
Masih POV Gilang alias Papoy KW:
Gue pura-pura ga denger Bu Pipit ngomong apa. Gue pura-pura membuka buku catatan matematika gue.
“Siapa itu GLG?” tanya ibu guru. Dia membaca inisial gue. Gue telah mengukir inisial gue di penggaris dengan jangka. Mampus!
Ada dua orang yang berinisial GLG di kelas. Salah satunya Guntoro Langit Gumilar, duduk di baris paling depan. Dia berdiri tanpa diminta.
“Bukan saya, Bu,” GLG yang pertama berkata dan mencubit pipinya sendiri. “Demi Tuhan, Bu.”
Sang guru memandangnya sambil menyipitkan mata, masih curiga.
“Saya bersumpah demi Tuhan, Bu,” kata GLG yang pertama sambil terisak.
Sumpah demi Tuhan ternyata ampuh. Semua orang percaya kepadanya.
“Siapa GLG yang satu lagi? GILANG!” sang guru meneriakkan nama gue.
Semua mata terpaling kepada gue. Sang guru berjalan ke meja gue. Gue pun berdiri.
Gue ga mengucapkan sepatah kata pun. Ibu guru juga.
PLAK PLAK…
Kedua pipi gue perih.
“Mencuri makanan? Apa kau ini maling?” tanya sang guru. Dia memandang gue seolah-olah telah mencuri berlian dari museum.
Gue menundukkan kepala. Bu Pipit menampar tengkuk gue. “Keluar dari kelas ini!”
Gue seret-seret kaki gue ke luar ruangan, ditonton oleh seisi kelas.
“Ratna, bersihkan dirimu di kamar mandi,” kata Bu Pipit.
Gue bersandar di tembok di luar kelas. Ratna mengusap matanya dan berjalan melewati gue ke arah kamar kecil.
“Idih, dasar sok dramatis! Padahal gue cuma makan setengah kue cokelat lu!” batin gue.
Singkat cerita, itulah pertama kali gue bertemu dengan Ratna yang hebat. Harus gue bilang bahwa sekalipun ini kisah gue, lu ga akan terlalu menyukai gue. Biar bagaimanapun pencuri berusia sepuluh tahun memang ga pantas disukai.
Gue berasal dari pelosok desa. Menurut guru IPS gue desa itu adalah salah satu tempat tertua di bumi, hahaha lebay! Orang-orang datang ke sini untuk bermukim pada 1200 sebelum masehi.
Tempat ini dinamai nama sungai yang melintasi kota dan bermuara di Sungai Bengawan Solo. Orang-orang menyebut tempat tinggal gue dengan banyak nama sesuai dengan asal-usul yang mereka tahu atau sesuai asal-usul pemberi istilah.
Gue tinggal di tempat yang sangat berisik sampai-sampai gue dan beberapa orang menyumpal telinga dengan kapas kalau mau tidur. Ada yang bilang bahwa desa gue ini indah, suci dan bersuasana spiritual. Terutama ketika kami harus memperkenalkan tempat ini kepada wisatawan. Banyak juga yang bilang bahwa tempat ini kotor dan jorok. Menurut gue desa gue ga kotor, tapi orang-oranglah yang mengotorinya.
Pokoknya orang bilang desaku adalah tempat yang wajib dikunjungi setidaknya satu kali seumur hidup.
Gue menyimpan pensil di saku gue. Gue pakai pensil itu untuk mengguratkan “5A uye” di dinding. Lumayan untuk membantu melewatkan waktu. Selain itu nantinya akan lebih mudah menemukan kelas kami.
Ratna keluar dari toilet. Wajahnya yang basah dan masih bermimik sok dramatis menatap gue lekat-lekat dan berjalan kembali ke kelas.
Semakin dekat, dia terus memandangi gue. “Kamu mencoret-coret dinding!” kata anak perempuan itu.
“Mengadu sana!,” kata gue. “Sana!”
“Kenapa kamu mencuri bekalku?’ timpalnya.
“Gue ga mencuri bekallu,” ujar gue. “Gue cuma makan kue cokelat lu tiga gigitan. Lu ga akan tahu.”
“Kamu ini benar-benar anak nakal!” kata Ratna.
**
Di tempat lain.
Paman Debri, pengacara kami, menyorongkan kotak kecil berisi camilan kepada kami.
“Martabak? Untuk apa?” ujar Bapak.
Paman Debri sedang bertamu. Bokap dan gue berhadapan dengannya di balik meja makan kami yang sudah kuno.
“Kau sudah dapat tanggal sidang,” kata Paman Debri.
“Itu saja memakan waktu lama sekali. Oleh sebab itu, menurutku kita mesti merayakannya.”
Gue bertanya-tanya apakah bisa gue memberikan martabak ke Ratna si sok dramatis sebagai kompensasi atas kuenya? Gue ingin membeli tar cokelat dan membantingnya ke meja anak perempuan itu. Namun, gue ga punya uang untuk membeli kue. Bokap ga ngasih gue uang saku, juga ga memiliki banyak uang di sakunya sendiri.
Ada sengketa tanah saat kakek sudah meninggal. Karena alasan itulah Paman Debri jadi sering menyambangi rumah kami.
