
"Gue ketemu Laila itu dulu banget," kata Kak Jonathan.
Wah Kak Jonathan mau cerita nih kayanya. Gue jadi ga sabar buat nyimak ceritanya. Pasti seru.
Jalanan ga macet, tapi kendaraan pada pukul 22.33 ini masih ramai. Gue tahu jam karena di dashboard mobil ada angka digital yang menunjukkan waktu 22.33 dan sekarang jadi 22.34. Di sebelah pinggirnya ada tulisan kecil 102.2 FM.
Suara musik lagu galau menemani gue dan Kak Jonathan di ruangan dalam mobil ini. Suaranya ga mengganggu obrolan kami, soalnya volumenya kecil. Tapi ya membuat suasana jadi syahdu.
"Melihatmu bahagia, satu hal yang terindah... Anug'rah cinta yang pernah kupunya... Kau buatku percaya ketulusan cinta... Seakan kisah sempurna 'kan tiba..."
Itu adalah lagu yang gue dan Kak Jonathan dengar dari siaran radio. Rasanya ini lagu yang pas banget. Gue mendengarkan kisah Kak Jonathan dan Lele di zaman dulu. Mereka bersama, disatukan oleh hobi yang sama yaitu memelihara kucing.
"Tapi ya gue sama dia biasa aja. You know, like... um... nothing special between me and her. Kaya teman aja gitu," kata Jonathan setelah menceritakan kebersamaannya bersama Lele.
"Elu merasa Laila gimana sama lu? Biasa aja jugakah, atau ada kaya sesuatu gitu?" tanya gue menelisik lebih dalam.
"Apaan sih lu nanyanya gitu banget? Lu mau nyomblangin gue sama Papoy atau Laila sih?" protes Kak Jonathan.
"Idih. Gue cuma nanya doang, Kak. Selama ini Laila ga pernah tuh cerita kalau dia pernah sama lu," kata gue.
"Ya berarti memang gue ga spesial kan bagi dia. Jadi buat apa diceritain ke sahabatnya? Iya ga?" ucap Kak Jonathan.
Seandainya lu tahu Kak, kalau Lele itu naksir sama lu. Dia patah hati karena lu pergi sebelum dia sempat ngasih tahu ke elu tentang perasaannya.
"Mengapa masih ada... Sisa rasa di dada... Di saat kau pergi begitu saja? Mampukah ku bertahan... Tanpa hadirmu, sayang? Tuhan, sampaikan rindu untuknya..." Lagu dalam radio mendramatisir perasaan gue.
Gue akui gue bukan sahabat yang baik bagi Lele. Gue ga bisa memposisikan diri. Baik di saat Lele naksir sama Gilang maupun saat dia berjumpa dengan Kak Jonathan lagi, orang yang pernah disukainya.
Gue ga bisa menampik kenyataan bahwa apa yang Lele suka selalu sama dengan yang gue suka. Ga mungkin gue makan temen! Apalagi Lele dan keluarganya itu udah kaya keluarga gue sendiri.
Selama ini gue maju-mundur. Gue ikhlasin Gilang terus cemburu lagi, ikhlasin lagi dan cemburu lagi. Sekarang pun begitu. Gue malah memanfaatkan kutukan gue ini buat jadi temennya Kak Jonathan. Gue yang berbentuk remaja laki-laki.
"Bener-bener ga ada yang spesial ya..." gumam gue.
"Ha? Lu ngomong apa? Ga denger," kata Kak Jonathan.
"Bu-bukan apa-apa kok. Gue cuma baru tahu aja cerita tadi. Hehe..." kata gue.
"Iya. Gitu ceritanya. Jadi gimana, lu masih tetap mau nyomblangin gue sama temenlu yang satu lagi? Soalnya gue liat matalu gaje gitu. Kenapa tiba-tiba jadi Laila? Atau jangan-jangan lu mau curhat soal lu yang naksir Laila? Atau Papoy?" tanya Kak Jonathan yang sesekali ngelihat mata gue pas ngomong lalu balik fokus lagi ke depan.
Mampus gue! Gue sampe salting gini ya, pura-pura batuk. "UHUK... UHUK..."
"Mana ada Kak. Gue itu sukanya..."
