
Aku terpaku menatap punggung Freeya yang berlalu begitu cepat,dadaku sesak,hati ini begitu sakit.aku hampir kehilangan kendali atas diriku.Freeya yang teramat aku inginkan u tuk .enjadi pendamping hidupku justru masih belum bisa ikhlas melepas masa lalunya.dia belum bisa ikhlas menerima hubungan kami.
Ku banting pintu dengan kasar,ku lempar jasku serampangan,Haris berdiri mematung di dekatku yang tergabruk di sofa.
"Presdir,apa anda tidak terlalu kejam ?"tanya Haris sambil tertunduk
"jsngan pernah mengajariku !"bentakku
Haris semakin menundukkan wajahnya
"aku lawan dunia untuknya,tak kupedulikan cibiran orang tapi aku tetap kalah dari Kail" ujarku serak
"dia tetap tak bisa melepas masa lalunya,dia merasa tersakiti dengan ketidakjujuranku karna dia masih berharap masa lalunya kembali"ucapku getir
"tak akan ada masa depan tanpa masa lalu,Presdir"
"biasanya Presdir sangat logis dalam segala hal.kenapa ini tidak ?"
"apa kau akan berpikir logis saat kau diajak bertemu dan ternyata yang ngajak bertemu bersama pria lain ?"semprotku
"mungkin kebetulan"
"dia membalasku,Ris"
"dan rasanya ini lebih sakit dari kematian" ucapku dengan bibir bergetar
"bagaimana kalau Freeya benar benar resign ?"tanya Haris mengalihkan pembicaraan
"tidak....aku tau bagaimana dia"
pintu di ketuk dan di buka perlahan Qalila masuk bersama seorang pria.Haris segera menyalami orang itu zku menghampiri pria yang begitu familiar itu dan menatapnya lama.
"Presdir,beliau memaksa untuk bertemu"kata Qalila
"kalian boleh keluar!"titahku
"silahkan duduk,Kek"
Kakek Imran menatapku tajam
"aku tidak butuh duduk yang aku butuhkan penjelasanmu"kata Kakek Freeya
"maaf Kek,kami butuh waktu untuk memikirkan hubungsn kami kembali"
"Nak,Kakek tau kalian masih sama sama muda.masih berdarah muda.tapi jangan pernah memutuskan segala sesuatu di kala marah.nanti kalian akan menyesalinya"kata Kakek
"kenapa kalian kenarin buru buru memutuskan bertunangan bila akhirnya begini"sesal Kakek
"saya yang masih belum busa memahami cucu Kakek"tuturku
"tolong jangan umumkan dulu,pikirkan kedua keluarga !"pesan Kakek
lagi lagi aku terdiam
"Freeya tipe gadis dengan defend yang luar biasa apalagi kalau dia telah memilih"pesan Kakek saat keluar ruanganku
Aku membuang napas kasar,keluarga ? mungkin ini akan jadi salah satu bumerang bagiku.
______
Aku mengawasi Freeya yang tampak mondar mandir di dalam kamarnya dari jendela balkon.sepertinya Freeya sedang mengemasi pakaiannya ke dalam koper.
"dia akan pindah rumah lagi ?"batinku
Aku masih terus mengawasi Freeya yang sudah keluar sampai ke gerbang,aku setengah berlari menuruni tangga untuk melihatnya dari dekat.ada seorang pria yang sudah menunggunya di depan pintu gerbang.
"seperti inilah sifat wanita sekalinya putus hubungan dengan kekasihnya maka dia akan membuang seluruh pemberian kekasihnya"sindirku
Freeya tersenyum menatapku
"Pak,tolong nanti bawa semua ini ke yayasan ya"pintanya
yayasan ? dia tidak akan pindah rumah ?
"Presdir,jangan pikir aku takut padamu hingga aku harus pindah rumah.aku disini menyewa bukan cuma cuma kenapa aku harus pergi"ucapnya seakan tau apa yang aku pikirkan
Freeya menjentikkan jarinya di depan wajahku
"Demas Fabian ! aku terima genderang perangmu !"
"mulai hari ini aku terima tantanganmu"
"anggap kita mulai dari awal,you are nothing"kata Freeya dengan percaya diri
"jangan biarkan aku melihatmu"bisiknya di telingaku
Pipinya yang mulus kurasakan menyerempet pipiku.hangat,jantungku berdegub sangat kencang.lagi lagi aku tersihir sampai tak menyadari kepergiannya
_______