
"GUYS... ADA YANG BARU AJA DAPAT PREDIKAT JUARA TURNAMEN KARATEEE..."
Seruan itu seketika membuat seisi kelas terdiam dan menoleh ke Gilang, termasuk gue. Cara pandang gue ke Gilang di kelas ini jadi terasa beda gitu, anjoy. Dari si Gayung Cupu sekarang berubah jadi Idola Semua Umat.
"Lu seriusan? Lang?" kalimat pertama yang memecah keheningan kelas. Kalimat yang keluar dari mulut Tamtam.
"YEEEE..."
"UUUUU..."
"SELAMAT YA GILANG."
"FWIIIIIT FWIIIT... GILA SIH GILA!"
Orang-orang pun mengelu-elukan Gilang. Gilang terlihat malu. Tu anak garuk-garuk belakang kepala, ekspresi yang udah gue hafal.
"Maju dong Lang!" ucap Roni.
"MA-JU... MA-JU... MA-JU..." pinta orang-orang bersama-sama.
Gilang pun melangkah menuju ke depan papan tulis. "WUUUUU... KITA SAMBUT JUARA KITA..."
PROK PROK PROK PROK...
Tepuk tangan yang meriah pun mengiringi langkah Gilang.
"Ada apa ini?" Tiba-tiba wali kelas masuk. "GILANG BARU AJA DAPAT GELAR JUARA KARATE, PAK," jawab seorang murid yang duduk di belakang paling pojok.
"Apa benar itu, Gilang? Keren sekali kamu," tanya Pak Anton. "Se-sebenarnya tidak sekeren itu, Pak. Sebenarnya..." ucap Gilang ragu-ragu sambil berdiri di depan kelas.
"Sewaktu Gilang di Bandung, dia ikut turnamen terbuka, Pak. Rupanya dia dapat juara di sana," jelas Puput.
"Oh jadi begitu? Juara berapa?" lanjut Pak Anton. "Juara harapan, Pak," ucap Gilang sambil garuk-garuk dan dengan suara pelan. Kalau menurut gue juga wajar sih Gilang malu. Soalnya Gilang kan cuma dapat peringkat juara harapan, ga masuk tiga besar.
"APA LANG? GA KEDENGARAN," ucap Tamtam. "Juara harapan," jawab Pak Anton. Seketika suasana kelas kembali seperti semula, diawali dengan hening beberapa detik. "Rupanya juara harapan, kirain gue juara satu," gerutu salah satu murid yang berhasil gue dengar.
"Juara harapan itu bagus juga untuk pemula. Bapak baru dengar kalau ternyata kamu bisa karate. Kamu ikut ekstrakulikuler sekolah kan?" tanya Pak Anton yang sudah menempati mejanya.
"DIA LES PRIVAT KARATENYA LANGSUNG SAMA PAPOY, PAK!" celetuk salah satu murid. Gue seneng banget ada yang cepu kaya gini. "CIYEEEE..." seru semua orang bersama-sama.
"Wah, pantas saja pemula langsung dapat juara, rupanya orang yang bikin semangat latihan ya," ejek Pak Anton sambil mengedip-ngedipkan mata ke Puput.
Lagi-lagi suasana kelar riuh dengan sahutan-sahutan yang goda-godain Puput dan Gilang.
"Oke, selamat ya Gilang. Bapak ucapkan selamat. Semoga jadi motivasi kamu untuk terus berprestasi. Kita applaus sekali lagi untuk Gilang," ucap Pak Anton.
PROK PROK PROK PROK...
Ini adalah hari yang membuat semua mata terbuka. Dimana diam-diam Gilang dianggap punya kesaktian tersembunyi. Orang ga tahu entah itu juara berapa yang Gilang raih, mereka tetap bilang sang Juara Karate adalah Gilang. Dan sebutan itu merebak ke seluruh penjuru sekolah ini.
Anjoy, Gilang sekarang jadi orang yang keren banget. Dari segi penampilan seragamnya udah ga rapi-rapi amat seperti sebelumnya. Dari segi rambut, ga pernah disisir. Dari segi jalan sekarang lebih tegap. Suara masih jamet tapi udah jarang ngomong. Jadi cowok cool ya, jarang ngomong.
