
Siapa tuh ya cewek yang memperhatikan gue dari pintu kelas? Jangan-jangan dia adalah fans gue, maksudnya fans seorang Gilang.
Gue putuskan untuk melangkah mundur. Gue hampiri aja cewek itu.
"Hai," sapa gue. Setelah gue menyapanya dia nunjukin ekspresi kaget terus kaya salting gitu. Gue seganteng itu ya? Hahaha...
"Hai," jawab cewek itu.
"Boleh kenalan?" kata gue. Ni cewek kali aja bisa jadi temen gue. Daripada gue jadi anak ilang, kemana-mana ga punya gandengan kaya gini. Temen sih ada, tapi yang jadi sohib gue kan Lele dan Gilang. Sekarang keduanya udah jauh dari gue.
"Aw... Boleh dong," katanya malu-malu. "Mentari," ucapnya sambil menyodorkan tangan.
Gue sambut tangannya dengan sebuah senyuman. "Gilang," balas gue.
Setelah berjabatan tangan, gue pun mundur sedikit, melihat ke atas, gue baca tulisan di pintu kelasnya. Kelas sebelas IPS 3B. Oke, gue akan punya sohib dari anak IPS.
"Lu anak baru itu kan?" tanya Mentari.
"Iya, kok lu tahu?" tanya balik gue.
"Iya tahu dong. Apa sih yang enggak. Hihi..." kata Mentari.
"Berarti lu diem-diem suka merhatiin gue nih?" goda gue.
Mentari pun menyeka rambutnya ke belakang telinga sambil menunduk. Dia terlihat lagi nahan senyumnya.
"Hayo ngaku!" lanjut gue.
"Lu ternyata orangnya friendly ya?" kata Mentari.
"Sebenarnya biasa aja sih. Cuma tadi gue kenotis sama elu senyum sama gue dari sini pas gue lagi lewat. Sepertinya lu yang lebih friendly," sanjung gue.
KRIIIIIIING...
Bel masuk berbunyi.
"Wah gue harus balik ke kelas nih," pamit gue.
"Iya, emh... emh..." Mentari mau ngomong sesuatu kayanya, tapi dia ragu-ragu.
"Temenan sama gue yuk?" ajak gue.
"Oh, tentu," jawabnya riang.
"WA, WA?" kata gue sambil ngeluarin HP.
"Oke... kosong delapan... (blablabla)."
"Sip, thanks ya. Sampai ketemu lagi," ucap gue.
"Iya, bye," jawabnya.
Gue pun berlari menuju kelas gue.
Kayanya tu anak suka sama gue, eh maksudnya suka sama seorang Gilang. Sabi kali gue manfaatin buat jadi pacar gue. Enak aja gue jadi bahan omongan terus sama tu anak ga jelas tadi, siapalah itu namanya, ga penting bener.
Gue pun duduk di bangku gue. Ga lama kemudian guru masuk. Gue pun mengikuti pelajaran yang disampein guru.
Waktu berlalu. Jam pulang pun tiba. Gilang alias Papoy KW berjalan menuju keluar kelas. Gue kejar Gilang dan begitu sampai di pintu kelas, tangannya berhasil gue pegang. Gue tahan Gilang dan dia pun berbalik.
"Ada apa?" tanya Gilang. Dia pun mencoba melepaskan tangan gue.
"Cuma mau ngomong sebentar aja," kata gue sambil tetap megang tangan Gilang.
"Ciyeeee..." goda Tamtam. Teman-teman juga ada yang ngelihatin kami. Gilang pun melototin tangan gue, isyarat biar gue ngelepasinnya.
Gue pun melepas pegangan tangan gue di tangannya.
"Soal yang kemarin..." kata gue.
"Ga usah dibahas ya," kata Gilang alias Papoy KW. Dia pun nyaris berbalik dan lanjut melipur.
"Gue minta maaf!" Kata-kata gue berhasil membuat Gilang kembali menoleh tapi kali ini matanya membulat.
"Jadi benar, Bapak nuduh elu pakai narkoboy makanya lu ngejauhin gue kaya gini?" tanya gue.
"Hah?" Kok ekspresi Gilang malah kaya bingung gitu sih? Jadi apa masalahnya kalau bukan itu?
"Soal suntikan itu," lanjut gue. Gilang terlihat mikir sejenak.
