
"Sorry Bang. Sorry. Gue ga sengaja," kata gue sambil ngambil tisu yang kebetulan ga jauh dari sini ada di atas meja, terus gue lap-lap baju si abang ganteng ini.
"Ah, udah! Udah! Biar gue bersihin sendiri!" kata dia. Dia pun pergi, kayanya nyari toilet.
"Bang, namanya siapa?" sebelum dia melangkah jauh gue pun nanya aja dengan suara sedikit meninggi.
Terus gue malah tetap dipunggungin sambil dia ngacungin jari tengah ke atas, anjir! Untung ganteng, kalau enggak gue pasti emosian!
Gue pun lanjut nyari Papoy. Tu anak tadi kemana ya? Apa ke kamar Lele? Gue ke kamar Lele aja kalau gitu.
Gue pun meniti tangga. Anak tangga yang banyak, bentuk tangga yang lebar dan meliuk seperti spiral, pagarnya kokoh, alasnya berkarpet.
Gue pun sampai di lantai dua.
"Pus... Pus..." Suara Gilang! Eh, maksud gue suara Papoy KW.
Lantas gue pun berjalan mendekati kamar yang letaknya agak mojok ke dalam.
"Pus... Pus... Ih lucu banget," kata Gilang.
"Hihihi... Dia manjanya ke kamu tuh," suara seorang lagi kaya...
Gue pun melongok ke dalam kamar yang pintunya terbuka itu. Kamar itu adalah kamar khusus kucing peliharaan Lele. Gilang? Loh kok sama cowok yang tadi?
"Poy?" panggil gue dari pintu. Gilang menengok, cowok itu juga menengok ke gue.
"Elu Bang?" kata gue nunjuk tu cowok.
Cowok itu pun ga peduli sama gue. Dia ga ngejawab gue dan langsung melihat ke arah Arjuna lagi. Arjuna si Kucing Mager milik Lele.
"Kalian udah kenal?" tanya Gilang.
Gue berjalan mendekat.
"Belum," jawab gue. Gue pun jongkok dan ikut mengelus Arjuna.
"Mau ngapain ni orang di sini?" tanya gue.
"Oh, Kak Jonathan? Dia tadi ngebantuin gue. Ada insiden kecil tadi di halaman dan Kak Jonathan bantuin gue buat nangkep Arjuna," jelas Gilang. Oh ternyata namanya Kak Jonathan.
"Arjuna ditangkep? Emangnya dia kabur? Ni anak mageran bisa juga melarikan diri?" kata gue.
"Lu ga tahu sikap Arjuna berubah drastis semenjak gue yang rawat," jelas Gilang.
"Ni anak siapa sih, Put? Kok kamu mau sih temenan sama orang ceroboh kaya dia?" kata Kak Jonathan.
"Ceroboh?" kata gue.
"Ya ampun, abis nabrak orang masih juga ga nyadar kalau ceroboh," kata Kak Jonathan.
"Ya kan gue udah minta maaf, Bang," kata gue.
"Kapan-kapan aja gue maafinnya. Gue lagi ga mood," jawab Kak Jonathan. Ih, kok kaya gue sih? Yang boleh mood-mood'an itu cuma gue! Ngapa ni anak juga sih?
"Hahaha... Kalian berdua cocok," kata Gilang.
"Maksud lu?/ Maksud kamu?" ucap gue dan Kak Jonathan bersama-sama. Setelahnya gue dan Kak Jonathan pun beradu pandang sebal terus membuang muka.
"Hahaha... Tuh kan bener," ledek Gilang.
"By the way, Lele mana sih? Lama amat?" kata Gilang.
"Lu udah ketemu Lele tadi?" tanya gue.
"Belum. Cuma kata Dwi tadi dia lihat Lele baru pulang kotor-kotoran terus langsung masuk mau mandi katanya," kata Gilang.
"Iya, tadi..." kata gue.
"Saya cabut dulu ya? Ga apa-apa kan? Lagipula ada temanmu ini," kata Kak Jonathan. Dia pun berdiri.
