Me Vs My CEO

Me Vs My CEO
Bab 16 Merawatmu



Haris mondar-mandir di depan kami sambil memegangi ponselnya,kadang menghela napas,kadang berdecak tak tau apa yang dia lakukan


Sesaat Haris menyodorkan ponselnya ke arah Demas dengan senyum puas.


"Presdir lihat!itu semua adalah rekomendasi nama perawat terbaik di Jakarta.Presdir silahkan pilih salah satu untuk merawat anda"


Demas menatap Haris dengan rona wajah yang mengerikan.aku mengerti betul arti tatapan mata itu dia masih dongkol karna mamanya sekarang ganti Haris.aku buru-buru menyentuh tangannya.


"Haris dengar!tidak ada perawat untuk Presdir.aku yang akan merawatnya"putusku


keduanya saling pandang dan berseru bersamaan


"kau?"


"hem!jadi bawa semua berkas kerjaanku.aku akan merawat Presdir sambil kerja"


"aku tidak butuh perawat ataupun kau"semprotnya


"jangan keras kepala!kalo terjadi sesuatu padamu nanti kami yzng di salahkan"ptotesku


"siapa yang akan menyalahkan mu ? orang tuaku ? bahkan mereka sama sekali tak peduli"sinisnya


"kami peduli"tukasku


"hanya kasihan"cibirnya


"kau picik sekali"balasku


"keluar!"pekiknya


"tidak"tolakku


Demas bangkit dengan tiba-tiba hingga membustnya terhuyung dengan sigap Haris menopang tubuh kekar itu dan membaringkannya di tempat tidur.ku kupaskan obat seraya ku sodorkan segelas air kepadanya.


"minumlah,agar nyerinya berkurang"ujarku


"Haris,pergilah biar aku yang urus Presdir"


"baik.aku akan suruh staf nganterin berkasmu"


"kau lihat!membawa tubuhmu sendiri saja kau tidak mampu.sok gak mau aku rawat"


Demas membisu seakan tak mendengarkanku.


Setelah Haris pergi kini kami hanya berdua,yah benar-benar hanya berdua.


Ku selimuti tubuh Demas dengan sayang.ku elus wajahnya yang menawan.aku tahu ini salah.kubiarkan perasaan asing ini tinggal dihatiku.


perasaan nyaman saat bersamanya


pertengkaran kami,sikap kasarnya,


kadang aku merasa dia begitu possesif.


anganku melayang teringat pembicaraanku dengan Kail di kantin rumah sakit.setelah drama ciuman panasku dengan Demas.


"Kail,aku menyerah,aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini"tuturku kemarin


"tapi kenapa Sayang?bukankah setelah kemarin kita sepakat untuk mulai dari awal lagi?kenapa tiba-tiba kau menyerah?"protes Kail


"bukankah kita sudah sepakat untuk tidak menanyakan alasan kenapa pasangan kita menyerah?"


"ini sangat tiba-tiba Sayang.aku tidak bisa terima"


"anggap saja aku yang telah mengkhianatimu"ujarku seraya tertunduk


"katakan padaku,******** itu berbuat apa padamu?dia mencoba menciummu?memaksamu untuk melayaninya?"Kail menyerangku dengan serentetan pertanyaan


"tidaaaaakkkk"tangisku


"aku tahu dia yang memaksamu Sayang.aku yakin Sayang tak mungkin mengkhianatiku"


"Kail mengertilah,setiap hari aku dirundung rasa bersalah,ku biarkan orang lsin menyentuhku dan aku tak bisa berbuat apa-apa"


Kail menyentuh wajahku dengan lembut.matanya berkaca-kaca tersirat begitu bznyak tanya yang tak mampu keluar.air mataku makin tumpah.


