Miyawlova

Miyawlova
Introgasi dari Lele



"Kalau lu beneran sakti, sembuhin Vino sekarang!" kata Lele.


Aduh, mampus gue. Mana bisa gue kaya gitu. Yang gue bisa kan cuma komunikasian sama kucing!


"Ga bisa kan? Makanya jangan terlalu banyak bacot lu!" lanjut Lele.


Jelas Lele kecewa banget sama gue.


Setelah sepanjang jalan dipenuhi dengan rengekan Lele, kami pun akhirnya sampai di klinik hewan. Lele membawa Vino kaya pasien yang dibawa ke ICU. Vino digendong sambil lari-lari, merengek-rengek ke dokternya.


"Dok, tolongin Vino, Dok," rengek Lele. Gue ga tega ngelihatnya. Lele nangis gitu dari tadi.


Lele menyerahkan Vino kepada dokter dan stafnya. Dokter mengelus Vino dengan sabar. Ia menjalin komunikasi agar Vino nyaman. Dokter dan stafnya pun membersihkan luka-luka Vino. Vino terbaring di meja pemeriksaan.


"Pasti ini Vino habis berantem. Saya akan ambil darahnya buat tes lab juga. Khawatirnya ada virus atau pembawa penyakit lain. Kita upayakan untuk mencegah gejalanya," ucap dokter.


"Lakukan saja, Dok. Apapun. Yang penting Vino bisa sehat," kata Lele dengan suara yang masih bercampur tangis.


"Le. Tenang ya Le. Semoga Vino ga kenapa-kenapa. Dia sekarang udah ada di tangan orang yang tepat. Tenang ya Le," ujar gue.


"Iya Gay," jawab Lele.


Gue dan Lele pun melihat dokter dan stafnya menangani Vino dari pinggir.


"Luka sudah kita bersihkan, sekarang kita akan menjahitnya," kata dokter.


"Vino, kamu kuat, Vino," ucap Lele masih sambil menangis.


Gue merebahkan kepala Lele di bahu gue. Gue usap-usap kepalanya biar dia tenang. Lele pun merangkul pinggang gue dari samping. Dia lagi sedih dan butuh tempat bersandar.


Gue dan Lele melihat proses jahit Vino. Lele ga mau ngelihatnya jadi dia membenamkan mukanya di bahu gue.


Setelah selesai, dokter pun bilang...


"Untuk sementara Vino menginap di sini dulu. Kita lakukan perawatan pemulihan."


Lele udah ga menyembunyikan mukanya lagi. "Sampai kapan Vino nginap di sini Dok?"


"Paling lama dua hari. Besok siang kita lihat bagaimana perkembangannya lagi," jawab dokter.


"Baiklah kalau gitu, Dok. Saya titip Vino ya Dok, Kak," ucap Lele kepada dokter dan staf yang membantu dokter tersebut.


*


Urusan di klinik hewan pun selesai. Saatnya gue dan Lele balik ke rumah Lele.


Gue duduk di dalam mobil sebelahan sama Lele. Sepanjang jalan Lele cuma diem melamun.


"Le, jangan sedih lagi ya? Vino besok pasti sembuh kok," kata gue.


"Iya," Lele menjawab dengan wajah yang masih memandang ke luar jendela.


"Tadinya gue mau sekalian jemput Arjuna. Tapi sekarang gue udah kecapean. Besok aja deh Arjuna pulangnya bareng Vino," kata Lele.


"Emh, kenapa ga minta Papoy bawa Arjuna aja pas datang ke rumah lu?" tanya gue.


"Gue mau sekalian liat kondisi tempat anak-anak gue dirawat. Kaya tadi. Kalau gue ga ngecek langsung gue pasti ga tahu Vino celaka. Lu biar-biarin anak gue di luar sana, jadi dia celaka kaya gitu," ucap Lele.


"Gue minta maaf banget Le. Gue mohon banget agar lu maafin gue. Gimana caranya biar lu bisa maafin gue Le?" tanya gue.


"Hem... Syarat ya? Ide bagus. Emh... gimana kalau lu..." Lele berpikir keras.


"Jangan aneh-aneh Le!" kata gue dengan mata membulat.


