
Pagi ini gue ketemu Vino lagi. Gue dibiarkan berduaan dengan Vino. Gue seneng melihatnya sehat. Pas gue datang doi lagi lari-lari dan loncat terus gigit-gigitin bola kasti yang Kakek kasih buat dia.
"Pin, trauma lu udah mendingan belum?" tanya gue setelah Kakek pergi meninggalkan gue dan Vino berdua.
"Ah elu lagi, elu lagi! Gue lagi asik nih. Lu mau ngapain ke sini?" tanya Vino.
"Ya gue mau nengokin elu lah. Gue kan peduli sama lu," jawab gue. Gue sambil jongkok ngelus-ngelus kepala Vino.
"Ah, udah, kalau gini ceritanya gue ga bisa nolak. Agak ke samping dong deket kuping," kata Vino yang lagi keenakan gue gosok-gosok kepalanya.
"Gimana, enak ga?" kata gue.
"Yahud," jawab Vino.
"By the way Pin... Emamgnya apa sih yang bikin lu trauma kemaren di rumah gue? Penasaran gue, asli," kata gue.
"Oh itu..." Vino masih keasikan gue gosok-gosok.
"Bapak-bapak kurang ajar itu ngebanting gue. Padahal kan niat gue baik. Gue membela harkat fan martabat temen lu itu," kata Vino.
"Hah? Ngebanting? Jadi bukan Gilang yang udah ngejahatin elu?" gue heran.
"Bukanlah. Dia kan orang baik. Sayangnya kebaikan tu anak malah nyaris dimanfaatin sama Bapak-bapak edan itu," kata Vino.
"Coba lu cerita yang lengkap, Pin. Gue bingung," pinta gue sambil ngangkat Vino. Gue tatap mukanya yang lagi ada di depan muka gue.
Vino menggeliat, gue turunin dan dia pun duduk tegak di depan gue.
"Bapak-bapak edan itu nyaris kaawiin sama temenlu itu. Tapi dia ga mau. Jadi gue serang aja Bapak-bapak itu. Eh, gue malah kena banting, bahkan sampe dua kali. Hamsyong gue! Sakit semua kan jadinya badan gue!" jelas Vino.
"Kaawiin? Maksud lu Bapak mau memperrkaos Gilang?" Gue kagetnya setengah mampus.
"Iya gitu," kata Vino. "Di dunia kucing mau itu memperrkaos atau enggak ya hitungannya sama-sama kaawiin," lanjut Vino.
"Tu orang ga tahu kalau di dalam tubuh cewek cantik itu adalah Gilang, anaknya sendiri. Gilang ga ngomong sama gue, mungkin dia malu punya bokap kaya gitu," kata gue.
"Kalau gue jadi Gilang, gue pecat tu orang dari status orang tua! Bikin malu aja," kata Vino.
Gue pun ngasih Vino makan dan mengganti litterbox-nya. Setelah itu gue pun berpamitan ke Kakek dan pulang.
Gue bersiap untuk pergi ke sekolah.
Setelah siap, gue pun berangkat. Gue berjalan kaki sampai di jalan besar gue berdiri menunggu angkot. Gue pun nyetopin angkot.
"Halo Pangeranku." Terdengar suara riang cewek yang familiar di gue. Gue menengok ke jendela rupanya Mentari ada di balik jendela yang sedikit terbuka itu.
Gue senyum lalu gue pun masuk ke dalam angkot. "Hai Tuan Putriku," sapa gue setelah gue duduk. Beberapa orang di dalamnya pun ngelihatin gue dan Mentari. Ih, pasti mereka jomblo deh, sampai cuma manggil dengan panggilan kaya gitu aja memperhatiinnya gitu banget.
Gue ga banyak ngomong sih. Gue masih mikirin fakta yang baru aja gue tahu pagi itu, soal Gilang dan Bapak. Setelah ini gue pingin banget nemuin Gilang. Gue pingin bicara sama dia.
Angkot pun mengantarkan gue dan Mentari sampai jalan gang menuju sekolah. Kami berdua pun turun setelah membayarnya.