"apapun itu aku akan tetap memaafkanmu.asal jsngan kamu akhiri hubungan kita"


"tapi....tapi aku tidak bisa"


"aku tidak mau kita berakhir,titik"ucap Kail sambil lalu


Kupandangi wajah Demas yang tertidur pulas,wajah dingin ini terlihat begitu menyedihkan dalam keadaan sakit beginipun orang tua yang seharusnya ada bersamanya malah lebih mementingkan pekerjaan mereka.


tiba-tiba Demas mengerang gelisah kepalanya menggeleng dan giginya bergemerutuk.dia sepertinya mimpi buruk lagi ketakutan begitu tergambar di wajahnya.


ku pegangi tangannya auto dia menggenggam tanganku kuat sekali.


"aaaaaakkkhhh!!"


Demas terjaga keringat dingin menghiasi wajahnya.ku elus wajahnya untuk menenangkannya.


aku duduk disebelahnya sembari kuelus punggungnya.


"tenanglah,gpp..ada aku.kamu mimpi buruk lagi?"tanyaku halus


"kau pasti menertawakan aku sekarang,bagimu aku pasti terlihat sangat menyedihkan"


ku kecup bibirnya sesaat lalu ku hapus lipstik yang menempel di sudut bibirnya dengan ujung jariku.aku tersenyum kecil memandanginya yang masih seperti orang syok.


"aku tidak sejahat itu kau tau"


"sekarang kau tahu seperti apa diriku sebenarnya.aku hanyalah pria terbuang.jangankan wanita bahkan orang tuaku sendiri pun tak menginginkanku"


Demas meraup wajahnya sambil mendengus kesal.


kembali kuusap usap punggungnya dengan sabar.


"tak ada orang tua di dunia ini yang tidak menginginkan anaknya.


hanya komunikasi kalian saja yang kurang"hiburku


"aku bukan anak kecil yang bisa terhibur dengan kalimatmu itu"


"aku sama sekali tak berniat menghiburmu.bukankah kau jauh lebih beruntung ? kau masih punya orang tua yang lengkap bergelimang harta dan kekuasaan kurang apa lagi?"kuusap lembut jemarinya


"coba bandingkan dengan anak-anak di yayasan.mereka tidak punya orang tua,mereka hidup menunggu uluran tangan orang lain"imbuhku


"bukankah aku juga tidak lebih beruntung dari mereka.aku ingin seperti mereka ada banyak orang yang tulus menyayangi mereka"


"hatimu terlalu dingin untuk merasakan ketulusan orang di sekitarmu"


Demas tersenyum sinis dia menatapku sekarang,menatap dengan begitu dalam.aku mencoba alihkan pandanganku.


"mereka yang ada di sekitarku tak ada yang tulus,mereka hanya mengincar hartaku.lihat saja gadis-gadis bodoh yang aku kencani.kau bilang aku ini menjijikkan karna sering gonta-ganti wanita.aku terkesan menjadi seorang penjahat kelamin"keluh Demas


"padahal pada kenyataannya justru aku yang mengenaskan.tak satupun dari mereka ada yang tulus.mendekatiku karna menyukai karakterku tak ada.


mereka menjadikanku batu loncatan untuk meraih ambisi mereka.harta dan ketenaran"ujar Demas lirih


"harusnya kau bersyukur.kau masih beruntung karna tuhan membuka keburukan mereka sebelum kau serius dengan mereka"ucapku


"anggap itu karna mereka bodoh saja.coba mereka mendekatimu karena jatuh cinta pada kepribadianmu.bukankah mereka akan dapat berlipat?kekasih yang uwu berbody atletis plus harta kekayaan yang tak habis tujuh turunan"kelakarku cengengesan


Demas mengacak acak rambutku dengan gemas,ku tepis tangannya dengan sebal sembari kukerucutkan bibir mungilku.


"buka mulutmu!"titahnya tiba-tiba


"kenapa?"


