Miyawlova

Miyawlova
Pesan Mendadak



POV Puput


Gue lega setelah tahu kalau kondisi Lele baik-baik aja. Syukurlah ternyata operasinya sukses. Gue pun bisa bersekolah dengan tenang. Setelah gue balik dari rumah sakit, gue dan Gilang pun ke sekolah. Untungnya security sohib sama gue, jadi gue dan Gilang bisa masuk di jam istirahat.


Keesokan harinya.


Gue bersekolah seperti biasa. Setelah bel jam masuk bunyi, murid-murid pun masuk. Gue duduk di bangku gue dan gue menoleh ke samping gue. Di sana ada bangku kosong. Lele masih belum bisa masuk.


Jadi ingat semalam gue dan Lele sempat chattingan. Katanya butuh enam sampai delapan minggu Lele dirawat pasca operasi itu. Hal yang ngebosenin banget. Kalau gue jadi Lele, gue akan meninggoy sangking bosennya.


Jangankan di rumah sakit. Di rumah doang pun gue ga betah. Makanya gue suka nyari-nyari kesibukan. Karena, gue benci kesepian.


Hari pun berganti, minggu juga berganti. Di beberapa hari pertama tanpa Lele di sekolah gue sama Gilang selalu bolak-balik ke rumah sakit buat nemenin Lele. Tapi, gue mulai dapat teguran dinas, katanya gue sering melipir dari tugas. So, gue pun mulai rajin lagi di OSIS, Pramuka, dan Karate.


Gue jenguk Lele ga sesering kemarin-kemarin. Seminggu cuma dua kali doang. Gue pun suka tepar juga begitu kegiatan di sekolah kelar, jadi seringnya dari sekolah gue langsung pulang ke rumah gue.


Berbeda dengan gue, Gilang katanya masih sering bolak-balik ke rumah sakit. Gilang aktif di ekstrakurikuler Karate, tapi itu kan pagi doang, jadi sepulang sekolah masih bisa ke rumah sakit.


Suatu ketika di jam istirahat sekolah.


Gue dan Gilang lagi makan siang di kantin. Gue selalu nanyain kondisi Lele.


"Semalam Lele agak beda dari biasanya. Biasanya kan agak lemes, mageran, cengeng. Nah, semalam itu dia kaya yang ceria banget gitu," kata Gilang.


"Lu udah tanya, apa Lele datang bulan atau enggak?" kata gue.


"Enggak. Gue ga nanya itu. Ga terpikir sama gue kalau gejala datang bulan itu ceria banget kaya gitu. Emang iya? Bukannya kaum kalian kalau datang bulan suka bete, lemes, cengeng?" kata Gilang.


"Nah, di situ gue nebaknya. Soalnya kalau untuk kondisi normal Lele kan ceria banget. Terus kalau datang bulan jadi mageran, lemes dan cengeng. Berhubung kondisi Lele sehari-hari itu mageran, lemes dan cengeng, jadi ketik datang bulan dia bakal jadi sebaliknya. Soalnya kan lagi ga normal nih sekarang," jelas gue.


"Masuk akal! Iya juga ya Poy," kata Gilang.


Gue sama Gilang lagi menikmati makam siang kami. Sambil ngobrol ya sambil ngunyah juga.


Tiba-tiba HP gue bergetar. Gue lagi ngunyah mie ayam nih, terus sambil ambil deh HP gue dari kantong. Belum gue buka ni HP, gue ambil minum dulu. Es teh manis, GLUK GLUK GLUK...


Terus, gue buka chat dari Lele.


BUUUUAAAAAR...


"Poy?"


"Uhuk... uhuk... Sorry Gay, sorry."


Gue baru aja nyemburin minuman ke muka Gilang.


"Lu ngapa ngeruqiyah gue Poy?" Kayanya Gilang ngambek deh. Untung makanan di depannya sisa sesendok doang. Doi auto ga jadi ngabisin makanannya gitu setelah ngelap mukanya pakai tisu.


"Lele, Gay, Lele," kata gue panik.


"Lele sehat, kan gue tadi udah cerita," kata Gilang dengan muka malasnya, doi ngomong tanpa ngelihat muka gue. Fix, Gilang marah sama gue ini mah.


Gue pun nunjukin chat Lele yang tadi bikin gue kaget sampe bikin gue nyemburin minuman ke muka Gilang.