Mentari. Gilang suka sama Mentari. Mata gue terpaku melihat titik dua yang memisahkan digit menit dan digit jam di layar depan kami. Titik dua itu berupa lampu berkedip. Setiap kedipan ke-enam puluh, angka menit akan berubah digit.
Bahkan gue ga bisa menyerah kepada waktu buat nyelesein dendam gue ini. Iya, gue dendam. Effort yang gue lakuin buat Gilang udah maksimal. Gilang berubah jadi ga kaku dan ga culun lagi, tapi apa yang gue dapat? Gilang malah sukanya sama orang lain.
Oke! Gue akan dapetin Kak Jonathan! Suatu saat gue akan balik lagi ke raga gue yang asli dan gue akan jadian sama Kak Jonathan! Ini adalah harga yang harus gue dapat!
"Lu suka sama siapa?" Kak Jonathan membuat gue tersentak dari lamunan gue.
"Gue suka sama sahabat Papoy..."
"Bukan. Satu lagi. Mentari," gue mengucapkannya sebenernya agak kesel-kesel gitu.
"Oh yang bareng-bareng kita tadi ya? Mentari... Iya benar. Namanya tadi Tari," ucap Kak Jonathan.
"Udah sampai mana langkah lu buat ngejar dia?" tanya Kak Jonathan.
"Ga ada," kata gue.
"Hahaha... Ternyata nyali lu... Hahaha... " kata Kak Jonathan sambil melepas pegangan stirnya. Ia menunjukkan telunjuk dan jempolnya seperti sedang mencubit udara. Nyali yang kecil.
"Tapi orang kaya lu cocok sih buat ga pacaran," kata Kak Jonathan.
"Hah? Maksudlu?" Jangan-jangan pikiran lu sama lagi dengan pikiran Lele! Wantit, wanita bertiitiit! Gue bukan waaria, anjir!
"Lu kaya ikhwan-ikhwan gitu. Ga cocok pacaran. Langsung nikah aja nanti," kata Kak Jonathan.
Eh, gue salah kira! Ternyata Kak Jonathan melihat gue sebagai seorang yang alim. Ga mungkin! Pasti bukan karena doi ngelihat gue, mana mungkin gue bersikap alim! Pasti dia mendengar cerita dari orang! Cerita tentang Gilang, bukan tentang fisik Gilang yang lagi gue pakai.
"Lu cuma denger cerita dari orang, Kak. Aslinya gue biasa aja kok," kata gue.
Perjalanan kami pun berakhir.
"Rumahlu yang mana?" tanya Kak Jonathan.
"Rumah gue jauh di dalam. Harus jalan kaki dulu, atau naik motor. Mobil ga bisa lewat," kata gue.
"Oh gitu. Kapan-kapan gue mampir deh," kata Kak Jonathan.
"Eh, mampir sekarang aja, Kak!" Mampus gue kalau gue balik sendirian.
"Kenapa gitu?" tanya Kak Jonathan.
"Gue ga berani balik sendiri Kak. Bokap orangnya kaku, kolot. Gue ga boleh pergi-pergi kalau malam. Kalau ada kawan, bokap akan segan kalau mau marah-marah," jelas gue.
"Ya ampun. Masih aja ada orang yang kaya gitu? Kalau cewek masih mending, lah ini lu cowok!" gerutu Kak Jonathan.
"Yok, gue anterin lu balik," lanjutnya.
Kami berdua pun berjalan kaki menuju rumah gue. Kondisi jalan komplek begitu sepi. Cuma ada satu-dua orang yang terlihat lagi duduk-duduk di teras rumahnya.
"Malam Pak," sapa gue.
"Iya Nak Gilang," sahut orang yang lagi duduk di terasnya itu.
"Enak ya tinggal di sini," kata Kak Jonathan.
"Enakan juga elu, Kak. Lu tinggal di perumahan elit kan?" kata gue.
"Tapi suasananya ga kaya gini. Tegur sapa sama orang. Padahal bukan tetangga dekat lu. Bisa kenal gitu. Ga kaya di rumah gue. Kenal sama tetangga depan rumah pun masih untung," ucap Kak Jonathan.
"GILANG..." Seseorang manggil gue. Gue dan Kak Jonathan pun sama-sama menoleh ke belakang.