"Oh iya iya. Bener. Bapak ga suka sama gue, jadi lebih baik kita bener-bener jauhan dulu kan?" kata Gilang.
"Iya. Tapi gue minta maaf ya Gay?" kata gue.
PRUK PRUK PRUK...
"Mentari!" Gue melihat Mentari berlari. Apa dia barusan ngedatengin gue? Mata gue membulat. Jangan-jangan dia melihat gue memegang tangan Papoy KW dan doi cemburu?
"TAAAR... TARIIII... TUNGGUUU..." teriak gue.
Mendengar dia dipanggil sama gue, Mentari pun berhenti berlari. Dia diam memunggungi gue.
Gue berhenti di belakangnya sambil ngatur napas.
"Baru aja gue mau ngajak lu pulang bareng," kata gue.
Mentari berbalik. "Lu mau ngajak gue pulang bareng?"
"Iya," jawab gue.
"Gue kira lu mau pulang bareng Puput," kata Mentari.
"Enggak. Gue mau pulang bareng elu," kata gue.
Gue dan Mentari pun jalan kaki bareng melewati gerbang sekolah.
"Kenapa ga pulang bareng Puput? Bukannya kalian pacaran?" tanya Mentari.
"Hah? Siapa yang bilang begitu?" Itu sih maunya gue, tapi sikon ga mendukung dan gue harus mengubur perasaan gue. Cukup Poy! Kemarin lu udah menangisi keputusan lu, sekarang udah ga boleh ada acara nangis-nangis lagi!
"Tadi gue lihat kalian..."
"Pegangan tangan?"
"Iya."
"Hubungan gue dan Puput lagi ga baik. Tadi gue mau minta maaf sama dia. Sebelum kami ga komunikasian sama sekali, gue mau masalah di antara kami clear," jelas gue.
"Ngomong-ngomong memangnya lu pulangnya ga bawa motor atau dijemput?" tanya gue.
"Enggak. Gue biasa naik kendaraan umum," kata Mentari.
"Wah sama dong. Hihi..." kata gue. Ini kesempatan gue buat dapet temen barengan.
"Hihi... Memangnya lu tinggal dimana Gilang?" tanya Mentari.
"Gue tinggal di daerah selatan kota. Kalau lu?" kata gue.
"Gue di timur kota," jawab Mentari.
"Hem... searah tapi di angkot gue turun duluan," kata gue.
"Iya."
"Emh, itu dia angkotnya. Yuk," ajak gue.
Gue dan Mentari pun naik angkot. Kami duduk bersebelahan. Gue duduk di samping pintu dan dia di samping kanan gue.
"Ngomong-ngomong hobi lu apa?" tanya gue.
"Gue suka dance. Gue ikut ekskul sanggar," jawab Mentari.
"Iyakah? Tiap sabtu kalian latihan kan?" Mentari mengangguk. "Sama si Yeyen dong? Kenal ga? Atau Wui?" lanjut gue.
"Lu kenal mereka?" tanya Mentari antusias. Aduh gue lupa. Gue kan bukan Papoy! Mereka mana kenal sama Gilang.
"Ga kenal-kenal amat sih, cuma tahu orangnya aja. Beberapa kali pas gue bareng Puput dulu pernah aja ngelihat mereka gitu," jawab gue dengan senyuman kikuk.
"Oh gitu. Kirain kenal. Iya, gue suka latihan sabtu sore. Kalau lu? Hobi lu apa, selain karate?" tanya Mentari.
"Kok lu tahu gue suka ikut karate sih? Lu merhatiin gue ya?" tanya gue. Lagi-lagi momen malu-malu keluar dari raut wajah Mentari. Anjir, gue lagi berekting jadi cowok, padahal aslinya gue geli banget buat cewek salting gini.
"Hobi gue... Emh... Sekarang gue punya hobi baru," kata gue.
"Apa tuh?"
"Bareng-bareng sama elu," kata gue. Haha... Sekalian aja gue buat lu salting. Nah, bener kan ni anak langsung salting.
"Emangnya gue mau bareng-bareng sama elu?" tanya Mentari. Loh?
"Ga mau?" tanya gue.
"Mau. Hihihi..."
"Hihihi..."
"Ngomong-ngomong kalau besok gue nonton lu latihan dance boleh ga?" tanya gue.
CIIIIIIIT...
Tiba-tiba angkot ngerem mendadak, keras banget membuat kami yang ada di dalam mobil...