Miyawlova

Miyawlova
Saling Silang



Gue pun menggandeng Lele menuruni anak tangga. Mentari masih menunggu di tengah.


"Hai Mentari," sapa gue sambil senyum ketika udah ada di satu anak tangga yang sama dengan Mentari.


"Hai," balas Mentari dengan senyuman kikuk.


"Le, kenalin ini Mentari dari kelas IPS B. Tari, kenalin ini..." Belum sempat gue nyelesein kata-kata gue, Mentari pun menyelah.


"Laila, yang punya pesta tentunya. Hehehe... Mana bisa gue datang ke pesta yang gue ga tahu siapa yang buat pestanya," ucap Mentari.


"Iya, bener. By the way lu keren, Gay, udah kenal anak-anak IPS aja," kata Lele. "Pasti gue udah melewatkan banyak hal," lanjutnya.


"Ya, banyak banget," kata Mentari.


"Emh, tentu aja. Siapa suruh lu pakai acara sakit segala? Hehe..." gue mengalihkan pembicaraan. Gue ga mau Mentari ngomong yang macam-macam sama Lele.


"Sahabat lu ini bahkan beberapa kali aktif di rapat-rapat pengurus OSIS," ucap Mentari. Gue membulatkan mata sama Mentari sambil senyum. Oh, baiklah, jangan mengungkit masalah-masalah ya Tar. Cukup yang bagus-bagus aja yang lu omongin, batin gue.


"Bahaha... Iya iya. Oke. Gilang hebat!" Lele ngakak. Tentu aja ngakak. Dia kan tahu kalau gue bukan Gilang. Gue Papoy yang keseharian gue memang ngikutin rapat-rapat pengurus OSIS.


Melihat Lele ngakak, gue agak ngerasa suasana jadi freak jadi... "Gimana kalau kita semua ngobrol di bawah aja. Kita nikmatin makanan dan minuman. Daripada di sini, salah-salah langkah bisa gelinding kita sampai ke bawah sana."


Gue dan kedua temen gue ini pun melangkah menuruni tangga. Gue memakai fisik Gilang yang berada di antara dua cewek cantik. Belum lagi Papoy KW! Seorang Gilang ada di antara tiga cewek cantik. Alangkah beruntungnya lu, Gay.


Tapi, sebentar. Itu Jonathan dan Gilang alias Papoy KW! Mereka ngobrolnya asik banget. Gue melihat mereka di dekat pintu keluar. Ya ngelihatnya dari jauh sih.


Terus gue melirik ke Lele, apakah Lele tahu keberadaan mereka berdua? Kalau tahu mereka lagi berduaan kaya itu Lele bisa mewek kaya tadi lagi.


Gue pun membawa Lele dan Mentari menjauh dari Papoy KW dan Kak Jonathan.


"Gimana kalau kita sambil nikmatin angin semilir?" gue ngajak mereka berdua ke ruang samping dekat kolam renang.


Setelah kami sampe di dekat kolam renang, gue pun pamit. Gue bilang aja kalau gue lagi kebelet. Gue beralasan gue mau ke toilet.


Gue bergegas pergi. Padahal aslinya gue ga bener-bener pergi ke toilet. Gue menghampiri Gilang. Gue langsung narik tangan Gilang membuat dia berpindah ke sudut ruangan yang lain menjauhi Kak Jonathan.


"Lu mau ngapain sih Poy?" tanya Gilang begitu gue dan Gilang sampe di pojokan.


"Lu kenapa bareng Kak Jonathan sih? Sejak kapan kalian akrab?" tanya gue.


"Sejak sore tadi," kata Gilang.


"Kok bisa?" kata gue.


"Ada masalah?" ucap Gilang.


"Masalah lah! Jawab pertanyaan gue kenapa kalian bisa akrab!" kata gue.


Gue dan Gilang bicara sedikit berbisik, walaupun ada suara musik tapi kami kaya melakukan pembicaraan rahasia.


"Kak Jonathan itu suka banget sama kucing. Tadi dia sharing-sharing dan semua tips-nya worth it banget! Obrolan kami pun nyambung. Ga tahu kenapa kaya Arjuna yang menyatukan kami. Ya udah kami berteman aja. Ga ada yang salah kan?" jelas Gilang.


