Me Vs My CEO

Me Vs My CEO
Bab 8 Mengkhawatirkanmu



Hujan deras sejak siang tadi membuat hampir sebagian besar jalanan kota Bogor tergenang.


kemacetan panjangpun tak bisa terelakkan lagi.mobil hanya dapat merangsek sekian centi saja. yyaahh macam tak bergerak membeku oleh dinginnya hujan.


sesekali kugeser geser ponselku


kulihat jam disudut atas kanan layar 17.00.aku masih berkutat disini tak bisa melakukan apapun.


mataku menatap lurus mengawasi mobil didepan yang sama tak bergeraknya.sesekali kuikuti gerakan boneka kecil yang tergantung dibawah cermin atas mobil yang bergoyang akibat Ivan yang terkadang mengerem mendadak.


"apa kita akan terjebak disini semalaman,Van?"tanyaku gusar


"enggaklah,lihat polisi sedang mencoba mengurai kemacetan"sahutnya terdengar tenang


"aku lapar sekali"keluhku


"nanti kita cari makan kalo udah ada restoran.ini yang ada distro"ucap Ivan sambil melihat sekeliling


"ini hujan kenapa nggak reda juga"desisku


Kulayangkan pandanganku keluar jendela.hujan masih deras terlihat ditrotoar orang lalu lalang memakai payung.


ponselku bergetar ada pesan whatsapp masuk.


My Beiby:


Sayang,aku sudah di depan apartmentmu


Aku:


masuklah dulu Sayang,aku masih di Bogor.mungkin 2 jam lagi baru sampai


Tak berselang lama balasan dari Kail muncul.


My Beiby:


sedang apa di Bogor?sama siapa?Bogor sepertinya banjir kan?Sayang hati hatilah!singgah dulu baru lanjut kalau hujan sudah reda!


serentetan pertanyaan dan perhatian dari Kail membuatku tersenyum.


Aku baru saja mengetik beberapa kata balasan untuk Kail ketika ada panggilan masuk.


"Haris?ada apa?"gumamku


"ya Haris ada apa ?"ucapku setelah kuangkat teleponnya


"kamu dimana sekarang?"


Aku terkejut suara itu bukan Haris tapi Presdir Demas auto kututup speaker ponselku dengan telapak tanganku.


"ngapain batu nelepon segala?pake nomer Haris lagi"gerutuku sebal


ponsel kutempelkan lagi ke telingaku.


"ngapain nanya?bukankah anda tak mau melihatku?"semprotku mengkal


"dengar bawel!aku sedang malas berdebat.katakan dimana kamu sekarang?"tanya Demas setengah berteriak


"bukan urusanmu!"bentakku


"kau tuli ya?beritahu posisimu!aku menyusulmu sekarang.nyalakan GPSmu dan tetap nyalakan ponselmu!kau dengar?"perintahnya


"iya iya.aku di jalan perbatasan Bogor"jawabku kesal


"okay,tetap disana"


tut tut tut dia menutup teleponnya tanpa pamit.aku tertegun beberapa menit.menyusulku ? baru tadi siang dia merendahkanku dan tak mau melihatku.


Aku tak mengerti dengan tabiat si batu ini yang labil suka berubah semaunya.


kuhela napas panjang Ivan melirikku dari cermin atas mobil.


"benar kau ada hubungan dengan Presdir?"tanya Ivan sontak aku terkejut


"enggak lah Van.gila aja aku ada hubungan sama Presdir psico macam dia"elakku buru buru


"aku sudah punya tunangan Van.aku gak tertarik sama dia"


terangku


"kamu tahu nggak?Presdir Demas gak pernah dekat dengan karyawannya.jadi kupikir kalian ada hubungan"Ivan kembali melirikku


Aku hanya tersenyum kecut "hubungan apa?kalo menindasku iya"kedumelku manyun


Ivan tertawa lepas menatapku yang begitu kesal


Mobil merangsek perlahan kulihat air menggenang sampai ban mobil.


pengendara didepanku tampak keluar dari mobil mereka.


Ivan melepas sitbeltnya dan ikut keluar mobil.


"kamu disini sebentar aku lihat kondisi didepan"pamit Ivan


"hati-hati!"seruku


Aku kembali berkutat dengan ponselku.kuketik kembali balasan untuk Kail yang sempat tertunda.


hah centang satu lagi.


Kuedarkan pandanganku kesekeliling kenapa jadi terasa pengap.


apa?aku terkunci dari luar?ku coba membuka jendela tak bisa.pintu juga tak bisa.aku mulai panik.


