Me Vs My CEO

Me Vs My CEO
Bab 34 WE ARE HAPPY PEOPLE



Setelah ku kumpulkan keberanian beberapa waktu.ku langkahkan kaki ini mendekati meja Arsyila.nampak jreas guratan kegugupan dari senyumnya yang tersungging.


"boleh gue duduk ?"sapaku


"silahkan"sambutnya masih tersenyum


Aku duduk dengan gamang


"ini sudah malam to the point aja"ucapku


"gue pesenin makanan kesukaan lo"


"gue udah makan tadi"sahutku


"tapi udah terlanjur gue pesen"


kuhembuskan napas kasar


"gue mau pamit,Bi"ucapnya sesaat kemudian


Aku terdiam menatap sahbat karibku itu dengan nanar,setelah semua yang terjadi dia mau pergi ? hatiku berkecamuk,setelah membuat hubunganku dan Kail hancur dia akan pergi begitu saja ? apa maunya ? dia mengejekku ? dia tak ubahnya kucing dapur yang mencuri ikan.baruu digigit sekali lalu dimuntahkan.begitu menyedihkankah aku ?


"lo mau pergi ?"tanyaku serak


"gue sudah teken kontrak dengan designer Paris"


"oh"


"mungkin kita tidak akan bertemu dalam jangka waktu yang lama"terangnya


Hatiku kembali memberontak,Arsyila bahkan tak menyinggung yang terjadi kemarin. jangankan minta maaf berusaha untuk menjelaskan kebenaran peristiwa itupun tidak.


"oh......iya"anggukku


"saat ini,buat lo, gue adalah manusia terburuk di dunia,gpp.....suatu saat lo akan tau kenapa gue nglakuin ini ?"


Arsyila berkata dengan mata berkaca kaca, hatiku bergetar kenapa seolah aku yang terkesan bersalah ? dia bahkan begitu angkuh walau cuma sekedar mengakui kesalahan dan minta maaf.


Waiter datang membawa pesanan


"kalo udah nggak ada yang mau di bicarakan, gue pamit dulu"ucapku


"makanlah dulu"


"gue masih kenyang"


"coba sedikit saja"paksa Arsyila


kutatap wajah ayu sahabatku itu lekat


"inget nggak ? pas di Amerika dulu,kita harus jadi buruh cuci piring dulu baru bisa makan ini"ceritera Arsyila menunjuk kepiting asam manis kesukaanku


Aku hanya tersenyum getir


"dulu kita selalu berbagi dalam segala hal"


"tak disangka kita juga harus berbagi dalam hal kekasih"keluhku


"sungguh...bukan ini yang gue harap,Bi"


"saat ini gue nggak bisa cerita apa apa,tapi percayalah gue masih Arsyila sahabat lo"ucap Arsyila dengan suara parau


"besok gue mau pergi dan gue nggak mau ada kesan buruk yang tertinggal,"


"pergilah"


Aku bangkit namun tanganku di tahan oleh Arsyila.erat Arsyila memelukku tangisnya pecah.aku membeku tak tau harus ikut menangis atau tertawa.


"maafkan gue, Bi"tangisnya


tamu restoran jadi memperhatikan kami.


"gue tau gue salah,tapi gue nggak berdaya"


"lo sahabat gue Syila,gue sanggup ngelepas Kail buat lo.tapi nggak seperti ini caranya" ucapku dengan tangis tertahan


"gue sakit Syila"desisku


"maafin gue"hibanya


"gue butuh waktu Syila"ucapku yang tetap kukuh


***


Dengan berat ku langkahkan kakiku meninggalkan Arsyila yang masih terpaku.di luar restoran Qalila dan Kinar sudah menunggu.kupeluk kedua sahabatku itu kuat kuat.


"lo baik baik aja ?"tanya Kinar


Aku mengangguk cepat


"kita pulang !"ajakku


"nggak,gimana kalo kita bersenang senang untuk memperbaiki suasana hati lo yang kacau balau"usul Qalila


"ide bagus"timpal Kinar


"kita mau kemana tengah mslem gini?" tanyaku


"ikut aja"sahut Qalila


Aku ikut saja kemana sahabatku itu mengajakku pergi.tak lama taksi yang kami tumpangi berhenti di depan sebuah taman hiburan malam.


Qalila dan Kinar mengapitku kanan kiri memasuki tempat itu.hingar bingar musik khas pasar malam menyeruak.menyambut kedatangan kami.


