
"Presdir Demas!!!"
itulah pekikan penumpang seisi bus saat tahu yang naik ke dalam bus tidak lain tidak bukan adalah Presdir Demas Fabian.seisi bus langsung ricuh karna mereka saling berebut ingin duduk dengan Demas.
"Presdir duduk dengan saya" seru mereka
"dasar bar bar"dengusku
cewek cewek super ganjen itu bergantian bergelayutan di lengan Demas.si batu mesum itu bahkan bersuarapun tidak.segera saja ku buang pandanganku ini jauh ke luar jendela.males banget lihat model cewek modal\-madil seperti itu.aku tersentak saat kurasakan kursi sebelahku berderit kontan aku menoleh.
"kauuuuu...."seruku
"kenapa duduk disini?kenapa tidak duduk dengan salah satu dari mereka?"protesku
Demas tak segera menjawab dia malah sibuk membenahi duduk nya.sejurus kemudian dia menatap lekat kearahku.senyum tipisnya menyiratkan sejuta arti.
"kan cuma kursi ini yang kosong"
"kalau begitu aku mau tukeran tempat"ucapku sembari bangkit
reflek Demas menahan pergelang
an tanganku dan menarikku kem
bali duduk.auto mata indahku membesar meloloskan sorot tajam
"aku mau pindah"ujarku
"tetap disisiku!ini perintah Freya kau dengar!"serunya
"anda tau ?bus ini isinya cewek semua.anda salah naik bus" ucapku dengan suara tertahan
"jalan pak!"perintah Demas
"aku ingin bersamamu Freya"
"haiiss...mulai deh"keluhku
suasana bus kembali riuh sayup terdengar mereka membicarakan
aku.aku yakin Demas juga bisa mendengar itu tapi batu ini cuek saja
"anda dengar?mereka membicara kan kita"
"kau diam saja!"
"sungguh bikin masalah saja"
kedumelku
"bagaimana kau ingin aku beri sanksi kepada mereka ? atau aku harus memecat mereka?"
aku tak tau entah ini tawaran atau tantangan ? bisa jadi ini ngelulu kalo orang jawa bilang.pelan aku menoleh kearahnya SIAL !! lagi mata kami tak sengaja saling. beradu.
"tidak perlu"
"lalu"
kubalas tatapannya kali ini dia tersenyum simpul
"sebenarnya simple,anda turun dari bus ini ! beres"ucapku tenang
"sebenarnya ada yang lebih simple lagi.kita turun dan naik mobilku.tak akan ada yang mem-bicarakan kita"usulnya
"itu shi bukan pilihan.ogah !"
sahutku
"kalo begitu diamlah perjalanan masih panjang",ujarnya
Santai dia menyandarkan kepala nya di bahuku.sontak yang duduk diseberang kursiku saling berbisik ini batu demen banget mencipta kan masalah baru untuk ku.dalam hati ingin sekali rasanya pindah tempat.tapi bisa kutebak itu akan menimbulkan masalah yang lain lagi.
ponselku berdenting kurogoh sakuku.heh Qalila pasti mau nge-bully nih.kuputar bola mataku malas.
Qalila :
cie yang duduk sebelahan sama
Presdir....
gimana rasanya ???
Aku :
Eneg
Qalila :
lo tau gak ???
kita yang ada dibelakang lo
pengen ada diposisi lo
Aku :
kalo gak mikir nih entar dia
bangun terus bikin masalah
tukeran tempat deh
terdengar suara cekikikan dibela
kang kursiku.
Aku :
sialan lo :/
Qalila :
gue baru nemu cewek duduk
sama cowok keren malah illfeel
Aku :
:\( gimana gak illfeel cuma bisa
nelen saliva doank :\(
ngenes
lagi terdengar gelak tawa di bela
kang sana.kali ini aku yakin tidak hanya Qalila yang tertawa tapi yang lain juga.SIALAN !!!
VILLA KOTA BUNGA ESTATE
tulisan itulah yang aku baca saat perlahan bus yang kutumpangi mulai merendek.ku sentuh pipi kanan Demas dengan tangan kiri ku.