"Masalah, Gay! Masalah banget! Yang lu pake sekarang itu adalah badan gue! Jangan sampai gue, seorang Papoy deket sama Kak Jonathan! Oke?" tegas gue.


"Gue butuh alasan, Poy," tegas Gilang balik.


"Ya ampun ternyata kalian di sini! Poy, lu bilang mau ke toilet?" kata Lele.


Gilang melotot ke gue.


"Lele udah tahu soal kita?" tanya Gilang ke gue.


"Udah," jawab gue.


Lele senyum-senyum. "Ga salah gue bilang kalian harus jadian! Hihi... Kalian cocok," ucap Lele.


"APAA..." Gilang berteriak tapi mulutnya langsung gue bekap.


"Sssst... Berisik lu Gay!" kata gue.


"Wawawawa..." Gilang mencoba bicara tapi mulutnya gue bekap.


"Lu mau ngomong?" tanya gue. Gilang pun mengangguk.


"Jangan norak ya! Kalau teriak lagi, gue gibas lu!" ucap gue kesal. Gilang pun mengangguk.


"Gimana ceritanya gue sama dia jadian?" tanya Gilang.


Gue pun menginjak kaki Gilang terus kedip-kedip. Gilang pun mengangguk.


"Oh iya iya. Gimana Le? Gue terkejut aja tadi. Gue kira Papoy belum cerita apa-apa sama lu," kata Gilang.


"Udah kok. Eh, ya udah ke depan yuk. Gue kan yang punya party, gue mau pidato sedikit nih. Setelahnya ada acara hiburan juga. Yuk!" Lele menarik tangan gue dan Gilang berjalan mengikutinya.


"Jadian?" Gilang ngomong di belakang punggung Lele tanpa suara sambil memandangi gue.


"Iyain aja biar dia seneng!" jawab gue yang juga bicara dari balik punggung Lele tanpa suara.


Lele menoleh sebentar sambil senyum. Gue dan Gilang pun pura-pura ga saling lihat, sok sibuk masing-masing. Gue pura-pura batuk sambil membuang muka dari Gilang, sementara Gilang menyapa orang-orang di dekatnya.


Pas sampe di tengah ruangan, Lele pun meninggalkan gue dan Gilang. "Lu berdua tunggu sebentar ya," pamitnya. "Sip," kata gue. "Oke," kata Gilang.


Lele pun ke depan. Ia menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para tamu karena udah memenuhi undangan pestanya. Lele juga berterimakasih atas doa yang diberikan teman-teman sehingga Lele bisa pulang ke Indonesia lagi.


Lele cerita sedikit soal pengalamannya selama pengobatan di Amrik.


Selama Lele pidato itu mata gue tanpa sengaja menangkap kehadiran Kak Jonathan. Cowok keren itu lagi nyimak Lele. Gue memandanginya. Baru aja gue patah hati dari Gilang karena Gilang ternyata punya cewek idaman lain, eh malaikat bersosok cowok ganteng ini datang. Gue sampai senyum-senyum sendiri ngelihatin dia dari jauh.


Sementara Gilang... Gue ga sengaja ngelihat dia lagi ngelihatin Mentari. Gilang cuma ngelihatin Mentari dari jauh sambil senyum-senyum sendiri. Kayanya apa yang Gilang rasain ke Mentari sama kaya yg gue rasain ke Kak Jonathan.


Sayangnya gue ga bisa deket-deket sama Kak Jonathan. Selain gue cowok, itu juga kan punya Lele. Ga mungkin gue tikung.


Tapi sebentar! Gue kan sekarang cowok! Ga ada salahnya dong kalau gue deket sama dia, temenan aja masa ga boleh? Hihi...


Gue pun menghampiri Kak Jonathan. Gue mau sokap ah sama dia. Hehehe...


Eh, Gilang tadi mana? Jangan-jangan Gilang menghampiri Mentari... Ah bodo amat. Gue pun meneruskan langkah kaki gue menuju Kak Jonathan.