"sepertinya lidahmu itu ada olinya.makanya kalo ngomong licin sekali"tudingnya


"kemarin pas kamu hisap berasa ada olinya gak?"ledekku sembari tersenyumm manis


"lupa!gimana kalo aku coba lagi"


"aaaahhh jangaaaannnn!"


Aku berlari menjauh darinya Demas mencoba mengejarku tapi tertahan karna dia memegangi kepalanya,gamang aku hendak mendekatinya takut dia mengerjaiku lagi.


"Presdir"panggilku


"sakit sekali"


"kita ke rumah sakit ya"ucapku panik


"lapar"


"lapar?kenapa yang dipegangi kepala?"tanyaku


"gak usah bawel cepat bikinin aku makanan!"semprotnya


"Presdir kan tau.terakhir masak aku ketumpahan minyak.aku kan gak bisa masak.kalo nanti gak ensk di marahi"keluhku


"cepetan Freya!"teriaknya


"iya....iyaaaaa"


***


Masak ? ampun dah 5 huruf itu sudah kayak momok buatku.aku mondar-mandir di depan kabinet.masak apa ini ? ku buka kulkas ternyata masih ada beberapa sayuran,sosis dan daging.


beras sudah ku tanak dengan magic com.tinggal membuat sayur tapi apa coba ? ku raih ponselku di dalam saku.hah gogling saja lah ku search kanal youtube yang berisi tutorial memasak.


Kutemukan resep masak sup sederhana.oke kuikuti saja langkahnya.ku sandarkan ponselku di kabinet,pertama ku pakai celemek,terus kujepit rambut panjangku seperti mau mandi.


Sumpah ! soal beginian aku benar-benar ZONK.Aku bahkan tak tau ini sayuran dicuci dulu baru di potong .atau di potong dulu baru di cuci.aauu aahh !!!


setelah beberapa lama tercium aroma khas sup daging yang harum dari kuah yang mendidih.


ku sajikan sup daging di dalam mangkuk putih,ku taburi bawang goreng sebagai pelengkap dan ku tata diatas meja makan berkumpul bersama antek-anteknya.terakhir ku letakkan sepiring buah apel dan anggur.


Baru saja akan ku panggil Demas ketika ponselku yang masih bersandar di kabinet memekik.


Di dirimu aku menemukan


Yang mencintaiku


Yang menyayangiku


baru 3 larik syair lagu itu menggema di seisi dapur sudah ku angkat panggilan yang ternyata dari Kinar.


"Ay,beneran kamu yang merawat Presdir?kalian tinggal satu atap?kalian ngapain aja?"


itu serentetan prrtanyaan yang meluncur dari mulut Kinar


"kamu itu,bukannya salam malah nerocos kayak burung beo"semprotku


"sorry Ay,kelepasan"


"aku terpaksa Ki.mau gimana lagi ? dia yang nolongin aku"ucapku membela diri


"eh,besok kirim kerjaanku ke e-mailku ya"


"oke besok aku ambil berkasmu sekalian nengokin Presdir"


Oh No !! Kinar mau nengokin Presdir ? yang ada entar malah ketahuan kalo aku tinggal bersebelahan dengan Demas.


mulut Kinar bisa ngember kemana-mana.


"eh jangan...jangan!! gak usah cari mati deh ya.kemaren Gara aja diusir"kilahku


"ampun deh ya tuh Presdir udah kayak macan"cibirnya


"Ki,udah dulu ya.aku lagi masak nih"potongku yang langsung menutup sambungan telepon


Demas melotot ketika baru saja sesuap sup mrmasuki mulutnya.


aku penasaran penuh tanya.tak enak kah ? asin ? atau apa ? sedetik berikutnya dia menyeruput lagi sup itu lagi dan lagi hingga tersisa setenggah.


Aku tertengun sembari menopang daguku dengan tangan mengawasi Demas yang tampak begitu lahap menikmati makanannya.


"not bad untuk taraf amatir" ucapnya seraya mengelap sudut bibirnya dengan sapu tangan


"gitu doang?"