Gue dan Mentari jalan bareng. Di sekitar kami juga banyak murid yang jalan kaki.
"Gue perhatiin lu daritadi diem aja. Lagi ada masalahkah?" tanya Mentari.
Gue menoleh sambil tersenyum. "Bukan. Bukan masalah besar, cuma miskomunikasi aja sama temen gue. Emh, lupakan. Ga penting," kata gue sambil menaruh lengan gue di bahu Mentari.
Oops... Lupa kalau gue lagi jadi Gilang! Gue ngelakuin hal biasa kaya gini kan sah-sah aja selama ke sesama cewek. Tapi ini gue cowok, anjir!
"Ups, sorry. Gue ga bermaksud..." kata gue.
"Never mind. Hihi..." jawab Mentari.
Mendadak gue dan Mentari jadi diem-dieman. Sama-sama malu, anjir!
"Oh iya. Nanti pas jam istirahat kita makan bareng yuk?" ajak Mentari.
"Oh, pasti! Iya iya! Pasti," jawab gue.
Karena kelas Mentari udah dekat, dia pun pamit masuk duluan dan kami oun berpisah.
Gue jalan sendirian menuju kelas. "Woy, Bro! Nanti bakal ada diskusi lagi, ikut lagi ya?" seorang anggota OSIS menyapa gue.
"Oke, oke," jawab gue. Kami pun berpisah.
Begitu sampai di kelas, ternyata Papoy KW alias Gilang belum masuk. Gue nungguin dia. Tu anak mentang-mentang sekarang pakai motor gue, pasti deh mulai berleha-leha berangkatnya. Hem...
Gue lihat jam di dinding, sebentar lagi bel masuk bakal berbunyi. Gilang mana sih?
TAP TAP TAP...
Gilang berlarian masuk kelas. Dia ngos-ngosan. Untung aja ga terlambat.
Gue yang lagi duduk di bangku Lele menyapa dia.
"Darimana lu? Tumben buru-buru gini?" tanya gue.
"Iya, gue telat bangun. Eh, kok lu duduk di sini?" jawab Gilang.
"Gue sengaja nungguin elu. Gue mau membahas sesuatu. Sama! Gue juga! Ada hal yang pingin gue tanyain ke elu," ucap Gilang sambil mengatur napasnya.
Sayangnya perbincangan kami tertunda. Bel masuk berbunyi. Gue harus balik ke bangku gue.
"Nanti ya?" kata gue.
"Iya, nanti," jawab Gilang.
Gue pun balik ke bangku gue. Gue masih memandangi Gilang. Dia juga sesekali ngelirik gue.
Sebenarnya apa yang mau dia tanya-tanyain ke gue ya?
Waktu berlalu. Gue ga sabar mendengar cerita dari dia, jadi gue tulis di kertas, kertasnya gue buat jadi bola dan gue lemparin ke meja dia.
"Mau nanya soal apa sih? Gue penasaran," dalam kertas tertulis begitu.
Gilang alias Papoy KW pun membalas pesan di kertas gue. "Meennstrruaasi," begitu yang tertulis di kertas Gilang.
Gue membulatkan mata. Rian melirik ke kertas yang gue baca. Gue pun buru-buru nyembunyiin ini dari dia. "Sekarang udah zaman chat, kenapa kuno banget main lempar-lemparan kertas!" protesnya.
Gue nyengir kuudaa. "Hehe... Oh iya ya, gue lupa," jawab gue sambil garuk-garuk kepala. Rian kayanya risih pas gue dan Gilang lempar-lemparan kertas. Secara, posisi dia kan ada di antara gue dan Papoy KW.
Gue mikirin kata kunci yang baru gue baca dari Gilang. Waduh. Kok bisa bareng gini ya? Gue pun mengalami wet dreaming tadi subuh!
Kayanya pembahasan kami selanjutnya akan berlangsung menegangkan dan bikin malu deh. Gue malu banget, anjir, kalau mau membahas ginian sama dia. Soalnya dia itu cowok!