
Baru beberapa menit Gilang datang, perut Vino pun pargoy lagi. Vino uget-uget kaya ulat, lidahnya menjulur dan...
HWEEEEG...
Keluarlah segumpal bulu, beberapa serpihan daun dan tentu saja lendir.
"Wah, kayanya lu lebay deh Poy. Dia pargoy bukan karena keracunan atau terserang parasit. Ini namanya hairball," jelas Gilang.
"Iyakah?" Gue pelototin Vino yang ternyata udah drama banget sampe bikin gue panik.
"Iya. Muntah hairball itu sesuatu yang bisa dibilang rutinitas. Mungkin selama ini Vino jarang disisir, jadi kita harus lebih perhatian sama dia," jelas Gilang.
"Iya, bener. Gue memang kurang kasih sayang. Udah kaya gembel hidup gue. Beda dengan hidup di rumah Lele. Memang asem lu pada, Babu-babu ga berguna," gerutu Vino.
"Rutinitas yang menjijikan!" kata gue sambil melototin Vino. "Siapa yang tahan ngerawat kucing dengan rutinitas jorok kaya gini!" lanjut gue sambil bertolak pinggang ke Vino.
"Sompret lu Anak Seetaan!" balas Vino.
"Iya ini rutinitas. Kan kucing itu suka jilatin bulunya. Kucing berbulu panjang kaya Vino ini harus rajin disisirin biar bulu-bulu rontoknya ga nempel ke lidahnya terus tertelan. Kalau udah tertelan kunyahan-kunyahan rumput bisa membantu dia buat ngeluarin hairball-nya ini," jelas Gilang.
"Oh gitu. Baru tahu gue," kata gue.
"Sekarang kita mandiin aja si Vino. Nyuntiknya nanti aja kalau badannya udah bersih. Jangan sampe malah kotoran di kulitnya ikut masuk waktu disuntik dan malah bikin dia demam," kata Gilang.
"Oke deh!" Gue pun menyiapkan lagi air buat mandi Vino karena air yang tadi udah dingin.
"LAAAANG... BAPAK HAUS! BELIKAN MINUMAN DI TOKO LANGGANAN!" teriak Bapak. Muka Gilang alias Papoy KW pun langsung kikuk, kaya ngerasa ga enak gitu.
"Siap-siap lu mau disuruh beli bir ke mini market depan," bisik Gilang.
"Oh jadi haus itu artinya minta bir?" bisik gue lalu mengangguk-angguk.
"Lu bisa mandiin dia sendirian kan?" kata gue sambil ngelempar arah pandang gue ke Vino.
"Apa lu, Babu, lihat-lihat gue?" kata Vino.
"Bisa kok. Aman aja. Lu pergi gih sana, belanjain pesanan Bapak," kata Gilang.
"LAAAAANG..." teriak Bapak lagi.
"IYA PAK IYAAAA..." jawab gue sambil pergi dari tempat Gilang dan Vino berada.
POV Gilang asli:
"Halo Vino... Kita mandi dulu ya?" saya bicara sama kucing. Haha... Ini bukan berarti saya seaneh Papoy, hanya saja sejak kecil saya memang terbiasa menyapa kucing.
"Miyaw..." Suara Vino imut banget. Saya heran kenapa dulu Vino bisa sebarbar itu dengan Papoy, padahal kucing ini begitu manis.
Saya pun mengangkatnya dan nenaruhnya di lantai kamar mandi. Saya pegang lehernya, cara biar kucing ini ga memberontak ketika pertama kali ketemu air.
Disiram dulu sekujur tubuhnya kecuali kepala. Nah, rupanya kucing ini berontaknya sebentar aja. Setelah merasa nyaman dengan air hangat, dia diam aja. Maka saya lepas dia dan saya biarkan dia duduk santai di atas lantai.
Setelah basah semua badannya, saatnya mengoles shampo. Mana tadi ya shamponya, apa saya taruh di belakang saya ya? Saya pun berbalik.
"HAAAAH..."
"Ya ampun, Bapak, eh Om. Ternyata ada Om di sana. Hehe... Bikin saya jantungan saja."
Bapak senyum-senyum. Beliau tengah berdiri di pintu dengan tangan yang bersandar tinggi-tinggi di rangka pintu.
"Manis sekali, memandikan kucing tanpa kehebohan. Lihatlah, dia nyaman sama kamu," kata Bapak.
Aduh, aroma Bapak menyengat sekali. Sepertinya sebelum menyuruh Papoy pergi Bapak udah banyak minum juga deh. Saya pun mengibas-ngibaskan telapak tangan di depan hidung saya lalu tersenyum kikuk.
