Miyawlova

Miyawlova
Bantuan Darurat



Gue berjalan menuju kelas. Gue lega abis menyelesaikan hajat gue. Selain itu gue juga abis melampiaskan emosi.


Sebenarnya tu anak tadi lagi sial juga. Gue yang sedang dalam tekanan trauma karena urusan ga penting di belalai gajah ini jadi membuat emosi labil dan gampang meledak. Ah, gue pingin nanya sama Gilang, apa yang bisa membuat dia tahan nahan emosi di dirinya sendiri tanpa dikeluarin.


Gue masuk ke dalam kelas. Gue beri salam ke guru dan guru mempersilakan gue balik ke meja gue. Gue pun lanjut mengikuti pelajaran. Gue mendengarkan penjelasan guru dan mencatat sedikit-sedikit di buku.


Beberapa waktu kemudian...


"Nah, silakan kerjakan contoh soal di papan. Siapa yang mau mulai di nomor satu?" kata guru. Setelahnya mata guru ngelirik ke gue agak lama tapi gak gue gubris. Gue pura-pura sibuk dengan buku gue.


"Ya, boleh, Tamtam," kata guru setelah jin penunggu pintu itu angkat tangan.


Tamtam memang udah kaya jin penunggu pintu kelas. Duduknya pas banget di sebelah pintu kelas, suka nyapa orang masuk mirip yang suka ngomong, "Selamat datang di Indonmat, selamat berbelanja..." dan paling cepat tahu gosip apapun. Baru nongol ngelewatin pintu, kita bakal langsung dicepuin.


Guru pun nanya lagi tentang soal nomor selanjutnya. Beliau ngelirik gue lagi. Kali ini Gilang juga ngelihatin gue. Apa? Gue harus maju buat nyelesein soal di depan? Ogah! Jawaban bener dapet predikat carmuk, jawaban salah dikatain bego, malu tahu!


Papoy KW alias Gilang angkat tangan. Hem, bagus! Ga sia-sia gue membela nama baik lu tadi di WC sekarang giliran lu yang mengharumkan nama gue. Haha... Gue kebayang anak-anak muji-muji gue setelah ini. "Wah, Papoy selama ini diam-diam nyembunyiin kegeniusannya!" Wah, gue terdengar keren dong.


"Ga sia-sia selama ini Papoy dekat sama Gilang, doi jadi ketularan genius." Ih, apaan ini? Kenapa pikiran yang beginian yang lewat di otak gue? Jangan dong! Jatohnya gue jadi numpang pansos sama Gilang. Ogah!


Gue angkat tangan, biar Gilang ga usah maju.


"Iya, Gilang? Wah, Puput sudah mengambil jatah soal kamu. Kalau begitu kamu kerjakan yang nomor selanjutnya ya," kata guru. What? Gilang udah berdiri di depan? Sejak kapan dia di situ? Astoge, kenapa penyakit bengong gue ga hilang-hilang sih?!


Guru pun menulis soal di papan tulis dengan menggunakan spidol. Tamtam baru aja selesai mengerjakan. Sekarang guru itu yang berdiri di samping Gilang sambil nulis.


"Silakan, Gilang."


Guepun maju. Gue berdiri di samping Gilang alias Papoy KW. Tadi gue ga ngeh soalnya kaya gimana, setelah gue fokus ke soal gue...


"Mampus gue," gerutu gue sambil berbisik. Gue pelototin dalam-dalam tu tulisan, berharap ada keajaiban, semoga tiba-tiba otak gue langsung encer.


Kayanya gue ga dapat penjelasan yang bagian ini deh. Apa yang gue lewatkan sampe soal ini bikin gue bingung? Oh! Tadi kan gue ke toilet. Pasti bagian ini dijelasin pas gue lagi izin tadi. Ya ampun kok bisa sial banget gini gue?


"Pssst... Zonk ya?" bisik Gilang.


"He em," balas gue.


Gilang melirik guru yang lagi sibuk di mejanya terus berganti ngelihat ke gue. Dia mainin alisnya terus melempar pandangannya ke tulisan dia.


