
Gue dan Gilang lagi di perpustakaan. Kebetulan setelah berganti pelajaran tadi ada jam kosong, jadi gue dan Gilang pun memutuskan buat langsung ke perpustakaan aja. Di sini ngobrolnya bisa lebih kondusif dan ga was-was kalau aja ada yang nguping pembicaraan kami.
Gue duduk di hadapan meja gang lebar banget, seukuran lima meter kali lima meter. Di tengahnya ada setumpuk buku yang belum diberesin sama petugas. Bekas bacaannya pengunjung sebelumnya.
Gilang alias Papoy KW menumpu kepalanya di atas setumpuk buku tebal dan salah satu hardcover buku itu dijadikannya penutup muka. Sementara gue duduk di sebelahnya.
"Ayolah Gilang, kok malah tiduran gitu? Apa gue aja yang mulai duluan?" kata gue ga sabar.
POV Gilang alias Papoy KW:
Ini soal yang urgent banget menurut gue buat gue bahas bareng Papoy. Tapi mood gue naik turun seiring dengan rasa sakit di perut gue juga pusing yang ga tertahankan. Gue menutup mata di atas tumpukan buku.
“Ya ampun, mie goreng! Pemalas betul bokap-nyokapnya,” gue menggerutu sambil nutup kotak nasi di bangku baris ketiga.
Robin dan gue pun pindah ke meja berikutnya.
“Udahan yok, Lang. Mereka mau balik sebentar lagi,” kata Robin.
“Ah, berisik lu!”
“Gue bawa nasi nugget. Paroan aja yok? Nyolong itu ga baik tahu,” kata Robin lagi.
Sementara gue sekarang lagi berjuang membuka kotak bekal yang berbahan kaleng. Anjir, susah bener sih buka beginian doang! “Gimana sih ini cara bukanya?” kata gue.
Gue tuh ga punya kuku yang panjang, Robin juga. Jadi kami berdua payah banget buat ngebuka kotak ini.
Gue sama Robin sengaja ga ikut upacara demi menjalankan misi rutin kami. Sebuah misi yang sangat rugi bila ditinggalkan, yaitu nyolong bekal murid-murid.
Tinggal sepuluh menit lagi sampai pidato kepala sekolah kedengeran. Setelah itu anak-anak kelas 5-6 bakal masuk. Gue sama Robin harus udah ngambil dan makanin isi kotak terus ngembaliin ke tempatnya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Anjoy, kaya teks proklamasi aja.
“Wah, ayam goreng!” kata Robin yang berhasil membuka kotak kaleng itu. “Lu mau?”
“Ais, udahlah,” kata gue sambil balikin kaleng itu ke tas murid. Mata gue jelalatan dari satu tas ke tas lainnya.
“Yang ini!” gue berkata sambil nunjuk tas vibe Barbie berwarna pink di baris pertama. “Tas yang itu kelihatannya mahal. Dia pasti bawa bekal makanan yang enak. Yok, sini!”
Gue dan Robin gercep menuju bangku target. Gue embat tas Barbie, ngebuka resletingnya dan tadaaaa… gue nemu kotak makanan warna merah yang ada blink-blink-nya. Di tutupnya ada wadah sendoknya juga.
“Gila. Kotak makanan doang bisa sebagus ini!” kata gue sambil membuka tutupnya.
“Wah kue tar cokelat!” kata gue. Ini benar-benar hari keberuntungan gue dan Robin.
“Eh, jangan semua. Sisainlah buat yang punya. Kasian tahu,” kata Robin.
“Kalaupun cuma gue makan sedikit tetep aja bakal ketahuan juga, jadi mending gue habisin,” kata gue.
“Potong jadi dua aja, kasihan,” kata Robin.
“Motongnya pake apa?”
“Pake penggaris,” usul Robin.
Gue pun lari ke meja gue. Gue ambil penggaris dan gue potong kue tar itu dengan rapi.
“Gini aja ya? Udah oke nih ya?”
“Auk. Bukan punya gue,” Robin mengangkat bahu.
“Tapi lu kan sohib gue,” ujar gue.
Gue tawari Robin untuk nyicip kue itu segigit aja. Dia nolak. Gue belum sarapan, jadi gue gasak aja kue tar itu. Jari-jari gue pun penuh minyak gara-gara krimnya belepotan.
“Kenapa lu ga bawa bekal?” tanya Robin.
Gue jawab dengan mulut yang penuh makanan.
“Gue ga mau ngerepotin bokap gue. Doi kerjanya masak mulu, masa harus ditambahin kerjaannya gara-gara buat nyiapin bekal gue doang?”