Bukan karena jarang ngomong yang ga punya teman buat ngobrol, tapi setiap ada yg ngajak ngobrol dan itu banyak banget, Gilang cuma senyum tipis-tipis dan melipir.
"Gue bukan sombong atau pingin jadi cowok cool. Gue malas aja ngadepin orang yang segitu banyak. Mana sering ga nyambung sama gue. Pada sok kenal, mereka sama gue," kata Gilang. Sebuah pengakuan yang rendah hati sekali ya.
Gue bersyukur banget sekarang punya sohib yang kece-kece semua. Selamat ya Puput, berkat usaha lu, sekarang Gilang berubah. Sebuah usaha yang ga sia-sia demi menjadi sandaran hati.
Meskipun gue suka gabut manfaatin Gilang buat gue ajak jalan, gue selendot-selendotin manja, tapi gue tetap pingin sohib gue mendapatkan kebahagiaannya. Maafin gue atas kekhilafan gue yang terlalu nempel sama Gilang.
Papoy, ambil upah lu!
Emang Puput diupah? Maksud gue, apa yang udah Puput usahain sekarang silakan menikmati hasilnya. Ambil Gilang buat jadi gebetan lu.
*
"Uhuk... Uhuk... Aduh, dada gue," kata gue sambil nyeringis pas lagi duduk-duduk di kantin.
"Hah? Le? Lu kenapa?" Papoy auto panik. Gilang ikutan pindah posisi. Mereka jadi ngerubungin gue.
Gue kaya susah banget mau ngomong. Pokoknya udahlah, gue pasrah sama nyeri di dada gue.
"UKS! Bantuin bawa Lele ke UKS!" kata Puput kepada Gilang. Gilang gercep banget. Dia langsung gendong gue di punggungnya dan bawa gue lari ke UKS.
"MINGGIR! MINGGIR!" Puput membuka jalan kaya iring-iringan mobil presiden yang mau lewat di jalan protokol.
Setelah sampai di UKS, dokter jaga pun dengan gercep ngurusin gue. Puput dan Gilang disuruh nunggu di luar.
Akhirnya hari ini gue dibawa pulang lebih cepat. Gue ga ngikutin pelajaran. Gue ingat-ingat lagi gue abis ngapain dan makan apa ya sampai penyakit gue kumat? Kayanya gue ga makan yang aneh-aneh deh!
Sepulang sekolah Puput, Gilang, Nita, Dwi, Reka, Roni dan Pak Anton pun menjenguk gue di rumah. Mereka khawatir gitu sama keadaan gue.
"Kalian lebay, guys. Gue cuma kecapean aja. Besok juga gue ke masuk sekolah lagi," kata gue kepada orang-orang yang ngelilingin gue. Gue lagi duduk di tempat tidur gue. Dari sisi ini gak enak banget gue rasa, posisi mereka kaya ngelilingin jenazah, anjoy!
Karena mood gue ga bagus dan gue merasa mau mati, gue pun minta pembokat gue buat ngambilin kucing-kucing gue. Gue selalu menyamankan diri dengan bulu-bulu lembut mereka dan tingkah mereka yang aneh-aneh. Ada yang mager banget, ada yang petakilan banget dan ada yang doyan pura-pura mati.
Ini lagi ada orang-orang yang jenguk gue, gue malah minta diambilin kucing-kucing gue. Apa gue bakal nganggurin tamu-tamu gue? Enggak kok. Gue malah akan ngenalin kucing-kucing gue yang udah kaya anak-anak gue sendiri itu ke mereka.
"Yang ini namanya Sri, ini Vino, satu lagi mana, Bi?" kata Puput. "Satu lagi baru saja selesai pup, Non. Jangan ke sini dulu. Kasihan Non Laila," jawab pembokat gue. Iya bener sih. Males amat main sama kucing yang baru selesai pup. Yang ada nanti aroma asem-asemnya kecium.