Me Vs My CEO

Me Vs My CEO
Bab 32 Bimbang



"Ay,kita pulang sekarang ?"tanya Qalila


Aku tak menjawab terus ku packing pakaianku ke dalam tas.ku hela napas kasar rasanya begitu berat untuk kulangkahkan kaki untuk kembali ke Jakarta.malas jika harus ketemu Kail harus mendengarkan kata pembelaan Kail yang memuakkan.


"lo pulang duluan aja,gue mau mampir ke yayasan"jawabku pelan


"kita takutnya entar lo nggak nyampe ke Jakarta lagi"celetuk Kinar


Kutatap dua sahabatku itu bergantian


"lah,kalian pikir gue anak TK yang nggak tau jalan pulang gitu ?"


"Ay,kita kuatir lo nggak fokus"ujar Kinar


"hei......Mikail Machalister gak bakalan bikin gue frustasi,kalian tenang aja"seruku


"bukannya kalian malah senang kita bertiga adalah trio jomblo ? kita bisa hunting oppa oppa korea ?"tawaku


"seneng apanya ? yang ada kita kalah saing dari lo"seloroh Qalila


"ayuk bus sudah nunggu!"ajak Kinar


"gue mau nrevel ke yayayasan nggak ikut kalian"


Haris menarik tas yang ku geret dan di masukkannya ke dalam bagasi mobil.terlihat Demas sudah duduk di jok belakang.aku berlari menyusul Hatis.ku keluarkan lagi tasku dari dalam bagasi.


"aku nggak mau ikut kalian"


seruku


"Presdir yang minta


"aku mau mampir ke yayasan"


"aku ikut"sahut Demas yang melongok dari jendela mobil


"nggak,besok aku baru pulang"tolakku


"tidak masalah"


"masuk Ay,nanti Presdir keburu teriak"bisik Haris


Terpaksa aku akbirnya masuk mobil.aku memilih duduk disamping kemudi.malas duduk dengan Demas,yang ada kami pasti debat.kulirik dari cermin Demas turun dan ganti duduk di kemudi.sontak mata besarku mencembung kian membulat.


"apa maumu ?"


"kamu"jawabnya singkat


"pakai sabuk pengaman"pesan Demas


"aku mau pindah ke belakang"solotku


"sudah sudah kalian berdua ini kenaps tak pernah akur "geeam Haris


"beritahu dia agar menurut Haris"titah Demas


"kau dengar,Ay ? pada akhirnys aku yang susah"gerutu Haris


"baiklah,ini demi kamu"


Kuhempaskan tubuhku di jok belakang,kupakai sabuk pengaman dan ku buang psndanganku keluar jendela.


"tak bisakah kalian damai ?"tegur Haris seraya melajukan mobilnya


"aku.cuma males dengar tanggapan miring karyawan lain,Ris.beritahu dia agar memperlakukanku sama seperti yang lain" ucapku seraya melirik Demas


"kenapa kau harus selalu peduli?"sergah Demas


"bagaimana tidak ? aku setiap hari bertemu mereka,mendengar nyinyiran mereka"


"kenapa tidak kita deklarasikan saja hubungan kita ? agar mereka diam ? atau aku harus memperingatkan mereka?"ujar Demas


Kumiringkan dudukku menatapnya "hubungan kita ? hubungan apa ?"


"mereka mengira kita berpacara. bukan ? yah kita realisasikan saja.dengan begitu aku bisa melindungimu kalo ada deterjen deterjen julid yang menyerangmu"


"netizen Presdir,"ralat Haris menahan senyum


"kau pasti sudah tidak waras"hardikku geram


"baru putus dari Mikail Machalister,aku terus nemplok ke dalam pelukan Demas Fabian yang ada aku dicuci bersih sama deterjen" tuturku manyun


"lalu apa rencanamu ?"


"aku mau nenangin diri dulu di yayasan" jawabku


"dan kau mau ninggalin tanggung jawabmu di Jakarta ?"hardik Demas


,Aku terdiam


"kau menghindar sejauh aoapun.masalahmu menunggu untuk kamu selesaikan"ucap Demas datar


kulayangkan pandanganku kearah pilar pilar jembatan yang seolah berlarian.Demas benar mau sampai kapan aku berlari ? dan bertingkah seolah tak terjadi apapun.cepat atau lambat aku harus mengambil sikap.