“Ya gue bilang aja kalau gue ga lapar.” Gue lagi ngejilatin krim cokelat di jari-jari gue. Lalu, kami berdua pun mulai mendengar suara kepala sekolah mengakhiri pidatonya.
“Besok gue bawain lu bekal.”
“Ga usahlah. Bosen gue sama masakan nyokaplu. Nasi goreng mulu tiap hari,” kata gue.
Waktu terus berjalan, kayanya terasa singkat banget. Tahu-tahu komandan upacara udah nyuruh hormat aja. Kayanya bentar lagi upacara kelar.
Gue dan Robin pun mendengar murid-murid yang lagi ngobrol, kayanya mereka bentar lagi sampe ke dalam kelas. Gue pun menjejalkan sisa kue ke dalam mulut gue.
“Cepat! Cepat!” kata Robin.
Gue nutup kotak makanan itu dan mengembalikannya ke dalam tas Barbie.
“Siapa yang duduk di sini?” tanya Robin.
Gue merogoh tas punggung Barbie itu dan nemuin buku catatan bersampul cokelat. Gue baca di sana tertulis
“Ratna Memtari Subandono, Mata Pelajaran: Matematika, Kelas 5-6, SDN 03 Pagi Jakarta Utara.”
“Terserah. Udah selesai belum?” tanya Robin.
Gue menggantungkan tas Ratna ke kursi, tempat aslinya.
“Ayo pergi,” kata gue. Kami lari ke baris belakang, duduk dan menyandarkan kepala ke meja. Kami pun memejamkan mata dan berpura-pura sakit, alasan kami ga ikut upacara.
“Anak-anak pun mulai memasuki ruang kelas. Al hasil kelas sekarang dipenuhi riuh rendah empat lusin anak umur sepuluh tahun.
Bu Pipit, guru kelas kami tiba ga lama kemudian. Suasana kelas kontan menjadi lengang. “Perkalian,” tulisnya di papan tulis. Bahkan, sebelum semua anak duduk di kursi masing-masing.
Gue duduk tegak dan menjulurkan leher untuk menengok Ratna. Dia mengenakan rok merah, baju putih sebagaimana murid-murid lainnya. Pita menghiasi rambutnya yang dikepang. Dia duduk sambil menghadap guru dengan ekspresi teramat serius.
“IIIIIIHHH…”
Ratna menjerit dan terlompat hingga berdiri. Dipungutnya penggaris bernoda cokelat dari kursi. Bagian belakang roknya sekarang bernoda cokelat. “Ya Tuhan!” suara Ratna yang melengking menarik perhatian seisi kelas.
“RATNA, DUDUK!” Bu Pipit berteriak dengan suara yang , sangking kencangnya, membuat anak-anak di baris belakang merinding. Bu Pipit ga suka keributan, sekalipun sumbernya adalah anak perempuan berkepang nan manis.
Robin dan gue bertukar pandang khawatir. Kami telah meninggalkan barang bukti.
“Bu, ada yang menaruh penggaris kotor di kursi saya. Rok sekolah sayang yang baru jadi kotor,” Ratna merengek.
Seisi kelas tertawa dan pecahlah tangis Ratna.
“Apa?” tanya ibu guru. Dia meletakkan spidol dan mengambil penggaris dari Ratna.
Ratna terus tersedu sedan. Sang guru berjalan menyusuri sela-sela bangku. Para murid menciut di kursi masing-masing saat Bu Pipit melewati mereka.
“Siapa yang membawa kue cokelat hari ini?” selidiknya.
“Saya,” kata Ratna. Anak perempuan itu membuka kotak bekalnya dan menyadari bahwa kue tarnya sendiri yang telah menyebabkan roknya kotor. Bertambah nyaringlah raungannya.
“Ada yang memakan kue saya,” Ratna menangis keras-keras. Sangking kerasnya, kelas di sebelah pasti bisa mendengar kami.
“Setengah kue lu,” gue pingin banget ngasih tahu kaya gitu. Tapi gue cuma berkata dalam hati.
Robin menatap gue. “Mau mengaku?” bisiknya.
“Apa lu gila?” gue balas berbisik.
Saat Bu Pipit melintas, gue menatap lantai. Dia mengenakan sepatu sandal tinggi dengan bunyi ketika mengenai lantai. Gue mengepalkan tinju. Jemari gue berminyak. Sang guru berjalan kembali ke depan kelas. Dia mengambil tisu dari dompetnya dan mengelap penggaris sampai bersih.
“Ayo mengaku. Kalau tidak, hukumannya akan lebih berat,” ujarnya.