"kita sudah sampai"bisikku
"biar mereka turun dulu"jawab nya malas
"aku turun dulu kalo gitu"
lagi-lagi tangan Demas menahan ku.matanya yang sipit makin me-micing menatapku tajam seolah melarangku tanpa kata.dengan berat aku kembali duduk.kuawasi teman-temanku yang saling berebut turun.
kloter kali ini memang di dominasi oleh para penggede F Company dan teman satu divisiku.jadi sudah pasti usianya diatasku semua.
Demas tak mengijinkanku membawa ransel.dia meminta Pak supir membawakannya sekalian.
aku mengekor saja saat Demas menarik tanganku memasuki area villa.wow !! villa ini mengusung konsep gaya arsitektur jepang jadi tak heran jika sekali masuk aku langsung disuguhi hamparan taman dengan beraneka bunga tak terkecuali sakura.Aku makin dibuat terpukau dengan ornamen villa yang cantik.
sekali masuk hawa nyaman dan tenang langsung menyapa.villa ini cukup besar dengan 3 kamar tidur ruang tamu.tengah.dapur dengan fasilitas lengkap ada kolam renang nya pula.
"terima kasih Pak"ucap Demas saat sang supir meletakkan ransel kami
"iya Presdir,apa saya perlu kem
bali ke Jakarta?"tanyanya hati-hati
"bukankah sudah ada pem-beritahuan kemarin ? supir perusahaan dibolehkan membawa keluarganya untuk berlibur"ucap Demas tegas
"saya tidak masuk kemarin anak saya baru pulang dari rumah sakit Presdir"ujarnya
"pulanglah bawa keluargamu berlibur!"perintah Demas
"tapi......"
"ahh Haris,berikan kunci mobil!biar bapak ini menjemput keluarganya!"seru Demas kepada Haris yang baru memasuki villa
tanpa bertanya Haris menyerah kan kunci mobil dan sejumlah uang pada lelaki itu.wajahnya tampak senang campur bingung.
"terima kasih banyak Presdir"
"pergilah!"
aku tertegun beberapa waktu.aku masih tak percaya dengan apa yang aku lihat barusan.seorang Demas Fabian begitu percaya dan perhatian dengan seorang supir perusahaan ,??
"Haris,pastikan semua supir membawa keluarganya!"titahnya
"baik"sahut Haris sambil lalu
"kenapa?"Demas menoleh ke arahku
"aku mau satu villa dengan temanku"ucapku
"kenapa ? karyawan lain justru sangat ingin satu villa denganku"
"itu mereka bukan aku"solotku
"kau takut berdua saja denganku?
kau tenang saja ada Haris"ujarnya
"iya,aku punya perasaan yang harus aku jaga Presdir,mengerti?"
"kau berpikir terlalu panjang toh bukan sekali ini kita berada di posisi seperti ini.dan tidak terjadi apa-apa kan?aku tidak akan me-
rusakmu Freya.kau dengar!"ucap Demas dengan tajam
Tuhan !!! bagaimana bisa aku katakan padanya kalau ketakutan ini bersumber pada diriku sendiri?
yyaahh mungkin dia tak akan menggodaku kalau aku yang ter-goda bagaimana ???
"kau terus saja memikirkan perasaannya tapi apa kau pernah pikirkan perasaanku ?"tukasnya dengan tatapan tajam
kerongkonganku serasa tercekat mengering seketika.tatapan mata nya yang mengerikan laksana bola bowling yang meruntuhkan sendi tulang penyangga tubuhku.
"aku tak berkewajiban memikir
kan perasaanmu"elakku
"kenapa tidak Freya? aku juga memiliki perasaan yang sama terbadapmu.sama seperti perssaan nya padamu"desaknya
"tapi perasaan tak bisa dipaksa"
"tapi setidaknya dihargai"
kududukkan tubuhku yang semakin lemah diatas sofa.bibirku kelu sungguh terasa berat untuk berucap.