Lele:


"Poy, gue titip anak-anak gue ya? Gue pamit mau berangkat ke Amrik. Tenang aja, si Sri udah diadopsi tante gue kok."


"Tanyain, tanyain! Ngapain Lele ke Amrik?" kata Gilang yang ngebaca chat Lele bareng gue.


"Kirain info lu update, Gay? Kok lu malah ga tahu sih?" protes gue.


Belum sempat Gilang beralibi, HP doi juga bergetar. Ada notif chat masuk.


"Lele ya?" kata gue sambil nengok layar HP Gilang. Gilang langsung nyembunyiin layar HP-nya gitu dari gue. Gue ga boleh lihat.


"Bukan. Chat dari orang lain. Ga penting," kata Gilang terus dia langsung matiin dan naruh HP-nya lagi di kantongnya.


"Serius! Udah, sekarang mending kita fokus ke Lele lagi deh. Gue khawatir banget sama doi," kata Gilang.


"Ga usah ngechatlah, telepon aja! Urusan yang tiba-tiba begini masa chatting. Kelamaan," kata Gilang.


"Iya, bener juga," kata gue.


Gue pun nelepon Lele.


"Ih, kok HP-nya ga aktif sih?" kata gue.


"Serius? Coba lagi deh. Siapa tahu lagi ada gangguan sinyal," kata Gilang.


Gue pun nelepon Lele yang kedua, ketiga, keempat kalinya. Semua panggilan itu ga ada yang nyambung satupun.


"Coba elu yang nelepon," kata gue ke Gilang.


Gilang pun nelepon Lele sampai kedua, ketiga kalinya sama-sama ga ada yang nyambung juga.


"Nyokapnya, Poy! Nyokap Lele!" kata Gilang. Kami sama-sama panik sekarang.


Gue pun nelepon nyokap Lele, sama! Nomornya ga aktif.


Gue langsung ingat kalau nyokap gue dan nyokap Lele kan sohib, jadi gue nelepon nyokap gue aja.


"Halo? Ma! Mama ada kabar terbaru dari Laila atau keluarganya ga?" kata gue.


"Sebentar, sebentar... Ada apa ini Puput? Pelan-pelan ngomongnya," kata nyokap gue.


"Itu Ma, Laila katanya mau ke Amrik. Dia ngechat Puput tapi pas Puput telepon HP-nya ga aktif. Puput udah nelepon mamanya tapi HP-nya juga ga aktif!" kata gue.


"Puput. Ini papa nelepon. Coba mama angkat dulu ya? Siapa tahu ada info dari papa juga. Nanti sekalian mama tanyain ke papa," kata nyokap gue.


"Oke Ma." Panggilan gue pun tertahan. Gue nunggu info dari nyokap gue.


"Gimana katanya?" Gilang penasaran.


"Ini sekarang nyokap gue lagi dapat telepon dari bokap. Kita tunggu aja setelah ini," kata gue.


"Nak?"


"Mama!"


"Gimana Ma?" tanya gue.


"Benar, keluarga Laila sekarang on the way Amerika."


Gue pun menyalakan load speaker HP biar Gilang bisa dengar juga. Gue dan Gilang pun mendengarkan kata-kata nyokap gue bersama-sama.


"Jadi papa pun dapat kabar barusan seperti itu. Katanya kondisi Laila kritis dan dipindahkan ke rumah sakit di Amerika," jelas nyokap gue.


"Serius Ma? Kapan mereka berangkat?" tanya gue.


"Udah berangkat, Sayang. Jadi tadi papa Laila telepon itu posisinya sudah di pesawat," kata nyokap gue.


"Mungkin HP mereka sengaja dimatikan karena udah mau terbang," kata gue.


"Puput jangan berpikir macam-macam dulu ya Sayang. Kita tunggu info yang jelas bagaimana. Kita doakan saja yang terbaik untuk Laila," kata nyokap gue.


Mata gue berkaca-kaca. Gue terdiam. Yang gue pikirin sekarang adalah Laila.


"Sayang? Mama hari ini pulang. Kamu jangan sedih ya Sayang? Tunggu kepulangan Mama," lanjut nyokap gue.


"Iya Ma," jawab gue dengan suara yang gemetar. Percakapan melalui telepon pun berakhir.


Gilang pun menepuk-nepuk bahu gue. Dia nyoba menguatkan gue dari tatapan matanya dan dia mengangguk mantap. "Sabar Poy," seolah tatapannya ngomong gitu sama gue.