"Lain waktu aja," ucap Kak Jonathan.
"Oh, iya deh," kata Gilang.
"Emh, hampir lupa. Kita belum tukar-tukaran nomor WA ya?" Kak Jonathan hampir melangkah pergi tapi dia balik lagi dan memutar badan.
"Oh, iya iya..."
Gilang dan Kak Jonathan pun sama-sama mengeluarkan HP dan mereka pun saling bertukar nomor WA.
Minim pengawasan, Arjuna pun bangkit dan berlari kecil-kecil menuju pintu.
"HEH... JUNA!" panggil gue. Kak Jonathan dan Gilang pun langsung pecah konsentrasinya dan langsung mengejar Arjuna.
DUUUUG...
"Aw!" Kak Jonathan dan Gilang sama-sama mengaduh. Mereka memegang kepala mereka. Mereka baru saja saling adu kepala seperti dua ekor banteng. Gue pun nahan ngakak.
Sementara di luar pintu udah berdiri Lele. Ternyata Arjuna melompat ke tangan Lele. Lele terpaku memandangi Kak Jonathan dan Gilang sambil dia menggendong Arjuna.
"PAPOOOY! UDAH GUE BILANG GUE YANG MAU JEMPUT ARJUNA!" teriak Lele kesal. Lele pun pergi sambil menghentak-hentakkan kaki. Gue kejar Lele.
"Le!" Gue berjalan di samping Lele. Lele terlihat menyembunyikan tangisannya. Ia membuang muka dan mencuri-curi menyeka matanya.
"Lu nangis?" tanya gue pelan. "Eh, ada apa?" lanjut gue.
"Gue bete!" kata Lele.
Gue pun mengikuti kemana Lele jalan. Ternyata dia mau masuk ke kamarnya, gue pun ikut.
Lele langsung ke tempat tidur. Dia membaringkan diri sambil memeluk Arjuna. Lele memiringkan badan membelakangi gue.
Gue menghampiri, duduk di tepian ranjang.
"Le, lu kenapa?" tanya gue pelan.
Ih? Kok Lele sesengukan? Gue pun jalan memutar dan melihat wajah Lele dari sisi tepian ranjang lainnya. Lele pun membalikkan badan. Dia malu lagi nangis dilihatin gue.
"Le? Gue kan sahabat elu, ceritalah sama gue," bujuk gue.
"Kenapa sih tuh orang datang sekarang? Udah lama banget dia ngilang, Poy! Kenapa harus dateng! Gue udah ngiklasin dia! Dan kenapa gue harus ngelihat elu berduaan sama dia?" rengek Lele.
Gue jalan memutar lagi. Kali ini gue duduk di tepian ranjang di depan muka Lele. Gue bisa melihat dia menangis.
"Lu jangan liatin gue!" Lele menyembunyikan mukanya di badan Arjuna yang dia peluk.
"Lu kaya apa aja sih, gue Papoy! Udah biasa gue ngelihat lu nangis. Oh iya, maksud lu tadi apa? Dia berduaan sama gue? Maksud lu siapa?" tanya gue.
"Maksud gue bukan elu, maaf. Maksud gue raga elu yang dipinjam Gilang. Gue lihat dia bersama dia," kata Lele.
"Dia bersama dia gimana sih? Gue masih belum paham," kata gue.
"Mantan crush gue," kata Lele.
"Jangan-jangan..." Gue membulatkan mata. "Kak Jonathan mantan crush elu?" tanya gue.
"Iyaaa... huaaaaa..." Lele nangis.
"Kok lu ga pernah cerita lu punya crush?" tanya gue.
"Udah lama banget Le. Ya gue ga cerita sama elu karena gue cuma memendam perasaan gue sama dia," kata Lele.
"Bentar, bentar... Terus kalau lu syok kaya gini, siapa yang ngundang Kak Jonathan ke sini?" tanya gue.
Lele menggeleng.