"kita selalu berdebat masalah ini
ujung-ujungnya aku terkesan menjadi tersangka yang menyakiti mu"ucapku seraya menoleh kearahnya yang kini duduk diseberang sofaku
"aku serba salah,aku sudah seperti seorang tersangka yang tak terselamatkan"keluhku
"silahkan kalo kamu mau pindah"
Aku urung demi melihat punggung Demas menghilang di balik pintu.
aku harus bagaimana coba ? aku jauhi hatiku tak rela.aku dekati sudah pasti aku tak bisa menolak dia.lalu Kail bagaimana ??? Aku berlari ke kamar Demas saat ku dengar suara teriakan.ku nyalakan lampu utama.terlihat Demas terduduk memeluk bantal wajahnya pucat dan keringat mem
basahi wajahnya.
"dia pasti mimpi buruk lagi"aku membatin
aku duduk ditepian tempat tidur kugenggam tangannya lembut ku kecup punggung tangannya.Haris berdiri di sebelahku dengan panik.
"ambilkan air minum Ris!"titah
ku
"aku tidak apa-apa"
"wajahmu pucat dan tanganmu dingin sekali kamu bilang tidak apa-apa"seruku
"kenapa kau pedulikan ? kau tak berkewajiban memikirkannya" ucapnya datar
SIAL !!! Demas membalikkan kata-
kataku.kuawasi Demas yang tak mau menatapku.kuseka keringat nya dengan ujung bed cover.kini dia menatapku sinis.
"kenapa kau masih disini?bukan
kah kau ingin pindah?"ujarnya
"aku ingin disini"
"karna kasihan ?"lagi Demas menatapku menajam
Aku membisu nampak matanya berkilat-kilat memancarkan api ke
marahan.
"kau boleh katakan ini kasihan,
ini kewajiban,ini keinginan atau apalah terserah,yang penting aku ingin disini"sahutku asal
"Presdir minumlah"ucap Haris menyodorkan segelas air
"keluarlah"titahnya
"baik"
"kenapa masih disini kau juga keluar!"bentaknya saat aku masih tak bergeming
"tidak!"
"keluar!aku bilang keluar!"suara
nya menggema disrluruh kamar
"aku bilang tidak"tolakku
Lengang beberapa saat
"keluarlah aku mau tidur lagi"
kali ini Demas berbicara dengan lebih lembut mungkin dia merasa menyesal telah membentakku tadi
Demas kembali merapatkan selimutnya.aku bangkit memati kan lampu utama hanya tersisa lampu tidur.aku tutup pintunya dan kembali berjalan kearah tempat tidur aku berbaring di sebelah Demas.kutata bantal di sebelahnya tepat di bawah kepala nya kutepuk bantalku lembut Demas menatap ku dengan bingung namun segera menangkap isyaratku tadi dia rentangkan tangannya auto kepalaku merebah menjadikan lengan kekar itu sebagai bantalku.
Kurasakan tangan kanannya melingkar di pinggangku sementara hidung mancungnya mengendus rambutku lembut.
sedikit kumiringkan tubuhku mem belakangi Demas seraya ku pegangi tangannya yang kini me lingkari pinggang dan perutku.
"tidurlah"gumamku
Demas tak menjawab hanya kembali kurasakan kecupan di rambutku.aku mulai terpejam deru napasnya yang halus bak angin surga yang segera lembut menerbangkan aku kealam mimpi.
***
Pagi ini tanpa disengaja kita bak couple dengan kembaran hem merah dan dalaman putih.cuman bedanya Demas pakai celana jeans biru aku 0akai hot pants hitam.
pagi ini wajahnya terlihat cerah tak seperti kemarin malam.
"ayo kita cari sarapan!"ajaknya
"Haris mana ?"
"ngecek temen kita"sahutnya sambil jalan
"setelah sarapan aku mau ke Kinar dan Qalila"ujarku
"kita akan ketemu mereka di little venice nanti"jawabnya santai
diluar sudah menunggu seorang lelaki paruhbaya dengan 3 sepeda nya.dia regopoh gopoh mengham
piri kami.terlihat dia begitu hormat pada Demas.
"sepeda yang aden pesan"
"kamu suka yang mana Freya?"
Demas menoleh kearahku sambil memegangi stang sepeda
"sepeda ?"
