Miyawlova

Miyawlova
Taktik Gerilya



Seketika pose terkeren gue, Papoy dan Gayung ambyar gara-gara raja jamet di sekolahan ini nongol.


"Kalian lagi ngapain?" tegur guru muda yang ga mau dipanggil 'pak', maunya 'kak' aja. Dia adalah Kak Herowandi.


Tangan gue dan tangan Puput auto lepas setelah sekian menit nangkring cantik di kedua lengan si Gilang. Kacamata hitam ala SWAG yang dipakai Gilang pun langsung Gilang sembunyiin cepat-cepat di kantong celana belakangnya. Teman-teman lain yang tadi ngasih efek angin dengan ngipas-ngipasin lembaran kardus dan ada juga yang di atas pohon buat enjot-enjotin dahan biar daunnya berguguran, mereka langsung melipir, hilang kaya b4bi ngepet yang lilinnya ditiup.


"Eng-enggak lagi ngapa-ngapain sih Kak," kata gue. Sementara Puput langsung kospley jadi pohon dan Gilang say hi- say hi ke orang-orang sekitar pura-pura ga kenal sama gue. Ini mereka numbalin gue buat ngadepin raja jamet? Astoge!


"Lihat ini? Sampah daun dimana-mana, terus tadi laki-laki dan perempuan nempel begitu! Kalian sudah dewasa, jangan berbuat yang aneh-aneh!" lanjut Kak Herowandi. Kami ga aneh-aneh, memang dasar otak lu aja yang mesum Kak, nyebelin banget lu.


"Iya, nanti ga diulangi lagi deh. Kakak jangan marah ya? Nanti hilang loh ketampanannya yang membahana di seluruh pelosok sekolah ini," kata gue kospley jadi penjilat. Naj!s banget gue centil-centil di hadapan ni orang, sumpah! Tapi demi menghindari munculnya perkara yang bakal dibawa-bawa sampai ke nilai-nilai di kelas, jadi gue rela membanting harga diri gue kaya gini.


"Oh, begitu ya? Bisa hilang gitu ketampanan saya? Aduh, baiklah Dik. Hemm..." kata Kak Herowandi yang tiba-tiba merubah nada suaranya jadi sok-sok'an berwibawa.


"Hhhft..." suara hembusan napas Puput nahan ngakak terdengar sampai di kuping gue dan pasti sampai juga ke kuping si Raja Jamet.


"Heh! Kamu! Kamu pikir saya tidak melihat kamu ada di situ? Berdiri yang benar!" tegur Kak Herowandi ke Puput. Gue kira tadi Puput kospley jadi pohon rupanya jadi iguana. Dia nemplok di batang pohon dan diem doang. "Yah, kamuflase gue gagal," gerutu Puput.


"Jangan marah ya Kak? Kami kan cuma bercanda aja," kata gue sekali lagi ngebujuk ni orang yang kehadirannya ga kami harapkan ini. Kok lu ga pergi pergi sih, anjoy!


"Iyaaa... Saya ga marah kok. Kalau begitu nanti kamu kasih tahu teman-temanmu ini... Eh, mana satu lagi?" kata Kak Herowandi. Ternyata Gilang udah hilang. Pasti dia pakai taktik gerilya yang caranya langsung gabung ke dalam gerombolan murid yang lagi lewat terus ngikutin mereka buat pergi dari sini.


"Wah, tu anak selain bisa ngeruqiyah juga bisa sihir menghilang," gerutu Puput. "Ah, sudahlah. Pokoknya nanti kamu kasih tahu teman-temanmu agar bercandanya jangan aneh-aneh, jangan merusak lingkungan, apalagi merusak isi pikiran orang yang melihat kalian, oke?" kata Raja Jamet.


Udah gue bilang, yang piktor itu elu! Segala nuduh pose kami bikin otak orang jadi traveling!


"Iya, Kak. Tenang aja. Nanti saya bilangin ke mereka. Oh iya, Kakak tadi lewat mau kemana Kak? Siapa tahu ada urusan yang mendesak terus jadi lupa," kata gue. Aslinya gue itu lagi ngusir dia.


