Miyawlova

Miyawlova
Cerita di Atas Motor



Kak Jonathan udah pulang dari tadi. Gue juga udah bersih-bersih dan baru kelar ngerjain PR. Gue beranjak ke tempat tidur, mau istirahat.


Oh iya. Tadi Ibu berpesan kalau besok gue harus ngejemput motor Ibu lagi di bengkel itu lagi. Ya ampun, mau berapa kali sih motor itu rusak?


Gue telepon Gilang ah...


"Halo..."


"Gay! Gue butuh bantuan lu besok pagi," kata gue.


"Ya ampun, Poy. Basa basi sedikit kek, langung mintol-mintol aja," protes Gilang.


"Gue udah ngantuk. Mau buru-buru tidur," kata gue. Sebenernya sih gue memang pingin cepet aja. Gue masih dendam sama Gilang, masih sebel soal dia naksir Mentari itu. Jadi gue males basa-basi.


"Sama. Gue juga," ucap Gilang.


"Ya udah. Ga usah sleepcall-an! Habis ini langsung tidur," protes gue.


"Yah? Mau sleepcall-an sama siapa? Elu?" tanya Gilang.


"Heleh, ga ngaku. Lu mau sleepcall-an sama Mentari kan? Bukannya itu cinta masa kecil elu?" kata gue.


"Oh, Ratna. Hahaha... Ngapain gue sleepcall-an sama dia? Sekarang kan gue cewek? Yang ada nanti Ratna ngira gue lezbong!" kata Gilang.


"Iya juga sih," gumam gue.


"Ya udah. Lu mau minta tolong apa besok pagi?" tanya Gilang.


"Motor Ibu masuk bengkel lagi," kata gue.


"Ya Tuhan... Pulang jalan kaki lagi? Jam berapa beliau pulang?" tanya Gilang.


"Hampir jam sebelas," jawab gue.


"Yah... Malem banget... Sumpah ya, gue kangen banget sama Ibu. Besok gue mau nemuin Ibu sekalian," kata Gilang.


"Iya. Tapi jangan ke rumah ya. Kan lu udah di-blacklist sama Bapak," kata gue.


"Iya, iya," kata Gilang. "Ya udah, besok ya jam berapa? Jadwal latihan karate juga kan..." lanjutnya.


"Jam setengah enam lu udah ngejemput gue di perempatan mini market sini," kata gue.


"Oke. Ya udah kita istirahat lah," kata Gilang.


"Yap. Thanks ya Gay," kata gue.


"Sama-sama," balas Gilang.


Panggilan melalui telepon pun berakhir.


*


Keesokan harinya...


Gue bersiap berangkat. Gue udah ready dengan tas sekolah dan sepatu. Sementara pakaian seragam gue ada di dalam tas. Nanti di sekolah sebelum jam pelajaran gue mau latihan karate dulu. Jadi, sekarang gue pakai pakaian bebas.


"Di bengkel yang biasa ya," kata Ibu.


"Iya, Bu. Gilang pamit," kata gue dengan cium tangan Ibu. Sementara Bapak lagi mandi, jadi gue ga pamitan.


Oke, gue pun jalan kaki menuju mini market tempat gue janjian ketemuan sama Gilang.


"Selamat pagi, Bu," gue menyapa ibu-ibu yang lagi nyapu halaman.


"Iya Nak Gilang, selamat pagi. Mau kemana?" sahutnya.


"Berangkat ke sekolah, Bu. Tapi mau ambil motor ibu saya di bengkel dulu," kata gue.


"Oh, motornya masuk bengkel lagi?"


"Iya Bu," jawab gue.


"Sabar-sabar ya kalian. Semoga Nak Gilang nanti setelah lulus sekolah bisa bantu-bantu ibunya. Semoga ada rejekinya buat beli motor baru," ucapnya.


"Aamiin. Terimakasih doanya, Bu. Saya berangkat dulu, Bu. Mari," kata gue.


"Mari Nak Gilang. Hati-hati di jalan," balasnya.


"Iya Bu," jawab gue.


Setelah beberapa jauh, gue pun bertemu dengan si Kakek penyuka kucing. Dia lagi bukain warungnya. Gue pun bantuin dia sebentar, kayanya lagi kesulitan buka kayu palang warungnya.