"hem,kita akan berkeliling kota bunga naik sepeda"ujarnya
"oke"sahutku
"kita sarapan dulu baru mulai berkeliling"usulnya
aku menurut saja kemana Demas membawaku.aku anggap dia tour guideku kali ini.aku mengawasi sekeliling sudah ada banyak turis yang lalu lalang bersepeda seperti kami aku mulai sadar kalau aku se
ngaja dipisah dari Kinar dan Qalila
LITTLE VENICE
Tulisan besar itulah yang bangga menyambut kami saat memasuki gerbang miniatur kota Venesia di Italia.sungguh hanya keindahan yang tergambar dari tempat yang memang dirancang semirip mungkin dengan Venesia ini sebuah danau buatan lengkap dengan kanal dan gondolanya.lagi taman cantik dan wahana bermain
kini kami tengah duduk disebuah resto yang tidak hanya menyuguh kan makanannya yang lezat tapi juga pemandangan yang asri.
"kenapa?"tanyaku saat kulihat Demas berhenti makan
Demas hanya mengulas senyum dan menyodorkan tisu padaku.ku raih tisu dan gugup kuseka bibirku dia malah makin terkekeh.aku makin bingung kulempar tisu bekas kearahnya
"apa shi ?"seruku dongkol
"iseng"sahutnya cengengesan
"hhiiicchh dasar"geramku dengan suara agak keras
pengunjung lain menoleh kearah kami.cueklah !!! selesai makan kami lanjut berkeliling.
"aku mau naik gondola"seruku
"boleh"
Demas memapahku menaiki gondola.aku duduk mengawasi pe mandangan indah dari kanal.ku rogoh ponsel dari sakuku.kuambil beberapa foto
"membosankan"kedumelnya
"ayo kita foto Presdir"ajakku
"enggak"
"ayolaaaaahhhh"bujukku
kuarahkan kamera depan kearah kami tapi Demas malah pasang wajah jutek.
"senyum napa?"protesku
"ini membosankan Freya"kilah
nya dingin
cercaku
"senyum"desakku sambil ku cubit pahanya
kontan dia berteriak pas kujepret gambarnya.aku mengulum senyum kalo tampan mau ekspresi apapun tetap tampan.
"hapus Freya!"teriaknya
"tidak,ini momen langka"seruku girang
"berikan padaku biar aku hapus"
"tidak!"
"berikan!"
Demas mencoba merebut ponsel ku.aku terus berusaha memper-tahankannya saling berebut ini membuat gondola oleng.bapak pendayung menoleh kearah kami.
reflek kami tertawa kompak seolah tak punya dosa.Demas merangkul bahukku dan kembali ku jepret.dengan gemas dia mengacak-acak rambutku ganti ku toyor lengannya sambil tertawa.
Setelah dari gondola kami ber lanjut ke wahana permainan. semua permainan kami naiki tak ada yang terlewat.tertawa teriak histeris seperti orang gila.keringat bercampur airmata menetes bersamaan karna saking histeris nya.
"kita istirahat dulu aku capek sekali"ucapku sembari ku selonjorkan kakiku di hamparan rumput jepang
"kau gila!jantungku mau copot tadi"
Demas merebahkan kepalanya di pangkuanku kuedarkan pandanganku ke sekeliling disini banyak pesepeda berlalu lalang.
ini batu sengaja apa gimana ?
"Presdir malu"desisku
"biarkan saja toh mereka juga tak kenal kita"jawabnya santai
"tapi maluuuuu"tuturku dengan suara tertahan
"aku yang lebih malu",
kutajamkan mataku menatapnya
dia balas menatapku.
"malu kenapa?"
"kau histeris terus memanggilku Presdir.semua orang menatapku aneh tak bisa kau panggil nama ku?"
"tidak bisa"
"panggil Sayang kalo gitu"
"ngarep ah"
"bukankah dimata orang.kita ini sudah seperti sepasang kekasih?"
"haluuuuu"seruku seraya kupencet hidungnya
Demas membalasku dengan menggelitikiku kontan aku tertawa dan meronta membuat kepalanya terjatuh ke atas rerumputan.aku belari dan Demas mengejarku.