"Presdir aku kupaskan apel ya baru minum obat"


Aku jadi salah tingkah di pandangi demikian teduh oleh Demas.ku sodorkan mangkuk kecil berisi potongan apel ke hadapannya.


"apa kau juga seperti ini kepada Kail?"


Pertanyaan itu membuat kerongkonganku mengering.aku harus jawab apa ? ku ambil piring kotor di hadapannya segera ku bawa ke cucian piring.


Aku hampir tak dapat fokus karena kini Demas berada tepat disampingku duduk diatas kabinet.


"kau sangat mencintainya ?"


"ini sudah malam.tidurlah!"


"kau begitu gelisah dan gugup"


tatapannya sungguh membuatku mati gaya,benar kata orang bila tatapan mata seseorang bisa membuat tenggelam.yah ini yang terjadi padaku.aku berasa tenggelam dalam lautan matanya.


"aku rasa aku tak harus jawab pertanyaanmu"akhirnya aku dapat bersuara


"atau sekarang hatimu sudah berpindah haluan"


"tidak"ku letakkan piring diatas rak


Demas meraih tanganku namun buru-buru ku tepis,aku sungguh kesulitan menyembunyikan kegugupanku.bahkan aku tak berani menatap matanya.


"sakit begini apa yang bisa kulakukan padamu,hem?ayo kita tidur!"ajaknya


Aku menata bantal dan selimut di sofa bersiap untuk tidur.namun Demas mengambil bantal dan selimutku dan menaruhnya di tempat tidur.


"kenapa kau taruh situ?"tanyaku


kuambil kembali bantal dan selimutku tapi diambil lagi olehnya kami jadi saling berebut tak mau mengalah.


"berikan bantalku!"teriakku


"Freeya Aqila Hasbie Rasyid aku perintahkan kau untuk tidur di tempat tidur denganku malam ini!"bentaknya


"ogah"pekikku


"ini perintah Freya ,atau aku akan melakukan sesuatu padamu"


Demas berjalan mendekatiku dengan tatapan tajamnya,auto ku tutupi wajahku dengan kedua tanganku


"ampun ! Presdir iyaaa"


"menurut lebih baik"


"tapi....tapi jangan macam-macam ya"ujarku gugup


"bawel"


kuletakkan guling ditengah sebagai pembatas.sudah ku pakai selimutku.Demaspun sudah berbaring di sebelahku.ku lirik wajahnya yang dingin.Demas menepuk tangan dua kali "mati"serunya.


Seketika lampu kamar itu mati.ku coba memrjamkan mata tapi tak bisa,napasku sesak,aku tak bisa tidur posisi gelap begini.


"kenapa tidak tidur ?"tanya Demas yang menoleh ke arahku


"aku tidak bisa tidur dalam keadaan gelap"ucapku seraya memegangi selimutku


"nyalakan lampu sampingmu kan bisa"sahutnya sembari terpejam


Sudah kunyalakan lampu di sebelahku.tapi tetap saja aku tak bisa tidur.ku lirik Demas yang sudah terlelap.sungguh aku bisa insomnia kalau begini.aku takut memejamkan mata.


Ku bolak balik badanku tak tenang.kadang miring kiri,lalu miring kanan,kadang duduk lalu rebahan lagi hingga membuat Demas terbangun.


"apalagi sekarang?"keluhnya


"aku gak bisa tidur. Presdir.aku gak biasa tidur sama orang lain"tuturku


"tidak pernah?"ulangnya


aku hanya mengangguk Demas tersenyum kecut,dia membuang guling pembatas kami lalu dia menarik tubuhku direngkuh dalam pelukannya.


