Miyawlova

Miyawlova
Trofi dan Sertifikat



Gue membantu Gilang berjalan dengan membopongnya. Kasihan kakinya sakit buat jalan, perutnya selalu jadi sasaran dan mukanya bengep. Untung hidungnya ga patah kaya petarung-petarung yang pernah gue lihat di Youtube.


Biarpun begitu muka Gilang cerah banget, senyum-senyum mulu. Apa ni anak otaknya agak bergeser karena kena hajar di arena tadi?


"Gay, lu aman?" kata gue. "Aman, hihi," jawab Gilang. "Kayanya enggak deh. Elu senyum-senyum sendiri gitu. Agak gesrek ga lu Gay?" kata gue. "Gue lagi seneng aja, Le. Gue udah menghadapi ketakutan gue. Gue lega. Gue memang kalah dalam pertandingan, tapi gue menang melawan diri gue sendiri. Sebagaimana quotes yang ada dalam falsafah karate... 'musuh terberat adalah diri sendiri.' Gitu," jelas Gilang. Gue pun ngangguk-ngangguk. Gue bangga sama sohib gue ini.


Gilang sekarang udah ganti baju, kakinya udah ga nyeker lagi dan sekarang lagi pakai topi yang cara makenya diturunin kaya nutupin mata dan mukanya. Itu buat nutupin muka bengepnya habis kena tonjok.


Dari tempat pertandingan, gue dan driver gue, Pak Memet, juga teman-teman kaya Nita, Dwi dan Reka, kami nemenin Gilang ke klinik. Luka-luka lebam Gilang diobatin di klinik walaupun ga langsung sembuh apalagi hilang.


Gue duduk bareng teman-teman di ruang tunggu klinik, dan Gilang akhirnya keluar dari ruangan dokter. Berbeda dengan keadaan tadi, ini agak mendingan. Luka-lukanya udah dibersihin dan ada juga yang ditempel kapas dan plaster, ada juga bengkak yang lebih kempes dari sebelumnya.


"Gay, gimana cara lu pulang ke rumah nanti kalau kondisilu kaya gini?" kata gue sambil melototin semua luka dan lebam Gilang.


Sementara teman-teman yang lain cuma ngomong 'ash ish ush' doang karena ngeri ngelihatin bengepnya Gilang.


"Waktu gue masih ada beberapa hari lagi di sini. Semoga pas gue pulang nanti luka-luka gue ini udah ga kelihatan lagi. Lagipula ini..." Gilang pun membuka tas dan menunjukkan sesuatu dari dalamnya. Itu adalah sebuah gulungan kertas dan sebuah trofi berukuran kecil.


"Juara Harapan pada Turnamen Terbuka Cabang Olahraga Karate se-Kabupaten Garut," kata Nita yang kepo dan langsung mengambil trofi itu dari dalam tas Gilang yang terbuka lebar.


"Waaa... Worth it ini! Asli, Worth it!" kata Reka dan disahuti oleh Dwi juga. Mereka mengelu-elukan Gilang.


Gilang pun memberikan gulungan kertas itu ke gue, gue buka gulungan itu dan membaca tulisan di dalamnya yang ga jauh berbeda dengan tulisan di trofi tadi.


"Ga sia-sia," kata gue sambil memandangi isi dalam gulungan kertas itu. Itu adalah sebuah sertifikat penghargaan.


Gue pun ngambil HP dan sertifikat itu gue foto. Gue juga motoin teman-teman yang lagi rebutan trofi. Setelah gue foto, gue kirim fotonya ke Puput. Memang ga langsung direspons Puput, jadi gue langsung taruh lagi HP gue di dalam tas kecil gue.


"Eh, lu tadi senyum-senyum? Lu ngirimin foto sertifikat gue? Lu kirim kemana?" tanya Gilang sembari merapikan kembali sertifikat dan tropi itu ke dalam tasnya.


"Gue kirim ke Papoy," kata gue. "Hah? Aduh," kata Gilang yang langsung melotot dan mematung menghentikan aktivitasnya.


"Kenapa?" kata gue. "Rencananya gue mau ngasih dia kejutan. Ah, tapi malah lu bocorin," kata Gilang. "Yaaah sorry, sorry. Habisnya gue excited banget. Jadi, gue refleks deh ngirim foto itu ke Papoy," kata gue.


Kami masih duduk di ruang tunggu klinik dengan berheboh-heboh. Ga lama dari itu HP Gilang pun bergetar. Gilang mengambil HP-nya dan dilihatnya di layar bahwa itu adalah telepon dari Puput.


Wajah Gilang langsung mengkerut begitu suara di HP-nya merepet kaya petasan imlek. Gue sampe denger repetannya yang ga ada tanda titiknya itu. Tapi, gue ga dengar apa yang diomongin, cuma repetan doang yang terdengar.


Wah si Papoy pasti lagi ngomel-ngomelin Gilang nih. Kalau gue jadi Gilang, gue akan bilang, "So-rry su-a-ra-lu pu-tus p... us... Ha-lo... " Habis itu gue matiin deh teleponnya. Hihi, gue sering gitu sih. Soalnya gue paling ga tahan dengerin orang merepet. Kalau gue yang merepet sepanjang Anyer-Panarukan nah gue tahan. Hahaha...


