
Gue bingung nih gimana caranya mau mandi tapi takut buka baju. Gimana kalau monster di bawah itu bermutasi jadi naga? Mending kalau naga susu Bear br@nd, lah kalau naga Indos!ar? Bisa berabe. Woilaaaah... gimana ini?
Gue ngaca, yang gue lihat sekarang adalah tubuhnya Gilang. Tiba-tiba gue dapat bisikan-bisikan goib yang datangnya dari otak gue sendiri.
"Lihatlah seorang bayi sedang kau pandangi. Seorang bayi yang bersih dari segala dosa," gitu katanya.
Gue pun membayangkan Gilang menjadi sesosok bayi. Gue berani buka celana, karena ini kan cuma bayi. Bayi buugil ga masalah dong?
Oke baiklah, gue udah berhasil membuka semua baju dan perhelatan akbar pun dimulai.
BYAAAAAR BYUUUUR... BYAAAAR... BYUUUR...
TOK TOK TOK TOK
"HEI... ANAK GA TAHU DIRI!"
Hah? Kaya ada yang ngomong? Gue pun menghentikan aktivitas mandi gue.
"JANGAN BOROS AIR!"
Ternyata bener, gue yang lagi diomelin. Hahaha...
"IYAA... MAAF PAK..." jawab gue.
Gue pun mengucurkan air dari gayung pelan-pelan. Astaga, mandi macam apa ini? Mana kena kuman-kumannya yang ada mereka pada nyumput di pori-pori.
Ga lama setelah itu...
TOK TOK TOK TOK...
Astoge, apaan lagi sih? Gue udah super duper pelan ga ada suara ngucurnya ini loh!
"ADA APA?" sahut gue.
"KAMU GA KETIDURAN DI SANA KAN?" balas Bapak.
"IYA IYA PAK. SEBENTAR LAGI SELESAI," jawab gue.
Aaarh... Pingin rasanya gue patahin sikat gigi orang-orang di sini. Baru juga mulai mandi udah diteror dari luar. Gimana kalau gue bokeeer? Itu perlu penjiwaan yang lebih khusyuk tuh!
Gilaaang... Gilaaang... Kok lu betah sih tinggal sama tu orang? Heran gue.
Waktu berlalu, akhirnya gue udah kelar mandi. Gue juga udah berpakaian rapi, rambut disisir klimis, wangi, ajib pokoknya. Gue baru tahu kondisi Gilang yang seseger ini.
Gue, Ibu dan Bapak berkumpul di satu meja makan. Walaupun udah ditinggal cuci piring, mandi, masakan Bapak tetap aja hangat. Kayanya tadi sempat dihangatkan lagi sama beliau.
Tadi gue kira ni orang pemalas, abis masak ga langsung ditaruh di mangkok atau piring gitu. Masakannya ada yang masih di dalam panci di atas kompor. Ternyata dibiarin di situ karena mau dihangatkan lagi. Mantap juga si Bapak.
"Gilang, gimana hari kamu di sekolah, Nak?" tanya Ibu.
"Baik-baik aja Bu. Semua lancar, aman terkendali. PR beres, soal-soal latihan Gilang selalu ngerjain di papan tulis di depan kelas, kelompok tugas asik... Yah pokoknya Ibu ga perlu khawatir," jawab gue.
"Bagus, bagus. Di akhir semester nanti Bapak tidak mau dengar ada murid yang menggeser rangking kamu! Kita ini pindahan dari pelosok, jadi buktikan kamu bisa mengungguli mereka orang-orang kaya yang sombong itu." Ni bapak-bapak kenapa lagi dah? Herman gue.
"Tapi Puput juga orang kaya. Dia ga sombong kan Pak?" balas gue.
"Oh iya. Benar. Dan yang satu lagi siapa? Lela?"
"Iya Pak, Laila."
Masa sih? Apa keluarga Gilang sering mendapatkan perlakuan seperti itu? Kalau di gue sih temenan sesama orang-orang punya ya biasa-biasa aja. Ga pakai ajang pemanfaatan kaya yang dibilang Bapak barusan.
"Mungkin ada juga orang-orang kaya yang seperti itu Pak. Tapi kan tidak semua," balas gue.
"Ibu bangga dengan kamu, Nak. Kamu adalah orang yang pemaaf," sambung Ibu.