"ampun jangan gelitikin lagi"
teriakku histeris
"ya sudah jangan lari lagi.aku gak akan gelitikin kamu lagi"ucap Demas dengan napas ngos-ngosan
"bohong,kalo aku berhenti entar kamu nangkep sku"ucapku seraya kupegangi lututku
"lah,masa kita jauh jauhan?"
"tapi jangan digelitikin"syaratku
"enggak Freya,janji"
"bohong!"
serta merta Demas memelukku dan membawaku berputar putar
kedua tanganku bertopang di bahu nya.lagi aku hanya bisa tertawa dan memukul kecil dada bidang Demas.
"turunin aku"pekikku
"enggak"
"Demas turunin aku,please!" pin
taku lirih
"apa aku tidak dengar?"tanya
Demas
"Demas aku mau turun malu di lihat orang"ujarku lembut
Perlahan tubuhku ini mulsi turun sampai wajah kami sejajar.hidung kami saling beradu.mata kami sali
ng bertemu.lama kami diposisi ini.
pinggangku masih direngkuhnya sementara kakiku masih menggan-tung tidak mencapai bawah karna Demas yang terlalu tinggi.
rapat kukatupkan mulutku ini pertanda tidak baik saat dia mulai memiringkan wajahnya dengan tatapan begitu sendu.kurenggang kan rengkuhannya dan merosot turun.aku kembali duduk diatas re
rumputan sambil selfie,Demas hanya diam menatapku.dia tak tau saja aku berhasil candit beberapa posenya.seringai licik terbit dari bibirku tahu kelak ini akzn seru.
Mataku tiba tiba terpusat pada srorang penjual arum manis di seberang tempatku duduk.ku rogoh sakuku kanan dan kiri tapi sial tak kutemukan dompetku.ini pasti tertinggal di kamar.
"Demas,aku mau itu!"rengekku
"apa?"
"itu!"tunjukku kearah arum manis
Demas lantas berdiri menghampiri penjual arum manis.ponsel di sakuku memekik segera ku raih ternyata dari Kinar.bola mataku hampir melompat keluar ketika melihat foto yang baru saja di kirim oleh Kinar.apa tidak salah ??
Kail dan Arsyila juga berada disini mereka berangkulan begitu mesra juga makan bareng.ada apa ini ???
sudut mataku tiba-tiba memanas
kuputar bola mataku ke atas agar air mataku tak jatuh.
Kinar :
Maaf bukannya gue sengaja mau
merusak liburan lo bebz
tapi gue putusin lo harus tau ini
Kail pancingan tuh brengsek
dadaku rasanya sesak membaca chat dari Kinar.mereka mengulang hal yang kemarin sempat kucegah
Aku :
lokasi mereka dimana ?
Kinar :
Taman Nusantara
Aku :
awasi terus aku otw kesana
Aku bangkit dan berbalik Demas sudah dihadapanku sambil makan arum manis.tangisku tertahan oleh kelakuannya yang bikin kesal tapi juga lucu.sejenak aku lupa akan tujuanku tadi.
"kok malah kamu makan ? arum
manisku mana?"tanyaku manyun
"habis,tinggal ini ya aku makan"
ucapnya sambil makan arum manisnya
"gimana shi harusnya kau berikan padaku,sini berikan!"seru
ku seraya merebut atum manis itu
Demas mengangkat arum manis itu tinggi\-tinggi aku sampai me lonjak untuk meraihnya itupun tetap tidak bisa.aku hampir putus asa,aku berbalik dengan kesal.
sejurus kemudian Demas meng-ulurkan tangannya yang meme-gang arum manis yang masih utuh dengan senyum manisnya.
"taraaaaaaaaaaa!"serunya
sumpah aku malah semakin ingin menangis
"dasar"hardikku
"dasar ngambekan"cemoohnya
kunikmati arum manisku sambil jalan.ponselku kembali berdenting
sungguh kalau tidak ada Demas aku pasti sudah menjerit melihat foto yang baru saja di kirimkan oleh Kinar.sudut mataku ini semakin panas,aku mempercepat langkahku keluar dari Little Venice
bahkan tak kupedulikan Demas yang masih di belaksngku.
