Miyawlova

Miyawlova
Jadian Ajalah



Sumpah ya, gue gedek banget sama Gilang. Masa ga tegas gini? Gue udah sampai sakit hati gara-gara denger kisah Gilang dan Mentari. Kenapa ga jadian sekalian aja? Terus gue balas rasa kesal gue dengan jadian sama Kak Jonathan! Mampus!


"Kayanya lu perlu gue gojlok lagi Gay, biar mental lu ga kaya gini," gerutu gue. Gue masih nyetirin motor sambil ngebonceng Gilang.


"Lu masih belum ngerti juga," kata Gilang.


"Ngerti banget gue. Lu takut kan memulai sebuah hubungan percintaan? Mental tempe," kata gue.


"Ga apa-apa. Tempe enak. Kesukaan gue, mau diapain juga gue doyan," kata Gilang.


"Ck," bisa-bisanya ngeles.


"Bukan soal percintaannya. Tapi takdir kita," kata Gilang.


"Takdir kita?" gue bingung.


"Kita bukan lagi diri kita yang sebenarnya. Gue bukan lagi seorang Gilang. Lu bukan lagi seorang Puput. Segala ambisilu sewaktu jadi Puput apa bisa lu capai disaat lu jadi orang lain? Gimana kalau keadaan kita ini ga balik-balik sampai kapanpun? Apa lu masih terus terjebak dengan masalalu lu sebagai seorang Puput?" tanya Gilang.


Gue terdiam. Gue mikirin yang macam-macam. Selamanya? Gue bayangin gue harus tinggal serumah sama Bapak sampai Bapak jompo terus gue nyuapin beliau. Pas gue suapin beliau marah dengan kata-kata yang ga jelas karena udah jompo. Piring yang gue pegang didepak.


Gue juga ngebayangin gue nikah sama Mentari, gue cari kerja terus dapetnya sebagai karyawan yang kerja rodi, qerja qeras bagai quuda... samfai lufa orang tua... Nah kan, gue malah nyanyi.


Terus hasil kerjanya gue kasih buat istri gue yang gue bawa hidup miskin. Terus gue punya anak yang anak-anak gue kurang gizi. Istri gue terus merongrong gue buat nambahin uang bulanan. Gue jadi korup di kantor demi memenuhi kebutuhan.


Gue adalah pemimpin keluarga, tulang punggung keluarga. Keluarga miskin yang ditekan keadaan, ditekan Bapak, ditekan istri, ditekan anak. Terus rambut gue pada rontok. Terus gue jadi botak kaya profesor-profesor gila di film-film. Botak cuma bagian jidat sampai ke ubun-ubun.


"Poy... POY... POOOOY..." panggil Gilang. Gilang sampai nepuk-nepuk bahu gue.


Gue pun ngerem mendadak. Untung gue jalannya di pinggir banget. Jadi ga ada orang yang nabrak gue dari belakang.


"Lu ngelamun ya?" tanya Gilang setelah gue berhenti.


"Gara-gara lu sih, bilang kalau kita ga akan balik-balik ke raga kita masing-masing. Kan gue jadi OVT!" protes gue.


"Lah, kalau bener gimana?" ucap Gilang.


"Ya enggak tahu!" jawab gue.


"Makanya jangan terlalu banyak ambisi lu Poy! Coba ngalir aja ngapa! Jalani aja dengan ikhlas. Hitung-hitung latihan, siapa tahu omongan gue bener. Kalau suatu saat kita balik ke raga masing-masing ya syukur. Seenggaknya kita udah belajar," kata Gilang.


"Sok bijak lu," kata gue.


Bukan Gilang yang sok bijak, tapi gue yang ga mau nerima kenyataan. Gue ga mau selamanya terjebak di raga Gilang. Ga mau!


"Malah ngatain gue," gerutu Gilang.


"Gue ga mau," rengek gue.


"Heh kok malah nangis! Ih! Malu-maluin! Ih Gilang masa nangis di jalan! Woy! Udah, diem, jangan nangis!" kata Gilang.


Gue dan Gilang masih sama-sama di atas motor. Lagi berhenti di depan trotoar.


"Gue ga mau kaya gini terus Gay! Huwaaaa..." lanjut gue. Gue terlalu menderita dengan kehidupan baru gue ini. Gue ga bisa nahan lagi. Gue ga bisa kalau ini akan terjadi selamanya.