"Oh, iya betul. Berhubung saya ada urusan di ruang guru, saya mau lanjut dulu. Atau kamu mau nemenin saya? Nanti kita bisa..." kata Kak Herowandi. "Oh... Hem hem... Ga usah Kak, ga usah. Takutnya malah ngerepotin. Silakan Kak, silakan. Nanti keburu waktunya habis," kata gue yang ngomong sok manis sambil ngedorong-dorong manja lengan dan punggungnya Kak Herowandi biar dia mempercepat langkahnya. Akhirnya pengacau itu pun pergi juga.


"Yuk, cabut dari sini, Poy. Gue mau muntah. Gue harus cari toilet dulu," kata gue. Puput pun merangkul bahu gue dan berjalan bersama gue pergi dari tempat itu. "Gila lu, Le... Kok lu bisa tahan berekting kaya tadi sih? Kalau gue yang jadi elu, belum sampai dua menit gue langsung kesurupan," kata Puput.


"Ih kok larinya ke dia sih? Asal lu tahu ya, udah segede gini gue seumur hidup belum pernah yang namanya kesurupan. Enak aja, seorang Papoy kesurupan," kata Puput. "Lu ga boleh takabur gitu lu," kata gue.


"Halah. Oh iya, by the way, si Gayung kemana sih?" tanya Puput. "Tahu tuh! Pergerakannya sama sekali ga terdeteksi. Pake mode siluman kali, sampai ga terdeteksi radar gue," kata gue.


Ga lama dari itu, jam masuk pun berbunyi. Gue sama Puput pun masuk ke dalam kelas setelah nongki-nongki di kantin. Eh tahunya si Gayung udah ada di dalam kelas aja.


"Heh!"


BRAAAAAK...


Puput menggebrak meja Gilang. "Sampai hati lu melipir ninggalin gue sama Lele di hadapan Raja Jamet! Lu lupa sama apa yang pernah... pernah..." Tadinya nada suara Papoy tinggi tapi makin lama makin melehoy, kaya ada yang ga jadi diomongin gitu.


"Iya, iya gue salah. Maaf. Nanti gue bakal kosplay jadi superhero lagi deh buat Lele," kata Gilang. "Hah? Kok nama gue disebut-sebut? Kalian lagi ngomongin apa? Apa urusannya sama gue?" kata gue yang lagi ngerapihin rambut gue sambil ngaca biar tetap slay dimanapun berada.


Gilang dan Puput pun kikuk. "Enggak, enggak, gue belum selesai ngomong tadi. Maksud gue, gue bakal jadi superhero buat lu juga Papoy. Secara gue adalah satu-satunya cowok di antara kita dan gue juga udah belajar karate, jadi gue bisa jadi superhero Le," kata Gilang.


"Oh gitu. Iya deh, iya," kata gue.


"Pssst... lu ga tahu kenapa Gilang kabur dari Kak Herowandi tadi?" bisik Roni tapi suaranya masih kedengaran. Bisik-bisik macam apa itu?!


"Kenapa... kenapa?" kata Puput kepo. "Gilang itu paling ogah berhadapan sama Kak Herowandi karena orang itu pernah ngebully Gilang," kata Roni kepada Puput. "Apaan sih lu! Ga penting, tahu ga!" kata Gilang.


"Hah? Gay, lu takut sama orang kaya Hero? Ya ilah, Gay... Gay... Heh, lu katanya udah belajar karate, ikut turnamen pula, menang jadi juara pula. Lu masih takut sama orang yang modelannya kaya begitu?" kata Puput.


"Serius lu juara karate, Lang?" kata Roni. "Juara ha-ra-pan," kata Puput. Tapi Roni ga peduli dengan kata di belakang kata 'juara'. Pokoknya bagi Roni, Gilang itu juara karate.


Roni pun berdiri. "GUYS... ADA YANG BARU AJA DAPAT PREDIKAT JUARA TURNAMEN KARATEEE..." teriak Roni. Seketika suasana kelas menghening dan semua perhatian terpusat pada Gilang.