
Bapak nunjuk-nunjukin suntikan di depan Ibu. Ternyata bener itu adalah suntikan Gilang tadi.
"Ini buktinya! Ngapain anak itu datang ke sini bawa-bawa suntikan kalau bukan untuk menggunakannya! Pasti dia mau mempengaruhi Gilang untuk ikut memakai obat-obatan terlarang!" kata Bapak.
"Ya Tuhan, Bapak!" gue menyelah.
"Nak, jelaskan Nak! Jelaskan sama Ibu dan Bapak kalau tuduhan itu tidak benar!" Ibu mulai ngomong secara emosional. Gue ga tega kalau ngelihat beliau kaya gini. Gue udah nganggep Ibu sebagai orang tua gue sendiri.
"Ibu tenang dulu. Kita ngobrolnya sambil duduk yuk?" Gue memegang lengan Ibu, gue duduk lalu menepuk-nepuk ranjang agar beliau duduk juga.
"Bapak juga, duduk dulu yuk?" lanjut gue.
"AAH... GA PERLU!" jawab Bapak. Sumprit ni orang pingin gue selepet.
"Jadi begini, Bu... suntikan itu..."
"KAMU MAU KASIH ALASAN APA? INI UDAH JELAS! IBU, JANGAN PERCAYA APA YANG DIKATAKAN ANAK INI! DIA SUDAH KENA PENGARUH BURUK TEMANNYA ITU!" Bapak melayangkan telapak tangannya ke wajah gue. Tapi itu baru hampir.
Ibu kembali berdiri dan mencengkram pergelangan Bapak.
"Sudah cukup selama ini Bapak berlaku sewenang-wenang ke Gilang! Ini anak kita, anakmu, ANAKKU! Kalau Bapak masih berani mengasari Gilang, Bapak berhadapan dengan Ibu," ucap Ibu dengan suara rendah tapi tegas.
"Oh jadi kamu membela anak ini? Dia sudah jelas-jelas salah!"
"Oke, silakan kamu bela dia. Tapi jangan harap anak perempuan itu bisa menginjakkan kakinya lagi di rumah ini!"
Bapak pun pergi.
BRAAAAK...
Masih sempat-sempatnya Bapak membanting pintu saat pergi. Hal itu membuat gue dan Ibu rada-rada jantungan. Seandainya aja gue ga terjebak dalam fisik Gilang kaya gini, tu orang udah gue kasih bogem berulang-ulang!
Gue pun merangkul Ibu yang mukanya tegar tapi meneteskan air mata.
"Maafkan Gilang ya Bu. Gara-gara Gilang, Ibu dan Bapak jadi berantem kaya gini," ucap gue sambil mengusap-usap lengan Ibu.
"Ibu rasa Ibu sudah mendidik kamu dengan semampu Ibu, makanya Ibu ga terima kalau kamu dijelek-jelekkan. Karena, Ibu percaya sama kamu, Nak. Kamu tidak mungkin melakukan hal-hal yang buruk seperti itu.". Suara Ibu bergetar.
Ya ampun, merinding banget gue. Gue beneran merasa jadi anak Ibu. Gue hampir nangis nih jadinya, cuma belum tumpah keluar aja air mata gue.
"Sekarang kamu cerita sama Ibu apa yang sebenarnya terjadi. Apa benar suntikan itu milik Puput?"
"Benar, Bu."
Ibu membulatkan mata. "Tapi untuk apa?"
"Untuk nyuntik Vino Bu. Puput itu biasa rescue kucing-kucing jalanan dengan nyuntikin anti parasit. Jadi Vino tadi tuh kotor lalu nunjuk-nunjukin gejala sakit, dia muntah-muntah. Saya segera kabari Puput dan dia datang ke sini bawa suntikan itu juga obat anti parasitnya. Sekarang ga tahu deh obat itu ada dimana, tersisa suntikannya saja."
"Ya, ga logis juga Bu, masa manusia pakai suntikan sekecil itu," lanjut gue.
"Oh, jadi begitu ceritanya. Ibu percaya, Nak. Ibu percaya sama kamu," ucap Ibu sambil mengelus kepala gue.
Gue jadi inget nyokap gue, anjir 😭. Gue pun memeluk Ibu.
"Ibu tidak marah, Nak," ucapnya setelah tiba-tiba gue peluk beliau.
