Miyawlova

Miyawlova
Pantes Aja, Rupanya si Bapak...



Ya ampun. Badan lengket bau keringat, lapar, capek, masa masih harus cuci-cuci beginian?


"Pak. Tenaga saya sudah habis. Boleh saya makan dulu? Padahal sebenarnya tadi saya mau mandi dulu baru makan. Nah, setelahnya baru saya akan sekalian mencuci semua..."


"Kamu ngomong apa?" Omongan gue dipotong sama bapak-bapak nyebelin ini.


"Tapi..." Ingat, Poy... Lu lagi kospley jadi Gilang. Lu adalah anak penurut. Tapi apa gue ga boleh membela Gilang sedikit aja? Mau sampai kapan Gilang diginiin sama bokapnya?


"Malah melamun! Cepat bersihkan! Setelahnya baru mandi. Nanti setelah semua selesai bersih-bersin kita semua makan malam," kata bokap Gilang.


"Kenapa matanya begitu?" Ya elah, gue cuma ngelirik alat-alat dapur yang kotor itu doang.


"Kamu jijik? Sudah sering saya bilang, lakukan saja, fokus! Biasanya juga kamu melakukannya. Semua pekerjaan yang tidak kamu inginkan akan selesai ketika mengerjakannya dengan fokus," kata bokap Gilang. Tumben ada kata-kata mutiaranya. Biasanya ocehan lu ga ada berbobotnya sama sekali.


Bokap pun memegang tangan gue, membaliknya jadi telapaknya menghadap atas terus ngasih gue sebuah spatula alias sutil kotor.


Gue pun mulai membersihkannya. Gue membersihkan alat-alat masak itu satu per satu sementara si Bapak berlipat ngan berdiri merhatiin gue.


"Dulu Bapak juga berat melakukannya. Kamu tahu sendiri saat kamu kecil pekerjaan saya menyita sebagian besar waktu saya dan pulang hanya untuk istirahat dan liburan bersama kamu dan ibumu saat weekend. Bapak tidak pernah membantu ibumu mengerjakan pekerjaan rumah," jelasnya.


"Tekanan di kantor begitu berat, tapi Bapak melakukannya dengan fokus. Begitu pulang ke rumah energi sudah habis. Hari demi hari bertahan seperti itu terus lalu tiba saat sial saya ketika perusahaan memberhentikan para karyawannya secara sepihak, termasuk Bapak." Suasana berubah. Baru kali ini gue nyimak bokap Gilang bicara seserius ini.


"Untungnya Ibu mau bertukar peran. Dia dapat pekerjaan tetap yang bagus dan Bapak yang gantian di rumah. Ternyata bekerja di rumah sambil merawat kamu itu lebih berat. Tapi Bapak melakukannya dengan fokus."


Oh, pantas bapak-bapak setres ini suka minum, rupanya korban PHK. Juga gue baru tahu kalau orang ini dapat tekanan selama bekerja di perusahaannya dulu. Pantas saja dia menekan Gilang, baru gue paham.


"Makanya Bapak ingin kamu terbiasa untuk selalu fokus. Bapak ingin kamu jadi orang yang struggle, seperi Bapakmu ini!" Hemh, mulai deh narsisnya nongol lagi.


"Singkirkan hal-hal yang ga penting. Kita bertahan hanya dengan fokus mengerjakan apa yang ada di depan mata kita!" lanjut Bapak.


Pantaslah Gilang ga dibolehin ikut ekskul apapun. Dia rupanya disuruh fokus belajar doang dan nyelesein sekolahnya tanpa melakukan hal-hal yang dianggap ga penting itu.


Tapi lu kan udah tuwir, Pak. Masa lu ga tahu sih pentingnya belajar berorganisasi, pentingnya bersosialisasi? Apa lu segitu hebatnya dapat tekanan di kantor? Kayanya ni orang tipe-tipe manusia kaku yang ga bersosialisasi di lingkungannya deh.


Buktinya, setelah di PHK kenapa terus-terusan di rumah? Kenapa ga kerja lagi? Katanya di PHK-nya pas Gilang masih kecil, berarti udah bertahun-tahun dong? Kayanya gue bisa nebak ni orang dalamnya kaya gimana.


Selama ini Gilang diurus sama dia dan Gilang malah jadi produk yang melehoy kaya gitu. Ya untung sekarang Gilang mau beradaptasi jadi melehoynya semakin berkurang.


Bapak nyerocos mulu dan mungkin dia kecapean jadi diam.


"Terimakasih Bapak sudah mendidik saya jadi orang yang fokus. Semoga kedepannya saya tidak mengecewakan Bapak," ucap gue. Buat formalitas aja omongan gue itu. Aslinya gue gedek sama ni orang.


"Bagus, bagus. Lanjutkan ya bersih-bersihnya." Orang itu pun pergi.


Ah, bete gue. Belum juga setengah gue nyelesein kerjaan ini. Gue pun mengambil headset dan HP. Gue ngerjain kerjaan ini sambil dengerin musik aja.


Gue nyanyi. Ah, suara Gilang main di nada lebih rendah dari nada gue. Gue pun jadi karaokean mengikuti musik yang lagi gue dengerin.


"GILAAANG... BERISIK!" Gue ditegur Bapak yang kepalanya nongol di pintu. Hehe, khilaf gue.


"Apa itu?" Bapak pun langsung ngelepasin headset dari telinga gue dan merebut HP gue.


"Sejak kapan kamu punya HP model ini?" tanya Bapak sambil membalik-balik HP gue. Untungnya HP gue lagi locked screen. Bahaya kalau bisa dilihat tema tampilan di dalamnya. Ga cocok buat cowok.


"I-itu... Itu hadiah doorpraise Pak." Mampus, alibi apa yang barusan gue bilang? Segala doorpraise.


"Doorpraise cara apa? Canggih sekali."


"Doorpraise cerdas cermat di sekolah Pak." Gue mengerutkan dahi. Aduh, ketahuan ga ya kalau gue bohong?


"Oh, ya sudah. Ini Bapak tahan dulu dan akan Bapak kembalikan kalau kamu sudah menyelesaikan semua itu," kata Bapak sambil nunjuk ke peralatan masak yang kotor itu.


"Iya Pak. Iya iya." Gue pun bersih-bersihnya semakin ngebut, demi menebus kembali HP gue. Semua seisi dunia gue ada di situ, jangan sampe diapa-apain sama Bapak.


Orang itu udah pergi dan membawa HP gue pergi. Gue fokus, fokus, fokus. Gue sambil ngerebus air deh. Nanti kan gue mau mandi pakai air hangat.


Setelah beberapa waktu kemudian akhirnya kerjaan gue pun selesai. Ini saatnya gue mandi.


Gue siapin airnya dulu di dalam ember-ember dan gue tuang air panasnya sampe suhu air di dalam ember itu pas.


Gue pergi ke kamar mandi, gue kunci dari dalam, gue lucuti pakaian Gilang dari badannya itu satu per satu.


Tinggal bagian itu. Aduh, gue belum siap melihat monster itu. Monster yang ada di selaangkangan. Gue intip pelan-pelan dan


"AAAAA..."


CTEK...


Suara karet kaancut.


... ga jadi! Gue ga jadi ngebuka bagian itu.


Duh gimana nih? Gimana caranya gue mandi kalau begini?