
Gue jadi penasaran. Gue pun ngikutin Bapak dari belakang.
Seeeeet... Dibuka deh gordennya. Rupanya itu adalah...
"VINOOOO..." teriak gue.
JEGLEK JEGKEL KREEEEK
Gue pun langsung keluar, jalan memutar dan menggendong kucing kesayangan Lele itu.
"Nyaris lu kena bogem, Vino. Lu ngapain ke sini? Lu kangen sama gue?" Gue gendong dan cium-ciumin Vino.
Bapak dan Ibu melongo aja ngelihatin dari dalam. Gue pun megangin satu kaki depan Vino dan melambaikannya ke Bapak dan Ibu. "Halo Bapak, Ibu..." kata gue kospley suara Vino yang sok imut.
"Pak... Boleh masuk ya? Kasihan tuh kucing ini kedinginan. Mana mau hujan lagi," kata gue pasang muka melas.
Bapak pun membuang muka dan sedikit melirik Ibu. Ibu tersenyum sama gue. Ibu pun mengangguk. "Berarti boleh ya?" kata gue. Ibu melambaikan tangannya nyuruh masuk.
Gue pun masuk sambil membawa Vino.
"Bukannya kucingnya sudah dikasihkan ke kakek warung di perempatan jalan sana?" ucap Bapak.
"Iya, Pak. Lihatlah, mungkin dia mau tinggal di sini," kata gue.
"Tidak boleh! Menambah-nambah pekerjaan saja," ucap Bapak.
"Besok kamu kembalikan kucing ini ke kakek warung ya Gilang? Kita semua kan sama-sama sibuk. Tidak ada waktu untuk mengurus kucing ras seperti ini. Lain halnya kalau kucing kampung," kata Ibu.
"Jadi untuk malam ini dia bermalam di sini Bu? Ya Pak?" kata gue girang.
"Ah, uruslah! Jangan libatkan saya." Bapak pun pergi dari ruangan ini. Sepertinya bapak mau istirahat di kamarnya.
Gue pun ngambil HP gue dan menghubungi kakek.
"Halo... Kek, Vino ada di rumah saya. Dia tahu-tahu datang sendiri ke sini," kata gue.
"Oh, baiklah, baiklah. Kakek tadi ketiduran dan tidak tahu kalau kucing itu ternyata pergi. Wah, kalau begitu saya harus memeriksa ulang pintu-pintu rumah. Saya kira sudah terkunci semua tadi," kata kakek.
"Baiklah kalau begitu Kek. Saya hanya mau mengabari itu saja. Takutnya Kakek nyari-nyari Vino. Untuk malam ini sepertinya Vino bermalam di sini dulu," balas gue.
"Iya iya Dik Putri. Silakan, silakan," kata Kakek. Kok tu orang manggil nama gue ya? Masih ingat aja, kirain karena udah tua jadi pelupa. Suara gue? "Ehem... ehem..." Ah, biasa aja, suara Gilang normal kok.
"Kalau begitu selamat istirahat Kek. Selamat malam," kata gue.
"Selamat malam Dik Putri."
Obrolan melalui telepon pun berakhir.
"Apa PR sekolahmu sudah selesai?" tanya ibu.
"Belum sih Bu," jawabku.
"Kalau begitu selesaikanlah. Sini biar ibu yang mengurusnya dulu," ucap ibu.
"Ah, Ibu baik sekali. Ini. Terimakasih Bu," balasku sambil memberikan Vino ke ibu. Ibu menggendongnya dan mengelusnya.
"Namanya Vino," ucapku.
"Hai Vino. Apa kamu lapar? Masih ada sisa sup tadi. Bagaimana kalau kamu makan?" ibu pun membawa Vino ke belakang.
Gue excited banget Vino datang. Gue dengan semangat pengen cepat-cepat menyelesaikan PR-PR gue.
Setelah urusan di ruang tengah beres, gue pun ke ruang belakang. Gue mendapati ibu lagi ngaja ngomong Vino. Vino anteng banget. Di sudut ruangan ada kardus isinya sobekan-sobekan koran. Wah, ibu sudah menyiapkan tempat Vino buang air. Gue lega.