"kau mau kemana Freya ?"tanya Demas heran
"aku mau ke Kinar"sahutku
"aku akan mengantarmu"
"tidak perlu"
bergegas aku menaiki taksi dan ku biarkan Demas terpaku ditepi jalan.kulihat dari spion taksi pria itu menelepon.mungkin Haris.aku sudah tak peduli.kutahan air mata ini semampuku tidak lucu kan aku menangis meraung-raung ditaksi.
"kemana kita mbak?"tanya sang supir
"taman nusantara kang"sahutku
ponselku berdering kulihat ternyata dari Mr Moody.
"kau kemana ? kenapa panik gitu?"tanya Demas setelah kuangkat
ku hela napas panjang "aku ke Kinar"
"iya ke Kinar itu kemana ?"
"taman nusantara"jawabku datar
"kalo tadi kamu bilang aku bisa mengantarmu Freya"
aku tertegun sesaat,aku tak mau Demas tau masalah ini.
"ini acara cewek nanti kamu malah ganggu"ujarku beralasan
"kau ini,aku mencemaskanmu"
"aku tutup teleponnya ya"pamitku buru-buru
Kinar dan Qalila sudah menunggu ku di depan gerbang.keduanya spontan memeluk tubuhku dan menggiringku ke sebuah tempat.
Kutelepon Kail namun lama tak diangkat.aku mengambil posisi tepat dibelakangnya agak jauh tapi aku masih bisa jelas melihat apa yang dia lakukan.
Kekasihku tengah asyik berdua\-an dengan sahabat karibku sendiri
tepat di depan mataku.aku bahkan tak mampu melukiskan hancurnya hati ini.entah bak langit runtuh ? ibarat disayat sembilu ? atau bagai disambar petir ? tak tau bagaimana aku menggambarkan-
nya bagiku ini lebih dari semua itu.
"Sayang, lagi dimana?"tanyaku setelah teleponku diangkat
"dirumah Sayang"
terlihat Kail menerima teleponku agak menjauh dari Arsyila.
"pembohong"jerit batinku
aku memang lupa tak memberi
tahunya kalau aku berlibur ke Puncak mungkin ini cara tuhan menunjukkan semua tabir ini.
"Sayang tidak keluar kan weekend?"pancingku
"tidak Sayang,mama pengen aku dirumah.minggu kemarin kan sama Sayang"
"eemm.....ya sudah aku tutup teleponnya ya"
"i love you Sayang"
ku gigit bibir bawahku agar air mata yang sedari tadi berdesakan ingin keluar dapat kutahan.tak ku balas kalimat terakhirnya langsung ku tutup panggilanku Kinar memelukku sementara Qalila me-
ngelus punggungku.kuawasi srmua yang mereka lakukan dengan perasaan hancur.
"si brengsek itu minta dihajar Ay,mau sampai kapan kita cuma jadi penonton kemesraan mereka?"geram Kinar
"sabar dulu Ki,kita kumpulkan bukti dulu.kalo kita labrak mereka sekarang.mereka masih bisa ngelak"cegah Qalila
"gue udah geram banget pengen ngremus tuh cewek tak tau malu,kegatelan sama pacar sahabat sendiri" celoteh Kinar
"kita awasi aja dulu"ucapku parau
tak kusadari kami mengikuti mereka hingga ku Puncak Pass Resortsejauh inikah ? mereka sampai boking hotel segala ,???
aku berlari ke arah resepsionid yang baru ditinggalkan pasangan di mabuk cinta itu.
"maaf,mbak kami tidak bisa memberi informasi apapun terkait tamu hotel ksmi"ucap sang resepsionis
"yang masuk tadi kekasih saya mbak"ucapku
"maaf mbak saya tidak bisa membantu"tolaknya
"saya mohon ini urgent"desakku
"maaf mbak"
"berikan kunci serepnya mbak!"
perintah Demas yang entah sejak kapan ada di belakangku
Demas terlihat menyodorkan sebuah kartu yang membuat sang resepsionis langsung pucat.dia begitu gugup mencari kunci serep yang diminta dengan tangan gemetaran.
