
Gue dan Gilang sampai di depan rumah Lele. Adegan gendong-gendongannya selesai.
Setelah tiba di rumah Lele, gue dan Gilang langsung diantar sama pembokat Lele buat masuk ke ruangan kucing.
Pas kami sampai di sana, si Vino dan Arjuna lagi ngereog berdua.
"Bi, kok mereka berantem sih?" kata gue.
"Iya, cuma bercanda aja, Non," jawab pembokat Lele.
"Syuh... syuh..." Gilang mencoba melerai Arjuna dan Vino. Setelah itu Vino kok malah menggeram ke Gilang?
"Nah, loh. Sekarang dia malah ngereog ke elu, Gay. Lu bisa ngeruqiyah kucing kan?" kata gue.
"Mana ada, Poy... Poy... Ada-ada aja lu," jawab Gilang.
Tiba-tiba Vino lari ke kaki gue. Sementara Arjuna santuy aja, setelah dilerai dia melipir dan duduk di pojokan.
"Lu mau minta perlindungan gue, Pin? Lu takut sma Gayung? Hahaha..." Omongan gue kayanya bikin Vino merasa direndahkan. Doi malah manjat ke kaki gue pakai cakarnya gitu. "Njir! Pergi lu sana! Pergi!" kata gue sambil ngayun-ngayunin kaki gue. Gue ga bermaksud nendang loh ya.
"Non, jangan ditendang Non," kata pembokat Lele.
"Bukan nendang, Bi. Bantuin napa Bi. Kaki Puput dicakar ni!" kata gue dengan gerakan masih joget-joget ngayunin kaki gue.
"Biar saya saja, Bi." Gilang pun gercep ngambil si Vino sebelum pembokat Lele ngikutin omongan gue.
Gilang menggendong Vino. Awalnya Vino menggeliat-geliat ga mau digendong, tapi Gilang dengan skill tingkat dewa bikin Vino jinak sama dia.
Jadi leher Vino dicapit gt pake jari Gilang. Eh setelahnya kok langsung diem gitu tu anak. Setelahnya Gilang pun ngelus-ngelus badan Vino di dalam gendongannya.
Gue sering lihat sih cara ngambil kucing dengan menjepit lehernya gitu. Tapi namanya gue jarang berurusan sama kucing, ya gue ga kepikiran kalau ternyata cara itu ampuh buat kucing jadi diam.
"Karena kucingnya ada dua, kita urus satu orang satu ekor ya? Dan gua pilih Arjuna, lu Vino," kata gue.
"Udah ketebak," gerutu Gilang.
"Ya gue juga mikir-mikirlah Gay. Gue paling ga bisa kena reog kucing. Sementara Vino jinak bet sama elu," kata gue.
"Iya Poy, iyaaaa..." kata Gilang.
Gue pun mulai pedekatean sama Arjuna. Memang ni anak jinak banget, ga macam-macam. Kerjaannya juga baring-baringan mulu. Doi pun gue elus-elus, gue suapin snek pasta.
Sementara Vino, dia lagi manjat-manjat dan Gilang nungguin dari bawahnya kaya bapak yang lagi ngasuh anak, anak manusia.
"By the way, Gay... Memang bokap-nyokaplu ngizinin lu bawa kucing masuk ke rumah lu?" tanya gue.
"Aman pokoknya," Gilang ngejawab singgat bener.
"Gue kan kepo, Gay," kata gue.
"Sebenarnya bokap gue dulu suka kucing, waktu doi belum doyan minum. Tapi makin ke sini doi ga mau ribet orangnya. Pernah kucing tetangga masuk teras malah singkirin pakai kaki," jelas Gilang.
"Nyokap biasa aja. Kalau ada kucing ya kira-kira kucingnya jorok dan nakal ya diusir. Kalau sekiranya di jalan dia kasihan sama kucing ya dikasih makanan. Tapi kalau untuk melihara doi ga punya waktu," jawab Gilang lagi.
"Jadi, aman? Kalau ga aman, mau lu kemanain Vino?" tanya gue lagi.
"Pertama kali gue bakal bawa Vino ke rumah, tapi kayanya ga untuk nginap deh. Gue mau lihat dulu sikonnya," jelas Gilang.
"Terus, mau lu inapin dimana? Balikin lagi ke sini?" tanya gue.
"Gue punya tetangga. Dia udah tua. Sehari-hari dia jaga toko. Dia sayang banget sama kucing. Setiap ada kucing jalanan yang lewat pasti dia kasih makan. Gue pernah nanya itu kucing kakek bukan? Beliau bilang bukan. Gue tanya lagi seumpama ada yang nitipin kucing ke kakek mau ga? Karena di perumahan ini mungkin ada yang mau ke luar kota dan butuh penitipan kucing," kata Gilang.
"Terus kakek itu jawab apa?" tanya gue penasaran.
"Beliau bilang ga mau. Alasannya karena ga bisa nyediain fasilitas grooming dan lain-lain. Nah, jadi pas gue dengar Lele nitipin kucing ke gue, gue langsung menghubungi kakek itu. Gue bilang gue mau nitipin kucing tapi gue yang rawat. Cuma numpang tidur doang gue bilang. Untungnya kakek itu mau," jelas Gilang.
"Syukur deh kalau begitu," balas gue.
Setelah itu gue dan Gilang pun pulang ke rumah masing-masing sambil bawain kucing. Kami ngangkutnya pakai tas kucing. Tiap kucing yang Lele punya mereka punya tas kucingnya masing-masing.
Pas gue sampai di rumah gue, gue pun bingung. Ni kucing mau gue apain ya? Mandiin aja kali ya?
Oke, baiklah, sore ini gue mandiin kucing, sementara gue sendiri belum mandi.
Gue masukin tu kucing ke kamar mandi, gue basahin pakai air dari shower. Eh, si Arjuna ngamuk dong! Mampus gue! Gimana nih? Gimana?
Gue kurung aja si Arjuna di toilet sementara gue nelpon Gilang.
"Ngapain lu mandiin kucing sore-sore? Mandiin kucing itu pagi agak siangan dikit biar setelahnya bisa berjemur, ga kedinginan kucingnya. Lu mandiinnya pakai air dingin atau hangat?" kata Gilang.
"Dingin," jawab gue.
"Ya ampun," jawab Gilang.
"Maaf, Gay. Gue ga kepikiran cocoknya mandiin kucing itu pagi atau sore. Kirain sama kaya orang itu," lanjut gue.
"Sekarang tu kucing lagi ngapain?" tanya Gilang lagi.
"Gue kurung di toilet. Abis doi ngamuk," kata gue.
"Sekarang lu masuk, sediain handuk jangan lupa. Jadi nanti lu mandiinnya pakai air hangat. Jangan siram kepalanya. Elap-elapin aja pake tangan basahlu," kata Gilang.
"Oh, air hangat ga? Terus kenapa kepalanya ga boleh disiram?" tanya gue.
"Takutnya nanti airnya masuk ke telinga, yang ada bikin telinganya jamuran atau kemasukan air bikin infeksi," kata Gilang.
"Oke. Gue ikutin saranlu. Makasi ya Gay," kata gue.
"Sama-sama, Poy," kata Gilang.