"gimana ini ? Ivan kamu dimana?"desisku panik


kuhubungi Ivan sial ! ponselnya ketinggalan.aku pindah kedepan kemudi mencoba membuka pintu tapi sia-sia.


apa aku akan berakhir disini ? kutarik tasku mencari sesuatu yang bisa untuk membuka kunci


kukeluarkan semua isinya.tapi apa hanya ada kertas tak berguna.


"sial!"umpatku


Aku berusaha berteriak dan menggedor gedor kaca jendela berharap akan ada orang yang mendengar.tapi hampir aku kehabisan tenaga dan suara tak ada satupun yang mendengar.


"Toloooonnnggg"teriakku yang hanya tertahan di tenggorokan


Kurasakan intensitas udara di dalam mobil semakin menipis dan pengap.kurasakan tubuhku mulai lemas keringatku keluar semua.kulafalkan semua doa yang aku bisa.


"Ya alloh,,astaghfirulloh haladzim"


"ayah,ibu,kakek"panggilku mulai menangis


ponselku berdering Haris lagi.ku angkat dengan kepayahan.


"Presdirrr,aku terkunci di dalam mobil"ucapku lirih


"apa ? kamu dimana sekarang?"tanya Demas terdengar panik


"maafkan aku Presdir"sesalku


"Freya bertahanlah.aku akan menyusulmu"


hanyea itu yang dapat kudengar setelahnya kurasa semua menjadi berat dan gelap.


***


Ditempat lain Demas Fabian


"Freeya,kau dengar aku?kau masih disana?Freeya!"pekik Demas ketakutan


"hallo Freeya!hallo!"


Telepon terputus begitu saja rasa panik dan kekhawatiran ini membuncah tak terkendalikuletakkan ponsel didepan kemudi.Freeya masih ditempat semula belum bergerak.


jaraknya tertera tinggal 3 km tapi kemacetan ini ngular panjangnya


dengan tak sabar kubunyikan klakson berulang kali.


"hei,niat jalan tidak ?sialan!"umpatku kesal seraya memukul kemudi mobil


"woy!jalan woy!"


Kusambar ponselku serta merta aku keluar berlari menerobos derasnya hujan.


Kalimat Freeya tadi menggema dipikiranku.pasti terjadi hal buruk terhadapnya.aku terus berlari sambil mengawasi ponselku.


kulewati deretan mobil yang terjebak kemacetan.kucoba terus menghubungi Freya tapi tak diangkat.kini kami hanya berjarak beberapa ratus meter saja.ku layangkan pandanganku mengawasi mobil yang aku jumpai.


"Freeyaaaaaaa!"panggilku


"Freeya dimana kamu ?"teriak ku lagi


"Freeyaaaaa!"


kuhampiri satu per satu mobil yang berjajar dihadapanku.tapi tak ada Fredya.kulihat GPS lagi jaraknya tinggal 3 meter sekarang tapi dimana Freya ? kupandangi wajah semua pejalan kaki bukan ! bukan dia.kuraup wajahku yang bssah kuyup karena hujan.aku mulai gusar.


"Freeya,kamu dimana?"gumamku gelisah


"Freeyaaaaa!"teriakku


Entah kenapa kakiku tergerak untuk menghampiri sebuah mobil hitam yang diapit oleh pajero dan toyota vios merah.tak ada orangnya tapi lampunya menyala.


aku berlari menghampirinya ponselku bergetar tanda kami sudah berdekatan.


betapa terkejutnya aku saat kudapati Freeya tergeletak tak sadarkan diri di jok belakang.


kugedor gedor jendelanya kubuka paksa pintunya tapi tak bisa.


"Freeya sadarlah!"


"ayo bangun Freeya!bangun!"teriakku mencoba membangunkannya


" Mas ada apa ?"tanya seorang Polantas


"Tolong pak,kekasih saya terjebak didalam mobil"ucapku gugup


"biar saya cari sesuatu untuk membuka paksa pintu mobilnya"ujarnya sambil lalu


Sejurus kemudian Polantas itu kembali membawa sepotong besi dan sebongkah batu.dengan sekuat tenaga kuhantam kaca jendela mobil itu hingga retak langsung saja kutinju kaca itu sampai hancur berkeping keping.


setelah pintu dapat kubuka dengan tak sabar kubopong Freeya keluar menepi.


banyak orang berkerumun mengelilingi kami.kutekan perutnya dan kuberi Freya napas bantuan.