"Sssy... Sssy... Sssy... " Gilang narik paksa kepala gue ke belakang agak samping. Kepala gue ditempelin ke dadanya yang pendek. Pegel banget jadinya, sumpah.


"Yang tenang ya Poy. Gue tahu ini memang berat. Tapi menangis atau mengeluh ga akan merubah keadaan. Makanya mending ikhlas aja. Dengan keikhlasan semua beban akan sedikit lebih ringan," ucap Gilang dengan nada lembut. Kata-kata dan cara dia ngomong bikin adem hati gue.


"Lagian lu ga ngejalaninnya sendirian kan? Coba lu ingat-ingat lagi, lu ngejalanin ini sama gue kan? Sampai detik ini kita jalanin ini sama-sama," lanjutnya.


Bener apa yang Gilang bilang. Seenggaknya gue ga ngejalanin ini sendirian. Bener juga Gilang bilang, ikhlas bisa mengurangi beban. Mungkin OVT gue bakal hilang dengan gue mengiklaskannya.


Semua ambisi gue. Gue jadi teringat ambisi terdekat gue, yaitu ngejar cinta Kak Jonathan. Terus bergeser ambisi gue yang lain, gue pingin jadi ketua OSIS. Gue mundur lagi dan mengingat ambisi gue yang lain, gue pingin lulus SMA dan masuk ke kampus favorit yang tentu aja mahal.


Gue kumpulin semua memori gue kaya lagi numpukin satu per satu kertas sampai tumpukan itu jadi tebal banget dan meninggi.


Tumpukan kertas-kertas itu gue bakar. Selamat tinggal semua ambisi gue. Selamat tinggal cita-cita gue.


"Udah nangisnya?" tanya Gilang. Gue menegakkan kepala.


"Senyum ya," bujuk Gilang.


"Untung ini masih pagi banget. Jalanan masih sepi. Jadi kita ga dilihatin orang," kata Gilang.


Gue pun melihat ke sekeliling sambil sesekali menggosok mata gue. Iya juga sih, untung masih pagi.


Gue pun menoleh ke belakang.


"Lumayan, belum sembap-sembap amat. Eh, senyum dulu dong," kata Gilang.


Gue pun memamerkan barisan gigi gue.


"Yang ikhlas senyumnya," pinta Gilang.


Gue pun senyum biasa aja tanpa memperlihatkan gigi gue.


"Nah. Udah, aman. Yuk lanjut! Masih bisa nyetir kan?" kata Gilang.


"Iya," jawab gue. Gue pun kembali melajukan motor menuju bengkel.


"Jadi kita gimana?" tanya Gilang.


"Kita tetap selamanya seperti ini," jawab gue.


"Bukan itu. Maksud gue soal permintaan Lele," kata Gilang.


"Kita jadian..." kata gue.


"Kita jadian?" balas Gilang.


"Gue barusan nanya, bukan ngejawab," kata gue.


"Oh," kata Gilang.


"Jadi gimana?" tanya Gilang.


"Terserah elu. Gue lagi mencoba ikhlas yang ngalir aja," jawab gue.


"Ya udah kita jadian," kata Gilang.


"Beneran apa bohongan?" tanya gue.


"Menurut lu?" tanya Gilang.


"Ga tahu," jawab gue.


"Ya udah, beneran aja," kata Gilang.


"Alasannya apa? Emang lu naksir sama gue?" tanya gue.


"Alasannya buat latihan," jawab Gilang.


"Latihan?" Apakah Gilang mau latihan menjalin hubungan abadi sama gue?


"Latihan ikhlas," lanjut Gilang.


"Kambing," gerutu gue.


"Emangnya gue musibah, bikin lu latihan ikhlas," lanjut gue.


"Kayanya," jawab Gilang.


WEEEEEENG...


Gue putar gas dengan emosi. Eh kok malah jadi ngebut dan gue jadi kaget sendiri.


"Hati-hati Poy! Idih! Lu mau kita meninggoy sekarang?" kata Gilang.


"Sorry... Sorry... Tadi lagi esmoseeeeh!" kata gue.


"Panggilan kesayangan kita apa?" tanya Gilang.


"Hah?"


"Biar di depan Lele ada mesra-mesranya," kata Gilang.


"Lu ga geli apa?" kata gue.


"Sebenernya gue..." kata Gilang.