Gue nangis, asli. Tapi ga mungkin gue bilang kalau penyebab gue nangis karena gue kangen sama nyokap gue.
"Iya, Nak. Tapi kita perlu menjaga emosi Bapak juga ya. Untuk sementara Puput jangan datang-datang dulu ke sini. Nanti setelah suasananya membaik baru kamu boleh membawanya lagi ke sini. Biar Ibu bantu untuk bicara sama Bapak," ucap Ibu.
"Terima kasih, Bu," kata gue.
Gue dengan fisik seorang Gilang, memeluk Ibu dengan segini eratnya. Gilang pasti sering melakukan hal ini juga. Terbukti, dia begitu dekat dengan Ibu yang seperti Ibu Peri ini. Gilang manis banget.
Waktu berlalu. Keesokan harinya.
Gue ke sekolah seperti biasa. Kali ini gue sendirian, karena gue udah memutuskan buat break dari pertemanan di antara gue dan Gilang.
Kalau ga ada hal darurat kaya kemaren, gue ga akan menghibungi dia.
Gue berpapasan sama Gilang. Doi pura-pura ga melihat gue. Gue lihat dari gelagatnya kayanya doi menghindar dari gue.
Ah, mungkin doi merasa berdosa dengan kejadian kemarin. Pasti doi udah berbuat kasar sama Vino.
Gue putuskan buat ga nanya-nanya sama Gilang. Biar ntar pas pulang sekolah gue tanya aja lagi ke Vino siapa tahu dia udah mau diajak ngomong.
Gue melangkah di koridor melewati kelas-kelas lain.
"WOY..." gue dipanggil. Gue pun menoleh, ternyata itu anak yang pernah berantem sama gue di toilet. Gue punya janji sama dia kalau gue bakal punya pacar.
Untuk saat ini bodo amat, gue ga akan mendekati Puput lagi.
"LIMA PULUUUH..." lanjut anak itu setelah gue kembali membelakangi dia dan melanjutkan langkah gue.
Lima puluh, lima puluh... disangkanya gue benncoong lampu merah! Tadinya gue mau bodo amat sama tu anak, tapi kok tu anak makin ngelunjak ya?
Gue berbalik dan menghampiri dia. Gue angkat kerah bajunya.
"Masih pagi udah minta sarapan dari gue..." kata gue.
"Hai, mblo..." ucapnya di depan muka gue.
"Kalau bukan karena kerendah-hatian gue, tempo hari lu udah gue bikin masuk UGD, tahu ga!" kata gue.
"WOOOY... ADA APA NIH?" Seorang murid datang menengahi kami. Gue ga kenal ni anak, tapi mukanya gue hafal. Doi suka ikut rapat MPK alias Majelis Perwakilan Kelas. Pasti dia ketua kelasnya.
"Berkali-kali lu lolos dari gue! Lihat aja ntar lu, apa masih bisa lolos kaya gini!" kata gue dengan suara pelan sambil melepaskan tangan gue dari kemeja murid menyebalkan itu
"Wah, Bro. Elu yang kemarin ikut rapat OSIS kan? Gila, lu jadi omongan Bro, katanya potensi lu bagus buat jadi pengurus," kata ketua kelas itu.
Gue tersenyum sambil memandang tajam ke murid nyebelin tadi. See? Gue hebat kan? Mampus lu!
"Biasa aja Bro. Oh, iya, tolong lu jagain ni anak. Mulutnya kaya cewek. Bahaya, bisa-bisa bakal ada tawuran gara-gara coongoor dia," kata gue ke ketua kelas sambil ngelihatin ni murid seetan.
"Ah, santai dulu kali Bro. Dia anaknya memang gitu, ga usah diambil hati," kata ketua kelas sambil ngedorong punggung gue buat pergi bersama dia.
Memang pinter banget ni anak buat mencegah perkelahian. Doi malah ngobrolin hal lain buat ngalihin perhatian.
Gue pun pamit karena males banget nanggepin obrolan formalitas ini. Gue segera menuju ke kelas gue.
Sebelum sampe ke kelas, gue berpapasan dengan seorang murid cantik. Dia ga centil sih, tapi kaya ngelihatin gue terus gitu dari kelasnya. Dia berdiri di pintu kelasnya pas gue lewat.