"Maksud Ibu?" gue penasaran. Pemaaf? Memangnya Gilang pernah jadi tumbal keangkuhan orang-orang kaya? Eh, ini ga lagi ngomongin gue kan? Gue kaya juga, tapi perlakuan gue sebenarnya baik kok. Barbar dikit ga apa-apalah. Ga ada apa-apanya dibanding perlakuan bapak ke Gilang.
"Itu loh, sebelum kita pindah ke sini kamu kan suka cemberut. Pas Ibu tanya ga selalu ga mau cerita. Eh ternyata lama-lama ngaku juga kalau kamu selalu diejek sama anak kepala cabang perbankan," jelas Ibu.
"Hehe... Oh iya iya Bu. Sekarang sudah tidak penting. Kan kita semua sudah ga di sana lagi, jadi ga perlu diingat-ingat. Lagipula belum tentu orang kaya di sini sama menyebalkannya dengan orang-orang kaya di desa." Gile, penjelasan gue canggih bener. Padahal gue sama sekali ga tahu masalahnya apa. Asal ngeluarin kata-kata bijak aja gue. Wkwkwkw...
"Tuh, dengarkan anakmu, Pak. Seharusnya Bapak bisa meniru Gilang. Jangan kerjaannya sedikit-sedikit sakit hati, sedikit-sedikit tersinggung. Kalau sudah kesal langsung beli bir kaleng banyak-banyak," kata Ibu.
"Enak saja bilang Bapak disuruh meniru Gilang. Yang ada Gilang itu begitu karena didikan Bapak, Bu! Jangan salah. Begini-begini juga Bapak ini arif dan bijaksana. Masalah minum kan sudah dikurangi sekarang." Ckckck... menjual-jual gue di depan ibu. Arif dan bijaksana apanya! Yang ada Arif Rahman tuh. Ga tahu dah nama siapa yang gue sebut.
Menit demi menit bergulir. Akhirnya selesailah urusan makan malam. Peralatan makan semua disapu pakai air lalu ditumpuk begitu aja. Mau dicucinya besok pagi aja.
Saatnya gue ngerjain PR. Gue mau cari muka depan bapak-bapak menyebalkan ini. Gue buka buku di meja ruang tengah.
Melihat gue belajar, doi ga jadi nyalain TV dan jadi asik sama HP-nya sendiri. Biasa... umur segini memang doyan Pesbuk. Aplikasi para bapak-bapak dan ibu-ibu.
Sambil ditemani kopi dan biskuit sementara kalau gue minumnya teh manis hangat. Semua itu Ibu yang nyiapin.
Gue melirik ke kanan dan kiri gue. Bapak ada, Ibu juga ada. Ibu lagi nulis-nulis juga dan ditemani kalkulator dengan tombol segede-gede jempol kaki.
Gue jadi kangen Mama Papa, anjir. Biarpun lingkungan keluarga Gilang cukup menyebalkan tapi suasana berkumpul kaya gini yang gue rindukan.
"Hei, Gilang!"
"Hah? Iya Pak?"
"Tadi kamu bilang itu pelajaran Fisika kan?"
"Iya Pak. Masih dengan tugas yang sama dengan yang tadi."
"Ya sudah. Kalau ada kesulitan, tanyakan sama Bapak," kata Bapak.
"Iya, percaya deh Bapak memang selalu bisa diandalkan untuk semua pelajaran sains," goda Ibu.
"Iya Bu. Beda dengan kamu. Nah, Gilang, seperti biasa kalau urusan esai, ekonomi, sejarah dan sebagainya tanya sana sama Ibu. Dia jago," balas Bapak.
Gue menghela napas panjang. Semoga keluarga Gilang selalu harmonis kaya gini.
Hari ini kayanya gue membawa keberuntungan di keluarga ini. Walaupun ada aja hal yang nyebelinnya, overall dari tadi ga ada kejadian kaya waktu itu. Waktu pertama kali gue tahu rumah Gilang. Waktu itu ada adegan lempar-lemparan piring.
Baru aja gue bilang gitu tiba-tiba.
BRAAAAK...
"Ada apa ya?"
"Sepertinya dari jendela, Pak," jawab Ibu.
Hah? Masa jam segini ada maling sih? Belum malem banget loh ini! Apa maling di sekitar sini nekad-nekad ya? Gue jadi ingat transaksi narkoboy tadi. Jangan-jangan daerah di sekitar sini adalah daerah rawan kriminal!
Mendengar hal yang mencurigakan, Bapak segera bangkit dan langkahnya setengah berlari sambil ngambil palu gede.