
Tiba-tiba...
BRAAAAAK
Pengaruh bahan baju karate yang tebal ini jadi pas bergesekan jadi bunyi. Kaya lagi pakai karung goni, anjoy!
Tanpa gue sangka-sangka Gilang tiba-tiba meluk gue. Dia nangis sesengukan kaya anak kecil. Gue tepuk-tepuk punggungnya.
"Keluarin semuanya, Gay, keluarin. Biar lu lega. Gue tahu lu cuma kaget sama kondisi kaya gini. Keluarin semuanya, Gay," kata gue pelan.
Gilang nangis sambil bersuara. Bener-bener kaya nangisnya bocil kalau mainannya rusak atau kalau minta dibeliin sesuatu tapi ga diturutin. Gilang nangis kejer sambil meluk gue.
"Gue takut, Le. Gue takut!" kata Gilang di sela-sela tangisannya.
"Iya, sama. Gue juga. Dan semua orang di sini," kata gue. Gilang terdiam. "Semua orang punya ketakutan masing-masing. Ketakutanlu adalah sebuah kewajaran, Gay," kata gue.
Gilang melepaskan pelukannya. "Gue ga boleh takut," kata Gilang sambil menyeka matanya yang habis nangis. "Lu salah. Ga ada orang yang melarang lu buat jadi penakut. Lu ga boleh sok berani kalau itu cuma membohongi dirilu," kata gue.
"Lu gimana sih, Le! Bukannya nyemangatin gue!" protes Gilang.
Heh, Gilang. Mentang-mentang adegan kita lagi sentimentil gini, jangan lu kira gue mau ngemanjain elu kaya emak-emak ke anaknya!
"Ngapain nyemangatinlu? Udah gede, bisa nyemangatin diri sendiri," kata gue. "Iiih... semangatin gue napa!" paksa Gilang dengan nada seperti anak kecil meminta dibelikan permen.
"Ga! Males," kata gue. "Ih! Ya udah!" Gilang pun kesal lalu balik badan dan pergi.
"Gay, pikirin lagi kenapa lu ada di sini! Semoga itu bisa nyemangatin elu," kata gue. Gilang menghentikan langkahnya. Dia nyimak kata-kata gue sambil munggungin gue.
Gilang berbalik badan. Dia tersenyum sambil ngacungin jempol, terus dia balik lagi memunggungi gue dan ngelanjutin langkahnya buat pergi ke arena.
"Neng... Neng..." ada yang noel-noel gue. "Ya?" kata gue sambil nengok.
"Neng penonton kan? Maaf, penonton ga boleh ke sini. Kalau Neng bukan atlet, Neng harus punya..." kata mamas-mamas sambil nunjukin ID Card yang dikalungin.
"Oh, maaf, maaf," kata gue. Gue pun melipir balik ke tribun. "Lu darimana, Le?" tanya Dwi. "Habis nyemangatin Gilang," kata gue. "Ciyeeee... Yang tanding dan disemangatin.. Ahek," kata Nita. "Slebew," kata Reka. "Apaan sih lu pada!" kata gue.
Waktu bergulir. Gilang kembali tanding. Lagi-lagi hal sama terjadi seperti pertandingan pertama, Gilang lolos karena lawannya ngelakuin pelanggaran.
"Gue ga sanggup lagi, Le. Masa Gilang setiap menang semakin nambah bonyoknya. Tadi di muka, sekarang tulang kering di kaki, sebelumnya perut sampai dia batuk darah," kata Reka.
"Iya, gue juga ga kuat. Gue boleh keluar dulu ga sih?" kata Dwi. "Ikut!" kata Nita. "Ah, ga setia kawan lu semua!" protes gue.
"Ga apa-apalah ga setia kawannya bentar aja. Nanti kalau udah kelar kita bakal setia lagi kok," kata Nita. "Somplak!" kata gue.
Teman-teman pun pamit dan mereka pergi keluar GOR. Gue masih stay sebagai supporter setia Gilang. Sebenarnya jantung gue juga lemah ngelihat yang gitu-gitu, kaya disebutin Reka tadi. Tapi tekad gue lebih besar daripada itu semua. Le, lu kuat, Le! Gilang aja yang cengengnya kaya gitu kuat nahan semua sakit itu. Masa lu enggak, Le?
Waktu terus bergulir, tiba saatnya Gilang memperjuangkan posisinya di tiga besar. Dari sekian pertandingannya, poin yang bisa dia hasilin adalah poin-poin kecil berupa pukulan, itu pun bisa dihitung jari.
Benar kata penonton di samping gue, Gilang terlalu kaku. Gilang cuma jago di teori, tapi pas terjun langsung Gilang kelihatan banget awamnya.
Mata gue udah bengkak nontonin Gilang dari tadi sambil nangis-nangis. "Kak, itu pacar Kakak ya?" kata bocil ngengangguin gue. "Bukan, itu saudara gue," kata gue. "Oh, iya iya. Cowoknya cengeng banget, Kak," kata bocil itu.