"Dia makan lahap sekali. Hihi..." kata ibu kepadaku.
"Lihatlah Vino, betapa sayang keluarga ini sama lu. Sampai makanan mewah kami pun dikasih ke elu," kata gue.
"Sudahlah. Sesekali saja dia kita beri daging tidak apa-apa. Soalnya kita tidak ada stok makanan kucing di rumah," balas ibu.
"Iya Bu."
Ibu pun menyerahkan Vino ke gue dan pamit buat istirahat. Ibu pun meminggalkan gue berdua sama Vino.
"Hei, bocah... Kenapa lu datang? Lu kangen sama gue? Atau lu bosen tinggal sama kakek? Atau lu di-KDRT?" tanya gue.
"Ya suka-suka guelah."
Hah? Gue langsung melepaskan Vino dan berjalan mundur karena terkejut. Gue menepuk-nepuk pipi gue. Apa gue lagi ngelindur ya?
"Ya elah, biasa aja kali! Lebay!"
Hah? Sekali lagi gue denger suara yang ga gue kenal. Masa kucing ngomong? Gue curiga nih ada yang nge-prank gue.
Gue pun berkeliling. Gue cari-cari sumber suara, kali aja ada bapak atau ibu sembunyi di balik...
seeeet... gue buka balik pintu, gue nengok di balik kulkas, di kolong meja, di balik tembok. Ga ada siapa-siapa kok. Gue sampe garuk-garuk kepala karena bingung.
"Lu ngapain, anak seeetan?"
"Eh, lu ngatain gue?" balas gue ke Vino.
Ni kucing mungkin kucing jadi-jadian kali ya? Gue perhatiin mulutnya pas ngomong, sesuai. Lipsinc yang pas gitu. Ekspresi matanya juga sesuai.
"Gue ga ngatain. Dari awal lu memang anak seetan. Lu inget-inget deh, dulu kan lu sering ngelempar gue ke lantai. Memang anak seetan. Ga mikirin kesehatan mental gue kan lu? Lu ga tahu gue jadi trauma setiap digendong sama lu?"
Astogeee... Ni kucing ampun gue, bisa-bisanya.
"Eh, lu tahu ini gue?" gue semakin heran.
"Tahulah. Memangnya lu pikir gue bisa lu bego-begoin? Lu nyamar jadi cowok baik itu biar gue bisa luluh sama lu? Jangan harap!" balas Vino.
Stres kali gue ngomong sama kucing gini. Lagian mana mungkin dia tahu kalau ini gue, Papoy yang lagi kospley jadi Gilang.
Jangan-jangan gara-gara kesamber petir gue bisa ngomong sama binatang? Atau ini cuma kehaluan gue doang?
"Heh, babu. Bengong aja lu. Cepetan pindahin gue ke kasur! Gue mau istirahat. Enak aja lu ngasihin gue ke kakek tua itu. Mana kamarnya dingin, kasurnya keras, ga betah gue!"
Gue pun menggendong Vino ke kamar gue.
"Kalau mau pup jalan sendiri ke belakang ya? Ke tempat yang tadi. Kardus lu di sana! Jangan pup di kamar ini, bau!" kata gue.
"Gue ga bego kali. Punya babu nyebelin banget sih. Iya iya. Nanti kalau gue mules gue jalan sendiri ke belakang. Gue juga ga mau kali tidur di kamar yang bau. Secara kardus gue ga ada pasir anti odornya," jawab Vino.
"Anjir, gue dikatain jadi babunya. Ah, gue harus segera ngasih tahu Gilang sekarang juga soal ini." Gue pun ngambil HP gue.
"Ngadu lu sana sama cowok baik itu! Ngadu! Gue ga takut!" kata Vino.
"Diem napa lu, berisik amat," kata gue.
"Heh babu! Masa gue disuruh diem. Ya suka-suka guelah. Mulut ya mulut gue," kata Vino.