
Malam ini mengcape beut. Gue jalan sama Gilang keluar dari tempat membagongkan itu. Gue jalannya udah kaya orang-orangan sawah, badan sebatas bahu doang yang tegak. Leher melehoy, lengan melebar biar aerasi ketiak lancar tertiup angin.
"Poy, ga usah malu-maluin gue lu jalannya kaya gantungan kunci tengkorak-tengkorakan tahu ga?" kata Gilang.
"Oh yang kalau talinya ditarik terus pas dilepas mulutnya beradu takatakatak kataktak itu ya?" sambung gue.
"Nah, itu tahu lu. Jangan buat badan gue sejelek itu napa Poy?" protes Gilang.
"Yee... nyalahin gue. Elu nih yang salah! Lu ga pernah olahraga makanya badanlu cepet lemes kaya gini. Bukan gue yang lemes, badanlu yang gue pake ini yang letoy!" balas gue.
"Elu enak pake badan gue, masih seger. Itu karena gue suka olahraga, gaya hidup sehat, stamina stabil. Meskipun gue cewek gue ga malu-maluin kaya lu cepet letoy," lanjut gue.
Langkah kami terhenti di bawah pohon. Gilang mendekat. Gue berjalan mundur. Tangannya pun menumpu sebelah di batang pohon, tu tangan malangin gue kaya portal.
"Gue mau bicara serius sama lu," kata Gilang.
"Apaan sih?" gue gugup. Mentang-mentang Gilang lagi pake badan gue sekarang doi yang sok-sok'an jadi bos? Jiji banget deh deket-deket gini. Masalahnya yang gue kihat adalah diri sendiri. Serasa gue mau dimesumin sama cewek, anjir. Gue kan bukan lesbong, jelas jiji.
"Ga usah keGeEran lu! Gue ga bakal ngapa-ngapainlu," ucap Gilang dengan muka sengak.
"Lah ini lu ngapain? Kita kaya adegan di cover-cover novel pluus-pluus, anjir," protes gue.
"Ga peduli gue! Dengerin... Ini gue serius..." Mampus, sejak kapan Gilang ber-damage kaya gini?
"Kita kan sama-sama terjebak di badan yang bukan punya kita dan kita ga tahu kaya gininya mau sampai kapan, ya kan?"
"Iya, Gay."
"Nah, selama lu nempatin badan gue, gue mohon banget jaga badan gue baik-baik. Hal itu juga yang bakal gue lakuin ke badan lu ini."
"Iyaaa, okeee..."
"Bukan cuma soal jaga fisik, tapi juga jaga sikap! Bersikaplah sebagai seorang cowok sebagaimana orang-orang tahu badan itu sebagai gue, seorang Gilang Pratama. Nah, begitu juga gue. Gue bakal menekuni peran gue sebagai seorang Puput, Inayah Putri. Kalau lu sebel sama gue boleh, tapi jangan mempermalukan badan gue di depan orang-orang. Sebagaimana badanlu ini bakal gue jaga karena ada nama baik keluargalu di badan ini."
Gue mengangguk-angguk.
"Lu ngangguk-ngangguk, paham ga? Atau asal ngangguk?" tanya Gilang.
"Gue paham. Gue janji akan berusaha sebisa gue menjadi seorang Gilang," jawab gue. Gue menghela napas buat mengikhlaskan hati gue. "Mungkin ini udah saatnya gue berubah. Mengurangi egoisme gue dan berbuat baik," lanjut gue.
"Gue percaya sama lu. Elu sebenarnya orang yang baik Poy. Banyak hal baik yang udah lu lakuin untuk orang lain," ucap Gilang sambil meletakkan telapak tangannya di dada gue.
"Kehidupan gue berubah sejak ada elu. Gue ga bisa mengabaikan itu. Elu dengan caralu yang bar-bar membuat gue jadi punya mental yang selalu ditempa. Gue berutang budi sama lu," jelas Gilang.