"Ih, suka-suka gue dong! Ya harus aneh, masa ga aneh," ucap Lele terkekeh.


"Le, please Le... Lu kan tahu gimana sikon gue di lingkungan keluarga gue?" rengek gue.


"Belum Gay! Gue belum ngomong syaratnya apa!" Lele melotot sama gue.


"I-iya deh iya. Tapi lu janji lihat-lihat sikon keluarga gue ya?" kata gue.


"Gue mau lu jadian sama Papoy," kata Lele.


"WHAT???" Gue terkejutnya bukan main. Ini hal yang gue pingin dari dulu, tapi kan Gilang sukanya sama Mentari!


"Serius lu? Jangan syarat yang itu ngapa Le!" kata gue.


"Loh kenapa? Mau gue maafin ga lu?" kata Lele.


"Tapi apa ga ada syarat yang lain?" protes gue.


Lele menggeleng. "Kalau ga mau ya udah. Kita ga friend," kata Lele kemudian dia menoleh ke luar jendela kembali.


"Tapi kalau Papoy ga mau jadian sama gue gimana?" tanya gue.


Lele balik ngelihatin gue lagi. Kali ini ekspresinya begitu senang.


"Ya buat Papoy jadi suka sama elu lah! Mau gue bantuin?" ucap Lele excited. Matanya membulat, senyumnya lebar memperlihatkan sebagian barisan giginya yang cantik.


"Maksudlu lu mau comblangin gue sama Papoy?" kata gue heran.


Lele mengangguk gembira. Gue cuma bisa garuk-garuk kepala doang.


"Kita mulai aksi kita malam ini!" kata Lele.


"Aksi apaan sih Le?" tanya gue.


"Aksi lu ngedeketin Papoy lah!" jawab Lele.


"Hadeeeh... Iya deh, iyaaa..." kata gue lemes.


"Tapi tunggu, lu ngundang siapa aja di party Le?" tanya gue khawatir. Jangan-jangan anak-anak IPS diundang juga! Kalau Mentari ada di sana malam ini, gimana dong gue?


"Banyak. Hehe. Anggap aja satu sekolahan," kata Lele.


"YA AMPUUUN..." keluh gue.


"Kenapa? Lu malu? Masih pemalu aja ya? Bukannya lu udah digojlok sama Papoy? Mental lu udah ga pemalu lagi kan?" kata Lele.


"Mental iya digojlok, tapi kalau urusan perasaan kaya gini mana bisa dikondisikan Le," kata gue.


"Bisa kok, bisaaaa..." kata Lele.


"Kalau Papoy sukanya sama cowok lain gimana?" pertanyaan pancingan. Ini sebenarnya bukan sekedar nanya Le, gue serius mau ngasih tahu lu kalau Gilang ga suka sama Papoy.


"Emangnya gue ga tahu? Selama gue cuti, lu deket sama Papoy kan?" kata Lele.


"HAH?"


"Idih, biasa aja kali kagetnya," kata Lele.


"Lu tahu dari mana? Apa aja yang lu tahu? Kasih tahu gue Le! Kasih tahu gue!" Gue sampai menggoncang-goncang bahu Lele sangking penasarannya.


"Satu sekolahan tahu kalau lu sama Papoy deket!" kata Lele sambil memandangi kuku-kukunya.


"Cuma itu? Lu cuma tahu dari rumor yang beredar doang kan? Ada lagi ga yang lu tahu?" tanya gue.


"Lebih baik gue tahunya dari elu." Lele menatap tajam mata gue.


"Gimana? Gimana?"


"Sekarang lu cerita sama gue apa yang terjadi selama gue cuti sekolah!" pinta Lele.


Haduh, gue harus mulai dari mana? Banyak banget masalah yang menyerang gue dan Gilang selama Lele ga ada.


"Ayok! Malah bengong! Mumpung arus lalu lintas lagi macet nih. Jarak ke rumah gue juga masih jauh. Gue mau sebelum kita sampai di rumah gue, lu udah kelar cerita ke gue semua yang terjadi di antara elu dan Papoy!"


"Se-semua?"


Lele mengangguk.