Miyawlova

Miyawlova
Kesambar Petir



Ceritanya gue sama Gilang lagi asik meneguk teh manis buatan Gilang bersama-sama. Kami lagi duduk di teras dengan menikmati angin sore yang sepoi-sepoi.


"Pohon belimbing lu ga berbuah lagi Gay?" tanya gue.


"Ga tahu tuh. Belimbing kan berbuah ga kenal musim ya, tapi akhir-akhir ini udah ga kelihatan berbuah lagi," jawab Gilang.


"Mungkin dia lelah," kata gue.


"Lelah lelah... Pohon mana ngerasain lelah. Ada-ada aja," protes Gilang.


"Lelah berbuah, Gay. Kalau pohon udah ga dapat nutrisi yang cukup dari tanah ya dia ga bakal berbuah. Nutrisinya udah jor-joran sebelumnya dipakai untuk berbuah terus," jelas gue.


"Bisa jadi," jawab Gilang.


"Eh, pohon belimbing ga mengenal istilah pohon jomblo kan?" tanya gue.


Langit lagi cerah, ga ada tanda-tanda kaya mendung ataupun gelap.


"Enggak kayanya," jawab Gilang.


Tiba-tiba aja...


DUAAAAAAR...


Gue auto kaget. Duduk gue pun berpindah jadi nempel-nempelin Gilang. Baru ini gue lihat petir di depan mata gue, deket banget. Petirnya nyambar pohon yang lagi kami gibaahin.


"Kok cerah-cerah gini ada petir sih Gay?" protes gue. Gue ngomong tapi mata masih tertuju ke pohon.


"Ga tahu gue juga." Gilang juga ngomong sambil melototin tu pohon.


DUAAAAAAR...


Gue kaget banget sampe gue peluk Gilang. Gilang juga kaget ternyata, sampe doi juga meluk gue. Bisa-bisanya petirnya belok menyambar kami.


"Homena... homena... homena..." kata gue. Sementara Gilang nyebut nama Tuhan. Eh tunggu sebentar, kok suara gue berubah?


"Nyebut Poy, nyebut! Bukan homena-homena!" protes Gilang.


Kami berdua pun melepaskan pelukan kami berdua dengan tatapan yang terpaku. Kami saling tatap.


"Kok suara gue?"


"Suara lu?"


"ASTAGAAAAA..." Kami teriak bersama-sama.


Gue langsung menyilangkan kedua tangan gue ke badan sementara Gilang menutup seelangkaangan dengan tangannya.


"Kok gue jadi elu?"


"Kok elu jadi gue?"


"Heh! Jangan pegang-pegang gue!" protes gue ketika Gilang nutupin badannya dengan tangan. Bukan badannya, itu badan gue.


"Kok gue punya ginian?" tanya Gilang dengan dadanya sendiri.


"Anj~! Jangan mesum lu ya!" protes gue.


Gue dan Gilang baru aja bertukar badan. Gue sekarang hinggap di badan Gilang, sementara Gilang sekarang ada di badan gue.


"Astaga... Jaga pandangan, jaga pandangan," kata Gilang sambil mengelus dada.


"HEEH GAY! JANGAN PEGANG-PEGANG!" Itu dada gue, ya ampun.


"Eh, iya. Maaf, maaf."


"Jadi sekarang kita gimana, Gay?" tanya gue.


"Gue juga ga tahu, Poy. Mau ga mau untuk sementara kita harus melalui kehidupan secara normal, soalnya mana ada orang yang percaya kalau lu adalah gue dan gue adalah lu," jelas Gilang.


"Kehidupan normal? Ini aja udah ga normal. Gue pengen nangis Gay..." rengek gue.


" Jangan nangis, Poy. Lu lagi pake badan gue. Malu banget masa gue nangis di depan orang-orang? Jangan Poy, please Poy," bujuk Gilang.


"Jadi gue harus jadi lu dan lu harus jadi gue ya? Gimana caranya Gay?" tanya gue.


"Poy, bisa ga lu jangan nanya mulu? Masalahnya apa yang lu bingungin itu sama dengan gue. Gue juga bingung," kata Gilang.


"Iya juga Gay," kata gue.


"Bekas mulut gue yang lu pake. Ga apa-apa," jawab Gilang.


