Miyawlova

Miyawlova
Baru Putus, Sedih!



Gue pulang sendirian. Gue naik angkot, isinya rame tapi gue masih merasa sendirian.


Segala hingar-bingar di sekitar gue seolah jadi hening. Kucing yang lari-lari juga orang yang mengejarnya sambil ngacungin sapu, laju motor dan mobil yang ngebut, semua terasa bergerak lambat. Gue ga lagi pake narkoboy, tapi semua efek yang gue lihat dan gue dengar memang jadi drama kaya gitu.


Ini semua gara-gara gue memutuskan untuk jaga jarak sama Gilang. Rasanya ada yang hilang di hidup gue. Gue merasa hampa banget.


Sekarang gue lagi duduk di dalam angkot, paling pojok dalam dengan jendela yang dibuka. Gue merasakan angin menghembus dan bermain-main nakal menggoyang-goyangkan helai-helai rambut gue di pelipis.


Gue lihat ke kursi di hadapan gue. Dia adalah seorang tante-tante bertubuh gemuk. Sama kaya gue, doi juga lagi gabut dan merhatiin ke luar jendela sesekali.


Tante-tante itu pun berubah menjadi Gilang. Gilang tersenyum sama gue terus ngelihatin gue dengan muka yang nahan ngakak. Terus dia ga tahan jadi dia pun beneran ngakak.


Dia pun mencondongkan badannya ke depan, ke arah gue. Dia mau membisikkan sesuatu terus matanya deket banget sama gue. Pandangan itu begitu dalam. Terus tiba-tiba dia memecah keterpakuan kami dengan ngeledekin gue. Dia menarik hidungnya jadi menirukan hidung babii.


Bukan. Itu bukan Gilang, itu tante-tante penumpang. Gue cuma lagi merindukan Gilang. Mata gue pun berkaca-kaca. Lantas gue menoleh ke depan jendela biar mata gue ketiup angin. Gue tahan dengan ga berkedip biar air mata yang nyaris jatuh ini jadi kering.


Setelah sampai gue pun turun dari angkot. Di jalan yang membentang di depan gue, gue melihat sosok Gilang. Gilang lagi senyum-senyum kaya lagi memaklumi tingkah aneh gue.


Gilang pun merunduk dan menunjukkan punggungnya di depan gue. Dia nawarin gue buat digendong. Ya Tuhan, gue jadi mewek begini. Gara-gara gue mewek bayangan Gilang pun hilang.


Gue ga tahan, pingin mengeluarkan emosi jiwa gue.


Gue tengok ke sekitar gue, gue rasa ini sepi jadi gue putuskan buat duduk sebentar di trotoar. Gue duduk, gue membenamkan muka gue di antara lutut gue.


"Ya Tuhan... Kenapa hamba-Mu ini selalu merasakan kehilangan?" Ingin rasanya gue teriak tapi gue cukup realistis buat ga bikin malu diri sendiri kalau-kalau ada orang yang lewat.


Di saat menangis kaya gini gue jadi ingat pertama kali gue rasakan sebuah pelukan dan bahu buat gue menumpukan kesedihan... Bahunya Gilang! Saat itu adalah pesta di rumah gue dan Gilang ada di waktu yang tepat.


Keadaan gue sekarang justru sebaliknya. Gue kehilangan elu, Gilang. 😭 Gue... kehilangan... elu...


"WOY... ANAK SEETAN..."


Gue menegakkan kepala gue. Mata gue yang sembap dan basah membuat pandangan gue agak kabur. Gue ga tahu yang gue lihat di depan gue ini nyata atau enggak. Gue pun menggosok kedua mata gue.


"Ngapain lu di sini, Vino?" kata gue sesengukan.


"Eh? Lu nangis?" tanya Vino.


Jangan tanya keadaan gue! Kalau gue lagi sedih terus ditanya malah tambah kejer nangis gue! Gue jadinya balik membenamkan muka gue lagi di antara lutut gue.


"Hemmm... hiks... hiks... " Semakin jelas bayangan kenangan gue bersama Gilang! Gue ga tahan, gue sedih banget.


