
Bandara Internasional Paris Charles de Gaulle
Setelah melakoni penerbangan selams hampir 17 jam lebih sedikit,akhirnya kami tiba di bandara Paris yang terkenal itu.di bandara kami langsung di sambut oleh orang kepercayaan Tuan Pieter,yang langsung membawa kami ke hotel.Ah bukan ini lebih tepat disebut rumah peristirahatan berkonsep etnik yang dibuat berderet memutari kolam.
Sebelum pergi orang kepercayaan Tuan Pieter yang memperkenalkan dirinya bernama Joe itu menyodorkan 2 paper bag kepadaku.
"ini dari Tuan Pieter"katanya
"terima kasih"sahutku
Aku membantu Freeya membawakan kopernya,dasar cewek perjalanan tiga hari saja bawaannya sudah seperti orang mau pindahan.
"kita istirahat dan bersiap untuk nanti malam"ucapku sebelum pergi
"ya"
"oh...ini dari Tuan Piter"kataku seraya kuserahka. paper bag kepada Freeya
"terima kasih"
lagi lagi Freeya hanya menanggapi kata kataku datar,Aku melangkah pergipun dia tak berucap apapun.
aku merebahkan tubuh lelahku hingga tertidur.
Pukul 19.00 tepat,Aku menunggu Freeya di ruang tamu.tapi dia belum menandakan kehadirannya,sampai mobil jemputan datang.
"Freeya !"panggilku sambil ku ketuk pintu kamarnya
KKRREEEKKK
Pintu terbuka terlihat Freeya masih memakai piyama mandi.rambutnya masih di bebat handuk.sementara gaun hitam nampak terbentang diatas tempat tidur.
"kenapa masih belum bersiap ?" tanyaku heran
"aku tidak mau pakai gaun itu"kata Freeya dengan wajah manyunnya
Aku tak menjawab kuraih gaun warna hitam itu,gaun itu memiliki potongan dada yang amat rendah sementara bagian belakangnya terbuka hampir ke pinggang.
masih ku tatap wajah Freeya yang manyun.
"bukankah tidak sopan bila kita menolak pemberian orang"ujarku
"lebih tidak sopan lagi kalau aku pakai" solotnya
Aku menarik napas kasar "tunggu disini sebentar"
Aku minta Joe untuk mengantarku pergi ke mall terdekat,Aku membeli gaun yang mirip dengan gaun dari Tuan Pieter tadi.sekalian sepatu dan aksesorisnya.
"kau pakailah ini"pintaku saat aku kembali
Freeya menerima paper bag dariku dan melangkah ke kamar mandi.beberapa saat kemudian dia keluar lagi dengan gaun yang aku belikan.
"tolong bantu aku narik resletingnya" pintanya sambil balik badan
Tuhan !!! tubuhku bergetar hebat disuguhi pemandangan yang luar biasa indah, punggung putih mulus tanpa cela ini begitu menggiurkan.ku tarik resleting itu dengan tangan bergetar kupejamkan mataku demi menahan konak yang bergejolak.
Freeya memantas diri di depan nakas memoles wajahnya dengan ini itu yang tak ku ketahui namanya.hanya butuh waktu kilat untuk membuatku terpukau dengan kecantikan dan kemolekan tubuh Freeya yang dibalut gaun hitam model empire.
Kurogoh kotak perhiasan di sakuku,aku keluarkan isinya,ku hampiri Freeya yang masih berdiri di depan nakas.aku lingkarkan kalung bertahtakan berlian di lehernya dari belakang.
Matanya terbelalak tangan kanannya terangkat untuk melepas kalung itu namun aku menggeleng menahannya.
"Freeya kau cantik sekali"bisikku
"kenapa harus pakai ini ?"protes Freeya
"pakai saja"
"kita berangkat "ajakku
"ayuk !"
Tiba di acara pesta Freeya mengapit lenganku dan melangkah memasuki ball room yang begitu megah.setiap pasang mata mengawasi kami.aku dan Freeya hanya menebar senyum.
"selamat malam Tuan Demas Miss Freeya"sapa Tuan Pieter
"malam Tuan Pieter"
Tampak seorang wanita cantik berambut.blonde menghampiri kami.wanita itu langsung menciumku kanan kiri dan beralih kepada Freeya.
"Helena tunanganku"kata Pieter
"Helena,they are Demas and Freeya" Pieter mengenalkan kami
"nice to meet you Belena"ujarku
"too,are you korean ?"tanya Helena
"no,i'm Indonesian"jawabku sambil tersenyum
"you look so handsome and she looks so pretty like a korean"puji Helena
Aku dan Freeya sama sama tersenyum
"Freeya really you looks so pretty in your black gown"kata Helena lagi
"you look gorgeous too,Helena" balas Freeya
Aku melangkah menghampiri pelayan berseragam yang membawa makanan dan minuman.
"sorry,do you have any moeslem meal menu please !"pintaku pada sang pelayan
"oh...of course ! we will serve it,imiditely !"
"that menu for pretty women at there"kataku menunjuk Freeya
"of course sir"
Aku kembali melangkah menghampiri Pieter dan yang lainnya.aku sengaja memesan makanan muslim untuk Freeya agar dia tak salah makan atau minum minuman untuk non muslim.
"sorry she's moeslem"tolakku sopan
Freeya tampak tertegun menatapku.sungguh aku tak tau arti tatapan ini.