"Salin ini, buru," kata Gilang. Dia pun nulis cepet banget dan gue baru sadar itu adalah jawaban buat soal gue. Gue nyalin tulisan yang super kecil itu ke bagian papan tulis gue.


Setelah gue selesai nyalin dengan kecepatan tinggi, Gilang pun menghapus tulisan dia yang kecil-kecil itu dan menyisakan jawaban buat soal dia.


"Permisi, Pak." Papoy KW menaruh spidol ke meja guru dan dia balik ke mejanya. Hal itu juga gue lakuin setelahnya.


Guru pun mengoreksi jawaban Tamtam, Gilang dan Gue. Semuanya benar, cuma bagian Tamtam disempurnakan sedikit sama guru. Aman! Gue selamat.


"Baik, terima kasih Tamtam, Puput dan Gilang sudah mengerjakan contoh soal. Kita beri applaus untuk teman-teman kalian," kata guru.


PROK PROK PROK


"Lu sekongkol kan tadi sama Papoy?" bisik Rian.


"Hah? Emang kelihatan banget?" tanya gue. Kami bicara dengan muka melihat ke depan, ga saling melihat satu sama lain.


"Mencurigakannya gimana?" tanya gue lagi.


"Kalian berdiri deket banget. Gue ga tahu apa yang kalian lakuin di depan. Gue tebak kalian ngobrol?" kata Rian.


"Iya, gue tadi bisik-bisik sama Gi-Eh Papoy. Zonk banget gue tadi dapat soal yang gue ga paham. Kayanya bagian gue dijelasin pas gue ke toilet deh," jelas gue masih dengan berbisik-bisik.


"Oh, gitu ceritanya. Untung lu ketolong ya. Tahu gitu lu ga usah maju tadi," balas Rian.


"Ya gimana, masa gue kalah sama Papoy. Ogah gue," jawab gue jujur.


"Pppffft... " Rian nahan ngakak. Gue nyenggol siku Rian biar dia ga ngakak.


"Ga mau kalah malah lu yang ditolongin. Pppffft..." lanjut Rian.


Pelajaran pun berlanjut. Lalu pelajaran berganti. Di sela waktu pergantian pelajaran ada jeda sebentar. Lagi ga ada guru di kelas. Gue pun duduk di sebelah Gilang alias Papoy KW.


"Thanks ya tadi lu udah nolongin gue di depan," kata gue.


"Ya, sama-sama," jawab Gilang.


"Ada yang mau gue bahas sama lu," kata gue.


"Oh mau sertijab sekarang? Bahas konsep lu di OSIS kan?" tebak Gilang.


"Bukan. Ya, tapi itu juga penting sih. Tapi bahas itu nanti aja setelah bahas yang ini," kata gue.


Gilang memutar badannya. Sekarang dia duduk menghadap ke gue. Dia nungguin hal serius apa yang mau gue bahas.


"Jadi gini..." kata gue.


"Sebuah permulaan buat minjem duit," gerutu Gilang.


"Heh! Iya sih, gue tahu seorang Gilang memang bokek, tapi bukan itu yang mau gue bahas. Gue ga bakal minjem duit," protes gue.


"Oke, lanjutkan," kata Gilang.


Gue pun menceritakan apa yang terjadi di toilet. Tapi bukan bagian rempong ngurusin belalai gajahnya! Gue ngebahas soal murid ga jelas yang udah menghina seorang Gilang.


"Ih, makasih loh, lu udah mau repot-repot ngebelain gue," kata Gilang.


Gue pun lanjut di bagian sumpah gue kepada murid ga tahu diri itu soal gue yang bakal punya pacar.


Gilang melipat tangannya di depan dadanya.


"Jadi lu mau jadian sama gue aja?" tanya Gilang.


"Ada pilihan lain?" balas gue.


"Demi harga diri lu juga kan, Gay?" kata gue.


"Hem... Gimana ya... Masalahnya..." kata Gilang alias Papoy KW.