yang cantik. Saatnya kita happy, karena ini adalah hari Laila sedunia. Yok! Ayo... Kasihan teman-temanmu yang lainnya. Mereka udah nungguin di bawah," bujuk nyokap Lele.
"Ayo!" tambah gue saat Lele menengok ke gue.
Lele pun mengusap wajahnya lalu bangkit. Dibiarkannya Arjuna bersantai di atas kasurnya.
Lele dan nyokapnya pun menuju pintu.
"Le? Ini Arjuna dibiarin aja?" kata gue.
"Iya," Lele menoleh.
"Nanti pup sembarangan loh? Mending taruh litterbox-nya di sini," saran gue.
"Ya sudah, Mama duluan ya? Ya, Nak Gilang?" ucap nyokap Lele.
"Iya Ma. Nanti Laila nyusul," kata Lele.
"Iya Tante," jawab gue.
"Memangnya penting ya litterbox-nya ditaruh di sini?" ucap Lele.
"Gue pengalaman sama Vino, Le. Kalau kucing lu tinggal terkurung di kamar, pas mereka buang air mereka akan nyari tempat. Dan lu tahu sasaran utama mereka apa?" ucap gue.
"Apa?" kata Lele.
"Keset, seprei, tas sekolah, apapun," kata gue sambil nunjuk barang-barang itu.
"Hem, iya sih. Selama ini gue selalu nyuruh pembokat buat ngeberesin kotoran anak-anak gue. Jadi gue suka bodo amat kaya gini," kata Lele.
"Ga boleh gitu. Kucing juga bisa setres. Biasanya buang air di litterbox-nya, eh budayanya harus rusak gara-gara kebiasaan males lu," kata gue.
"Hehe... Oke, oke. Daripada lu makin bawel mending gue bawa Arjuna sekarang. Ayo, Juna," kata Lele sambil menggendong Arjuna.
"Mau ngajak Arjuna party?" tanya gue.
"Ide yang bagus! Tapi ga deh, ga usah. Kita balikin dia ke kamarnya aja," ucap Lele.
Gue nemenin Lele ke kamar pojok lagi. Setelah Arjuna di kamarnya, makanan, minuman dan litterbox-nya dipastikan oke, kami berdua pun meninggalkan kucing itu di sana. Pintu kamar kembali ditutup.
"Le, tadi sebenarnya lu cemburu kan ngelihat Gilang sama Kak Jonathan? Lu marah bukan soal Gilang yang bawa Arjuna ke sini kan? Alibi lu aja, ya kan?" ucap gue setengah berbisik.
Kami berdua berjalan bersama di lorong lantai dua.
Lele narik hidung gue. "AW! Sakit Le!"
"Kalau lu bocor awas ya!" ancam Lele sambil menarik hidung gue semakin kuat.
"Ampun! Ampun! Sakit Le! I-iya, iya gue ga bocor-bocor!" jawab gue dengan suara bindeng seperti kodok.
"Janji?" kata Lele.
"Janji! Udah Le! Sakit!" tegas gue.
Lele pun melepaskan tangannya dari hidung gue.
"Tapi bohong! Weeee... Hahaha..." Gue meledek Lele dan karena gue ogah hidung gue dicubit lagi, jadi gue lari.
"Idih! Nyebelin!" ucap Lele.
Gue menoleh dan berlari mundur sambil menjulurkan lidah.
Kejar-kejaran terjadi. Sampai gue nyaris sampai di tangga menuju ke lantai satu. Gue pun berhenti. Tatapan gue terkunci pada satu sosok di tangga yang masih setengah jalan ia menaiki anak-anak tangga.
"Ha! Kena lu! Mau kemana?" Lele menjewer telinga gue. Tapi, gue masih terdiam seolah ga terasa apa-apa di telinga gue.
Gue menatap Mentari. Mukanya manyun kaya mau nangis tapi sebel.
"Lu lihatin siapa sih?" Lele terdiam lalu menoleh ikut melihat ke arah yang gue lihat.
"Itu siapa, Poy?" tanya Lele.
"Lu ga ngundang dia?" Gue dan Lele sama-sama masih ngelihatin Mentari.
"Gue ngundangnya ke perwakilan kelas. Mana tahu gue ngundang siapa aja," ucap Lele yang masih melihat ke arah Mentari.
"Siapa dia?" tanya Lele.
"I-itu..." Apakah gue harus bilang kalau itu adalah mantan Gilang? Pasti Lele akan kecewa kalau gue bilang kaya gitu. Gue harus jawab apa nih?