"aku...aku ke toilet sebentar" pamitnya sedikit terbata
"perlu aku temani ?"tawarku
"tidak perlu"tolaknya
Aku mengawasi Freeya yang melenggang pergi.namun sesaat setelahnya aku menangkap gelagat seorang pria yang mencurigakan dia membuntuti Freeya.
segera aku mengejar laki laki itu.
langkahku terhenti saat sayup ku dengar sebuah percakapan.dan kuyakini itu suara Freeya.Aku bersembunyi di balik dinding.
"beri aku jalan !"kata Freeya
" Queen Bie ups ! Freeya Aqila Hasbie Rasyid long time no see"seru suara laki laki itu
Hatiku berdesir Queen Bie ? aku seperti pernah dengar nama itu.kenapa laki laki ini memanggil Freeya seperti itu ? bahkan dia tau nama lengkapnya.siapa dia ?
"Salman Permana beri aku jalan atau aku akan menghajarmu"kali ini Freeya berbicara agak keras
"kau makin cantik kalo sedang marah"vgoda lelaki itu
"tutup mulutmu !"bentak Freeya
"jangan sok jual mahal cantik"seru lelaki itu
"lepas...lepas..."ronta Freeya serak
Aku tak tahan untuk berlama lama sembunyi di balik dinding.ku tarik tubuh lelaki brengsek yang tengah menghimpit tubuh Freeya ke dinding.
Aku layangkan pukulan demi pukulan ke arah lelaki itu.untung aku punya bela diri yang lumayan bagus
"jangan sentuh dia,brengsek" makiku
lagi,lagi dan lagi ku layangkan bogem ke wajahnya,lelaki itu nampak tak berdaya dia lari pontang panting.
"aku akan membalasmu,Bie" teriaknya
Aku hampiri Freeya yang berdiri mematung.
wajahnya pucat pasi dan matanya berair kuseka air mata itu dengan kedua ibu jariku.
tak sabar kudekap dia di dadaku.kuhirup harum rambutnya berulang ulang.
"tidak apa apa,kau aman sekarang" lirihku
Kurasakan dia melingkarkan tangannya dipinggangku,semakin kupererat pelukanku ini.
"bawa aku pulang"pintanya dengan tangis yang tertahan
Tanpa bicara kubopong tubuh sexy Freeya meninggalkan pesta pertunangan Pieter dan Helena yang belum selesai.tak ku turunksn dia sama sekali sampai memasuki mobil.
Mobil melaju cepat,kami tak bersuara,ku biarkan dia menenangkan diri.aku masih merangkulnya.
Sampai di rumah peristirahatan Aku kembali membopongnya memasuki rumah dan kurebahkan di sofa.aku ke dapur untuk membuatkannya coklat panas.
"minumlah"
Kusodorkan secangkir coklat panas dan dia menerimanya dengan enggan.Freeya tertunduk memandangi cangkir itu.
"siapa dia ?"tanyaku sesaat berikutnya
"suami tanteku"jawab Freeya datar
"aku tidak melihatnya saat dirumahmu"
"dia selalu melakukan perjalanan bisnis menggantikan kakek"ujarnya
Freeya tampak menarik napas panjang.sepertinya dia begitu enggan menjawab pertanyaanku.
"dia selalu begini ?"tanyaku lagi
Freeya menatapku "mungkin gadis sepertiku memang pantas di rendahkan"ucapnya getir
Serta merta kuletakkan jari telunjukku di bibirnya "sssssttttt....!"
"kau bicara apa Freeya ? kau pantas di cintai"hiburku
lagi lagi dia menarik napas panjang "cinta apa ?"
"seperti kamu,yang di inginkan lelaki dari wanita hanya tubuhnya"Freeya mendesah
Hatiku begitu perih mendengar ucapan Freeya.tubuhnya ?? selama ini yang aku butuhkan dari wanita memang hanya tubuh mereka,aku merasa bbangga setelah bisa meniduri mereka.traumaku terhadap Queenara mantan kekasihku menjadikanku seorang pecundang.yang berlindung di balik harta dan kekuasaanku.
aku merendahkan mereka dengan berpikir hartaku mampu membeli tubuh mereka.kata kata Freeya membuatku berpikir ulang.ini cinta atau nafsuku untuk menaklukkannya ???
Kurengkuh dia dalam pelukanku kuusap rambutnya lembut.
"aku janji Freeya,aku akan melindungimu" bisikku
Ku sentuh wajahnya,kukecup keningnya lembut dia hanya diam,kembali ku kecup dua belah matanya yang terpejam dia tak menolak.bibirku turun menghirup hidungnya dia mulai menggeliat.
Kini bibirku tiba di bibirnya yang sexy kupagut perlahan.dia justru membuka mulutnya seolah memberiku jalan.segera saja kunikmati bibir itu dengan rakus.bibirku menyapu setiap jengkal wajahnya dan beralih ke leher,ku dengar Freeya mendesah indah.ku teruskan permainan bibirku di lehernya,dengan gemas kurasakan dia menjambak rambutku.
Kesadaran mendominasi segera kubawa dia ke kamar,kurebahkan di atas tempat tidur dan kuselimuti.
"have a nice dream bidadariku"bisikku
Aku bangkit dan meninggalkan Freeya yang mematung,aku tegaskan diriku sendiri.aku mencintainya bukan menginginkan tubuhnya.
****