Mendengar Gilang bilang kaya gitu, mendadak suasana jadi masuk ke Film Chun Hyang. Pohon tempat kami berteduh tertiup angin lalu daun-daunnya berguguran. Celah-celahnya membuat sorot lampu jalan yang menembusnya membentuk bayang-bayang bergerak di paving blok di bawahnya. Mereka menari-nari lembut diiringi musik klasik berinstrumen piano dan biola.
Di kepala gue langsung playing lagu ost-nya film itu. Judulnya "I Hope You're Happy" dari Lim Hyung Joo.
Geuriwo nan niga neomu... jjitgidorok na aphado... Na jugeoseodo nae sarangeuro... Neo haengbokhagil barae
Aku sangat merindukanmu, saya sakit sampai akan robek... Bahkan jikalau saya mati dengan cintaku... Aku berharap kamu bahagia
Gue gugup, baru sadar bahwa adegan ini ga patut dilanjutkan. Gilang dan gue adalah sahabat bukan sepasang kekasih. Apalagi kekasih yang akan berpisah. Gilang yang sekarang kosplay cewek bukan Chun Hyang, dan gue hang sekarang kosplay cowok bukan Mong Ryong.
Gue berkedip cepat. Gilang menangkap kedipan cepat di mata gue itu. Dia juga jadi tersadar dan bergeser agak menjauh. Tangannya yang malangin ke batang pohon tadi pun diturunkannya. Kami berdua kayanya dalam keadaan sama-sama kikuk.
"Udah malam. Kita pulang aja," kata Gilang.
"Iya, pulang aja," jawab gue.
Kami pun berpisah tanpa kata-kata berpamitan atau basa-basi apapun. Gue menuju rumah gue dan Gilang juga.
Baru beberapa langkah kami berdua sama-sama berbalik arah dan bertukar tujuan. Ya, gue ga mungkin pulang ke rumah gue dengan membawa tubuh Gilang dan Gilang ga mungkin datang ke keluarganya dalam bentuk cewek kaya gitu.
Setelah kira-kira berjarak sepuluh meter dari titik awal tadi, Gilang memanggil gue.
"POY..."
Gue menghentikan langkah kaki gue. Sejak sebelum berbalik gue udah keGeEran. Apa Gilang akan mengucapkan kata-kata manis?
Gue pun menoleh. "Ya?"
Gilang mendekat. Setelah kami berhadapan, Gilang pun memegang tangan gue dan mengangkatnya. Apa Gilang mau nyium tangan gue?
Tangan gue dibukanya dan dia pun menaruh tas HP gue dan kunci rumah Gilang.
NGEEEK...
Alunan musik yang sentimentil tadi langsung berubah jadi seperti kaset kusut.
Rupanya cuma mau ngasihin ini doang. Realita ga sesuai ekspektasi.
Gilang pun membuka tangannya. Dia meminta dompetnya gue kasih. Oh iya, di kantong celana bagian belakang ada dompet Gilang. Gue pun menaruhnya di tangannya yang terbuka itu.
"Sampai jumpa besok. Jangan lupa mandi air hangat. Badan gue selalu melakukannya sebelum tidur," kata Gilang.
"Iya. Jaga diri lu baik-baik, Inayah Putri," kata gue. Agak aneh gue memanggil orang dengan nama gue sendiri dan yang gue panggil adalah badan gue sendiri. Tapi mulai sekarang gue harus terus berlatih nerima peran ini.
Gilang merapatkan bibirnya dengan lurus, membuat lesum pipinya keluar. Kemudian dia pun berbalik dan pergi. Gue pun berbalik juga. Langkah kaki gue menuju rumah keluarga Gilang.
Setelah jauh kami berpisah dan satu sama lain ga kelihatan lagi tiba-tiba ada yang memanggil. Gue nyaris lupa kalau yang dipanggil itu gue.
"Gilaaang..." suara seorang perempuan.
Gue pun menghentikan langkah kaki gue. Gue menoleh. Apa yang gue lihat membuat gue membulatkan mata.