"Terimakasih. Ini Nak Puput atau Nak Gilang?" kata si Kakek.


"Saya masih Puput, Kek. Kutukan ini belum berakhir," kata gue.


"Yang sabar ya. Mungkin ini bukan kutukan. Mungkin Tuhan lagi sayang sama Nak Puput, jadi Nak Puput bisa belajar arti kehidupan dengan cara yang berbeda," ucap si Kakek.


"Iya juga ya Kek. Terimakasih sudah mengingatkan. Kalau begitu saya berangkat dulu Kek," ucap gue berpamitan.


"Sudah, terima saja. Ini gratis dari saya," lanjutnya.


"Terimakasih, Kek. Kebetulan pagi ini saya ada jadwal olahraga dulu sebelum mulai pelajaran. Pasti lapar setelah olahraga," kata gue yang menerima roti itu lalu memasukkannya ke dalam tas.


"Syukurlah kalau bermanfaat," ucap Kakek.


"Saya pamit dulu Kek. Mari," kata gue.


"Iya. Hati-hati di jalan," kata si Kakek.


Gue pun melanjutkan langkah kaki gue menuju mini market.


Setelah sampai di mini market, gue pun berdiri di halamannya. Mini market itu masih tutup.


Ga menunggu lama, cuma sekitar lima menit Gilang pun datang dengan menggunakan motor gue. Gue pun naik di belakang setelah memakai helm.


"Eh, kan udah belajar naik motor!" protes Gilang alias Papoy KW.


"Hah? Maksud lu?" tanya gue.


"Elu lah yang bawa motor! Lu cowok masa dibonceng sama cewek? Kecuali yang bonceng lu Ibu, ga apa-apa. Malu kalau gue yang bonceng," kata Gilang.


"Oh, iya. Hehe... Tapi jadi pelan dong jadinya?" kata gue.


Gilang pun melihat jam di tangannya. Itu jam tangan yang dikasih Lele buat gue.


"Masih ada waktu. Bisalah," kata Gilang setelah melihat jam itu.


"Oke," kata gue.


Gue pun membawa Gilang dengan motor milik gue ini.


"Gay, lu suka sama Tari kan?" kata gue sambil berkendara.


"Ratna?" kata Gilang.


"Terserah, mau Tari atau Ratna. Orangnya sama," kata gue.


"Iya iya. Memangnya kenapa?" kata Gilang.


"Mentari kayanya suka juga sama elu. Dia ngedeketin gue terus," kata gue.


"Hahaha..." Gilang cuma ketawa.


"Kak Jonathan ngedeketin lu kan? NGEDEKETIN PAPOY!" kata gue.


"Ih, masa? Gue rasa kaya biasa aja," kata Gilang.


"Elu yang biasa aja, tapi aslinya Kak Jonathan memang ngedeketin elu," kata gue.


"Lu tahu banget kayanya," kata Gilang.


"Iya, dia curhat sama gue," kata gue.


"Waduh. Repot begini ya urusannya," keluh Gilang.


"Dan Lele pengen kita jadian," kata gue.


"WHAT?" Gilang terkejut.


"Serius? Gue kira cuma candaan doang tahu ga!" kata Gilang.


"Serius. Makanya semalam gue ngasih tanda elu biar jangan sampai dia tahu soal Mentari," kata gue.


"Aduh, gue jadi ga enak sama Lele," kata Gilang.


"Sama, gue juga," kata gue.


Gue ga cerita sama Gilang kalau Kak Jonathan adalah cowok yang pernah Lele taksir bahkan sampai sekarang Lele masih naksir. Gue ga mau dibilang sebagai perebut Kak Jonathan.


"Kita jadinya gimana? Demi Lele..." kata gue.


"Gue sih terserah lu aja," kata Gilang.


"Terserah gue? Memangnya lu ga khawatir sama Mentari? Kalau dia tahu kita jadian gimana?" kata gue.


"Mau gimana lagi? Status dia dan gue sekarang pun bukan sebagai apa-apa. Kami ga pacaran," kata Gilang.


"Lu ga mau pacaran sama dia?" tanya gue.


"Ga usah deh. Nanti-nanti aja," kata Gilang.


"Lah? Gimana sih lu? Katanya lu naksir sama Mentari!" gue geram.


"Naksir cuma naksir, enggak jadian," kata Gilang.