"buka matamu Freeya kumohon"pintaku yang hampir menangis


"cepat buka matamu!jangan membuatku takut"desisku gamang


kembali kutekan tekan perutnya dan kucucup bibir lembutnya untuk memberi napas bantuan.


tak berselang lama Freeya mulai mengerjap kerjapkan matanya.perlahan mata indah itu melebar.tersungging senyum simpul dari bibirnya yang basah.


tanpa pikir panjang kupeluk tubuh kecil itu erat erat.


"syukurlah!kau hampir membuatku mati ketakutan.dasar gadis bodoh!"kataku sambil kucium rambutnya yang basah


"bawa berteduh dulu Mas kasihan pacarnya!"perintah Pak polantas


"baik,terima kasih banyak Pak"sahutku


Kubawa Freeya ke villaku yang kebetulan tak terlalu jauh dari tempat kami sekarang teh Titis dan mang Adin begitu gugup menyambut kami.


kuminta teh Titis untuk mengganti pakaian Freeya.sementara mang Adin kuminta untuk mengambil mobilku.


"nyalakan penghangat ruangannya, teh!"titahku saat kulihat wanita parobaya itu hendak keluar


"baik Mas"jawabnya


"eh,jangan lupa siapkan makan malam untuk kami"pesanku


"siap atuuuhhh"balasnya


Kuelus lembut wajah Freeya yang masih tertidur lelap.wajah polos yang selalu menyita perhatianku.


dia bukan Dhillara yang selalu care dengan detail penampilannya.dia juga bukan Andara yang selalu cemas akan popularitasnya.


terlebih lagi dia bukanlah seperti gadis gadisku yang selalu silau akan kekayaan dan ketenaran.


dia adalah gadis sederhana yang selalu menentangku.yang selalu memancing emosiku.yang selalu kupanggil namanya disetiap mimpi malamku.


bibirku tanpa sadar telah melekat dibibirnya.baru saja akan kulumat ketika tiba tiba saja dia berteriak.


"tidaaaaakkkkk"


"ada apa?kau kenapa?"aku kebingungan kurengkuh tubuhnya dalam pelukanku


"tenanglah!kau baik baik saja"hiburku seraya kuusap rambutnya lembut


"kau di villaku"jawabku


kurasakan tangannya mendorongku kuat.dia sepertinya telah memperoleh kesadarannya kembali.


matanya yang indah menatap tajam kearahku.aku dapat menebak serentetan kalimat yang akan terlontar dari mulut bawelnya itu.


"Ivan,dimana dia?mana tasku?kenapa aku disini?"serunya


"apa yang kau lakuksn padaku?kau mengganti bajuku?"tudingnya seraya mengapit daster yang dia pakai


"kau hampir mati karena dia dan kau masih mengkhawatirkan dia?lihat saja besok kalo aku pulang aku akan membunuhnya"ancamku kesal


"kau tak usah gila!katakan kau yang mengganti bajuku?"tanya Freeya lagi merasa tak mendapat jawaban


Aku menyeringai sebal "hei bawel!kau itu kebanyakan nonton drama korea makanya halu.aku tak minat dengan bodymu jadi tak usah ke-PeeDee-an mikir aku mau menyentuhmu"dampratku seraya menatapnya tajam


"tanya sana sama Teh Titis!"seruku


"bagus kalo begitu"dengusnya


"mana tasku?ponselku?"tanya Freeya kebingungan


"ketinggalan dimobilmu.tidak mungkin kan aku gendong kamu sambil bawa tas.mana sempat"jelasku


"kau ini.trus gimana aku bisa menghubungi Kail?dia pasti cemas"sesalnya yang langsung terlihat murung


"kau sayang nyawamu atau ponselmu?ponsel bisa beli lagi"ucapku tak mengerti


Kulempar ponselku kearahnya demi melihat dia yang hampir menangis.ponselku sudah dia pegang tapi dia letakkan lagi.


"kenapa?"tanyaku heran


"aku gak hafal nomornya"sahutnya cengengesan


"dasar gadis bodoh"cibirku


Dia tak menyahut.tumbenan dia tak nyolot dengan ucapanku.dia masih mondar mandir mungkin mencoba mengingat nomor kekasihnya itu.


dia berjalan kearahku ditariknya tangan kananku yang penuh luka.


ekspresinya langsung berubah.


tatapannya nanar bibirnya bergetar.gadis ini selalu berhasil membuatku tenggelam didalam indah matanya.


"tanganmu terluka?kenapa bodoh sekali?ini pasti kena kaca kenapa tidak diobati?"cecarnya


"hanya luka kecil"sahutku


"ini bisa infeksi,biar aku obati"ucapnya


Aku hanya diam memandangi jari lentik Freeya yang begitu telaten mengobatiku.dengan hati hati dia membalut luka dipunggung tanganku dengan perban.


wajahnya yang serius kembali menggodaku.