"Poy, kenapa lu malah nanyain hal-hal sepele? Kenapa lu ga nanyain gimana caranya biar kita balik ke badan masing-masing?" Gilang mulai emosi.


"Kan elu yang tadi langsung terima-terima aja. Katanya kita harus ngejalanin kehidupan normal masing-masing. Kan lu yang bilang gue jangan nanya-nanya terus... Kan..." Eh, kok cerewet amat gue ya?


"Bodo amat, omonganlu gaje! Kesel gue!" kata Gilang.


Kenapa Gilang jadi emosian? Bukannya kebalik?


"Sabar Gay, sabar. Lu harus anggun Gay. Inget, lu sekarang jadi cewek. Jangan marah-marah," kata gue.


Kami pun memperbincangkan hal-hal yang ga penting. Gue dan Gilang masih sama-sama kaget dengan perubahan tiba-tiba yang ada di diri masing-masing kami.


Kami pun baring-baring di teras dengan perasaan putus asa.


Gue pun menegakkan diri, gue duduk.


"Gimana kalau kita temui kakek duukun itu?" kata gue.


"Kakek dukun?"


"Iya, kakek yang lu titipin Vino. Maksud gue, gue titipin Vino. Tetangga yang tadi kita kunjungi," kata gue.


"Dia kan bukan duukun, Poy," kata Gilang. Gilang ikut menegakkan badan, dari baring jadi duduk.


"Firasat gue tu orang aneh, tahu Gay! Ga ada salahnya kita ke sana lagi," ucap gue.


"Oke. Sekarang aja yok," ajak Gilang.


Gue dan Gilang pun pergi. Ga lupa Gilang bawa kunci rumah dan pintu pun dikunci.


"Gimana kalau bokaplu jadi heran kunci bisa di elu yang penampilannya sebagai gue?" tanya gue.


"Nanti kita briefing dulu sebelum ketemu bokap gue," kata Gilang.


Gue dan Gilang pun jalan menuju rumah kakek itu.


"Sore Pak..." Gilang menyapa tetangganya di jalan. Tetangganya itupun heran, dia senyum dan nyapa gue.


"Iya sore. Eh, Nak Gilang, ini temannya ya?" kata tetangga Gilang itu.


"Hihi iya, Pak," kata gue ngejawab sapaan tetangga Gilang itu.


"Psssst... Lu lupa kalau lu itu Papoy? Lu bukan Gilang!" bisik gue.


"Oh, iya, gue lupa," jawab Gilang.


Kami pun sampai di rumah kakek tadi.


"Eh, Nak Gilang, Nak Putri. Mau berpamitan sama Vino ya? Nak Putri sudah mau pulang?" sapa kakek tua itu.


"Psssst... Gay, kok doi ga tahu kalau kita turkeran? Harusnya duukun itu tahu," bisik gue.


"Kan elu yang ngotot kalau beliau dukun, kenapa malah tanya sama gue?" protes Gilang.


"Kok malah bisik-bisik sih?" kata kakek itu.


"Hihi... Begini, Kek. Sebenarnya..." gue pun menceritakan apa yang terjadi dengan kami berdua setelah sambaran petir itu.


"Ada yang perlu kalian perbaiki. Mungkin sebelumnya kalian telah melakukan kesalahan," jelas kakek tersebut.


"Kesalahan apa ya? Kayanya kami berdua ga melakukan hal yang macam-macam," kata Gilang yang lagi pakai badan gue.


"Ga ada yang tahu maksud dari kejadian ini. Saran saya sih sebaiknya mulai sekarang kalian jalani peran orang yang badannya kalian pakai, berbuat baiklah. Semoga nanti kalian kembali ke badan kalian masing-masing."


Jawaban yang ga memuaskan.


"Kek. Saya yakin Kakek punya kekuatan istimewa kan? Kakek pasti bisa mengembalikan kondisi kami," kata gue.


"Sssst... Poy jaga sikap lu Poy!" tegur Gilang.


"Hahaha... Apa yang kamu bicarakan? Kenapa saya jadi bisa punya kekuatan istimewa? Hahaha..." jawab kakek tua itu.


"Saya punya firasat begitu karena Kakek bisa menjinakkan kucing se-barbar Vino," jawab gue.