Vino menyentuh betis gue dengan kaki depannya. Dia seolah minta digendong. Gue tegakkan lagi kepala gue. Gue melihat wajah lucu itu, jadi Vino pun gue peluk.


"Heemmmm... hiks... hiks..." Gue nangis sambil meluk Vino. Gue benamkan muka gue di bulu-bulu lembutnya.


"Menangislah, Poy. Dan kalau lu mau cerita, gue siap mendengarkan," kata Vino.


"Gue kehilangan Gilang, Vin," kata gue sambil nangis kejer dengan muka gue yang masih gue benamkan.


"Gilang kenapa? Sakit?"


"Enggak. Dia sehat, cuma sekarang gue sama dia ga bisa temenan deket-deket lagi," kata gue.


"Ya ampun. Gue turut sedih, Poy. Lu yang sabar ya," kata Vino sambil menjilat-jilat jari-jari tangan gue.


"Sebenarnya ada orang-orang yang tanpa kita sadari peduli dan menyayangi kita," kata Vino.


"Maafin gue Vino. Gue kira elu ga sebaik ini. Sekarang gue lagi hancur banget dan lu..." gue bicara sambil memandangi mata Vino. "...lu hadir." Dekapan gue ke Vino semakin erat. Nyaman banget rasanya.


Vino menunggu tangis gue mereda. Dia ga bertanya apapun.


Gue pun menegakkan badan gue, gue seka air mata gue. Gue tersenyum pada Vino. Kondisi gue lumayan lebih baik.


"Ngomong-ngomong lu kok bisa ada di sini?" tanya gue.


"Gue gabut. Gue memang suka keluar buat cari angin. Kakek pun tahu kalau gue gabut gini, gue pasti balik ke rumahnya," jelas Vino.


"Lu laper ga?" tanya gue.


"Mayan sih. Kalau ditawarin makan ya gue ga bakal nolak," jawab Vino.


"Kalau gitu kita cari warung ayam penyet! Yok!" Gue bangkit dan Vino gue taruh aja di jalan. Gue dan Vino pun jalan bareng-bareng.


"Lu udah ga sedih?" tanya Vino dengan langkah kaki kecil-kecilnya yang menggemaskan.


"Udah mendingan," jawab gue.


"Gue mau nanya takut lu tambah sedih," kata Vino.


"Nanya apa?"


"Tadi kan lu bilang ga bisa temenan sama Gilang lagi, itu penyebabnya apa?"


"Penyebabnya adalah keadaan. Gue rasa gue dan Gilang udah terlalu dekat. Sebelumnya kita kan bertiga, ada gue, Gilang dan Lele. Sekarang Lele lagi sakit dan dirawat di luar negeri. Gue ga enak kalau di telinga dia sampai kabar kedekatan gue sama Gilang. Gue ga enak," jelas gue.


"Oh, jadi lu ga mau dituduh memanfaatkan keadaan gitu? Di saat Lele ga ada kok lu malah deket sama Gilang, gitu ya?"


"Iya gitu. Bahkan di sekolah omongan-omongan orang yang bilang gue dan Gilang pacaran itu udah ada," lanjut gue.


"Ya ampun. Gue tahu yang lu rasain, Poy," kata Vino.


"Memangnya lu pernah ngalamin hal kaya gini juga?" tanya gue sambil terkekeh. Gue nyepelein kehidupan kucing. Ternyata mereka kaum kucing ngalamin hal kaya gue gini juga.


"Iya kan gue, Arjuna dan Sri udah tinggal bareng sejak kecil. Meskipun kami bukan sodara sedarah, tapi kami udah ngerasa kaya sodara sendiri."


"Sebentar. Gue tebak ini cerita tentang cinta segitiga antara elu, Sri dan Arjuna?" kata gue.


"Diem dulu, Anak Seetan! Kan gue yang sekarang giliran cerita, ngapa jadi spoiler lu? Ah ga estetik kan kesedihan gue jadinya!" protes Vino.


"Oh lu lagi sedih?" gue terkekeh.


Gue terhibur dengan adanya Vino sekarang. Ni kucing bener-bener kucing ajaib. Doi bisa ngomong plus bisa tiba-tiba dateng kaya gini.


Tiba-tiba...


"VINOOOOOO....!" gue berteriak.