Miyawlova

Miyawlova
Hari Pertama Kospley Jadi Gilang



"Gilang... Ibu panggil-panggil dari tadi, Nak." Itu adalah nyokap Gilang. Gue kikuk sendiri. Ingat, Poy, lu sekarang adalah Gilang! Ini Nyokaplu! Homena... homena... homena... Gue berusaha menenangkan diri. Saatnya kospley jadi Gilang.


Take satu, camera... rolling... Action!


"Assalamualaikum Bu." Segera gue cium tangan calon mertua gue, eh salah, tangan nyokap gue maksudnya! Masih ada, woylah Poy... Poy!


"Wa alaikumussalam. Kamu dari mana Nak? Ih, aroma badanmu itu loh, kecut!"


Gue pun berjalan kaki dengan Ibu. Beliau terlihat sangat kelelahan. Matanya udah sayu gitu. Gue yang tadinya jalan mirip gantungan kunci tengkorak takatakatak, sekarang jadi auto tegak. Gue yang ga ada apa-apanya dibanding beliau yang udah kerja sampai pulang malam begini masa kelihatan loyo?


"Saya habis main tadi sama Puput, Bu. Biasalah, tu anak suka barbar. Main sama Puput pasti selalu ngerepotin, entah lari-lari, gelut, malah baru-baru ini kami ngurusin kucing yang tiap ketemu orang selalu ngereog... " Omongan gue terhenti sebentar.


Gue kok jadi asik mengenang kegokilan waktu bareng-bareng Gilang ya? Gue jadi senyum-senyum sendiri gini.


Gue pun langsung melirik ke Ibu. Ibu lagi merhatiin gue, ah jadi malu. Ga gue lanjutin deh ceritanya.


Ibu tersenyum. "Tidak apa-apa, teruskan saja keasikan kalian. Kamu pikir Ibu akan mengadukanmu dengan Bapak? Justru Ibu bersyukur sejak kita pindah ke sini lalu kamu punya teman baru, ya Puput, ya Laila... Ibu lihat kamu jadi lebih ceria, lebih bersemangat. Soalnya kamu kan sebelumnya selalu loyo dan terlihat tidak bersemangat," jelas Ibu.


"Hehe... Begitu ya Bu..."


"Iya. Seperti itu."


"Atau jangan-jangan dari keduanya ada yang sedang kamu sukai ya?" Idih, Ibu kenapa pertanyaannya kaya gitu sih? Kan jadi pingin ngomong iya terus ngaku-ngaku kalau sekarang lagi naksir Puput. Hahaha...


Tahan, Poy, tahan! Inget, jangan bikin malu Gilang! Seorang Gilang adalah orang yang mementingkan prestasi, ga ada urusan sama asmara-asmaraan. Oke kembali kospley Gilang, camera rolling... action!


"Ibu jangan berpikir yang aneh-aneh. Kami semua hanya berteman. Buat apa berpikiran soal pacaran, lebih baik fokus mengejar cita-cita. Nanti akan ada waktunya ngurusin pacar-pacaran," jawab gue.


"Hahaha... Anak Ibu." Ibu mengusap-usap kepala gue.


"Yang namanya perasaan suka itu wajar. Namanya kamu kan sudah besar, pasti sudah bisa tertarik dengan lawan jenis. Ibu dan Bapak juga kan pernah muda, Gilang."


Gue pun menyengir kuda dan Ibu memperhatikan gue, kaya lagi nunggu gue berkata-kata.


"Ya sudah kalau Gilang tidak mau cerita. Tidak apa-apa. Benar juga kok apa katamu barusan. Akan ada waktunya nanti buat ngurusin pacar-pacaran," lanjut Ibu.


Obrolan ini bikin gue kikuk banget, sumpah. Mending ganti obrolan ajalah.


"Ngomong-ngomong kok Ibu pulangnya malam ini jalan kaki? Motor Ibu kemana?" tanya gue. Tentu aja buat mengalihkan pembicaraan.


"Aduh, Gilang... Malam ini Ibu lagi dapat cobaan. Jadi waktu Ibu jalan pulang tadi tiba-tiba rantai motor bermasalah. Ibu bawa motornya ke bengkel rumahan dekat tempat kerja Ibu. Karena sudah malam jadi motor ditinggal di sana deh. Jadinya Ibu jalan kaki. Ahh... Pegal-pegal rasanya lutut Ibu," keluhnya.