"jangan begini Presdir"seruku


"kau ingin tidur kan ? jangan bawel"bentaknya


"aku jangan diapa-apain"lirihku


"diam bawel!"semprotnya


Demas mengelus rambutku lembut ku coba memejamkan mataku.entah kenPa hatiku begitu tenang berada dalam pelukannya,dia menarik tanganku dilingkarkan di perutnya.semakin ku benamkan kepalaku di dadanya


***


Hari ini seminggu sudah aku merawat batu menyusahkan itu.ini nggak tahu apa yang salah? di depannya aku di tuntut untuk jadi dewasa sementara si batu itu sungguh childish dan super manja.


Aku ini entah apa baginya ?babu ? emak ? musuh ? atau apalah ? ku siapkan baju ganti untuknya karena hari ini dia akan lepas perban.


Yyyeeeaaayyy !!!! akhirnya setelah hari ini aku akan terbebas darinya.aku sedang membereskan meja makan saat dia keluar memakai celana dan kemeja warna putih dipadu dengan long coat warna biru.


Bbbiiiyyyuuuhhh !!! dia benar-benar uwu persis oppa korea idolaku.dia terlihat begitu angkuh dengan satu tangannya yang dia masukkan ke saku celana.aku hampir lupa berkedip.


"su.....sudah siap?"tanyaku terbata


"hem,tinggal tunggu Haris"


"OK, aku ambil tas dulu"


Mataku mendelik mendapsti beberapa butiran putih di dekat vas bunga tergeletak di ztas nakas.


Demas tidak meminum obatnya ?


dengan wajah bersungut-sungut ku hampiri Demas yang sibuk dengan ponselnya.


Ku tarik tangannya dan kuberikan butiran obat itu dengan kasar.


"minum tidak?jadi selama ini tanpa sepengetahuanku kamu gak meminum obatnya ?kamu gak mau sembuh?kamu mau terus ngerjai aku,hem?"semprotku murka


"tak bisa kau bicara pelan?"bentaknya


"gak bisa,aku capek kamu mainin"


"ambil air!"perintahnya tegas


"ambil sendiri"bantahku


"kau........"


Ucapannya terpotong karena suara bel berdering.dengan kasar ku buka pintu itu dan ku dapati Haris bersama dengan 4 orang pria berbadan kekar.ku putar bola mataku dengan malas sembari berbalik tanpa berucap.


"di bawah ada banyak media yang ingin meliput anda,nanti biar saya dan dua bodyguard mengalihkan perhatian mereka sementara Presdir bisa pergi dengan Freya"ucap Haris menatapku


"hem"


"kalian kawal Presdir dan mbak Freya!"titah Haris kepada 2 bodyguard berkepala plontos


"siap"


"ayo kita pergi Ya!"ajak Haris


Aku masih berdiri bersedekap dengan acuh "aku malas sama orang yang tidak mengikuti aturanku"sinisku


pandangan Haris bercabang setelah menatapku ganti menatap Demas dengan bingung


"ambilkan air, Ris!atau mulut bawelnya ini tidak akan bisa diam!"titah Demas kesal


"itu lebih baik"celetukku setelah Demas meminum obatnya


Kuapit tangan Demas erat saat melewati kerumunan awak media


suara reporter itu sudah seperti sekerumunan lebag yang tengah bersiap menyengat musuh.Demas sampai menutup kedua telinganya


terus ku bWa dia menjauhi kerumunan.sebuah mobil keluarsn Jerman sudah menunggu di sudut jalan.


Bapak bodyguard berkepala plontos membukakan pintu untuk kami.mobil sudah ber AC tapi keringat Demas masih bercucuran mungkin efek kuajsk lari tadi.


Ku seka keringat di wajahnya dengan tisu.Demas terlihat sedikit pucat


"are you okay ?"


