Miyawlova

Miyawlova
Pembalut



Masih di mimpi Gilang alias Papoy KW:


Lima tahun kemudian.


“Antar aku pulang dulu. Lalu ke lapangan kasti,” kata Ratna.


Kami baru pulang setelah sesorean berperahu di sungai. Ratna dan gue rutin melakukan ini tiap pekan selama lima tahun belakangan. Ada seorang kakek meminjamkan perahu. Kami menyusuri gang sempit, pas-pasan untuk dilewati sapi gemuk dan keluar di jalan raya.


“Saya udah terlambat, Ratna. Nanti Robin bisa memarahiku.”


“Kalau begitu, bir aku ikut denganmu. Aku tidak mau bosan di rumah,” katanya.


“Tidak.”


“Kenapa?” Ratna mengejapkan mata.


“Terlalu banyak cowok. Ingat suitan terakhir kali itu?”


“Aku bisa menanganinya,” kata Ratna. Temanku menyibakkan helaian rambut bandel dan dahinya.


Kupandang wajahnya yang cantik. “Kau tidak tahu betapa kau mempengaruhi mereka, sih,” kataku. Lu ga tahu betapa lu mempengaruhi gue, itulah yang sebenarnya mau gue katakan.


Udah sedari dulu paras Ratna senantiasa memancing komentar apresiatif dari guru-guru sekolah kami. Namun, baru dua tahun lalu seisi sekolah mulai membicarakannya.


Pernyataan seperti “Gadis tercantik di sekolah”, “dia seharusnya jadi artis” semakin sering terdengar. Pernyataan semacam itu sebagian dilontarkan oleh orang-orang yang ingin menyenangkan Ratna. Karena ayahnya seorang pegawai negeri senior dan kakeknya mantan polisi tenar, orang-orang ingin menjadi temannya.


Tapi bener, Ratna memang membuat jantung gue berdebar ga karuan.


Kemunculannya di lapangan kasti udah pasti akan mengganggu pertandingan. Pukulan pemegang bet bakal meleset, para pemain di sepenjuru lapangan akan luput menangkap bola, sedangkan orang-orang bego kurang kerjaan akan bersiul-siul sampai menjelekkan nama tim lain.


“Aku udah lama banget ga ketemu kamu, Gilang,” kata Ratna “Ayolah. Biar kutonton kalian bermain.”


“Besok aja,” ujar gue ketus. “Pulanglah sekarang.”


“Kamu ga mau nganterin aku pulang?”


“Naik becak aja sana,” kata gue.


Ratna mencengkeram pergelangan gue. “Kamu harus ikut aku sekarang juga.” Dia memegangi tangan gue dan mengayunkannya ke depan-belakang sepanjang perjalanan pulang.


Gue mau melarangnya menggamit tangan gue. Ga ada salahnya bergandengan waktu kita masih bocil, tapi sekarang kami udah SMP. Walaupun gue lebih suka bergendengan sewaktu bocil dulu.


“Apa?” tanya Ratna. “Kenapa kamu lihat-lihat? Aku cuma memegangi tanganmu supaya kamu ga kabur.”


Gue tersenyum. Kami berjalan melewati pasar tumpah, lalu menapaki tempat yang lebih sepi. Kami pun sampai di rumah Ratna.


Langit senja telah berubah warna menjadi jingga pekat. Robin pasti akan menggerutu, tapi ini udah terlambat untuk bermain. Walau begitu, gue ga bisa menolak Ratna.


“Terima kasih,” kata Ratna dengan suara kekanak-kanakan. “Mau masuk?”


“Enggak. Aku udah telat,” ujar gue.


Kami bertemu pandang. Gue cepat-cepat berpaling. “Kami cuma bersahabat,” gue membatin.


Rambut Ratna berkibar-kibar ditiup angin dan helai-helai hitam membelai lembut wajahnya.


“Aku sebaiknya potong rambut. Susah merawat rambut panjang,” kata Ratna.


“Jangan,” tegas gue.


“Aku memanjangkan rambut cuma untukmu. Dah…” katanya. Gue bertanya-tanya apakah Ratna juga mulai punya perasaan yang berbeda sama gue? Namun, gue ga tahu gimana cara menanyakannya.


“Sampai ketemu besok!” katanya sambil menjauh.


**


"Woy! Bangun! Woylah... Malah tidur di sini. Katanya lu mau kita membahas sesuatu?" Gue dibangunin Papoy.