Bapak berjongkok. "Mari Om bantu," kata Bapak.
"Ti-tidak u-..." Bapak memegang tanganku yang basah ini. "...tidak usah Om," kataku
"Lihatlah, tangan halus ini. Sayang sekali kalau nanti terkena cakaran kucing." Ya Tuhan, Bapak kenapa jadi seperti ini? Saya pun menarik tanganku segera.
"Jangan takut, Om hanya ingin membantu," kata Bapak yang kembali memegang tanganku.
"Sepertinya Om sudah terlalu banyak minum," kataku sambil berdiri dan melangkah mundur. Bapak pun jadi ikut melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Ya Tuhan, Bapak... Andai saja Bapak tahu kalau saya adalah anakmu, Pak.
"Tidak apa-apa, Om hanya minum sedikit. Tau kamu mau bergabung bersama Om? Kita healing-healing sebentar," kata Bapak. Tangan Bapak mulai menjangkau lengan dan pahaku. Saya pun menangkis kedua tangan Bapak sambil mundur dan Bapak semakin melangkah maju.
Sial, saya tersudut!
"Ayolah, manis. Sekali saja. Akan Om buat kamu merasakan indahnya kasih sayang dari Om." Mulut Bapak mulai mendekati wajah dan leherku. Aku mendorongnya tapi ia kembali mencengkramku.
Vino menyerang kaki Bapak.
"Pergi kau, makhluk pengganggu!" Bapak mengayunkan kakinya sehingga Vino terlempar ke luar kamar mandi.
"EWWWERAAAAWR..."
Vino meloncat ke paha Bapak dan lagi-lagi Bapak membuatnya terlempar.
*BRAAAAK... CEKLEK*...
Bapak menutup lalu mengunci pintu kamar mandi dari dalam.
"Mari manis, Om tidak akan menyakitimu," rayu Bapak sambil membuka kedua tangannya. Aku seperti seekor ayam yang sedang hendak ditangkap.
"Sadar Om! Saya ini teman Gilang, teman anak Om! Saya masih di bawah umur! Om!"
Bapak tidak mempedulikan kata-kataku. Dia terus merangkul tubuhku erat dan tangannya mulai liar berpiknik ke daerah di balik pakaianku.
"Maafkan saya Bapak."
*BUUUUG*...
"AHHHHGG..."
Saya menendang seelangkangan Bapak dengan dengkulku.
"Dasar bocah tidak tahu diuntung! Kau minta bermain kasar rupanya!" Bapak menarik tubuhku lalu menarik dengan kuat hingga kancing-kancing di dadaku terlepas.
Bapak memaksa agar dapat menciumiku tapi...
*BUUGH... BUUUUGH*...
saya menghajarnya dengan siku dan kepalan tangan.
"Aaaarg..."
Saat Bapak lengah dan melepaskanku, aku membuka pintu untuk berusaha melarikan diri. Tapi, dari belakang Bapak lagi-lagi mencengkramku.
Bokongku terasa tersodok dengan sesuatu. Ya ampun, Bapak melakukan pelecehan. Maka saya pun menguncinya dengan kuncian karate lalu...
*BRAAAAK*...
Bapak terhempas ke lantai. Saya pun melarikan diri. Saya tidak tahu dimana Vino maupun Papoy atau orang lain di sana. Tidak ada siapapun.
Saya pun keluar dari rumah itu dengan tergesa-gesa.
"Loh? Gay? Lu kenapa? Mau kemana?" Rupanya Papoy baru saja kembali dari mini market. Dia pasti heran melihatku berantakan. Tidak mungkin saya menceritakan hal memalukan yang sudah orang tuaku lakukan. Saya malu sekali kalau Papoy sampai tahu.
Ah, sudahlah. Saya pergi saja.
"Sorry, Poy. Gue cabut dulu," kataku sambil meneruskan langkah berlarian meninggalkan rumah.
POV Papoy asli
"Tu anak kenapa sih? Segitu barbarnya Vino-kah, sampai Gilang nyerah kaya gitu?"
Gue pun masuk. Gue ga nemuin Bapak di ruang TV. Bapak kemana ya?
"PAK? BAPAAAK? SAYA PULANG. INI SUDAH SAYA BELIKAN MINUMANNYA," teriak gue.
Ah, bodo amat dengan orang tua itu. Gue pun menuju ke tempat tadi gue meninggalkan Vino.
"Vino?"