Miyawlova

Miyawlova
Rencana Melamar



"GILANG..."


Seseorang manggil nama gue. Gue pun menoleh disusul oleh Kak Jonathan juga.


Itu adalah Ibu. Ibu baru pulang kerja jam segini? Jangan bilang kalau motor ibu masuk bengkel lagi!


Gue dan Kak Jonathan menghentikan langkah kami, diam menunggu ibu yang berjalan mendekat. Wajahnya masih ceria, seperti ga lelah. Atau dia sengaja menutupi kelelahannya setelah seharian bekerja?


Gue mengambil tangan ibu lalu gue cium punggung tangannya. Eh ternyata hal itu pun dilakuin sama Kak Jonathan. Wah, ni cowok sopan banget. Jadi makin lemes lutut gue sama dia.


"Ini teman Gilang?" tanya Ibu.


"Kenalkan Tante, Saya Jonathan. Saya udah alumni, ya kakak kelas Gilang," ucap Kak Jonathan dengan wajah sebening kristal, senyum sehat ciptaden, dan mata sehat bercahaya. Lebay deh gue, hahaha...


"Oh begitu," ucap Ibu.


"Iya, Bu. Sengaja Gilang minta antarkan Gilang sampai ke sini. Ya Ibu tahu gimana Bapak lah," kata gue.


"Hem... Kebetulan Ibu pulang bawa beberapa porsi sekuteng. Kita santap bareng-bareng ya." Ibu mendorong punggung gue dan punggung Kak Jonathan berbalik dan melangkah menuju rumah.


"Yey... Asik!" Gue udah kaya anak kecil yang kegirangan karena dikasih jajanan. Ini yang gue suka dari Ibu sewaktu beliau baru pulang kerja.


Meskipun ga setiap saat tapi Ibu seenggaknya menyempatkan diri untuk bawa oleh-oleh buat pulang. Kebetulan malam ini Ibu beli skuteng ya. Hihi...


Ibu yang pintar mengatur, pasti ga akan kewalahan ketika ada tamu. Ga akan kewalahan mau disajikan apa.


Meskipun misalnya porsi kudapan cuma sedikit, pasti Ibu bisa ngebagi-bagiin buat tamu. Kaya sekarang. Pasti ibu beli sekutengnya cuma buat tiga orang. Nah buat jadi porsi empat orang itu hal yang sepele buat Ibu.


Setelah berjalan kaki bersama akhirnya sampai juga di rumah. Dengan senang hati Kak Jonathan mau diajak masuk. Rumah kami ala-ala Jepang gitu, padahal aslinya karena ga sekaya orang-orang.


Gue, Ibu, Bapak dan Kak Jonathan pun sama-sama menikmati sekuteng di depan TV sambil duduk bersila. Tuh kan benar, Ibu memang jago menyajikan kudapan. Jadi, wadah mangkuk yang dipakai berukuran lebih kecil jadi semua kebagian. Hihi...


"Nak Jo jangan sungkan main-main ke sini ya! Hahaha... Senang sekali ternyata Gilang punya teman baru lagi ya," ucap Bapak.


Untungnya Bapak ga aneh-aneh. Sehingga, keluarga ini terlihat ramah, utuh dan bahagia.


"Iya, Om. Terima kasih. Saya juga senang sekali punya teman baru seperti Gilang," sahut Kak Jonathan.


"Nak Jo katanya kakak kelas Gilang yang sudah alumni ya?" tanya Ibu.


"Iya, Tante. Saya dua tingkat di atas Gilang," jawab Kak Jonathan.


"Oh, begitu. Sekarang ngapain kegiatannya? Kerja? Atau kuliah?" tanya Bapak.


"Kuliah, Om," jawab Kak Jonathan.


Rasa manis dan hangat sekuteng yang gue seruput pelan-pelan semakin nikmat. Soalnya gue menikmatinya sambil nyimak percakapan Kak Jonathan dan bokap-nyokap.


Gue sampai membayangkan kalau sekarang posisinya Kak Jonathan lagi di rumah gue dan kedua orangtua ini adalah orangtua gue.


Seketika dinding berubah semua jadi meninggi, catnya yang kusam jadi cerah. Kondisinya yang kosong melompong jadi ada hiasannya, ada gambar perfigura. Terus, perabotan di dalam ruangan ini berubah jadi perabotan mahal.