"Sorry, abisnya gue lagi ga fit banget. Gue lagi itu, tahu kan?" kata gue.


Bisa-bisanya gue memimpikan kejadian masa lalu gue. Gue jadi ingat teman gue yang namanya Ratna itu. Kemana ya sekarang dia? Udah lama gue ga ketemu dia. Juga Robin, patner gue berbuat nakal dulu.


.


Balik lagi ke POV Papoy alias Gilang KW:


Gimana sih ni anak malah tidur! Gue udah cukup sabar sama Gilang tapi kalau ditinggal tidur gini ya sebel juga. Mau marah nanti malah jadi berisik. Kan di perpus ga boleh berisik. Bisa ditegur nanti sama petugas kalau kita berisik.


"Lu lagi meensss?" tanya gue.


"Iya." Gilang lagi nyeringis kesakitan sambil pegangin perut.


"Ya udah kenapa kita ke sini? Ke UKS aja?" tawar gue.


"Jangan! Gue belum siap!" jawab Gilang yang langsung menegakkan tubuhnya. Dia duduk tegak dengan mata yang membulat.


"Belum siap diapain? Lah emangnya cewek meenss mau diapain di UKS?" heran gue.


"Ya kali diperiksa gitu? Sama badan sendiri aja gue risih apalagi digreepe-greepe sama petugas!" keluh Gilang.


"Hahaha... Siapa yang mau gerepee-gerepee? Kalau nyeri datang bulan itu paling cuma dikasih obat pereda nyeri, dikasih kompresan air hangat sama disuruh istirahat doang," jawab gue sambil terkekeh geli.


"Masa?" tanya Gilang.


"Iya."


"Ah, tapi ga usah deh. Gue masih risih. Nah, jadi elu sebagai pemilik asli tubuh ini tolong dong kasih gue tips. Gue harus ngapain kalau begini kejadiannya?" tanya Gilang.


"Ya, gue... Gue..." Gue uring-uringan, anjir! Aduh tapi gimana ngasih tahunya, orang gue sendiri aja suka kerepotan. Tapi kalau gue ngasih tahu ke dia kelihatan banget gue lemah.


"Lu ngapain?"


"Ya gue banyak istirahat. Soalnya berabe kalau lagi aktivitas tiba-tiba kaya lu gini. Tahu-tahu ketiduran," jawab gue. Aduh, jawaban macam apa itu?


"Terus, soal itu..." Gilang ragu-ragu meneruskan kata-katanya.


"Apaan?"


"Pembalut," bisik Gilang.


Hahaha... gue ngakak, tapi agak ditahan-tahan ngakak gue karena lihat lingkungan. Gue tebak ni anak mau minta ajarin pake pembalut deh, haha.


"Belilah di mini market. Banyak kok," sambung gue.


"Yang mana yang bagus? Gue ga mau ribet ya! Pertama kali gue pake malah miring-miring, tembus ke celaanaa dalaam!" keluh Gilang.


"Hahaha... Anjir!" Seneng banget gue ngebayangin ni anak mengalami hal-hal sepele yang ribet gitu.


"Beli yang ada sayap sampingnya biar ga mudah bergeser," jawab gue.


"Oke.. Pembalut yang ada sayapnya. Terus panjangnya gimana? Ada macam-macam gue lihat tadi," tanya Gilang.


"Jadi lu beli yang mana tadi?"


"Beli yang paling murah. Ga ada sayapnya," jawab Gilang.


"Ah, lu kebiasaan ngirit lu! Udah jadi orang kaya pun masih pelit. Beli yang sesuai kebutuhanlah, jangan berpatokan sama harga!" protes gue.


"Nanti lu ke mini market lagi, lu beli yang ada sayapnya. Jangan beli yang promonya tertulis pembalutnya tipis, itu ga bisa nyerap banyak. Terus beli juga yang ada tulisan "Night"-nya buat lu pake tidur. Biasanya ukurannya lebih panjang," jelas gue.


"Oh, iya iya! Gue sempat lihat yang varian itu tadi," ucap Gilang antusias.


"Kenapa mesti beli beda varian buat aktivitas dan buat tidur?" tanya Gilang.


"Ya soalnya elu kan berbaring. Jadi cairannya bisa ngalir kemana-mana sesuai posisi badan. Lain halnya kalau duduk atau berdiri pasti cairannya jatohnya ke bawah kan" jelas gue.


"Oh, iya iya. Sekarang gue paham," jawab Gilang.


"Nah, sekarang gantian bahas yang mau gue omongin nih," kata gue.