"Ha? Jangan sotoy deh lu, Bocil," kata gue. "Serius, Kak. Masa tadi saya ngelihat dia nangis di WC," kata bocil itu. "Iya, kesakitan kali. Mukanya kan bonyok semua kena hajar," kata gue. "Ya, masa secengeng itu Kak? Nangisnya kejer," kata dia. "Ah, berisik lu, Bocil! Udah, udah. Jangan ganggu gue mau nonton!" kata gue.
Gilang adalah sohib gue. Gue semakin tahu Gilang orangnya gimana. Semakin gue rela menerima kekurangan dia, semakin peduli gue sama dia. Mau Gilang cengeng kek, ga apa-apa. Dia tetap sohib gue.
Pertandingan kembali dimulai. Wasit sebelum meneruskan, dia melotot dulu ke si Gilang dan kaya ngomong sesuatu terus Gilang ngangguk-ngangguk. Wasit pun mengangguk juga dan memposisikan dua peserta itu di tempat biasa, di kiri dan kanan wasit.
BUUUUG...
Begitu wasit mempersilahkan mereka berantem, Gilang langsung lari maju buat ngedeketin lawan dan muka lawan kena bogem Gilang.
"YAME'! AKA IPPON!" kata wasit menghentikan dan memberi tahu bahwa Gilang mencetak poin. "OSH," kata Gilang sambil hormat nunduk sebentar.
"HAJIME!"
Pertandingan kembali dilanjutkan. Gilang kelihatan lebih agresif daripada sebelumnya. Gaya jametnya masih ada, dia suka nyengir-nyengir sendiri meledek lawan. Sayangnya lawan yang satu ini terlihat begitu tenang. Kaya ga kepancing gitu emosinya.
"HAYYAH...!"
PRAAAK... BUUUG...
Gilang mencoba menendang tapi kakinya ditangkap malah Gilang dikunci terus dibanting sama lawannya dan pas jatuh Gilang kena pukul perutnya. Gilang batuk-batuk lagi.
"YAME!"
Tim medis dan wasit memastikan kondisi Gilang lagi dan Gilang kaya ngotot pingin melanjutkan pertandingan.
Pertandingan pun dilanjutkan. Gilang semakin agresif tapi tendangan yang selalu dilayangkannya selalu kalah cepat dengan tangkisan dan elakan lawan. Gue juga ngandelin tendangan sih, karena poinnya gede.
Gilang semakin kelelahan. Lawannya juga masih menahan diri kayanya. Lawan Gilang kaya kurang sering nyerang. Gue membulatkan mata. Jangan-jangan ini taktik lawan buat bikin Gilang kecapean.
"GILAAAAAANG... SAVING ENERGI!" teriak gue.
Sejak gue teriak gitu Gilang pun ga pernah lagi melayangkan tendangannya. Kayanya dia nyadar kalau dia lemah di tendangan. Sebenarnya dia pun lemah di pukulan tapi dengan pukulan Gilang bisa lebih cepat geraknya.
Dua menit pertama Gilang unggul dengan skor yang dikumpulkan pukulan-pukulan berpoin kecil, lima-tiga.
Di menit terakhir, lawan Gilang pun mulai menyerang. Gilang dibandingkan dengan pertandingan dengan peserta lainnya di awal-awal tadi sekarang Gilang kelihatan punya gerakan yang mengalami peningkatan. Gilang berulang-ulang melayangkan tangkisan.
Ternyata melayangkan tangkisan pun bisa ngabisin energi apalagi berulang-ulang. Gue bisa lihat kedua peserta itu sama-sama cape, tapi Gilang lebih parah capeknya.
Gue yakin Gilang hampir menyerah bukan karena sakit dihajar, tapi karena kecapekan.
Lalu...
BUUUUG...
Gilang kena tendangan berpoin tiga. Lawan pun unggul, poin lima-enam.
Kalau satu pukulan lagi Gilang berhasil nyetak poin, itu akan membuat draw. Tapi, tapi... Gilang... rubuh!
"Mas, tadi pelanggaran ga? Pelanggaran ga?" kata gue panik nanya-nanya ke penonton samping gue. "Enggak, Mbak. Itu tendangan berpoin. Masnya jatuh bukan karena pelanggaran. Kelihatan kok tadi full control-nya. Tekniknya jelas banget," kata orang di samping gue.
TEEEET...
Pertandingan berakhir lima-sembilan.
Ini adalah akhir dari perjuangan Gilang. Gilang dipegang tangannya sama lawannya untuk dibantu bangkit. Mereka berdua pun berdiri dengan posisi wasit di tengah-tengah lagi. Wasit berseru terus mengangkat tangannya di arah lawan Gilang. Gilang gagal menempati posisi tiga besar.
Gilang balik ke tribun dengan muka yang bonyok tapi berseri-seri. Gue sama sekali ga ngelihat kesedihan di matanya.