"I-iya, iya. Kan gue udah bilang maaf... Iya, gue janji... Baik Senpai... Osh, Senpai, osh... Jangan! Iya... Iya..." Gilang nurut banget apa kata Puput. Ya ampun Gilang, lu sabar banget sih jadi orang.


Setelah itu karena gue lihat muka-muka memprihatinkan itu, jadi gue ngajak semua orang buat makan. Kami pun pergi dari klinik itu menuju tempat makan.


Gue dan yang lain pun sampai di dalam mobil. Mobil melaju. Gue gabut di dalam mobil jadi gue periksa HP gue. Ternyata di situ chat gue dibalas sama Puput sejak tadi.


Tiga pesan belum terbaca.


Papoy:


"Belagu amat tu anak!"


"Baru kemarin belajar karate udah berani-beraninya ikut turnamen."


"Awas aja ntar kalau ketemu gue. Mau gue buat mampus tu anak!"


Ya ampun, semarah itu Puput? Dia ga bisa lihat apa prestasi Gilang lewat trofi dan sertifikat itu? Ya ampun Papoy, sejak Gilang pindah ke kelas kita kenapa sih lu ga pernah bisa kenotis sama prestasi-peetasi dia? Kenapa justru hal-hal membagongkan yang terjadi pada Gilang yang selalu bisa buat lu happy? Dan hal-hal membagongkan itu elu yang buat.


Lele:


"Poy, jangan suka marah-marah. Ntar cepet tua, lu."


Papoy:


"Gimana gue ga marah, si Gayung masuk karate itu tanggung jawab gue!"


"Kalau dia kenapa-kenapa, gimana?"


"Ini amit-amit banget, tapi kejadian orang meninggoy di arena tarung itu ga sedikit!"


Lele:


"Eh, lu gercep chatnya. Lagi ga ada kegiatan lu di sana?"


"Tahu gitu lu ikut nonton tu anak tanding."


Papoy:


"Yang ada gue bikin gugur tu anak kalau gue ada di sana, biar ga bisa tanding."


"Gue dan anak-anak sekarang lagi istirahat MCK. Jadi, gue bisa chatting."


Lele:


"Astoge, jahat amat lu, Poy, sama si Gayung."


"Btw, MCK apaan?"


Papoy:


"Le, justru gue baik berniat ngebatalin doi tanding. Gue mau menyelamatkan si Gayung dari siksa neraka."


Lele:


"Gelap amat omonganlu Poy? Kita cuma tahu luarnya doang, belum tentu si Gayung durhaka sama bokapnya."


Papoy:


"Apa urusannya sama bokapnya? Gue ga ada ngomongin bapak-bapak somplak itu, Ege!"


"Maksud gue siksa neraka itu si Gayung jadi bulan-bulanan para atlet di sana."


"Gue tahu banget sekarang doi lagi babak-belur. Untung ga meninggoy."


Lele:


"Congorlu, Poy... Poy..."


"Nyumpahin orang meninggoy."


Papoy:


"Heh, baca chat gue tadi noh. Gue udah bilang amit-amit. Siapa yang nyumpahin!"


Lele:


"Em. Iya iya."


"Nanti sesampai Gilang di sana, lu treatment ya si Gayung. Kasihan tahu, bengep gitu dia."


"Gue kan mau balik ke Bogor. Cuma elu yang bisa diandelin selama kalian di sini."


Papoy:


"Nah kan! Ngerepotin!"


"Kok jadi gue yang ngurusin tu anak?"


"Ogah gue! Udah gede ini, jadi biarin aja sembuh sendiri."


Lele:


"Ih, lu jahat lu Poy."


Papoy:


"Gue ga jahat. Gue pingin dia menghadapi kerasnya dunia."


"Tapi gue mengutuk ulahnya yang konyol ini."


"Eh, lu lagi ngapain? Biasanya kalau chat udah nyolot-nyolotan gini mulutlu gatel buat nelepon gue?"


Lele:


"Gue lagi di mobil, otw tempat makan sama anak-anak."


"Iya, kalau ga ada mereka, habis lu gue buat. Kita adu mekanik perbacotan."


Papoy:


"Ya udah, gue tunggu lu."


"Ntar lu ke lokasi gue lagi ga? Atau langsung balik ke Bogor?"


Lele:


"Sebenarnya ogah gue ke sana lagi. Gue trauma sama setan toilet."


"Tapi berhubung gue nganter si Gayung balik, ya jadi mau ga mau deh."


"Eh tapi nganternya sampai penginapan dia aja deh. Ogah gue masuk ke areal perkemahan lagi."


Papoy:


"Oh, yaudin. Gue tunggu infolu. Ntar gue samperin ke penginapan si Gayung."


Lele:


"Sip."


Papoy:


"Yaudin. Gue mau lanjut dulu."


Lele:


"Owgeh."