"Sial banget ya Bu? Nanti begitu sampai di rumah Ibu Gilang pijat-pijat ya?" tawar gue.


"Iya, Gilang. Makasi ya, Nak... Emh, satu lagi... Ingat yang selalu Ibu ajarkan sejak kecil sama kamu? Ga ada yang namanya sial. Yang ada adalah kita sebagai hamba Allah sedang diuji. Tumben kamu bilang seperti tadi? Biasanya kamu paham."


"Oh iya iya, Bu. Maafkan Gilang. Mungkin karena saya belum makan jadi daya ingat melemah." Anjiiir... Ada aja alibi gue, hahaha...


What? Bokap Gilang masak? Jadi bokap Gilang suka ngurusin pekerjaan rumah tangga kaya masak gitu? Sungguh di luar nurul, eh di luar nalar.


"Oh iya, besok pagi Ibu minta tolong ambilkan motor Ibu di bengkel dekat tempat kerja Ibu ya? Nama orangnya Pak Narto. Kamu tanya orang-orang sana pasti ditunjukin kok dimana tempatnya."


Hah? Naruto? Naruto buka bengkel? Hahaha...


Eh, tunggu! Mampus! Gue mana bisa bawa motor! Aduh, pake acara disuruh ngambil motornya segala, lagi. Kan ga mungkin kalau gue tuntun motornya buat gue bawa balik!


"Gilang?"


"I-iya Bu. Hehe..." Gue pun garuk-garuk kepala. Besok subuh-subuh Gilang harus udah datangin gue! Gue ga mau tahu!


"Sudah lapar sekali nampaknya ya Nak? Sampai sering melamun begitu. Gue cuma bisa cengar-cengir. Gue kan masih syok nih, belum beradaptasi dengan perubahan membagongkan ini. Tapi sebenarnya iya juga sih, apa yang dibilang Ibu bahwa gue lapar itu memang bener.


Gue dan Ibu pun sampai di rumah.


"Ini dia yang dari tadi melipir. Bukannya bantu-bantu saya malah menghilang." Buset bapak-bapak satu ini. Gue baru dateng udah diomelin aja.


"Sudahlah Pak. Tadi Gilang bantu-bantu Ibu, bukan menghilang." Ibu pun mengedipkan sebelah matanya kepada gue. Aman gue kalau selalu ada backup-an kaya gini.


"Bapak, saya permisi mau mandi dulu ya?" kata gue.


"Eh. Sekalian bantu cuci peralatan masak dulu baru mandi," kata Bapak.


"Sudahlah Pak. Anakmu sudah bau keringat begitu. Biarkan saja dia mandi dulu."


"Ah, Ibu selalu memanjakannya seperti ini. Anak laki-laki itu harus cekatan, rajin, dan dikerasin," kata Bapak.


Gue melipir aja deh. Biarin aja dua orang tua itu berdebat. Lagipula males amat, masa gue disuruh nyuci kuali yang berminyak itu, panci, mangkuk-mangkuk. Astaga, ngelihatnya aja udah mabok duluan gue.


Biasanya kan yang ngurusin beginian di rumah gue adalah pembokat gue. Bukan berarti gue ga bisa bersih-bersih dapur, tapi maksud gue ga seabreg ginilah yang dibersihinnya!


Gue pun mau masuk ke kamar mandi. Eh, tapi gue ingat pesan Gilang kalau sebelum tidur itu mandinya pakai air hangat.


Gue pun melihat-lihat seisi kamar mandi. Ga ada tanda-tanda kehadiran water heater di sini. Jadi, gue harus masak air dulu.


Gue pun ke dapur. Gue ceritanya mau masak air buat mandi.


"Nah, gitu dong. Urusan mandi nanti belakangan. Bersihkan dulu dapur ini, oke?"


Anjir, darimana lah datangnya orang tua menyebalkan satu ini? Kok tiba-tiba nongol aja di sini?


Gue celingukan nyariin Ibu ternyata ga kelihatan. Apa beliau masuk kamar ya? Mampus gue, ga ada yang ngebelain gue sekarang.


"Hei! Kok bengong? Ayo cuci, tunggu apa lagi?"