“Kau membawakan martabak cuma karena kita mendapat jadwal sidang?” Bapak terbatuk. Kasus tersebut ga kunjung mengembalikan tanahnya, tapi justru memperparah penyakit saluran pernapasannya.
“Yah, gimana si Yanto ingin menyelesaikan kasus ini di luar pengadilan,” timpal Paman Debri.
Yanto adalah nama kakak laki-laki Bapak, ia mencurangi kami. Kakek gue mewarisi kedua puteranya tanah pertanian. Ga lama setelah kakek gue wafat, Paman Yanto meminjam uang dari bank dan mengagunkan jatah tanah milik Bapak, menyertakan berkas-berkas bernomor seri palsu dan menyuap pegawai bank.
Paman Yanto merugi dan kehilangan uang. Bank lantas mengirim surat penyitaan untuk kami. Kakak beradik lantas saling gugat. Semua kasus ini tersaruk-saruk di jalur hukum. Kemajuannya lebih lambat daripada laju delman di jalan raya.
“Jalan damai?” Bapak mencondongkan badan ke depan.
Gue mengambil sepotong martabak dan menyimpannya pada tisu lalu gue kantongin.
“Yanto akan memberimu sejumlah uang tunai. Dia akan mengambil jatah tanahmu dan menghadapi kasus hukum dengan bank,” kata Paman Debri.
Setelah mendengar jumlah uang yang disebutkan Bapak diam saja. Gue mencomot sepotong martabak lagi. “Anak itu pasti puas dengan dua potong,” batin gue ke si Ratna.
“Ku akui tawaran itu memang kelewat rendah untuk tanah seluas itu,” lanjut Paman Debri. “Tapi, tanah tua itu diagunkan untuk pinjaman dalam jumlah besar!”
“Itu bukan pinjamanku!” kata Bapak dengan suara teramat keras, ga biasa-biasanya.
“Dia menyerahkan dokumenmu ke bank. Kenapa kau memberinya sertifikat tanahmu?”
“Dia kakakku,” kata Bapak, melawan air mata. Hatinya lebih pedih karena kehilangan kakak daripada kehilangan tanah.
“Kalau kau menginginkan uang yang lebih banyak, aku bisa memintanya kepada Yanto. Buat apa membiarkan kasus ini berlama-lama?” kata Paman Debri.
“Aku ini putra petani. Aku tidak sudi menyerahkan tanahku,” kata Bapak, matanya merah. “Langkahi dulu mayatku. Suruh dia membunuhku kalau dia menginginkan tanah itu!”
Bapak menatap gue saat tangan gue terulur guna mengambil potongan martabak yang kali ketiga.
“Tidak apa-apa, ambil saja semuanya,” Paman Debri memberi tahu gue.
Gue memandangi mereka berdua, mengambil kotak dan lari ke luar ruangan.
**
Di tempat lain.
Gue banting kotak itu di atas meja Ratna.
“Apa ini?” Anak perempuan itu memandang gue dengan mimik santun.
“Gue kan kemaren makan kue lu. Maafin gue ya?” kata gue.
“Aku ga suka martabak,” dia mengumumkan.
“Kenapa? Memangnya lu bule atau apa sampai ga suka martabak?” timpal gue.
“Bukan. Martabak membuat kita gemuk. Aku ga mau gemuk,” katanya.
“Tar cokelat ga bikin gemuk?” tanya gue.
“Aku ga mau,” katanya. Didorongnya kotak itu pelan-pekan ke arah gue.
“Ya udah,” gue berkata dan mengambil kotak tersebut.
“Apa tadi kamu minta maaf?” ujar Ratna.
“Iya,” jawab gue. Gue memperhatikan bahwa kepangan rambutnya digelung ke atas, diikat dengan pita merah. Dia kelihatan seperti tokoh kartun.
“Permintaan maafmu diterima,” katanya.
“Terima kasih,” ujar gue. “Yakin lu ga mau martabak ini?”
“Iya. Perempuan gemuk ga bisa jadi pramugari,” katanya.
“Lu mau jadi pramugari?” tanya gue.
“Ya.”
“Kenapa?”
“Pramugari terbang kemana-mana. Aku ingin jalan-jalan ke banyak tempat.”
“Oke.”
“Kalau kamu mau jadi apa?”
Gue mengangkat bahu. “Orang kaya,” kata gue.
Ratna mengangguk, seolah-olah menganggap pilihan gue masuk akal. “Apa kamu sekarang miskin?”
“Ya,” jawab gue.
Ratna berucap, “Aku kaya. Kami punya mobil.”
“Kami ga punya mobil. Sudah dulu ya. Dah…” Gue hendak beranjak pergi ketika Ratna bicara lagi.
Gue datang kembali ke kursi gue. Gue membuka kotak berisi martabak dan mengambilnya sepotong.
Ratna berjalan menghampiri gue.
“Apa” tanya gue.
“Kamu boleh makan bekalku kadang-kadang. Asal jangan ambil banyak-banyak. Dan jangan ambil kue atau cemilan enak yang lain.”
“Makasih,” kata gue.
“Dan jangan memberantakkannya. Kalau kau mau kta bisa makan sama-sama waktu istirahat.”
“Nanti makanan lu ga cukup,” kata gue.
“ Ga apa-apa. Aku sedang diet. Aku ga mau gemuk.” kata Ratna.