"bagaimana?kuperban agak tebal biar air tak bisa masuk"ucap Freeya


"lebih baik"ujarku


Gadis itu tersenyum manis menatapku.auto kupegangi wajahnya dengan lembut.ku daratkan kecupan hangat dibibirnya yang basah.dia hanya diam saja.ku lanjutkan ******* bibirnya perlahan tidak ada penolakan.Freeya justru memejamkan matanya aku seperti mendapat lampu hijau.


kujelajahi bibirnya dari sisi kanan dan kiri.kurasakan dia merespon ******* bibirku.lidahnya begitu lihai bermain begitu indah didalam mulutku.menyesap,membelit dan menarik lidahku.perlakuannya ini membuatku melayang seakan meloloskan sendi antar tulang ini.begitu nikmat dan nyamannya.


tangan kananku beralih merengkuh tengkuknya sementara tangannya memegangi tangan kiriku yang mssih diwajahnya.


dia sesekali mengambil sela dengan memiringkan wajahnya kesisi berlawanan.kami berciuman cukup dalam lagi dan kami ulangi lagi.


perlahan kurasakan dia melepaskan pagutannya wajahnya merah dan tertunduk diam aku masih tertegun tidak percaya kusentuh bibirku.


dia membalas ciumanku?begitu lembut dan nikmat bahkan tak kudapatkan rasa ini saat mencium pacarku.dia bangkit dan berjalan mengambil duduk agak jauh dariku.


Aku baru sadar daster kuning model payung ini terlalu kecil untuknya.secara Teh Titis kan mini.Freya yang pakai jadi kekecilan daster itu nampak bagitu sempit membalut tubuhnya.


dengan kerutan dibagian lengan dan dada atasnya membuat lekuk tubuhnya semakin kentara.apalagi dadanya jadi terlihat membusung dan menyembul sebagian.menggoda iman macan tidur.


KKKKRRRUUUKKKKK


Terdengar suara perut keroncongan.aku menoleh kesrah Freeya.dia hanya cengengesan.


"lapaaaarrr"sambatnya


"kita lihat Teh Titis masak apa!"ajakku


Tiba dimeja makan kami sudah disambut oleh beraneka jenis makanan.Teh Titis memang tahu seleraku.Freeya terlihat sudah tak sabar ingin menyantap makanan itu.


"makanlah!"titahku


Freeya menggelung rambut panjangnya dan mulai makan.


dia melahap semua makanan yang ada didepannya.seperti orang mukbang yang tidak diberi makan berhari hari.


bagiku justru ini sangat menggemaskan dia sama sekali tak menjaga imej didepanku.


dia meenghentikan makannya saat menyadari aku memprrhatikannya


"kenapa makanku belepotan?"tanya Freya seraya mengusap pipinya


"berapa hari gak dikasih makan majikanmu?"ledekku cekikikan


"dari pagi aku sama sekali gak makan"rengeknya


"kamu bilang muak dan jijik sama aku?ngapain nyusul kemari?"tanya Freya tiba tiba


"aku tidak mau saja menanggung asuransi bila terjadi sesuatu padamu.karna kau pergi karna urusan perusahaan"terangku sembari kukunyah makananku


"karna itu?"tandasnya


"hem,kau pikir karna apa?demi kamu?ngarep"cemoohku dingin


"dasar batuuu"dengusnya mengkal


Aku benar benar terganggu dengan keberadaan Freya yang berdaster ini.dia terus saja bolak balik didepanku entah ambil minum.entah jemur baju.malah sekarang habis mandi dengan rambut masih basah membuatku makin menggila.


"kau berhentilah mondar mandir!"seruku geram


"kenapa?"


"kau ini,sengaja ya?kelakuanmu itu mempengaruhiku"tukasku dongkol


"aku bahkan tidak melakukan apapun"


"ini Tetehnya kemana?"tanya Freya seraya duduk disebelahku


mataku terpana melihat tungkai Freya yang begitu putih mulus.hhhuuuhhh dia sengaja bikin aku auto konak


"kembali ke pavilliun belakang"jawabku datar


"jadi....jadi kita hanya berdua saja disini?"ulang Freya terbata bata


"kenapa?takut?aku tegaskan lagi padamu aku tak tertarik padamu jadi tak usah parno"tegasku