Kondisi lesehan berubah menjadi duduk di antara meja makan besar berisi hidangan makan malam mewah. Ada daging sapi bakar di sana! Yummy!


"Jadi Nak Jo serius dengan anak saya Puput?" tanya Papa.


"Memangnya kamu sanggup membiayai Puput?" tanya Mama.


"Bukan apa-apa ya. Kami ini orang tuanya. Jadi wajar dong khawatir dengan urusan materi. Anak kami sudah kami besarkan dan didik dengan materi yang kami punya. Masa giliran berjodoh sama jodoh yang membawanya pada kesengsaraan? Miskin itu sengsara loh," lanjut Mama.


Bener juga apa kata Mama. Gue tahu banget kehidupan Gilang yang miskin, jadi gue bisa merasakannya. Gue yang biasanya punya fasilitas ini itu jadi tiba-tiba harus mandiri bersusah payah dalam hal apapun. Rasanya memang ga enak.


"Tenang saja, Tante. Saat ini saya memang masih kuliah, belum punya pekerjaan tetap. Tapi, Om, Tante, keluarga saya punya perusahaan yang diwariskan kepada saya. Maka itu saya mengambil jurusan Bisnis sekarang untuk meneruskan perusahaan itu," jawab Kak Jonathan.


"Perusahaan apa?" tanya Papa.


"Perusahaan Erlanda Grup, Om," jawab Kak Jonathan.


"Wah? Itu kan perusahaan multinasional besar!" Papa berdecak kagum.


"Kalau begitu urusan materi tidak perlu dikhawatirkan lagi ya. Hahaha..." ucap Mama.


"Jadi kapan kamu akan melamar anak saya?" tanya Papa.


"Secepatnya Om! Pasti. Setelah ini karena baru dapat restu Om dan Tante, Puput akan saya bawa ke rumah. Dia akan saya kenalkan ke keluarga saya. Kebetulan di rumah berkumpul keluarga besar. Di sana ada Eyang Kakung, Mama Papa, Om Tante dan anak-anaknya."


"Setelah itu kita upayakan akan ada pertemuan antara Om dan Tante dengan keluarga saya. Mungkin di sana adalah waktu yang tepat membicarakan hubungan saya dan Puput untuk ke jenjang berikutnya," lanjut Kak Jonathan.


"Pa... Apa tidak terlalu cepat? Puput saja belum lulus SMA. Papa tidak ingin anak kita kuliah dulu?" tanya Mama.


"Kalau Papa sih terserah putri kita saja, Ma. Coba tanyakan sama dia sendiri maunya bagaimana," ucap Papa.


"Bagaimana Sayang?" tanya Mama.


Papa, Mama dan Kak Jonathan pun sama-sama ngelihatin gue.


Seketika kondisi berubah. Dinding-dinding luntur warnanya jadi kusam. Dinding-dinding itu menyusut jadi ga terlalu tinggi lagi. Lampunya berubah jadi bohlam biasa. Pajangan-pajangan klasik estetik menghilang dan perabotan berubah jadi perabotan murahan.


Meja dan kursi makan yang mewah juga lenyap segenap makanannya. Orang-orang jadi duduk lesehan. Kudapan cuma ada sekuteng dengan mangkok kecil-kecil.


Orang-orangnya pun berubah. Ga ada Mama Papa, adanya Ibu Bapak. Ibu, Bapak, Kak Jonathan sama-sama lagi ngelihatin gue.


"Gilang? Lang? Kamu ngapain senyum-senyum sendiri?" tanya Bapak.


Eh, rupanya daritadi gue cuma menghayal ya?


"Um... sepertinya Gilang butuh istirahat, Om. Kalau begitu saya pamit dulu," ucap Kak Jonathan.


"Iya, terimakasih ya Nak Jo... sudah mengantar Gilang pulang," ucap Ibu.


"Yah, kok pulang?" ucap gue dalam keadaan bingung.


"Udah malam, Bro. Oh iya. Kita belum bertukar nomor WA," ucap Kak Jonathan sambil mengeluarkan HP-nya.


"Iya. Buat komunikasian ya. Nomor Gilang kosong delapan..." kaya gue.


Gue ga ngeluarin HP gue di depan Ibu Bapak karena HP gue HP mahal. Bahanya kalau ketahuan nanti gue bisa diintrogasi. Padahal ini kan HP gue beneran, HP Papoy!