
Anjir malu banget gue ketika gue ngomong ngelantur. Otak gue ga sinkron. Apa gara-gara nyawa otak gue lagi pindah ke kepala Gilang makanya ga nyambung ya?
Gue kenapa sih akhir-akhir ini kaya obsesi banget sama Gilang? Padahal udah jelas-jelas status gue dan Gilang itu sahabat. Inget, Poy, ada hati lain yang harus dijaga.
"Gay, lu udah dapat kabar Lele belum? Gue kangen nih sama dia," kata gue.
"Sama, Poy, gue juga. Sayangnya chat gue belum direspons. Lu ada info dari nyokapnya?" tanya Gilang balik.
"Belum juga sih. Gue selama ini pasif doang. Ga ada inisiatif nanya. Apa gue tanya aja kali ya? Siapa tahu ada perkembangan," kata gue.
"Iya, tanyain gih."
"Tapi tahu ga sih sejak kemaren gue belum berani nelepon atau nerima telepon dari siapa-siapa. Paling gue balas via chat doang. Ntar takut pada bingung pas tahu suara gue berubah jadi cowok," jelas gue.
"Gue gitu juga tapi karena memang HP gue sepi ga ada yang nelepon dan darurat-daruratnya cuma sama elu," balas Gilang.
"Emh, lu aman terkendali kalau gitu. Nanti pas jam istirahat kita telepon nyokap Lele ya? Ini udah mau masuk," kata gue.
"Iya, yuk kita ke kelas."
"Yok."
Gue dan Gilang pun sampai di kelas.
Ga lama kemudian anak-anak OSIS datang dan menghampiri Papoy KW, alias Gilang. Gue pingin nguping tapi kejauhan. Mereka kaya ngobrol serius tapi suaranya pelan banget. Kalau gue ikut gabung kan malu, Gilang KW ga ada urusan sama pengurus OSIS.
Gue lihat Gilang ngangguk-ngangguk. Gue nahan ngakak. Apa bener dia ngerti apa yang mesti dilakuin? Eh, sebentar... Lancar banget Gilang ngomong sama mereka. Hebat! Udah bisa adaptasi sama urusan OSIS ya?
Setelah para pengurus OSIS itu pergi gue pun datang ke meja Gilang, bekas meja gue, singgasana kekuasaan gue.
"Tadi mereka ke sini ada apaan?" tanya gue.
"Nah, baru aja gue mau nanya sama elu. Soal rencana tahunan program seksi olahraga. Jadi mereka tadi nginfoin bahwa akan ada rapat nanti pas jam istirahat. Gue disuruh nyiapin konsep kegiatan yang pernah dibahas. Gue selain nanya sama mereka, gue juga pengen tahu dari lu langsung. Bisa dong ya kita sertijab alias serah terima jabatan dulu sebentar?" kata Gilang.
"Hahaha... lu ngerti istilah sertijab darimana? Kan lu ga ikutan organisasi?" kata gue.
"Gue sotoy aja. Hahaha..."
"Hahaha... Dasar lu. Bentar, lu coba ambil buku agenda gue. Kalau di rumah buku itu ga pernah gue keluarin dari tas gue. Kita briefing di sini. Lu ngerti istilah briefing ga?" kata gue.
"Ngasih tahu sebelum operasi dimulai," jawab Gilang.
"Teeeet... Anda benar. Selamat, Anda mendapatkan satu juta rupiah, dipotong pajak!" kata gue. Gilang pun merogoh sakunya dan mengeluarkan kepalan tangannya lalu dibuka.
"Kosong! Hahaha..."
"Kok lu yang ngeluarin sih? Lu yang dapet, Pe'Ak!" protes gue.
"Lu kismin, udah tahu gue. Jadi gue aja yang ngeluarin. Tapi boong. Heeee..."
TUUUK...
Gue nyentil jidat Gilang. "Duuh..." Gilang mengusap jidatnya.
"Buru, mana buku agenda gue?"
Gilang pun mengeluarkan dua buku. Buku agenda gue dan buku kucing yang dipinjam dari perpustakaan.
Gue pun membuka buku agenda gue. Gue duduk dengan nyaman di bangku Lele.
"Jadi gini..." Gue pun mulai menjelaskan tentang program OSIS sekalian nunjukin catatan gue yang ada di buku.
Rian dan beberapa murid di sekitar kami melongo ngelihatin gue dan Gilang ngobrol.
"Lu pada ngomongin apa sih? Kenapa jadi Gilang yang ngomongin urusan OSIS?" tanya Dwi.
"Ah, berisik lu. Lagi serius nih. Diem dulu coba." Papoy KW alias Gilang ketus amat ngomongnya. Gue jadi bercermin ke diri sendiri, apa dulu gue kaya gitu ya? Hahaha...
"Bukan apa-apa kok, Wik. Gue itu cuma lagi sotoy-sotoynya aja. Kami berdua lagi gabut. Hehe... Rencananya gue pingin bantuin Papoy sewaktu-waktu. Soalnya kasihan kan ga ada yang bantuin, doi kaya sibuk banget gitu," kata gue dengan nada bicara yang sok bijaksana.
"Oh gitu." Teman-teman pun mengangguk-angguk.
"Alah, ga usah dihiraukan, Gay! Lanjut bahasnya tadi sampai di mana? Ah kan gur jadi lupa," protes Gilang.
"Ih, sabarlah," kata gue.
(blablabla)
"Jadi gitu... Tapi ada satu lagi..." Pas gue lagi ngejelasin ke Gilang, bel masuk pun berbunyi. Gue jadi ngomongnya ngebut.
"Bagian itu gue ga paham. Cepet bener ngomongnya," kata Gilang.
"Ya gimana. Mumpung guru belum masuk," kata gue.
"Nah kan, masuk kan gurunya! Haisss..." keluh gue.
"Nanti sebelum lu pergi ke ruang OSIS, kita lanjut dulu sebentar, oke?"
"Oke."
Gue pun pindah balik ke meja Gilang. Pas gue pindah Rian senyum-senyum nakal gitu sama gue. Alisnya dimain-mainin.
"Makin lengket aja lu sama senseilu Lang? Bentar lagi jadian katanya. Atau jangan-jangan diem-diem kalian udah jadian? Haha... Hayoloh ngaku!" kata Rian.
"Bacot! Siapa juga yang naksir sama tu anak? Apalagi jadian," protes gue.
"Secepat itu lu berpindah hati Lang? Lu lupa sama yang pernah lu ceritain?"
Nah! Gue jadj penasaran. Memangnya Gilang cerita apaan sama ni anak ya?
"Ehm... Baiklah anak-anak...". Aduh, guru udah mau mulai nih. Ah, ga jadi deh gue nanya ke Rian! Padahal gue penasaran banget.
Kira-kira Gilang cerita apa sih sama ni anak?
Gue pun memandang Gilang alias Papoy KW dari kejauhan. Dari sini Gilang bisa mandangin gue dengan angle yang tepat. Pencahayaan yang cukup dari jendela, sudut yang bagus, arah badan gue yang pas jadi gue kelihatan cantik banget.
Ah, sempurna banget lu Poy...
Rian pun melambai-lambaikan telapak tangannya.
"Hemmm... Halu lagi lu Lang? Udahan dulu halunya. Itu guru mulai pelajaran," tegur Rian.
"Eh? Oh, iya iya. Hehe..."