"ini kuncinya"
"terima kasih"
setengah berlari aku menuju lift yang akan membawaku ke kamar kekasihku.Kinar dan Qalila terus mendampingiku
Kuurut nomornya dari ujung.ini pertama dalam hidup melakukan hal segila ini.aku masih berdiri di depan pintu dengan tubuh bergetar.mataku terpejam mencoba membayangkan hal apa saja yang mungkin terjadi di dalam sana.
Kubuka pintu perlahan sayup terdengar suara desahan yang saling bergantian.aku semakin ke dalam.seluruh persendian pengait tulang penyangga tubuhku seakan lolos memaksa tubuhku lemas seketika.airmata yang sedari tadi kutahan jebol seketika.kekasihku dan sahabatku tengah bergumul di atas tempat tidur pure tanpa busana.serta merta keduanya menutupi tubuh polos mereka dengan selimut.wajah mereka pucat pasi.tangisku bahkan sampai tak bersuara.sungguh tak bisa kulukiskan keadaan hatiku saat ini.
"Bi....."desis Arsyila
"kalian brengsek"umpat Kinar
"lo sahabat gak tau malu,bisa- bisanya lo nikam sahabat lo sendiri"hardik Qalila
"kita balik aja!"ajakku dengan suara bergetar
"Ay,mereka nyakitin lo.apa lo gak mau ngasih sumpah serapah ke mereka?"geram Qalila
"kata-kataku ini terlalu berharga untuk mereka.kita balik aja!jangan ganggu mereka!"ucapku seraya melirik Kail yang diam seribu bahasa
kuputar tubuhku dan bergegas keluar kamar.tak lagi kuhiraukan Demas yang berpapasan denganku
kuseka airmataku yang mengalir bak segara anakan.
Ingin rasanya kutenggelamkan diri ini kesuatu tempat yang jauh dimana tak ada seorangpun yang akan mengenaliku.ingin rasanya ku putar waktu dan kuhapus momen menyedihkan ini.
"Freya berhenti!"pekik sebuah suara
tak kupedulikan pekikan itu,aku terus menerobos kerumunan orang yang lalu lalang berjalan ditrotoar.sebuah tangan mencengkeram pergelanganku kuat yang memsksaku menoleh.
Demas berdiri dengan wajah merah padam.
"lepaskan aku!"teriakku
"ikut aku!"ucap Demas seraya menarik tanganku
dengan kasar Demas menghempas kan tubuhku ke kursi mobil.cepat dia melajukan mobilnya suasana senyap hanya sesekali isakku yang terdengar.aku masih tidak percaya semua ini seperti mimpi,ya aku berharap ini hanya mimpi.
"apa seorang Freya sekemah ini
?"tanya Demas buka suara
aku membisu
"si brengsek itu sama sekali tidaklah berharga untuk kau tangisi"ujarnya seraya menoleh ke arahku
aku semakin terguguk
"seharusnya kau bersyukur kau tahu ini lebih awal sebelum semua terlambat"ujarnya lagi
"diam kau ! kau sama brengsek nya dengan dia"semprotku
"turunkan aku disini!"titahku
"kau mau apa ? jangan katakan kau mau teriak-teriak di tengah jalan ?"semprotnya
"apa kau pikir aku sedepresi itu ?"balasku
"kalau begitu berhenti menangis
kau dengar!"ujarnya tegas
"turunkan aku!"pekikku
"tidak!"
kupelototi Demas dengan geram
"apa ? kau mau ngancam mau loncat dari mobil kalo tidak aku turunin"bentaknya seraya kembali menoleh kearahku
"hidupmu itu kebanyakan drama tau,tetap diam disitu ! kau jangan bikin ulah"ucapnya pedas
"maksa"gerutuku
mobil berhenti diarea parkir villa
aku bergegas berlari mrnuju villa dengan hati masih kacau balau.
"jangan ikuti aku ! diam disana"
pekikku histeris
kubanting pintu kamarku serampa
ngan.kuguyur tubuh lelahku ini di bawah dinginnya air shower.air mata ini mengalir bersamaan air shower yang jatuh.kucoba bangkit
kan kepercayaan diri ini meski terasa begitu sulit.
***