"yyyeeeaaayyy........selamat datang di pasar malam "seru Kinar


"WE ARE HAPPY PEOPLE"


"Ay,ayo kita bikin list mau naik apa duluan" ujar Kinar


"siapa tau entar kita nemu cowok keren"seloroh Kinar


"cowok aja di otak lo"cemooh Qalila


"kita naik itu yuk !"ajakku menunjuk kincir angin


Saat tengah antri membeli tiket,kami di kejutkan oleh kedatangan cowok yang berpenampilan cool abis.uwu kek oppa korea.


"Rendra !"seru Kinar


"Ay,kenalin ini Rendra pacar gue"ucap Kinar tersenyum manis


"em....hai Rendra,gue Freeya sohib Kinar" sapaku


"hai Rendra,gue Qalila"sapa Qalila juga


"yuk kita naik kincir angin bareng mereka,Yang!"ajak Kinar


"ccciiieeee.....!!!!"sorakku dan Qalila bersamaan


"sweet banget siiihhh "ledekku cengengesan


"ayo kita naik"ajak Qalila


Kami Antri nunggu giliran naik.Kinar dan Rendra dulu,setelah itu Qalila,niatnya mau naik denganku.tapi di sana sudah ada satu orang.jadi aku tertinggal.


baru yang berikutnya aku naik.betapa terkejutnya sku saat tau orang yang naik satu kincir denganku adalah Demas.


"kau lagi ?"seruku


"masih belum puas mempersulitku dengan skandal foto tadi pagi ? sekarang bikin ulah lagi ?"semburku geram


"bukannya makin tenar makin bagus ?" celetuknya


"kalo tenar sama kamu mah amit amit" cibirku


"awas jangan dekat dekat denganku"usirku


Demas duduk di seberangku.sumpah aku baru sadar malam ini Demas begitu handsome dengan setelan santai.apalagi dengan kacamata hitamnya.LOSSS ini mah ketampanannya.


Selesai naik kincir angin kami naik wahana lain yang lebih menantang.kami jadi berpasangan.Kinar dan Rendra,Qalila dan Haris,Aku dan Demas.


"kita mau naik apalagi ?"tanya Qalila


"itu"kutunjuk wahana tornado yang tepat di belakangku


"enggak...enggak...gue bisa muntah naik begituan"tolak Kinar


"nggak seru lo,bebz ! cemen !"cibir Qalila


"yang lain aja"ucap Kinar


"ya udah,kita tinggal,biar dia sama Rendra"putusku


"oke"sahut Qalila


"kalian brani gaak ?"tanyaku pada Demas


"siapa takut"sahut Demas


Benar kata orang,wahana tornado ini cukup extrim.jangan brani coba coba kalo tidak bernyali.sekali bul !!!! melesat keatas.jantungku ini seperti masih tertinggal di bawah.suara teriakankupun seolah teredam bersama angin yang melesat ke awang awang.


"aaaaaaahhhhhhhh.....!!!"


Sampai dibawah beberapa menit berikutnya aku masih seperti orang linglung.sumpah mau mati.


"nggak mau lagi gue"keluhku dengan suara serak


sepertinya suaraku habis gara gara aku teriak teriak tak henti tadi.Demas menyodorkan minuman ringan padaku.


Aku duduk bersandar pgar yang mengelilingi area wahana sembari mengatur napas.


"minumlah"


"terima kasih"


"lebih plong sekarang ?"tanya Demas


"hem"


"mau coba wahana yang lain lagi ?"


"nggak ah,yang ini aja aku udah mau mati"


Demas tersenyum


"ini buktinya masih hidup"


"tapi sampai sekarang rasanya ragaku masih belum nyatu sama ruhnya"


Demas makin tertaws lebar.diacak acaknya rambutku kasar.


"eh...mana Qalila ?"tanyaku


"cari minum ?"


"Kinar ?"


"yah,lagi sama pacarnya Freeya,kenapa kamu tanyain semua ?"keluh Demas


"aku nggak mau aja para paparazi julid nemu momen kedekatan kita,dijepret truz di jadiin berita lagi"tuturku


"kalo nggak begitu mereka nggak dapat berita Freeya,kalo nggak dapat berita berarti nggak ada uang"ucap Demas


Aku menghela napas


"merasa lebih baik?"tanya Demas


"lumayan"


"hiruk pikuk suara musik membuat kita harus. bicara kayak sedang berjauhan.


"kita pulang yuk ! kayaknya mereka ninggalin kita deh"ajakku


"oke"


Dalam perjalanan aku tak banyak bicara,kantuk berat menderaku.kusandarkan kepalaku di bahu Demas.


***


As Qalila



As Kinar