Mobil yang di kemudikan Haris memasuki halaman yayasan Uma Ais.baru turun dari mobil anak anak sudah mengerubuti kami.


Mataku berusaha mencari sosok yang begitu kurindukan.Shanum kenapa tidak kelihatan ?


"Kak Bi....Kak Bi....."pekik mereka


"hai Sayang....kalian apa kabar ?"


"baaaaiiiiikkkk"jawab mereka kompak


"ayo kita ke Uma"ajakku


Demas berjalan sejajar denganku sementara anak snak digiring Haris dibelakang.terlihat Uma Ais sedang menyiapkan makan siang diatas sebuah meja panjang.eanira paruh baya itu langxung menyunggingkan senyum saat mengetahui kedatangan kami.


"Bi...."sapanya


"apa kabar Uma ?"tanyaku seraya kupeluk orang yang sudah seperti ibuku srndiri itu


"baik Sayang"


kuedarkan pandanganku ke sekeliling.beda ! sepertinya baru selesai di renovasi


"ini....ini...duasana baru ya ?"


"hem"


"dapat donatur baru?"


Uma Ais menatap Demas yang berdiri di sebelahku.aku sedikit tak percaya kutolehkan kepalaku.Demas berdiri tak brrekspresi.


"Presdir Demas donaturnya Bi"


"baguslah,biar duitnya bermanfaat"


"eh...Uma mana Shanum ?"tanyaku


"loh,tadi di depan sama anak anak yang lain"


"tidak ada"


"Shela,mana Shanum ?"tanya Uma


"sembunyi,katanya nggak mau ketemu Kak Bi"


"lah,kenapa begitu ? sembunyi kemana dia ?" gumamku


"ayo kita cari Shanum !"ajakku


Aku bersama Demas dan anak anak berpencar mencari Shanum.kami sudah mengitari seluruh yayasan tapi Shanum tak juga ketemu.Aku dan Demas berjalan ke taman belakang.


"Freeya,lihat itu Shanum !"tunjuk Demas


Aku menoleh kearah yang di tunjuk oleh Demas.terlihat Shanum terduduk memeluk bonekanya.Aku melangkah perlahan menghampiri dan duduk disamping gadis kecil itu.


"hei.......cewek cantik!"sapaku seraya kurangkul tubuh kecil itu


Shanum terguguk dalam pelukanku


"kenapa Sayang ?"tanyaku


Shanum menggeleng


"hayo ngaku....kenapa cantik nggak mau ketemu sama kak Bi ? ada kakak tampan loh" bujukku


Demas berjongkok di depan Shanum,dari kejauhan tampak Haris menggiring tukang es krim dan aru. manis.


"lihat ! kakak tampan punya kejutan untukmu"ucap Demas menunjuk ke arah Haris


Shanum tersenyum lebar ketika tukang es krim itu semakin mendekat.


"es krim...es krim...."seru Haris


"Ris,panggil anak anak yang lain !"titah Demas


"Shanum mau es kri. rasa apa ?" tanya Demas lembut


"coklat"


"beri cewek cantikku ini rasa coklat,pak"ujar Demas


"ini adik cantik"


Aku mengulas senyum melihat kedekatan Shanum dan Demas.kalau diamati secara seksama mereka begitu mirip.


Anak anak lain sudah berkumpul dan dapat bagian semua.Demas duduk disampingku mengawasi anak anak yang berkejaran.


"enak banget jadi anak anak ya"ucapku


"kenapa mau jadi anak anak lagi ?"


"lihatlah wajah ceriaitu ! dama sekali tak tergambar kesedihan disana"


"Freeya sedih ataupun bahagia itu kita sendiri yang menentukan"


"tapi ada andil orang lain juga"sanggahku


"hanya sebagian kecil"balasnya


"andaikata aku melawak dan kamu tak berniat tertawa.tentu percuma"imbuhnya lagi


zaku terdiam mengawasi Shanum yang berlari kearahku kian mendekat.


"Kak Bi mau es krim ?"tawar Shanum


Aku menggeleng cepat


"untuk Shanum saja"


"aaaahhh"rajuk Shanum manyun


Aku tertawa melihat tingkah Shanum yang lucu.


"coba kakak tampan mau nyobsin rasanya"seru Demas


Shanum menyodorkan es krim kepada Demas dicicipinya sedikit.setelah itu ganti Aku.Demas tertawa geli membuatku bingung.