"tidak tertarik tapi terus menatapku begitu"gumamnya melirikku


"dasar mesum"hardiknya


"aku mau tidur"pamitku


Kuputuskan untuk pergi tidur.sungguh aku tak mau terjadi sesuatu yang memang kuharapkan


ha ha ha ha


***


Kulemparkan bungkusan yang baru saja ku beli dari mall pagi ini.


dia tak berkata apa apa hanya mengeluarkan satu per satu isinya.


dia tampak. melotot kearahku saat menemukan lingerie warna hitam disana.tak tau apa yang salah


"36 pasti pas untuk ukuran tubuhmu yang kecil itu"tuturku santai


"cepat ganti!aku sungguh terganggu dengan dastermu itu"kataku sembari duduk disofa


"iya iya"solotnya


Tak berselang lama Freya keluar lagi dengan memakai hot pant hitam,tank top kuning dengan luaran coklat motif bunga warna kuning.makin sempurna dengan sepatu kets putih.


rambut panjangnya yang tergerai indah makin mempercantik tampilannya.


"walaaahh.cantik bener embaknya"puji Teh Titis


"pantes jadi pacarnya Mas Demas,serasi!yang satu ganteng yang satu cantik"sambungnya cengengesan


"teteh bisa aja"sahut Freya


"kapan kapan ajak main lagi ya Mas"celetuknya


"iya teh,kami pamit dulu"ucapku


Aku sudah duduk dibelakang kemudi tapi belum kulajukan mobilku.


kugerak gerakkan tanganku yang diperban.Freya memasangkan sabuk pengamanku.ku cium wangi rambutnya,ssseeerrr! ada sengatan listrik ribuan volt menjalari sekujur tubuhku saat tangannya bergesekan dengan pangkal pahaku.


"bisa tidak?atau biar aku saja yang nyetir"tawarnya


"jangan ini perjalanan jauh nanti kamu capek.lagian ini hanya luka kecil.tak masalah"tuturku


"kita berangkat!"serunya ceria


di dalam perjalanan ksmi lebih banyak diam.hanya sesekali Freya mengomentari mobil lain.atau pejalan kaki yang kami jumpai


sedang fokus nyetir tib tiba dia berteriak.


"berhenti!"teriaknya


"ada apa?"tanyaku bingung


"berikan dompetmu!cepat berikan!mana?"cecarnya


"untuk apa?"tanyaku


"cepat berikan saja!"titahnya


Kuserahkan dompetku dengan sedikit gamang.Freya keluar dari mobil.


kulihat dia menyebrang jalan dan menghampiri seorang nenek yang duduk ditrotoar dengan bakul besar disisinya entah apa isinya.


Aku tak tau apa yang mereka bicarakan.yang pasti Freya mengeluarkan uang dari dompetku memindah isi bakul kedalam plastik dan kembali ke mobil.


"ini dompetmu"ucapnya sembari menyodorkan dompetku


aku terkejut mendapati isi dompetku kosong blong.aku balik menatapnya pdnuh tanya


"kenapa tadi tak sekalian saja kau berikan kartu kreditku"solotku yang mulai melajukan mobil


"tidak ikhlas?nanti sampai apartment aku ganti"sahutnya


"kau tahu Freya,nenek seperti itu ada ribuan di jalanan.kalau lihat seperti itu kamu terharu.yang ada nasibmu akan sama seperti mereka.berakhir dijalanan"tegasku


Freya hanya tersenyum memangku kantong plastiknya


"tak ada ceritanya orang berbagi jatuh miskin.kau punya 10 kau bagi 1 dia tidak akan berkurang tapi malah tambah"ujarnya


"kalo bisa aku malah ingin membantu mereka sepenuhnya"


"memberi mereka hidup yang layak"ucapnya


"hari ini mungkin kau membantunya,tapi untuk berapa lama?toh akhirnya dia juga akan kembali ke jalanan"sanggahku


"anggap itu rejeki hari ini dariku.tapi siapa yang tau besok tuhan menggerakkan tangan yang lain untuk membantunya"dalihnya tak mau kalah


"kau kan kaya tuh,daripada uangmu kau hambur hamburkan dengan gadis gadis tak jelas itu.mending kau kasihkan mereka lebih bermanfaat"ujarnya


"membantu orang yang benar benar kesulitan itu berkah"sambungnya


"meski tidak kenal?"potongku.


"apa menolong harus kenalan dulu"tukasnya seraya menatapku


"kalo ternyata dia penipu?"desakku


"itu urusan dia dengan tuhan-nya bukan dengan kita"sambungnya


Aku terdiam tak lagi kubalas perkataannya.semakin bersamanya alu makin tahu kepribadiannya


*****