Demas menghela napas sambil terpejam "aku akan bunuh dokter sialan itu nanti!beraninya menolak panggilanku dan memaksaku ke rumah sakit"desisnya


"gak usah manja"hardikku


"masa bodoh.aku bisa beli rumah sakitnya kalau aku mau.kalo perlu ku beli dia sekalian"


"sumpah aku muak dengan sifat aroganmu itu.berhentilah mengagungkan kekayaanmu itu"sentakku


Demas membuka matanya dan menatapku sinis "kau tau betul aku benci penolakan"


"tapi tidak semua orang bisa kau paksa tunduk dengan arogansimu itu"solotku


"kau pernah dengar kata maklum ? kau pernah dengar kata kompromi ?"imbuhku


"tutup mulutmu !aku malas bertengkar denganmu"ujarnya


Demas kembali terpejam sementara aku kembali membusng pandanganku keluar jendela.batu ini benar-benar berhati dingin apa-apa minta di benarkan.maunya di turuti.


Ku buka pintu kayu yang bertuliskan Dr.Agatha di sana.aku terkesima beberapa saat.orang yang bernama Agatha ini sangatlah cantik.usianya mungkin seumuranku tapi dia tinggi semampai dengan rambut panjang nan indah.mulai dari mata,hidung,bibir tercipta begitu sempurna.sudah seperti model.aku saja terpesona apalagi Demas ? dia kulirik sama sekali tak berkedip.


"Tuan Demas Fabian!anda terlambat 15 menit"sambutnya


"apa lagi ? kau mau menyuruhku kembali besok?"tukas Demas


"aku suka gayamu"selorohnya


"sepertimu yang menghargai waktu.aku juga tidak punya banyak waktu.cepat lepas perbanku biar aku cepat pulang"tegas Demas


Dr.Agatha tersenyum simpul dia melangkah menghampiri Demas .mengabaikanku yang berdiri di dekat Demas.


"rasanya aku ingin menumbangkan kesombonganmu itu Presdir"


Agatha memainkan jemarinya di paha Demas.sungguh kalau ada kampak.ingin ku kampak wanita genit ini sekarang juga.


"kau bisa tumbangkan lain waktu"


Demas menyodorkan kartu namanya,Agatha menerimanya dan menyimpannya diantara belahan dadanya.SIALAN !!!!


"tawaran yang menarik"


"OK,kita buka perbannya"ucap Agatha seraya melirikku


"tetap disini,jangan kemana-mana!"tahan Demas saat aku balik badan


Aku duduk dikursi di seberang Demas,bola mataku terus mengikuti gerakan tangan Agatha yang sesekali nakal mengusap tengkuk Demas.dengan sengaja menempelkan dadanya yang besar ke wajah Demas.


Sumpah aku jijik menonton adegan 18+ ini.ku putar kursiku dengan malas,ku raih ponselku untuk membalas beberpa chat.


Kail mengirim fotoku saat mengapit Demas tadi.diberi caption "jealous" ku balas dengan emot cium.


tapi cuma centang satu.kembali ku alihkan pandanganku ke Demas kini dahinya sudah di plester.dia bangkit dan menarikku keluar tanpa berpamitan kepada Agatha.


Demas menyodorka sebuah amplop coklat muda ke hadapanku.aku sama sekali tak meliriknya sudah bisa ku tebak apa isinya.


Aku bangkit mengambil tas tanggung berisi barang-barangku yang masih tertinggal di apartmen Demas.


"aku akan lebih menghargaimu seandainya kau mau menyumbangkan uangmu itu ke yayasan"ucapku sebelum pergi


"kau tak melihat nominalnya"


"nominal itu tidaklah lebih berharga dari kesembuhanmu.aku senang Presdir sembuh dan tugasku sudah selesai"


"merawatku adalah tugas ? lalu kenapa tak kau terima uangku ? kurang banyak ?"hardiknya


"kau tidak merasa uangmu itu menyinggungku ? aku tulus merawatmu tapi kau menilai ketulusanku dengan uang ? kau bahkan tak tahu apa itu tulus" geramku


"kau makan saja uangmu itu"teriakku sambil lalu


Hatiku benar-benar sakit dengan perlakuan Demas.apa dia pikir uang itu segalanya ?


***