"kenapa ?"


"kak Bi lucu "tawa Shanum


Segerakuusap wajahku taoi Shanum dsn Demas makin ngakak.Demas mendekatiku dan menyeka sisa es krim diujung hidungku.


hhuufftt aku selalu tak bisa menolak tatapan mata yang mengandung candu ini.


kucolek es krim Shanum dan kuoleskan ke wajah Demas.auto mata Demas melotot.


"Freeya...kau !"serunya


Sebrlum Denas menbalas aku lari secepat kilat.kami jadi kejar kejaran.lrlah bermain kami makan siang dan kutemani Shanum tidur siang.kalau dia tidak tidur akan sangat sulit berpamitan dengannya.


"Uma kami pamit dulu"


"Bi,hati hati di jalan ya"pesan Uma


"hem"


"kenapa kau malah lebih sering kemari dengan dia bukan dengan Kail ?"bisik Uma


"ini kebetulan Uma,mau gimana lagi dia kan atasanku"balasku seraya melirik Demas


"tapi jujur kalian serasi"bisik Uma lagi


"ah Uma,kami pergi dulu"


***


""Haris berhenti !"pekikku


Otomatis Haris mengerem mobil secara mendadak membuat aku yang lupa memakai sabuk pengaman terlempar ke pangkuan Demas.haduuuhh ini mah pasti disengaja oleh Haris.lagi lagi mata kami beradu namun sebelum sempat Demas menyadarinya,aku buru buru bangkit.


"awas !"


"sengaja ya pingin aku peluk ?"


Aku melotot "ngarep"


"awas aku mau turun !"


Aku turun dan berlari ke seberang,ku hampiri seorang nenek yang menjajakan panganan di sebuah kios.dia adalah nenek yang dulu aku temui berjualan masih memakai bakul.


"nenek"sapaku


"eh...eneng mau beli apa ?"tanya Sang nenek


"bungkusin yang ini ya nek"pintaku


"iya"


"nenek sekarang sudah punya kios sendiri?"


"alkhamdulillah,ini berkat bantuan dari dermawan yang tak mau disebut namanya,cuma dengar dengar pemilik perusahaan F apa gitu"cerita nenek


""F Company ?"tegasku


Hatiku berdesir Demas juga membantu nenek ini ? pria ini dudah banyak berubah.


"terima kasih nek"


Aku kembali ke mobil dengan berjuta pertanyaan.apa yang diharapkan Demas dengan melakukan semua ini ?


"kenapa ?"tanya Demas


"tidak"


"Ris,mau ini ?"tawarku


"bukankah sudah ku bilang jangan makan junk food"sentsk Demas yang langsung merampas bungkusanku


"berikan !"pekikku


"tidak"


gara gara bungkusan itu ksmi kembali saling berebut.Haris melirik kami dari cermin terlihat menahan senyum.


"apa Haris ?"semburku


"kalian ini benar benar"geram Haris


"jangan makan ini Freeya"ucap Demas


"Demas,segigit aja please"rayuku


"tidak Freeya"


"Demas please"


"Presdir sekali saja sepertinya tidak masalah" sela Haris


Akhirnya Demas memberikan bungkusanku segera ku lahap kue lezat itu.


"cobain deh"ucapku pada Demas


"nggak"


"ini enak banget"


Demas semakin merapatkan mulutnya


"ayoooo hhhaakkk"


Demas membuka mulutnya ragu perlahan kusuapkan sepotong kue ke mulutnya.


"enak ?"


"aku baru pertama kali makan kue seperti ini"


"ini enak tauuuu"


;kamu harus coba makanan seperti ini lain kali"ucapku.


Tak terasa kami sudah tiba di area bawah tanah untuk tempat parkir apartement.Aku dan Demas segera turun.Haris membawakan tas kami.keluar dari lift aku begitu terkejut saat melihat Kail duduk di lantai depan pintu apartmentku.wajahnya kuyu,rambutnya acak acakan,pakaiannya lusuh itu juga pakaian yang dia pakai menemuiku kdmarin.


Demas melirikku dan berlalu masuk apartmentnya.Haris meletakkan tasku dan undur diri.aku masih terpaku menatap mata Kail yang kosong.


****


As Freeya Aqila Hasbie Rasyid